Cerpen, Kak Ian, Radar Madiun

Klarifikasi

1.3
(4)

“Bila kau menjadi pengarang, jadilah pengarang yang santun. Kau tak usah ikut-ikutan pengarang yang banyak bicara. Lain yang ditulis, lain pula tindak tanduknya. Yang kerjanya menghina karangan orang. Yang kerjanya menghardik pengarang lain.” [1]

***

DI pagi buta itu, sebelum matahari pagi sempurna menampakkan diri, dia sudah tergopoh-gopoh datang ke rumahku. Dengan membawa koran yang dibelinya tiap Minggu pagi di loper koran langganannya itu dia langsung menyodorkannya kepadaku. Aku yang belum sepenuhnya membuka mata, masih mengucek-ngucek agar sempurna, akhirnya bangkit juga dari tempat tidurku. Walaupun aku masih mengantuk sekali pagi itu apalagi di saat hari libur. Aku makin tambah malas saja bangun pagi.

Usai aku membuka mata lebar-lebar kulihat dia sudah berada di hadapanku. Kemudian menyerahkan sebuah koran ke arahku.

“Buka halaman budaya dan sastra di koran itu. Di sana ada cerpen kau. Tapi yang disesalkan nama orang lain yang tercantum di sana bukan nama kau. Aku tahu itu cerpen kau dan aku juga sangat mengetahui sekali perjalanan cerpen itu. Karena sebelum kau kirimkan cerpen itu ke media, bukankah lebih dulu kau memintaku untuk membacanya lalu mengkritisinya. Jadi aku sangat tahu jika itu cerpen kau,” panjang lebar seperti pidato keagamaan dia sudah membuat kamarku seketika menjadi mimbar untuk memperjelaskan cerpen yang ada di koran itu.

“Terus kenapa?” ujarku agak malas-malasan menanggapinya. “Nanti juga ada klarifikasi dari koran itu, kenapa juga aku harus meributkan hal itu,” lanjutku.

“Ya ampun, memangnya pengarang di dunia ini kau saja apa! Aku harap kau harus komplain sana pada redakturnya jika ada kesalahan dalam penulisan nama pengarangnya dalam cerpen itu,” dia lanjut menyarankanku untuk melakukan yang apa dia anggap ‘keharusan’.

“Lho, kenapa harus komplain? Aku ini pengarang, bukan pembeli atau penjual jasa yang tiap menerima barang yang tidak sesuai harus dikomplain. Aku pengarang, jangan samakan aku dengan mereka!” kataku yang membuat pagi liburku cerah menjadi gerhana.

“Ah, ya sudahlah! Percuma bicara dengan pengarang tengik macam kau! Diberitahukan untuk kebaikan tapi tak digubris. Kau itu sombong, belum apa-apa gayanya sudah kayak superstar. Baru satu, dua, dan tiga cerpen saja yang dimuat di koran, tingkah kau seperti itu. Apalagi nanti jika sudah terkenal. Kau pasti tidak akan lagi mau berteman denganku, dan juga tidak mau meminta masukan serta kritikanku lagi. Baiklah, aku balik dulu. Lagi pula siang nanti aku diminta untuk mengantarkan Willona ke toko buku. Betapa enaknya kan jadi aku. Walaupun aku tidak pernah memberikan puisi untuk dia seperti kau lakukan. Tapi dia sepertinya ada hati padaku. Silakan kau kembali tidur lagi sambil terbuai mimpi semu kau yang aku ganggu tadi!”

Baca juga  Tiga Laki-Laki dalam Satu Waktu

Aku tidak membalas ucapannya itu. Kudiamkan sejenak. Tapi lama-lama aku pun tersadar…

“Bukankah Willona itu cewek yang aku taksir. Bariiiiiii, kau bangsat ternyata, cewek temanmu sendiri kau tikung juga!”

Saat itu dia sudah tidak ada di kamarku lagi. Dia sudah meninggalkan aku sendirian. Oh tidak, aku sekarang tidak sendiri lagi. Aku sudah bersama koran yang dia bawa untukku. Di sana ada cerpen yang aku tulis tapi salah menaruh namaku sebagai pengarangnya. Dan koran itu saat ini tergeletak di tepi tempat tidurku.

***

“Hei, Bung, memang itu cerpenmu! Jangan mengaku-ngaku itu karyamu. Mau kau dianggap plagiator.”

“Bukankah itu cerpen penulis senior! Tidak mungkin karyamu, Kawan!”

“Jadi maksud Anda, penulis itu yang memplagiat karya Anda. Hei, dia itu penulis kawakan, saya tahu siapa dia. Jadi tidak mungkinlah begitu!”

“Biasa soal itu jika ada kesalahan nama pengarang dalam sebuah pemuatan karya di media. Kamu tinggal klarifikasi saja sama medianya biar bisa diralat jika itu adalah karyamu.”

Keesokan harinya, seusai aku membaca koran yang dia bawa pagi itu. Ya, dia adalah Bari. Dia adalah teman satu komunitas yang juga sama-sama satu kampus denganku. Akhirnya aku dapat pelajaran juga darinya. Apa yang dikatakannya ada benarnya juga.

Itu pun aku baru menyadarinya seusai membuat status di laman Facebook. Kemudian banyak yang berkomentar. Salah satunya ada yang meragukan dan menyudutkan aku jika cerpen yang dimuat di koran itu bukanlah karyaku. Aku yang mengetahuinya saat membaca komentar-komentar itu pun sesak. Mereka seperti itu ternyata terhadapku.

“Apakah pengarang macamku tidak mampu membuat cerpen bagus?” gumamku sambil kumatikan layar laptopku.

Karena aku tidak ingin memikirkan komentar-komentar itu, aku pun pergi ke taman kota setelah kumatikan laptopku lebih dulu.

Baca juga  Sura dan Perempuan

Aku pergi ke sana, hanya ingin menenangkan hati dan pikiran. Namun, entah kenapa aku jadi ingat kembali—dengan apa yang aku lakukan kepada Willona selain mengirimkan puisi sebagai perwakilan diriku. Aku juga pernah mengajak dirinya untuk menonton bioskop tapi ia menolaknya. Hingga aku tetiba jadi ingat pada Bari.

“Ah, besok aku ke rumahnya saja! Aku ingin meminta maaf atas kesalahan sikapku di Minggu pagi itu. Kuharap dia mau memaafkanku!”

***

Keesokan harinya aku ke rumah Bari. Ternyata dia tidak di rumah. Dia sedang ke rumah kakeknya yang sakit di kampung. Dan herannya dia tidak memberi kabar padaku. Apakah dia masih memeram amarah padaku di Minggu pagi itu?

Akhirnya aku tidak menemuinya. Setelah itu aku pun menghubungi dia dengan memberi pesan singkat di WhatsApp.

[Aku hari ini ke rumah kau. Tapi kau tidak ada di rumah, kata orang rumah kau ke rumah kakek kau yang sakit. Aku datang ke rumah kau sekaligus ingin minta maaf atas sikapku di Minggu pagi itu. Semoga kau mau memaafkanku!]

Kukirim juga akhirnya pesan itu. Kutunggu jawaban darinya saat itu. Tapi tidak juga pula aku mendapatkan balasan darinya sampai beberapa hari kemudian. Walaupun aku tidak bisa memaksa kehendaknya untuk membalas pesanku itu.

Sepulang dari rumah Bari, entah kenapa aku pun membuka laptop—dan menulis surat klarifikasi tentang kesalahan nama pengarang di cerpenku. Setelah itu kukirim lewat email. Semua itu pun aku lakukan karena mengingat anjuran dari Bari agar diriku segera melayangkan surat klarifikasi. Ketimbang membiarkan mulut-mulut di luar sana yang meragukan cerpen itu benar-benar milikku.

Siang itu akhirnya aku melayangkan juga surat elektronik kepada media yang memuat cerpenku tapi salah menaruh nama pengarangnya. Bukannya aku sebagai pengarangnya, tapi nama orang lain yang tercantum.

***

Di Minggu pagi berikutnya Bari datang ke rumahku. Kali ini aku sudah bangun lebih pagi lagi. Aku yakin pasti dia ke rumahku untuk mengabarkan berita klarifikasi tentang cerpenku yang di-publish di media itu. Karena sebelumnya aku sudah membeli koran itu walaupun dia pasti akan membelinya untukku.

Tapi, dengan kedatangan Bari nanti aku pun sudah menyambutnya dengan penuh penyesalan atas sikapku beberapa hari lalu di Minggu pagi itu—yang telah membuat dirinya kecewa. Aku ingin segera meminta maaf atas sikapku di Minggu pagi itu.

Baca juga  Awal Tahun yang Sulit

“Tumben kau sudah bangun pagi begini. Biasanya masih melingkar di kasur,” kata Bari. Dia langsung berkata tanpa sekat.

Aku tersenyum kecut padanya.

“Memang pengarang macamku tidak boleh bangun pagi? Kau kira pengarang itu seorang pengangguran!” akhirnya terlontar juga ucapanku pagi itu. Kulihat wajah Bari langsung menampakkan ketidaksukaan atas jawabanku itu.

“Maaf, aku kemari bukan untuk membicarakan tentang masalah cerpenmu itu atau apa pun. Karena aku tidak mau lagi mencampuri urusan orang yang egois dan tidak bisa diatur macam kau! Aku kemari hanya ingin mengklarifikasikan kepada kau saja, kalau aku dengan Willona sudah jadian. Minggu yang lalu aku sudah menembak dia saat di kedai kopi seusai dari toko buku. Dan dia menerimaku! Sekarang aku peringatkan ke kau, janganlah lagi memberikan puisi-puisi picisan kau pada kekasihku itu. Jika itu kau lakukan, berhadapan denganku, atau persahabatan kita sampai di sini. Camkan itu!”

“Jadi kau menikungku?”

Tanpa membalas jawabanku, Bari meninggalkan aku di saat tanganku mengepal seperti memegang sekam. Ia pergi tanpa pamit.

Kini tinggallah aku seorang diri. Termangu dalam kesepian. Hingga aku sampai tidak mengetahui jika ada pesan masuk di ponselku yang datang dari salah satu redaktur media. Mengabarkan bahwa klarifikasi soal cerpenku sudah diumumkan saat itu.

Bukan hanya itu saja, aku juga tidak mengetahui jika Bari telah membeli koran untukku—yang dia letakkan di teras rumah bukan ke tanganku. Atau, jangan-jangan dia sudah tahu soal kabar klarifikasi persoalan cerpenku yang sudah diumumkan ke khalayak itu?

Seusai itu Minggu pagiku kembali menjadi gerhana, apalagi saat aku mengetahui Willona telah memilih Bari untuk menjadi kekasihnya, bukan aku. []

Keterangan:

[1] Diambil dari kutipan salah satu cerpen berjudul “Anak Ibu” karya Benny Arnas.

KAK IAN. Penulis dan aktivis anak. Aktif sebagai founder di Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Sudah termaktub di koran nasional dan lokal.

Average rating 1.3 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: