Koran Tempo, Puisi, Tjahjono Widijanto

Tas Hitam di Bandara Ketika Pintu-Pintu Tertutup

5
(1)

Tas Hitam di Bandara Ketika Pintu-Pintu Tertutup

/

koridor ini masih remang-remang

cahaya lampu muram dan gigil

dalam gaduh yang sunyi

waktu dan jarak dilipat dengan sempurna

dengan hitungan cermat seperti Sysiphus

menghitung jerit batu melintasi bukit demi bukit

/

embun di kaca-kaca mencoba mengabadikannya

sesaat sebelum petugas cleaning service muda

menghapusnya dengan lap kumal yang basah

—“ini ruang publik yang sekarat, tak ada lagi

tempat kau menitipkan riwayat di sini!”

/

pagi beranjak makin berani

matahari miskram meluncur perlahan

kubayangkan deru pesawat segera tiba

mengusung jejak riwayat dalam perjalanan kembali

sebagai bongkah batu diluncurkan dari bukit ke bukit

tapi pintu-pintu tetap enggan terbuka

koridor masih juga lenggang dan remang-remang

sunyi yang sempurna mengutukku menjadi pertapa

yang harus betah mengabadikan musim yang gagap

pada seribu puisi meraung dalam pintu-pintu tertutup

/

Ngawi, 2021

/

Membaca WhatsApp Emeley Sore Hari

/

Emeley, sore ini

di bandara Juanda langit lindap seusai hujan

tak ada lagi orang lalu lalang memburu waktu

di pojok sebuah cafe yang cuma satu-satunya buka

aku baca WhatsApp statusmu tentang kota-kotamu

yang mendadak kelabu dan bisu seperti kubur raksasa

katamu di Lombardy, Vanetto, dan Venesia orang-orang

telah dikutuk jadi pertapa

/

kubayangkan getar bibirmu yang ranum bicara,

wajahmu yang mendadak gerhana angslup

dalam segelas leci yang bersanding secarik nota

apa yang dapat kubaca dalam matamu yang biru

selain bayang jagat yang makin hoax dan bungkuk

langit hilang tepinya dan bidadari-bidadari hilang selendang

peta-peta tak lagi terbaca lusuh dan asing dalam saku kemeja

/

Emeley,

ranum bibir dan telaga biru matamu mendadak kandas dalam gelas

di kedalamannya aku menggelepar dalam raung yang lapar

Baca juga  Perempuan Pendongeng dan Cerita Cinta yang Dikisahkannya

“mana rumahmu, mana alamatmu!”

sedangkan aku sendiri kini gagal mengeja alamatku sendiri

jejakmu perlahan melarut

diparut musim disesatkan cakrawala

udara mendadak makin gigil menikamku

dengan kelebat kenangan tentang rambutmu yang berkibar-kibar

melambai-lambai lancip ujungnya menembus jakun leherku

juga sepasang lengkung alis matamu

yang rajin mencucuki korneaku

/

Emeley,

kupesan lagi secangkir kopi

sendiri tanpa gula juga tembakau

seperti punggung batu sabar ditumbuhi lumut

dan gemuruh yang menjelma denting sempurna

di pojok bandara ini menunggumu

kubiarkan panas aroma kopi perlahan dingin dan basi

kenangan yang mendekam serupa hitam kopi

mengendap sempurna di cangkir waktu

yang saban malam kuharap kau

selalu dapat menghikmat kembali aromanya

/

Ngawi, 2020

/

Nubuat Laut

/

Laut kecubung dalam mantel kabut kelabu

kutebak riak-riak buihnya menyimpan notasi asing

lamat-lamat di sepanjang antara jantung dan jakun

ketika seekor ikan menggelepar-gelepar di hulunya

saat seseorang menembakkan lutta di lobang karang

/

Laut kecubung berlabuh dalam nadi

lembing-lembing taufan menghunjamkan hujan

menatahnya pada ceruk-ceruk kasar karang batu

tempat sesekali burung-burung alit menyambanginya

menawarkan hening missa saat embun menyentuh pagi

kidung-kidung perih menyeret jejak

menyeberangi seribu tahun yang hitam

menatap bulan membenam dalam impan

/

Laut warna kecubung pasang dalam nadi

rangka-rangka hujan menggali kubur para moyang

dari tengkorak Tatahe hingga Tanjung Berdarah

dalam derap taufan dan bulan yang pingsan

meninggalkan gemuruh geloranya sendiri

mentakzim sunyi pada tahun-tahun membatu

bersama bisik-bisik yang semakin sayup

sebelum melarut dalam senyap halimun

sebelum seribu rindu kujelmakan jadi puisi

/

Melonguane, 017/020

/

TJAHJONO WIDIJANTO, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku puisinya, antara lain, Penakwil Sunyi di Jalan-jalan Api (2018).

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: