Cerpen, Nilla A Asrudian, Pikiran Rakyat

Catatan Pembunuhan

4.3
(9)

AKU masih tetap pada tekadku bahwa selama hidup, aku tidak akan membunuh siapapun, meski seekor semut. Aku bahkan memilih memakai losion antinyamuk ketimbang menepuknya hingga pipih ataupun meracuninya dengan phyrethroids.

TEMAN-TEMAN sekolahku menyebutku “Si Bodoh yang Berlagak Pintar”. Menurut mereka, ada hal-hal yang harus kita lakukan untuk mempertahankan hidup, bahkan dengan cara membunuh makhluk lain sekalipun.

“Dari mana asal daging rendang yang kau makan jika bukan dari pembunuhan seekor sapi?”, “Dari mana asal daging yang berenang dalam kuah opor gurih yang kau makan jika bukan dari kematian seekor ayam?”

Aku tak menjawab. Aku tak makan daging sapi, juga daging ayam. Sejak kecil aku sudah menolak makan makanan yang pernah bernyawa, dan muntah ketika dipaksa. Untuk memetik sebatang daun pandan yang ibuku minta agar dapat dimasukkan ke dalam kolaknya pun, aku harus merasakan hatiku teriris oleh penyesalan, iba pada rumpun gemuk pandan hijau yang menghias halaman.

“Bagaimana dengan ular? Atau harimau?”

“Aku akan menghindar,” kataku.

“Bagaimana jika ia mengincar nyawamu atau ibumu?”

Aku diam.

“Kau pasti akan membunuhnya kan? Demi nyawa ibumu? Sudah kuduga!”

Cemas dengan kondisiku, ibu mengadakan jam-jam pertemuan panjang dengan seorang pembimbing agama yang didatangkan ke rumah agar bisa menjawab pertanyaanku tentang Tuhan, makhluk, dan kehidupan yang tak bisa dijawab Ibu dan ayahku.

Lalu beberapa kali, Ibu mengajakku berkunjung ke sebuah klinik kejiwaan. Hasilnya, aku dinyatakan baik-baik saja. Aku hanya terlalu peka, kata mereka. Dengan beberapa pemahaman dan pendekatan yang tepat, mereka yakin aku akan baik-baik saja. Sejak saat itu, entah bagaimana, aku bersedia menerima kenyataan bahwa aku harus makan helai demi helai sayuran dan potongan buah yang disediakan ibuku di meja, tapi tidak daging.

Hingga kini, aku tak keberatan dengan sebutan “Si Bodoh yang Berlagak Pintar”, bahkan “Si Gila” sekalipun. Seperti kataku, aku tidak akan membunuh siapapun atau apapun, kecuali sayuran, jika mencerabut sayur dari akarnya juga dimasukkan ke dalam jenis pembunuhan.

Bicara tentang pembunuhan, aku mencatat adanya pembunuhan jenis baru yang mulai terjadi pada bulan-bulan pada tahun 2020. Tak lama setelah berita kematian seseorang akibat terinfeksi virus asing, satu per satu pembunuh berkeliaran di jalan-jalan dan menyamarkan diri ketika pulang ke rumah.

Baca juga  Saat Bertemu Pejuang

Awalnya, orang-orang mengira, virus menular mirip influenza yang kabarnya sulit ditaklukkan dengan obat-obatan itu hanya singgah. Bahwa, kegemparan akibat virus akan berlalu dalam satu-dua bulan. Tapi tidak, virus itu bercokol dengan lihai.

Keberadaan virus dan penyebarannya yang tak kelihatan berhasil membuat banyak orang menganggapnya isu yang dibesar-besarkan, suatu pengalihan atas peristiwa besar yang sedang terjadi di dunia ini, sesuatu yang rahasia hingga perlu ditutupi dengan isu menakutkan.

Atau, jika diakui ada, virus ini dipercaya tidak berbahaya. Kalau pun dianggap berbahaya, mereka tak ingin momok ini membatasi kehidupan mereka. Mereka yakin bisa mengelabui virus dengan protokol kesehatan.

Tetapi, siapakah yang tiap detik dapat menjaga fokusnya pada protokol kesehatan ketika bertemu kerabat ataupun teman yang mereka rindukan? Siapakah yang dapat memastikan tak ada virus di tempat-tempat yang mereka kunjungi atau pada makanan yang hendak disantap atau pada orang yang menjabat tangan mereka erat?

Penularan virus memaksa orang-orang menutup pintu rumah mereka dari orang lain, membuat pabrik-pabrik atau perusahaan memulangkan pegawai-pegawai mereka ke rumah dan mengurangi, jika tidak menghentikan, seluruh kegiatan produksi. Virus juga mengubah manusia sedemikian anehnya. Tak ada yang membayangkan jika satu hari setelah virus diumumkan menjadi pandemi, manusia-manusia mulai tercerabut dari kesehariannya.

Dalam satu hingga tiga bulan pertama pandemi, dunia mencekam. Jalan-jalan menjadi sunyi, kecemasan melanda semua orang. Setiap orang berjalan tergesa hendak menyelesaikan urusannya. Sekolah-sekolah ditutup dan anak-anak diimbau untuk terus berada di rumah.

Hatiku pedih melihat manusia-manusia bermasker dan berperisai muka. Itu bukanlah mode busana yang direncanakan sebagai tren tahun 2020. Namun seiring waktu, lebih menyakitkan lagi bagiku untuk melihat manusia tak bermasker dan tak berperisai muka di tempat-tempat umum selagi virus belum dapat ditaklukkan.

Mahkluk mikron itu mampu mengacak-acak rutinitas kehidupan dan melumpuhkan kebebasan gerak manusia. Dari bulan ke bulan, aku mencermati semua kejadian. Virus yang tadinya memaksa manusia untuk tidak berdekatan—sebab tak ada yang tahu siapa yang telah tertular dan siapa yang belum—menjadi tak lagi menakutkan.

Baca juga  Raja Kuru

Orang-orang tak dapat hidup tanpa tawa dan obrolan hangat, tak dapat bertahan tanpa jabat dan pertemuan jasad. Mungkin benar, manusia lebih mencintai kebebasan daripada kehidupan itu sendiri.

“Sejatinya kita adalah komunitarian, tak bisa sehari tak kongkow-kongkow dengan kerabat atau kawan!” sahabatku berkata sambil tertawa ketika aku menolak ajakannya untuk datang ngopi-ngopi di sebuah kafe.

“Kita kongkow nanti setelah selamat dan keadaan aman,” kataku.

Tapi sahabatku tetap melaksanakan pertemuan-pertemuan demi melepas rindu kepada kawan.

Lain waktu, “Tak usah takut. Kematian hak prerogatif Tuhan. Saya dan keluarga saya beriman, virus tak bisa mendekati kami!” Tetanggaku berkata ketika aku menolak untuk pergi beribadah bersama.

Dan kulihat anak-anak muda berkerumun riang di kafe pinggir jalan sambil menyeruput bergelas-gelas bubble. Ibu-ibu mengobrol bebas dan anak-anak kecil bermain di dalam gang-gang tanpa menggunakan masker.

Berita kematian menjadi lebih sering terdengar dan korban virus semakin banyak berjatuhan. Tetapi manusia kekinian terlalu lemah untuk hidup bersabar dalam kekangan.

Aku mendengar orang-orang tak dikenal mati terinfeksi, menyaksikan tayangan para kerabat menjerit tak ihklas saat melepas mereka pergi.

Sungguh, dipaksa menerima kematian tiba-tiba dari orang terkasih, tak dapat bertemu dan mengucap perpisahan untuk terakhir kali, dan tak dapat mengiringi selayaknya mengiring jenazah yang pergi adalah kepiluan tak berperi.

Namun beginilah keadaannya. Banyaknya kematian tak menciutkan orang-orang untuk terus berkumpul dan mencari lagi kegembiraan bersama sebagaimana masa sebelum pandemi. Jumlah orang tertular tak menggentarkan hati, seolah kematian hanyalah angka, dan angka tak bisa menyakiti manusia.

Di suatu hari kelabu, sahabatku menelefon. Suaranya terdengar pilu.

“Reno meninggal, Yan! Mirna kritis, Arya dan istrinya positif, Seryl dan kedua anaknya juga. Bagaimana ini, Yan? Kenapa bisa begini? Aku dan Bona juga kena tapi tanpa gejala. Pacarku sedang tes, bagaimana kalau keluargaku juga kena, Yan? Ibuku, Yan! Ibuku sudah tua. Kasihan, Yan, oh ampun, Yan,” katanya di sela-sela isak tangis menyebut nama teman-teman kami yang sering diajaknya ngopi-ngopi.

Berbulan-bulan setelahnya, berita kematian kian dekat dengan pintu rumahku. Tetangga yang sering mengajakku beribadah, kehilangan istri dan anak-anaknya setelah terjangkit virus. Begitu pula tetanggaku yang lainnya, yang sering berinteraksi dengan mereka. Aku turut berduka sebab mereka sesungguhnya orang-orang yang sangat baik.

Baca juga  Suara dari Seberang

Menjelang awal tahun 2022, aku masih selamat dari virus. Entah sampai kapan aku tetap hidup, bahkan jika aku menjaga protokol sekalipun. Sebab dengan tiadanya kesadaran semua orang untuk menghentikan penyebaran, kematian semakin acak memilih manusia yang hendak dijadikan kawan berpulang.

Orang-orang masih berkeliaran, merayakan kebebasan di jalan-jalan, di rumah-rumah, dan tempat-tempat makan sementara vaksin sempurna belum berhasil ditemukan. Pilihan sulit, memang. Manusia perlu menggerakkan roda kehidupan, namun roda juga tak akan bergerak jika kita tak selamat.

Aku masih teguh pada pendirianku untuk tidak membunuh siapapun dan apapun. Aku tak ingin terlibat dalam pembunuhan gaya baru yang dimulai pada tahun 2020. Aku mematuhi semua protokol kesehatan bahkan dengan tambahan yang kuanggap perlu dan hanya keluar rumah saat benar-benar perlu.

Namun, jika tahun depan aku tak selamat, aku ingin catatan ini ditemukan oleh orang-orang di masa depan bahwa bukan virus yang menjadi penyebab utama kematian jutaan orang di dunia. Manusia yang masih merayakan kebebasan di jalan-jalan, rumah-rumah, dan tempat-tempat umum-lah yang menyebabkan kematian pada banyak orang tak dikenal, juga pada orang-orang terdekat yang paling mereka sayang.***

Nilla A Asrudian, cerpenis dan penulis lepas. Saat ini berdomisili di Depok. Penulis juga sudah merampungkan novel berjudul Aku Adiva dan Simulacrum. Kedua novel itu belum diterbitkan. Beberapa karya sastra penulis dimuat di terbitan sastra serta pelbagai media massa dan daring.*

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: