Cerpen, Eirlya, Koran Tempo

Deadline

2.6
(11)

Waktu untuk menyetor naskah cerita pendek tinggal beberapa jam lagi, tapi naskah untuk dikirimkan belum tertulis dan tak terpikirkan akan bercerita soal apa. Aku tidak bisa membayangkan semisal menulis cerita tentang seorang perempuan yang hidup di dunia rupa-rupa, dunia yang setiap orang bisa mengganti rupa sesuka hati. Ketika si perempuan bosan dengan rupanya sendiri, dia bisa membeli rupa pada penjual rupa. Atau, di dunia itu rupa merupakan sesuatu yang tidak begitu berharga, tapi selalu saja ada pencuri rupa dan rupa yang dibuang karena tak diakui pemiliknya. Tapi cerita itu, tidak mungkin aku tulis dan mengirimkannya sebagai naskah. Itu bukan cerita yang diinginkan penerima.

Seandainya kuceritakan tentang lelaki yang kehidupannya melebihi keanehan mobil yang bisa berjalan mundur tanpa tertabrak, tidak mungkin akan diterima dan dianggap serius mengirimkan naskah. Padahal aku bisa menceritakan bahwa lelaki tersebut merasa dirinya berjalan maju sendirian dalam melakukan berbagai hal saat usianya memasuki lima puluhan. Itu terjadi saat dia terbangun dari tidur yang amat menyakitkan kepalanya, lalu melihat ke balik jendela, dan mendapati orang-orang berjalan mundur. Dia juga melihat bagaimana seekor cicak memuntahkan nyamuk dan nyamuk yang dimuntahkan terbang berdengung di telinganya. Lelaki tersebut menyangka dirinya bermimpi, tapi setelah duduk hingga matahari terbit, dia tetap melihat seluruh yang bergerak mengalami kemunduran. Matahari? Dia rasa matahari terbit dari barat. Apa dirinya sendiri yang merasakan kiamat? Kemudian lelaki tersebut menyaksikan semua orang bangkit mengeluarkan orang yang mati dari kuburannya dan menghidupkan kembali orang yang mati tersebut. Tapi tidak, sepertinya orang mati tersebut hidup sendiri.

Dan tak mungkin kuceritakan kisah semengerikan yang tidak memiliki ujung tersebut. Tentang lelaki berusia lima puluh tahun yang melihat segala hal berjalan mundur? Yang benar saja. Lebih baik kuceritakan tentang perjalanan Kera Sakti yang menemani biksu Tong Sam Chong untuk mengambil kitab suci. Berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk sampai ke barat? Apakah mereka sudah melewati negaraku? Berhasil mengambil kitab suci? Andai aku bisa menceritakan perjalanan mereka yang memakan banyak waktu, barangkali akan cocok untuk dikirimkan sebelum jam penyetoran berakhir. Tapi, bagaimana pun aku memikirkan sudut pandang untuk menceritakan kisah perjalanan mereka, terlalu banyak nama yang perlu disematkan kepada si Kera Sakti. Tidak mungkin kumasukkan nama Sun Go Kong, Son Goku, Hanoman, Monkey King untuk satu tokoh yang kepribadian dan namanya tidak sama di setiap daerah. Akan menjadi cerita apa naskah tersebut.

Baca juga  Harga Sebuah Kejujuran

Kemudian karena merasa tidak sanggup untuk mengirimkan naskah cerita pendek dengan sisa waktu yang sedikit, aku memilih berdiam diri dan membayangkan segala jenis cerita yang bisa kutulis meski entah bagaimana cara menuliskannya. Biasanya, ketika merasa amat bodoh, satu cerita tidak pernah bisa kutuliskan meski itu sekadar mengarang. Padahal bisa saja kukarang tentang yang sedih-sedih, agar pembaca ikut sedih. Meski kehidupanku tidak semenyedihkan sesuatu yang kuceritakan.

Sebuah beban, kadang membuatku harus menggelengkan kepala. Berpikir bisa menyelesaikannya sebelum waktu berakhir, namun diriku sendiri yang berakhir dan selesai di atas tempat tidur. Aku membutuhkan tekanan untuk menulis, tapi bukan seperti—menghitung dan memperkirakan berapa jam agar bisa menulis dan mengedit satu cerita untuk kemudian dikirimkan. Karena tekanan waktu dirasa kurang cukup, kemudian aku memilih untuk melompat dari atas gedung lantai lima. Dengan cara ini, aku mendapatkan tekanan yang berlipat-lipat. Aku mendapati diriku melayang. Dalam keadaan tersebut aku berpikir bisa terbang, meski tidak mungkin manusia di zaman modern bisa terbang tanpa alat bantu pengurang gravitasi. Aku bisa terbang, dan melihat orang-orang berkerumun di bawahku seraya melihat diriku yang melayang. Oh, mereka sangat takjub seraya menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku tidak begitu mendengar sesuatu yang mereka katakan, tapi dari cara mereka bergerak dan berlarian, sepertinya aku akan menjadi terkenal. Tentu, dengan terkenal, tekanan akan lebih banyak, dan aku pasti bisa menulis. Terkenal? Bukankah yang melayang hanyalah pikiranku, sedang ragaku terjun bebas dan dikerumuni banyak orang? Mereka yang berkerumun menunjuk-nunjuk jendela gedung lantai lima seraya berkata, “Pria ini melompat dari jendela itu, aku melihatnya sebelum dia menjadi seperti ini.”

Baca juga  Sebuah Pura di Air Terjun Gitgit

Ah, tidak mungkin aku mencari tekanan dengan cara melompat dari lantai lima. Kalaupun tekanan tentang mati lalu gentayangan begitu hebat, aku tak akan bisa menuliskannya dan menyetor naskah tepat waktu.

Barangkali aku terkesan bingung memikirkan bagaimana cara menulis cerita dengan cepat. Mengarang-ngarang? Ini bukan tipe manusia yang berusaha menjadi orang jujur. Semisal nanti aku bisa menyetorkan naskah tepat waktu, tentu cerita yang diambil penerima adalah cerita penuh kejujuran.

Aku tersenyum sendiri memikirkan bagaimana cerita yang akan kutulis dibaca oleh penerima. Terasa hambar, tapi tetap saja aku sempat tersenyum. Mungkin penerima naskah akan menganggap cerita yang dibacanya dibuat dengan candaan. Padahal penulis melakukannya mati-matian, berpikir ke mana-mana hingga sempat melompat dari lantai lima untuk menemukan pikiran.

Begitulah cerita singkat tentang susahnya menuliskan cerita ini dengan singkat. Selesai.*

*Catatan, semisal cerita ini betul-betul sampai pada penerima, berarti seorang pemuda yang berusaha menjadi gentayangan dan menyesali kegentayangannya telah melakukan berbagai cara agar bisa mengulang waktu hingga bisa mengirimkan naskah ini tepat waktu. Ah, bagaimana caranya mendeskripsikan kisah perjuangan dalam menuliskan cerita ini?

Akan coba kurasionalkan, meski nanti membuat cerita ini terkesan tidak surealis karena terlalu logis.

Pertama, pemuda yang mendapat tugas untuk menyetorkan naskah cerpen ini mendapat ancaman, “Kalau sampai tidak mengirim naskah, kamu harus mengulang kuliah, dengan mengulang kuliah, tentu acara pernikahanmu akan ditunda beberapa tahun lagi, karena tidak cepat menikah, orang-orang akan melihatmu seperti hantu, dan kamu tidak jauh beda dengan orang yang sudah mati.” Itu kalimat seorang perempuan yang membuat pemuda tersebut geram dan gemetar.

Kedua, pemuda tersebut mendapat bisikan, “Kamu berhenti saja dalam hal yang berbau tulis-menulis kalau tidak bisa mengirim naskah terbaru.” Itu kalimat lain dari bisikan dirinya sendiri.

Baca juga  Tas Hitam di Bandara Ketika Pintu-Pintu Tertutup

Terakhir, pemuda tersebut berusaha menuliskannya sepenuh tenaga meski tidak tahu, naskah yang akan dikirim entah untuk apa dan siapa. Intinya, bahaya kalau sampai tidak mengirim. Karena dia tidak bisa menulis tanpa tekanan—selain tekanan waktu—dia melompat dari lantai lima sebuah gedung dan mati gentayangan. Saat mati gentayangan, dia amat tertekan karena setiap hal yang disentuhnya lebur, suara-suara aneh berputar di daun telinganya, dan dia tidak bisa makan meski merasa lapar. Dalam keadaan gentayangan tersebut, dia mencari cara agar bisa kembali hidup. Satu-satunya cara yang dia ketahui dari suatu bisikan, yaitu melakukan kontrak dengan raja iblis. Dia berhasil melakukan kontrak, dan hidup kembali untuk menuliskan cerita ini tepat sebelum waktu pengiriman berakhir.

Jakarta, 16 Desember 2020

Eirlya, sering mengarang cerita hanya untuk bersenang-senang.

Average rating 2.6 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Ayundha Diah Lestari

    Sangat menarik menurutku.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: