M Husein Heikal, Resensi, Waspada

Fantasi Besar Jose Saramago

2.3
(3)

JOSE de Sousa Saramago lebih dikenal sebagai novelis yang terkenal lewat Blindness. Seorang novelis terbiasa menulis panjang, sehingga saat membuat cerita pendek ia nampak kesulitan memadatkan cerita dalam bahasa yang terbatas.

Alhasil cerpen-cerpen yang terangkum dalam buku yang dipublikasikan pertama kali pada 1978 ini taklah bisa disebut “pendek”––terkecuali cerpen terakhir yang berjudul Balas Dendam hanya terdiri empat halaman.

Lima cerpen lain memerlukan ketekunan ekstra untuk membaca kata demi kata yang disuguhkan. Bukan bahasa dalam pemaknaan biasa. Cara pendeskripsian Saramago agak “kacau” serta merembet ke hal-hal yang memiliki sedikit-banyak kaitan atas apa diketengahkan dalam cerita. Ini cukup menganggu pembaca, tapi disitu pulalah gaya khas seorang Saramago.

Buku setebal 164 halaman ini hanya berisi enam cerpen. Jumlah yang terbilang minim bila dibanding dengan buku kumpulan cerpen lain, semisal Kitab Pasir Jorge Luis Borges yang berisi 13 cerpen dengan tebal 117 halaman. Sebabnya, tak lain ialah Saramago terlalu banyak menyeret berbagai hal yang “tak cukup bersangkut-paut” ke dalam ceritanya. Tentu ia punya alasan tersendiri mengadopsi style semacam ini.

Dalam cerpen pertama, Kursi, Saramago menceritakan sebuah kursi yang tampak segera tumbang. Ia tidak hanya menjelaskan kursi itu terbuat dari kayu apa, tapi juga menjelaskan jenis-jenis kayu lain. Bahkan ia merisaukan perkara memilih kata, antara jatuh atau tumbang. Ia tak buru-buru memberi keputusan dalam cerpennya. Ia memberi penawaran kepada pembaca.

Cerpen ini juga menyeret konteks ilmiah, serangga Coleoptera dan Anobium. Cara pendeskripsian agak membingungkan dengan digaetnya nama koboi Buck Jones, Tom Mix, Fred dan Mary. Intinya kita memerlukan referensi yang cukup untuk memahami cerpen ini sepenuhnya. Boleh juga tidak, caranya kita bisa menerkanerka, ini apa-itu apa. Hasil menerka-nerka tak sepenuhnya buruk.

Baca juga  Di antara Keheningan

Tokoh utama cerpen ini sebenarnya seorang lelaki (subjek) yang duduk di kursi (objek) itu. Sang tokoh baru muncul setelah kita membaca 10 halaman pertama. Mengejutkan memang. Saya duga tokoh utama cerpen ini ialah “kursi” tersebut. Ternyata kursi menyimbolkan kekuasaan yang rapuh, dan lelaki tua itu sang penguasa diktator. Itu tadi: syarat utama mencerna cerpencerpen Saramago dalam buku ini ialah: ketekunan.

Cerpen Refluks dan Barang-barang juga mengemukakan tema kekuasaan yang diseludupkan lewat fantasi yang besar. Bayangkan ruang seluas 100 km persegi ditembok dipusat wilayah dijadikan pekuburan, hanya karena Sang Raja tidak mau melihat kematian. Mayat-mayat dari manapun dibongkar, dan dikumpulkan di sana.

Persoalannya menjadi memilih antara kota untuk manusia yang masih hidup yang dikelilingi kota mayat, atau pilihan lainnya, kota mayat yang dikelilingi oleh kota manusia yang masih hidup. (hal. 71). Kekuatan kuasa tak tertandingi oleh suara rakyat. Apa yang dikehendakkan penguasa, rakyat hanya bisa menerima.

Judul : Hikayat Benda-benda
Penulis : Jose Saramago
Penerbit : Basabasi
Cetakan : Pertama, Juli 2020
Tebal : 164 Halaman
ISBN : 978-623-7290-73-5

Begitu juga dalam cerpen Barang-barang. Barang-barang hilang, mulai dari tangga, mobil hingga apartemen. “Semua yang menghilang, menghilang pada malam hari.” (hal. 115). Akhir cerita cukup menghentak. Apa yang dimaksud barang ternyata adalah manusia. Berarti yang hilang (atau dihilangkan oleh pemerintah) sebetulnya ialah manusia.

“Sekarang kita harus membangun ulang semua ini” Seorang perempuan menyahut, “Tak ada perbaikan lain sebab kitalah barang-barang itu. Jangan pernah lagi manusia diperlakukan sebagai barang.” (hal. 129).

Tiga cerpen lain, Embargo mengetengahkan kelucuan lelaki lengket dalam mobil, Centaur makhluk mistis yang hidup tersingkir dalam kesendirian, dan Balas Dendam cerpen yang tak saya pahami, meski berulang-ulang membacanya. Penjelasan Giovanni Pontiero (1994) dalam pengantar buku ini atas cerpen terakhir ini juga tak sepenuhnya membantu, yakni “mengeksplorasi gairah dan persepsi remaja dengan kelezatan maksimal.”

Baca juga  Siapa Tahu yang Kelima?

Kumcer Saramago ini tidak dianjurkan dibaca sebagai hiburan ringan. Pembaca sastra lokal bisa jadi menyerah menghadapi buku ini. Oleh karena itu jadilah pembaca sastra dunia. Fantasi besar José Saramago, peraih Nobel Sastra 1998 dari Portugal ini bukan ilham yang jatuh dari langit, melainkan ditata seperti menyusun batubata sebuah menara. Menara yang runcing dan menghujam di ujungnya. ***

Average rating 2.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: