Iqbal H Saputra, Sajak, Tanjungpinang Pos

Diorama Percintaan

0
()

Diorama Percintaan

/

Untuk mencintaimu

aku kudu jadi penyair

agar indra berlayar menuju Indraloka

Tubuhmu rangkaian bait

tempat kuletakkan segala cinta

citra, titik dan tanda koma

Namun meladeni hasrat keduniawian

membanting tulang tak mungkin kunafikan

/

Kau jangan silap mata

berlebih memuja kata

keindahan yang memabukkan

derita mengharu biru

cuma berlaku dalam sajak-sajakku

Urusan rumah tangga sehari-hari

biarlah jadi senggama lain

/

Rumah adalah surga anak keturunan

tapi menyusuri jalan-jalan

mengembarai jagat raya

juga surga lain bagiku

; rumah itu Firdaus, jagat raya Darussalam

Kau pun tahu sejak awal

sebelum suci cinta terkabul

disahkan ijab Kabul

/

Jangan menuntut aku memilih

engkau dan sukma hidupku

Derita akan datang bertubi

/

Jika kumasuki jagat imaji

kuatkan iman cintamu;

tabah merawat anak di rumah

sabar meruwat hasrat bercinta

ikhlas melumat pikiran-pikiran khawatir

atas kenakalan masa laluku

Saat aku di luar, saat tak bisa bertukar sandar

yang kuletakkan di hati cuma kau

yang kurawat di kelamin adalah sumpah

Meski mata-pikiranku menjadi nakal

sikapi dengan tabah

/

Istriku, menikahimu jadi ritual agung

penyempurnaan kepenyairanku

/

Bogor, 2017

/

Seperti Nelayan Aku Meninggalkanmu

/

Seperti nelayan

kutinggalkan engkau, kampungku;

tempat tembuni ditimbuni doa-doa

gerbang uji sebelum kembali

seusai janji terpatri pada Ilahi.

/

Di Tanah Tuahmu tertumpah

titah para datu dan moyang, ditutuh

dari pohon-pohon di rimba harapan.

Keluarlah aku tengah malam

dari peram perut sembilan bulan

serentak kelelawar mencari buah

setengah masak di rimbun semak.

/

Lewat garbah ibu kuhirup udara pertama

bersama aroma sahang, dupa dan sangrai timah.

Menggemah adzan dikumandangi ayah

yang disesaki isak tangis suka cita

dan bingar mesin-mesin tambang

meraung-raung dari dalam rimba.

Baca juga  Bencana; TKI; Luka

/

Sebagai nelayan

kutandangi laut dikangkangi bulan

Kutendangi letupan kasmaran

kurentangkan tangan menantang rintangan

menuju pergulatan yang dipenuhi angin.

Maka kepergian harus bukan sekedar ingin

agar segala ikrar tak berhenti pada angan.

/

Kusiapkan diri pada segala kemungkinan

kusisipkan tekad menandangi tujuan

memburu harapan yang membentang

dengan sadar, tak mesti menang

dalam tiap kali bertarung.

/

Tiap kali berlayar

kubekali diri dengan harapan

kukebali dengan doa dan keyakinan

menuju gelanggang penuh gelombang.

Kubaluri tiang layar dan temali dalam diri

dengan jampi yang dituturkan ibu;

agar getar tangan pada kayuh

menyigar pagar ombak keraguanku.

/

Sebagai nelayan, diri perlu sigap

tirai badai dan kabut harus disingkap

tiang layar perahu diangkat tegap

mengarung segala dera yang derap.

/

Seperti nelayan

kembali kutinggalkan kampung;

Kukayuh kapalku yang ringkih

menuju perburuan penuh dera.

Kukunyah kapur sirih

sebagai jampi penolak bala.

/

Belitong – Yogya
Jejak Imaji, 2018

/

IQBAL H SAPUTRA, adalah nama pena Iqbal Saputra. Lahir di Belitong, 08 November 1989. Saat ini menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Belitung (DKB) periode 2019-2023.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: