Cerpen, Edri Ed, Pontianak Post

Di Bawah Pohon Beringin

2.8
(4)

Dari mata ranummu yang basah hujan tambah deras memecah malam yang jalang, menembus kabut yang bimbang. Ngilu dan nyeri menumpuk di ruang dadamu. Bagimu, tak ada malam tanpa kemuraman. Tak ada hari tanpa rasa nyeri.

“Bagiku, hidup adalah rangkaian penderitaan dan kematian juga panggung serupa. Tak ada bedanya,” katamu putus asa.

“Apakah pelayananku pada pelanggan tak akan dihitung Tuhan sebagai bentuk kasih sayang,” katamu lagi dengan suara parau. Lama kau terdiam menunggu jawab yang tak kunjung tiba. Malam dan hujan grasak-grusuk sebab pertanyaanmu yang membingungkan.

“Untuk mengasihi manusia dalam perutku aku bahkan rela memuaskan mereka. Apakah neraka juga akan membakar orang yang mengasihi manusia lain dalam perutnya? Dan, apakah neraka juga akan membakar orang hina yang menyenangkan beberapa manusia lain?” Tanyamu kemudian dalam desau angin yang menampar-nampar wajahmu. Hujan semakin jadi menghunjam di kepalamu, di wajahmu dan di segala bagian tubuhmu.

“Jadi pelacur adalah satu-satunya caraku menyambung hidup dan mengasihi makhluk hidup lain yang hidup dalam tubuhku. Apakah Tuhan punya tempat lain selain surga dan neraka? Tolong tanyakan pada-Nya!” Desakmu sambil menarik kencang sebilah pisau yang sejak tadi mengincar urat nadimu. Kemudian tubuhmu terkulai lemah di pangkuan trotoar jalan.

Gigil malam dan hujan semakin erat memeluk tubuh telanjangmu. Kehangatan hanyalah airmata yang keluar dari tubuhmu sendiri. Hujan dan malam enggan pergi, ia memperkosamu hingga pagi hari, hingga kau mati.

“Apakah ada tempat lain selain surga dan neraka?”

Sejak malam itu aku melihat pertanyaan-pertanyaanmu terpaku di langit dan di kepalaku sendiri. Sementara jasadmu telah dimakan cacing-cacing tanah dan binatang yang lapar. Jasadmu dikubur tanpa nisan, tanpa nama. Bahkan prosesi pemakamanmu tanpa hantaran doa-doa. Sudah tentu tanpa visum dan tanpa penyelidikan. Bukankah kau dan teman-temanmu selalu dianggap pengundang bencana di bumi suci ini. Menelusuri kematianmu sama saja membuang-buang waktu mereka. Tak ada gunanya. Bagi mereka, kematianmu adalah rahmat untuk semesta.

Kuburanmu tak jauh dari tempat kau ditemukan, kebetulan ada tanah kosong di sana. Beruntung pemilik tanah setuju dipintai sedikit tanahnya untuk rumah peristirahatanmu. Ya, walaupun berdampingan dengan tempat pembuangan sampah, setidaknya kau masih bisa beristirahat di sana.

Sehari setelahnya koran-koran menampilkan tubuhmu di halaman pertama dengan judul besar di atasnya “Seorang Pelacur Dibunuh Malam dan Hujan.” Sore hari kutemukan koran itu di trotoar. Melayang-layang. Diinjak. Lalu, hilang entah ke mana. Mungkin di dekat kuburanmu, karena di sanalah segala yang tak penting dikumpulkan.

Baca juga  Mengundang Kematian

Malam-malam berjalan seperti biasanya. Teman-temanmu masih berbaris di trotoar jalan. Menunggu pelanggan dengan muka muram. Kadang tersenyum ketika ada pelanggan. Tawar-menawar mereka berlangsung lama, tak sepertimu yang rela dibayar sesuai kemampuan. Kau senang menyenangkan pelanggan, pelangganpun demikian. Tak punya banyak uang juga bisa jajan dan memanjakan diri mereka yang kadung ditimbuni persoalan. Aku tahu, teman-temanmu sering iri kepadamu. Sebab, kaulah yang selalu dicari pelanggan.

Beberapa pelanggan tetapmu bahkan masih sering menanyakan keberadaanmu. Kau masih ingat Kasim, mahasiswa semester lima yang umurnya sepantar denganmu. Tentu kau ingat, sebab aku melihat kau tertawa geli waktu itu, ketika pemuda itu mengatakan cuma punya uang lima puluh ribu untuk mengencanimu. Aku tahu keputusanmu menerima tawaran itu hanya untuk meringankan bebannya, meringankan masalah yang bertumpuk di kepalanya. Aku juga melihat wajah putus asa dan lelah di wajahnya, tentu kau lebih paham. Malam ini, ia datang lagi mencarimu dengan wajah yang lebih menyedihkan. Rambutnya berantakan, matanya sendu, tubuhnya semakin kurus dengan jaket levis kumalnya.

“Kenapa kalian selalu mencari Mawar?” kata temanmu kesal kepada pemuda itu. “Mawar sudah mati seminggu yang lalu,” katanya lagi sebelum pemuda itu sempat menjawab.

Beberapa temanmu yang berbaris di trotoar, yang menunggu pelanggan, turut mendekat. Pemuda itu kikuk, ia bingung dikerumuni seperti itu. Ia taksir satu-satu wajah di bawah kemuning lampu jalan itu. Tak ia jumpai wajahmu.

“Mawar dibunuh, Bang. Kenapa mencari mawar? Kita-kita kan masih ada,” kata seorang yang juga temanmu, dengan penuh harap pemuda itu mau mengencaninya.

Mendengar itu, matanya membulat. Bibirnya bergetar. Kabut, matanya berkaca-kaca. Lama ia terdiam. “Mati? Dibunuh?” katanya pelan.

“Siapa…?”

“Malam. Malam dan Hujan yang membunuhnya,” jawab salah seorang sebelum pemuda itu merampungkan kata-katanya.

Tak lama, teman-temanmu meninggalkan pemuda itu sendirian. Ia duduk diam hingga larut malam. Aku tak tahu apa yang tengah ia pikirkan, tetapi aku melihat tatapannya kosong. Entahlah, aku tak bisa melihat isi kepalanya. Di sela matanya kulihat bulir airmata yang tak sempat jatuh, ia lebih dulu menyekanya menggunakan lengan jaketnya. Kau tahu? Melihatnya bermuram seperti itu selalu mengingatkanku padamu. Sudah ribuan malam kau lewati bersama kemuraman, dan airmatamu selalu gagal meleburkan diri ke trotoar yang sejak lama berharap. Kau selalu lebih dulu menyekanya menggunakan punggung tanganmu. Setiap malam kusaksikan peristiwa itu hingga tanpa sadar membuatku terkesan, atau entah aku jatuh cinta padamu.

Baca juga  Muncak Ilang

Di trotoar ini, sudah jutaan bulir airmata yang diam-diam dijatuhkan. Aku melihatnya begitu jelas, teman-temanmu kerap diam-diam menjatuhkannya. Tentu aku tidak tahu sebabnya. Tetapi, adakah kau mendengar airmata bahagia dibuang secara diam-diam? Mungkin saja ada, tetapi aku tak yakin itu yang dirasakan teman-temanmu. Di trotoar ini, airmata selalu jatuh bersama kesedihan dan segala persoalan. Itu sebabnya pisau yang menghabisi nyawamu kusembunyikan di sela-sela kakiku, kutimbun dengan dedaunan yang sengaja kugugurkan agar tak ada lagi nyawa melayang di tempat ini.

Malam itu, hujan turun deras. Angin mengibas kencang. Malam semakin sunyi dengan segala rahasianya. Lampu-lampu jalan bergoyang, segala cahaya keemasannya buram oleh bias hujan. Tak ada orang-orang berlalu-lalang di jalan. Aku yang kokoh dan besar juga hampir ambruk ke jalan dan menghantam pemuda itu. Kau mungkin tak percaya bahwa ia, pemuda itu, tak beranjak sama sekali dari tempatnya. Ia bahkan rebah di trotoar; menjadikan kakiku yang menyembul dari bawah semen sebagai bantalan kepalanya. Lagi-lagi pemuda itu mengingatkanku padamu.

Berkali-kali aku mengusirnya. Berteriak sekuat yang kubisa. Walau aku tahu, ia tak akan mendengarnya sedikitpun. Bahkan, beberapa kali aku mematahkan bagian tubuhku, menanggalkan beberapa helai daun lebatku, dengan harapan ia bergegas pergi. Namun, ia tak bergerak sama sekali. Dari mata ranumnya yang basah oleh hujan, atau entah oleh airmata. Aku tak dapat membedakan mana airmata, mana air hujan. Namun, kemuraman di wajahnya membuatku yakin bahwa segala yang mengalir dari sela-sela matanya, bersumber dari alam tubuhnya sendiri.

Malam itu angin sangat ganas bertiup. Menyibak apa saja yang tergeletak di kakiku, termasuk dedaunan dan rerantingan yang kusembunyikan di sana. Seketika mata pemuda itu menatap nanar pada pisau yang mengilat terkena cahaya lampu jalan. Itu pisau milikmu, pisau yang membuangmu dari segala kefanaan dunia, dan melemparmu ke alam yang entah; semoga Tuhan menyediakan tempat terbaik di sana.

Baca juga  Nelayan dari Pulau Rote Ndao

Percayalah, malam dengan segala kesunyiannya, desau angin dan hujan dengan kegilaannya serta kemuning lampu jalan dengan kemuramannya telah bersekongkol malam itu. Mereka berhasil, pemuda itu langsung menyambar pisau yang tergeletak di sela kakiku. Wajahnya datar memutar-mutar benda itu di tangannya. Tak lama ia tersenyum-senyum sendiri, menaksir-naksir pisau milikmu.

“Mawar, aku punya seratus dua lima malam ini. Aku akan memesanmu lagi. Kali ini kau bisa makan nasi goreng. Atau kau mau bakso? Jangan lupa belikan juga aku sebungkus rokok! Ceritaku kemarin sengaja kusudahi sebab rokokku habis. Oh iya, bagaimana dengan bayi kita? Sudah makan? Pasti dia sudah rindu denganku. Tenang, malam ini kita makan bertiga,” katanya sebelum terkulai tak berdaya.

Hujan bersorak-sorai ketika ia, pemuda itu, mengiris pergelangan tangannya. Ia tergolek lemah di pangkuan trotoar jalan yang basah. Aku sangat takut, tubuhku bergetar hebat. Beberapa bagian tubuhku patah. Ketakutanku malam itu sama halnya ketika kau untuk pertama kalinya menumpahkan airmatamu di trotoar itu, ketika punggung tanganmu tak mampu lagi menyekanya, ketika malam dan hujan di luar maupun di dalam tubuhmu sendiri semakin menggila.

Tak ada yang bisa aku lakukan. Apalah yang dapat dilakukan sebatang beringin tua sepertiku selain membuat sampah dengan daun kering yang berserakan setiap waktu atau menghalangi plang nama jalan di perempatan Tanjung Pura ini. Cepat atau lambat tubuhku juga akan segara dicincang habis, dibakar atau dibentuk apa saja. Aku sudah rela jika hal itu sewaktu-waktu terjadi. Namun, aku tak sanggup membuat diriku memasabodohkan segala peristiwa yang kusaksikan. Segalanya, segala yang kusaksikan membuatku tersiksa.

Kau lebih paham, dunia memang sarang kesengsaraan. Celakanya, orang-orang masih betah dengan segala kebimbangannya. Di trotoar jalan ini kaulah yang pertama memilih meninggalkan kesengsaraannya. Kedua, pemuda itu. Ia juga mengadu nasib di sana, sama sepertimu. Tapi, siapa pemuda itu? Kekasihmu? Atau?

Average rating 2.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: