Cerpen, Dadang Ari Murtono, Kedaulatan Rakyat

Dari Laut

2.7
(3)

SUTAN SAHARI berdiri di tepi pantai dan melihat seorang lelaki berlayar di atas dua butir kelapa yang diikatkan di kaki. “Oooeeii…” Ia berteriak. Dan lelaki yang berlayar itu merapat. “Bagaimana kau bisa berlayar seperti itu?” tanya Sutan Sahari. Lelaki itu tidak menjawab. Lantas Sutan Sahari membawa si lelaki ke rumahnya.

“Dua bulan yang lalu,” kata Sutan Sahari, “Aku juga berlayar. Tapi aku menggunakan kapal besar.”

Si lelaki tidak merespons ucapan Sutan Sahari. Lelaki itu sibuk memandangi sekeliling.

“Apakah kau orang baik?” Sutan Sahari bertanya. Lelaki itu menatapnya, lalu menundukkan wajah.

“Ya, aku orang baik. Tapi di tempat asalku, mereka menyebutku penyihir.”

“Karena kau berlayar menggunakan dua butir kelapa?”

“Karena aku bisa banyak hal,” jawab si lelaki.

“Aku bisa mengangsu air dengan keranjang berlubang, aku juga bisa membuat tambak dalam kendi. Aku bahkan bisa mengubah daun menjadi uang.”

“Apakah kau bisa mengeluarkan seseorang dari penjara?”

“Aku bisa membuka pintu besi dengan doa.”

“Kalau begitu,” Sutan Sahari menukas dengan wajah bersinar, “Kau harus membantuku.”

Kabar kedatangan lelaki itu menyebar dengan cepat di pesisir Palembang. Orang-orang datang untuk menengoknya, lantas berkasak-kusuk tentangnya. Sebagian percaya bahwa lelaki itu memang benar-benar bisa berlayar di atas dua butir kelapa, namun tak sedikit yang meragukannya. “Badannya kurus seperti kurang makan, dan dia sepertinya juga penyakitan,” ujar sebagian orang.

Namun bagaimanapun, lelaki itu membawa harapan.

Dua bulan yang lalu, harapan yang sama sempat muncul dalam diri orang-orang ketika Sutan Sahari melepas sauh dan berlayar menuju Mataram. Namun harapan itu kembali padam tiga hari semenjak Sutan Sahari kembali menginjakkan kaki di Palembang.

Baca juga  Sekotak Cinta Bersampul Koran

Pangeran Sanggar Singgih menjemput rombongan Sutan Sahari, lalu membawa mereka ke istana Palembang. Di sana, Pangeran Sanggar Singgih menjebloskan Pangeran Alamsyah ke dalam penjara.

Sutan Sahari yang marah membanting sebuah keramik di depan Pangeran Sanggar Singgih. “Saya jauh-jauh menjemput Pangeran Alamsyah dari Mataram sebab ia yang berhak menggantikan ayahnya menjadi penguasa Palembang,” geram Sutan Sahari.

“Dia terlalu muda. Dia seharusnya belajar dengan baik di Mataram, dan bukannya pulang ke Palembang,” jawab Pangeran Sanggar Singgih. “Dan karena ia tidak mau belajar, maka ia berdosa. Dan hukuman bagi orang yang berdosa adalah penjara.”

Sejak saat itu, Sutan Sahari meninggalkan istana. Ia membangun sebuah gubuk di pesisir, senantiasa menatap cakrawala, berharap burung-burung dari neraka akan datang pada suatu hari dan menjatuhkan batu berapi di batok kepala Pangeran Sanggar Singgih.

Burung-burung dari neraka tidak pernah datang. Yang kemudian datang adalah kabar burung dari istana. Seminggu yang lalu, kabar itu berembus bersama angin. Di Istana Palembang, Pangeran Sanggar Singgih menikahi Dewi Malang Rani, janda Sultan Datuk Iskandar, kakak ipar Pangeran Sanggar Singgih sendiri sekaligus ibu tiri Pangeran Alamsyah.

Lalu orang-orang teringat bagaimana suatu pagi Sultan Datuk Iskandar bangun dan batuk-batuk, lantas Dewi Malang Rini memberinya segelas air. Sebelum sebutir nasi sempat masuk ke perutnya, Sultan Datuk Iskandar telah jadi mendiang.

“Ini persekongkolan,” gumam mereka.

Pada hari pernikahan Pangeran Sanggar Singgih dan Dewi Malang Rani, di tepi pantai, Sutan Sahari meraung ke lautan luas, “Beri kami burung-burung dari neraka, atau raksasa-raksasa dari dasar lautan, atau orang suci yang bisa menyelamatkan negeri ini jika Kau benar-benar ada, Tuhan!”

Baca juga  Maksim dan Perihal Mobil

“Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya lelaki itu yang mengaku bernama Jangkung.

“Membebaskan Pangeran Alamsyah dari penjara dan menghancurkan Pangeran Sanggar Singgih yang celaka,” kata Sutan Sahari. “Kau tahu, kau datang setelah aku mengancam Tuhan. Kau tahu, kau adalah jawaban dari doaku.”

“Tapi aku bukan orang suci.”

“Penyihir dan orang suci, apalah bedanya!”

Jangkung berdiri dan menepuk-nepuk celananya.

“Jangan pergi. Aku punya anak gadis yang cantik. Kau bisa memperistrinya jika kau bisa menolong kami,” Sutan Sahari memohon.

Jangkung berjalan keluar. Sinar matahari menyilaukannya. Ia mengepakkan kedua tangannya, seperti seekor burung. Orang-orang bersumpah melihat nyala api di sekujur tubuhnya. ❑

*) Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain ‘Ludruk Kedua’ (kumpulan puisi, 2016), ‘Samaran’ (novel, 2018), ‘Jalan Lain ke Majapahit’ (kumpulan puisi, 2019), dan ‘Cara Kerja Ingatan’ (novel, 2020). Buku ‘Jalan Lain ke Majapahit’ meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, ‘Cara Kerja Ingatan’, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Average rating 2.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: