Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Sapiokasual, Literasi Palsu, dan Pesawat Mencium Gunung Es

Benny Arnas di antara gunung es mencair di perbatasan Pakistan-Tiongkok (2019/dok. pribadi)

4.4
(7)

Belakangan, saya mengkhawatiri diri sebagai sapiokasual setelah pengalaman mendapatkan kenyamanan berinteraksi dengan orang-orang yang bisa meladeni topik-topik yang saya gemari: sastra, sejarah, kebudayaan, dan dunia Islam.

Sayangnya, jumlah mereka dalam kategori ini tidak banyak. Bahkan cenderung makin sedikit. Sehingga, sebagai orang yang banyak bersentuhan dengan aktivitas literasi, saya sering bergumam: apa guna semua aktivitas mencerdaskan bangsa itu? Tentu saja sebelum lima detik kemudian saya menyadari banyak pegiat literasi yang tidak suka baca buku; banyak yang senang cuap-cuap tapi sekalipun tidak pernah terjun membuat taman bacaan; atau yang paling menyedihkan: banyak yang memperlakukan literasi sebagai proyek yang menjanjikan!

***

Membabar fakta dan pemikiran dan sudut pandang tertentu memang sangat diperlukan—untuk tidak menyebutnya “(ke)langka(an)”—di Zaman Kiwari yang mudah sekali menyulap awam menjadi mastah-mastahan, membuat orang tahu banyak bidang tapi tak semuanya hanya mengambang di permukaan. Percakapan-percakapan bernas antarmanusia di hari ini adalah bentuk perlawanan atas kedangkalan yang biasanya lahir dari interaksi antarkomentator unggahan media sosial yang melibatkan orang-orang yang bukan hanya tak saling kenal, tapi juga dengan latar belakang yang kabur dan anonim. Kita pun melihat bagaimana banyaknya orang yang menikmati interaksi yang dangkal itu, yang mengandalkan emotikon, yang tanpa beban menghujat dan memuji dan memutus hubungan, hingga mengumbar fitnah dan aib tanpa beban.

Entah atas dasar itu atau tidak, orang-orang yang bisa menceburkan saya dalam kenyamanan intelektual di atas, sebagian besar tidak terikat pekerjaan atau tidak menghamba pada rutinitas yang menjemukan dan tentu saja jumud. Seorang dosen di Surabaya yang kerap mengeluhkan dunia kampus yang menjemukan; pun dengan seorang Lc lulusan Kairo di Yogyakarta yang, selain sebangun dengan yang pertama dalam mengkritisi lembaganya, juga mengeluhkan kurangnya waktu membaca dan menulis; seorang sastrawan cum budayawan di Lampung yang memilih menekuni manuskrip kuna yang lengang; seorang guru muda di Lubuklinggau yang hanya mampu menghasilkan satu puisi setahun saking beban mengajar mengambil hampir semua waktunya; seorang muslimah yang bergelut dengan sastra dan kebudayaan yang selalu tak habis pikir bagaimana lembaga kemanusiaan suka sekali melakukan hal-hal yang tidak manusiawi; juga seorang sejarawan partikelir yang disebut gila oleh sekitar karena ketekunannya ….

Baca juga  Belajar dengan Topeng

Mereka, para rekan bertukar pikiran itu, selalu bergairah ketika kami membincangkan topik-topik di atas dengan isu-isi terkininya. Seakan-akan ada yang meletup dalam dada dan kepala mereka ketika kami menemukan sesuatu yang baru, perspektif tak terduga, dan sarkasme baru atas sebuah fenomena.

Tapi, meski saya menyebut mereka, bukan berarti saya memiliki rekan bertukar-pikiran yang banyak. Justru, karena jumlahnya yang sangat sedikitlah, akhirnya saya bisa mengingat mereka dengan baik. Ya, dibanding orang-orang dalam lingkaran pergaulan saya, jumlah mereka terkategori segelinitir. Sebagian besar mereka membuat saya seperti tidak ada karena topik-topik yang mereka tawarkan tidak berubah dari beban kerja, naik pangkat, omzet penjualan, dan bagaimana meraih hati atasan dan konsumen. Membincangkan kebudayaan masa lampau, sastra yang di era (platform) digital makin kehilangan arah, atau masa-masa pascakenabian yang kontroversial, adalah pesawat terbang yang menempel puncak gunung es: tidak lazim, tapi kecelakaan yang membuatnya diterima.

Seperti saya tulis di atas, buat apa gemebyar aktivitas literasi selama ini jika hanya menghasilkan orang berilmu yang gemar bicara sehingga orang berilmu itu, alih-alih diteladani, malah menjadi cemoohan. Kegemaran orang membincangkan kekosongan bukan hanya menular, tapi juga menjelma jadi ular. Makin dipelihara, ia akan memakan segalanya, tak terkecuali pemeliharanya, tak terkecuali peradaban itu sendiri.

O ya, sapiokasual adalah istilah yang saya ciptakan sendiri, yang berarti kecenderungan mendapatkan kenyamanan dalam berinteraksi dengan orang-orang yang cerdas, berpikiran terbuka, dan haus ilmu. Istilah itu merupakan piuhan atas sapioseksual yang berarti kecenderungan seksual seseorang kepada mereka yang dianggap pintar.

Yang saya syukuri, dan saya pikir menjadi penetral yang ampuh pada beberapa definisi sapiokasual di atas adalah, istri saya adalah guru cerdas yang menjadi rekan diskusi yang asik. Kami sering bersitegang sampai aktivitas atau kesibukan lain yang menuntut dituntaskan segera membuat kami harus menunda pertempuran. Kadang kami benar-benar melanjutkan, tapi lebih banyak kami lupakan untuk kemudian menggarap ladang perseteruan yang baru.

Baca juga  Titik Hati

Ya, menggarap perseteruan yang baru.

Mencari sapiokasual di zaman pseudoliterasi adalah keharusan agar aktivitas bertukar pikiran bukan hanya mengayakan, tapi juga menggairahkan, untuk kemudian … segera diaplikasikan. Tapi, di saat yang sama, hasil pencarian itu selalu mengenaskan, sehingga, mau tidak mau, kita dituntut beradaptasi—termasuk menciptakan lawan diskusi, kalaupun tidak imajiner, ya orang terdekat sendiri.

Paling tidak, agar kita tidak kelihatan sebagai pesawat yang mencium gunung es. (*)

Lubuklinggau, 13 Januari 2021

BENNY ARNAS. Lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Telah menulis 25 buku lintas genre. Dua novelnya yang akan terbit: Bulan Madu Matahari dan Ethile! Ethile!

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Tertohok sekali. Udah membangun sepetak teras, berikut menyediakan beberapa kontainer buku agar bisa dibaca anak2 sekitar. Tapi …pandemi yg membuatku belajar bersabar 😓😓

  2. Joana Zettira

    Pertama membaca judul agak asing dengan “sapiokasual” biasanya dengar sapioseksul. Oh ternyata di badan tulisan dijelaskan ini memang istilah yang diciptakan Mas Benny sendiri. Keceeh memang. Daging semua isinya

Leave a Reply

%d bloggers like this: