Ana Khasanah, Cerpen, Tanjungpinang Pos

Perempuan yang Mencari Sepasang Mata

4.5
(6)

AKU sudah sangat hafal ketika jam-jam pedagang mulai pulang dari pasar. Riuh. Angkutan kecil berseliweran di siang bolong. Tukang ojek beramai ramai menjemput pelanggannya. Suara mencekik pemilik warung nasi rames di ujung pasar yang kehabisan gelas dan piring. Penjual es cendol yang mendorong gerobaknya dengan riang. Dan saat itu matahari dan pertanyaan-pertanyaan selalu ingin menghujam kepalaku, “Mata siapa yang lebih gila di antara semua?”

Di terminal, kulihat angkutan kecil berjajar rapih menunggu antrian dan setiap setengah jam mereka satu per satu akan berangkat meski membawa penumpang atau pun dengan terpaksa dibiarkan kosong begitu saja. Kemudian di pasar orang-orang berdesakan dan sibuk menaksir belanjaan atau paling tidak mereka memilih menawar dagangan dengan harga sekecil-kecilnya. Begitu juga di toko pakaian, toko sepatu, toko obat, toko aneka macam rupa yang tak ada liburnya, sesekali juga terlihat penjaga toko sedang mengelap kaca atau terkadang sedang menikmati rujak sembari menunggu orang menghampirinya.

Hari ini tak terasa sudah dua putaran aku dan emak melewatinya. Tentu di sana kami bertemu dengan mata-mata yang masih sulit kutebak antara heran, kasihan, jijik atau yang lainnya. Mata-mata di warung terminal, mata para pembeli di pasar juga beberapa mata penjaga di toko pakaian. Ah, semua terlihat sama saja. Dan emak seperti biasa hanya membalas dengan mata seseorang yang terlihat bodo amat seolah ingin berkata, “Emang gue pikirin!”

Kalau boleh jujur mata emak adalah mata paling indah di dunia yang kemudian menurun kepadaku, coklat dan belok. Pedagang-pedagang di pasar tak jarang memujiku cantik luar biasa bahkan beberapa di antaranya ingin memintaku sebagai anak tapi setelahnya mereka berpikir ulang, takut jika kelak aku akan seperti emak katanya. Hanya saja yang membuatku takut adalah ketika mata emak berapi-api seolah akan keluar dan membakar seseorang yang tak sengaja bertemu di tengah jalan dan sepasang mata itulah yang sedang kutelusuri.

Baca juga  2011

Kembali ke jalan pada posisi matahari tepat di atas kepala membuat tenggorokan kering dan badan lemas, sesekali aku memilih jongkok untuk menghilangkan kunang-kunang tetapi emak lagi-lagi menuntunku untuk kembali berjalan. Tidak ada pilihan selain mengikuti emak, hanya emak orang yang kusayangi di dunia ini, maka berjalan sejauh apapun aku akan terus setia mengikutinya.

“Mak… Mak…” Sekali lagi rengekanku menghentikan langkah emak. Ia memberiku jajanan yang di atasnya dibubuhi parutan kelapa yang sebelumnya diberi oleh seorang pedagang di pasar, belakangan kudengar namanya mbok Minem penjual klepon, tetapi emak kembali menuntunku sebelum aku benar-benar habis memakannya.

Kupandangi emak, daster bunga-bunga biru yang sudah lusuh menjadi favoritnya bahkan aku sampai lupa kapan terakhir ia menggantinya. Di tangan kanannya sebuah kantong plastik hitam berisi makanan juga barang-barang penting milik emak, salah satunya adalah gincu merah yang tak ada habisnya. Emak memang cantik, pandai bersolek walaupun sesekali penampilannya lebih berantakan dariku dan entah alasannya apa terkadang ia lebih memilih bepergian tanpa alas kaki, meski demikian kulit emak tetap putih bersih dan matanya lagi-lagi paling cantik sedunia.

Kami terus berjalan menelusuri jejak trotoar yang panjang, tentu dengan badan setengah sempoyongan menuju arah yang belum kita tentukan dan barangkali memang tak akan pernah ditentukan. Ke arah mana saja asal bersama emak. Ternyata kita hanya memutar jalan yang sebelumnya, “Ini jalan ke arah terminal,” batinku.

Ini yang ketiga kalinya kami berjalan ke arah terminal, aku ingin bertanya pada emak tapi diurungkan sebab pasti tak ada jawaban. Sebenarnya kalau kami berjalan ke arah sebaliknya di ujung jalan dekat warung sembako dan jembatan kecil ada rumah mbok Minem yang mengaku sebagai kerabat emak. Mbok Minem pernah mengajakku tinggal bersamanya tapi aku menolak karena tidak tega melihat emak berjalan seorang diri, jadi setiap hari ia memberiku klepon dan beberapa lembar uang, kata mbok Minem untuk membeli makan kalau lapar di tengah jalan, Mbok juga sesekali menjemputku dan emak ketika malam tiba.

Baca juga  Kinanti

Dan dari sekian tempat yang biasa kami singgahi adalah lincak pasar yang sudah ditinggal pulang oleh para pedagang atau mushola yang berada di antara pasar dan pertokoan menjelang malam dan sesekali di rumah mbok Minem atau di tempat lain misalnya di depan toko obat-obatan yang memiliki teras lumayan luas. Aku memilihnya sebab emak enggan menentukan tempat atau memang kami benar-benar tak memiliki tempat, sekaligus untuk menghindar dari mata-mata yang membuatku terus menebak-nebak.

Aku merekam jelas dengan kedua mataku bahwa beberapa mata di sepanjang warung kopi di terminal penuh birahi, beberapa mata lainnya di pangkalan ojek yang tak mau ketinggalan lagi, mata para pembeli di pasar yang seolah ingin mengadili kami seolah kami adalah pencuri kelas teri, mata penjaga toko yang memandang kami dengan jijik, atau mata anak-anak kecil yang ramai seperti menonton sebuah pertunjukan komedi.

Tetapi ada satu mata yang dulu tidak membuatku bertanya-tanya yaitu mata penjaga mushola di sini, matanya setenang bulan yang terus menyapu awan, ia selalu menyambut kami juga beberapa kali memberikan camilan walaupun kami terus saja pulang dan datang lagi. Tapi tetap saja aku waspada bahwa kelak tanpa disengaja matanya akan tergoda pada mata emak yang merupakan mata paling cantik sedunia.

Dan beberapa Minggu belakangan, pertanyaan-pertanyaan tentang siapa pemilik mata yang membuat mata emak berapi-api semakin sering muncul, kepalaku mengepul bukan karena terlalu sering dibakar matahari tetapi perihal lain yakni emak yang semakin sering berteriak-teriak di sepanjang jalan. Sejak lama memang emak memiliki kelainan, seseorang di jalan bilang ayan dan seseorang lagi bilang edan dan beberapa anak-anak bilang lain lagi.

Baca juga  Dongeng dari Gibraltar

“Orang gila… Orang gila… Orang gila…” Anak-anak berteriak dan mengumpat di balik pagar tapi mata mereka seperti mengerumuni sebuah komedi.

“Mak, tunjuk dengan jari emak sepasang mata mana yang membuat emak seperti ini.” Aku meyakinkan emak tapi masih tak ada jawaban.

Semakin perutnya membesar semakin sering emak berteriak-teriak, semakin matahari naik dan beberapa pasang mata memandang, semakin aku bertanya-tanya sepasang mata yang mana yang telah membuat emak berteriak-teriak tak keruan. Tidakkah salah satu mata dari seseorang di terminal atau di pasar atau di pangkalan ojek atau salah satu di pertokoan atau mungkin di mushola yang membuat emak dianggap gila. Tidak salah lagi sebab saban hari kami hanya berputar di tempat-tempat itu saja.

Sungguh gila ada seorang perempuan yang dianggap gila bisa bunting tanpa seorang pria. Kepalaku seolah akan pecah bertanya. Mata siapa yang lebih gila di antara semua. Mata emak yang gila atau mata seseorang yang telah membuatnya gila.

Dan aku terus berjalan mencari sepasang mata yang lebih gila itu. ***

ANA KHASANAH, lahir di Kebumen, 23 tahun yang lalu. Buku antologi puisinya berjudul “Cermin” terbit 2018 lalu. Saat ini berdomisi di kota kelahirannya.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: