Cerpen, Dwi Cipta, Jawa Pos

Larasati

4.4
(12)

Pepohonan cemara di sudut bundaran kampus itu mengurangi kegersangan kompleks gelanggang mahasiswa. Tidak ada kesan tempat ini menjadi lokasi demonstrasi yang bergemuruh, saksi perkelahian mahasiswa dengan aparat keamanan, atau sekadar tempat beristirahat mahasiswa.

BERBEDA dengan puluhan tahun lalu, jalanan dari bundaran sampai gedung wisuda tampak lebar, beraspal halus, dan bersih. Tak ada lagi gerobak pedagang kaki lima dan lapak buku bekas dari pintu utama hingga pertigaan Purna Budaya. Sebaliknya, di tiap jalan masuk ke kampus, pos-pos satpam berdiri angker, seolah melarang orang yang tidak berkepentingan berkeliaran di dalamnya.

Dua puluh dua tahun lebih dari cukup untuk mengubah kampus ini. Di tempat yang terasa asing ini aku tertegun sendiri. Dari sekian perubahan, tetap saja ada yang mengabadi. Aroma kayu putih yang memancar dari tubuhnya sampai kini mengambang di sini. Juga derai tawanya. Juga tatapannya di depan bekas lapak buku. Betapa gesitnya kenangan sehingga bisa melintasi ruang dan waktu, mengiringi hidup seseorang, bahkan mengajaknya kembali ke masa lalu.

***

“Hei, jangan ambil buku itu! Tadi sudah kutumpuk bersama buku-buku ini. Enak saja datang-datang langsung ambil!” teriak perempuan di sampingku.

Aku menatap hidung kecil dan kacamata yang nangkring di atasnya. Baju lengan panjangnya digulung sampai ke siku. Kulit kuning langsatnya tampak berkilat. Catatan dari Bawah Tanah yang kupegang terasa memberat. Mataku melirik buku-buku yang ditumpuknya. “Tolstoy, Turgenev, Pasternak, dan Goncharov. Ia tengah memburu Rusia,” pikirku.

“Maaf, aku hanya ingin membacanya,” ujarku tergeragap.

“Oke, aku kira akan dibeli.”

Bukannya bersimpati, penjual buku bekas itu tersenyum ke arahku. Pengunjung lapak yang lain seolah tak peduli. Aku tak lagi berminat mencari buku. Kuperhatikan gerakan tangan perempuan itu menyortir buku bekas. Semilir angin sore dan keteduhan pohon yang menaungi lapak itu tak mampu mengusir lelehan keringat di sekitar lehernya. Ya ampun, beruang betina ini luar biasa cantik…

***

Di suatu malam yang lembut di bulan Mei, dua tahun sebelum terjadi ledakan demonstrasi di kampus, menjelang petualangannya yang mengagumkan di dalam selimut intelijen tentara dan polisi, Kunto menemuiku di sebuah warung di dekat Boulevard.

“Pras, perkenalkan teman baruku. Mahasiswa baru. Tidak kuliah di sastra, tapi mengagumi sastra Rusia. Mungkin kalian bisa menjadi teman yang baik,” ujarnya.

Perempuan yang beberapa hari lalu memarahiku karena mengacaukan buku-buku yang akan dibelinya menjabat erat tanganku.

“Larasati,” ujarnya lembut. “Panggil saja Lara.”

Nama yang indah dan panggilan yang ganjil.

“Pras, Prasetyo. Kita sudah ketemu beberapa waktu lalu.”

Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Mungkin ia tersipu atau merasa bersalah. Kunto membuka percakapan tentang dokter Zhivago karya Pasternak. Suara Lara mendadak berubah. Dengan penuh semangat ia bercerita tentang Lara Guissar, tokoh perempuan yang melayani revolusi Rusia tanpa banyak mulut. Pantas ia memakai nama panggilan seperti tokoh karangan Boris Pasternak itu. Namun, aku tak mendengarkan uraiannya di keremangan warung tenda. Leher angsanya, kerapuhan tubuhnya, sorot mata, dan kepadatan suaranya meluluhlantakkan perasaanku.

Baca juga  Redi Kelud

Sastra Rusia benar-benar mendekatkan aku dengan dirinya. Setiap sore, bila tak di warung yang tak jauh dari lapak buku bekas, kami menghabiskan waktu di undak-undakan depan gedung wisuda. Di sela-sela keriuhan mahasiswa dan dosen yang terus membicarakan naiknya suhu politik, ia tenggelam dalam gairah membacanya dan rasa frustrasi membayangkan akhir dari masa kacau yang tak punya arah ini.

“Bisakah kau bayangkan bagaimana jadinya setelah rezim ini turun? Tiga puluh tahun rezim ini mengatur hidup kita,” ujarnya.

“Ya, lebih celaka lagi kalau rezim terkutuk ini terus dipertahankan,” ujarku.

“Kira-kira kehidupan macam apa yang akan kita jalani sesudah rezim ini turun?”

“Semoga saja lebih baik dari sekarang,” jawabku sekenanya.

“Kau yakin?” tanyanya sangsi.

“Tidak juga.”

Ia menatapku. Tidak ada hal yang paling menyenangkan selain memandang ekspresi jengkel di wajahnya. Sayangnya, situasi yang makin memanas membuatku tak bisa terus bersamanya. Para aktivis kampus semakin memperhebat demonstrasi di bawah ancaman penculikan. Waktu berbincang santai semakin berkurang. Tumpukan tugas reportase sekaligus penghubung pesan antaraktivis meringkus waktu-waktuku bersamanya.

Lalu, hadirlah peristiwa yang sama sekali tidak kuharapkan. Di bulan Maret yang sejuk, setelah ia mengantarkan sebungkus makanan untukku di dalam kampus yang mulai dikelilingi sekelompok polisi, pecah bentrokan antara polisi dan mahasiswa. Ia terperangkap dalam arus demonstrasi itu. Bagian belakang kepala dan pelipis wajahnya berdarah. Tubuhnya terus gemetaran.

Hari-hari setelah peristiwa itu mengubah hidup Larasati. Ia lebih banyak mengurung diri di rumah di hari terang, lalu mulai menjelajahi jalanan pada malam hari. Sorot matanya yang lembut mulai berubah. Kadang sayu, namun dalam sekejap bisa mencorong terang. Tak pernah lagi ia masuk ke kampus. Ia menjauhi teman-teman kuliahnya. Pernah pada suatu malam aku menemukannya duduk sendiri di bangku salah satu sudut perempatan Tugu setelah kucari-cari ke berbagai lokasi dan tak berhasil menemukannya.

“Pras, apakah kau benar-benar mencintaiku? Apakah kau ingin hidup denganku? Apakah kau mencintaiku meskipun aku gila?”

Ia bercerita ada dunia lain di kepalanya yang makin merenggut kesadarannya. Saat ia menceritakan dunia itu, sorot matanya membuncah terang, seolah-olah sebuah pintu rahasia terbuka lebar di depannya. Jiwanya perlahan-lahan terserap ke dunia itu.

Baca juga  Sekotak Cinta Bersampul Koran

***

Lamunanku lenyap oleh suara teriakan dari belakangku. Seorang lelaki tambun melambaikan tangan ke arahku.

Benar-benar tak berubah dia, pikirku. Sejak kuliah sampai sekarang, lelaki tambun ini salah satu orang yang terus bertahan di lingkaran kecil pertemananku. Ia berasal dari Blitar Selatan. Sebagian keluarganya habis dibantai semasa geger akhir September 1965. Ia sendiri terhindar dari maut karena diasuh oleh pamannya yang tinggal di Malang.

Sejarah keluarganya ia kubur dan nyaris tidak pernah diceritakan ke orang lain. Semasa aksi jalanan 1997-1998, dengan kelicinannya, ia masuk ke dalam jaringan militer. Aku tak bisa melupakan ide gila yang diucapkan oleh orang yang banyak membaca novel detektif ini menjelang demonstrasi mahasiswa besar-besaran.

“Ini perjanjian antara kita berdua. Aku akan masuk ke jaringan intelijen tentara dan kepolisian,” ujarnya.

Ia menyimpan sendiri semua taktik dan tujuan-tujuannya. Namun, aku memercayainya. Dendam kepada rezim politik yang menghabisi keluarganya cukup menggaransi tindakannya. Hanya tempat-tempat tertentu yang kami datangi untuk saling memungut pesan-pesan. Ratusan kertas bungkus rokok yang menjadi alat komunikasi kami itu turut menyelamatkan beberapa aktivis mahasiswa dari penculikan.

Kini hidupnya tampak lebih makmur dari dua puluh dua tahun lalu. Tidak ada jejak kelaparan seperti yang dialaminya semasa ngekos di pinggir Kali Code. Tidak seperti teman kami yang memasuki dunia politik, bekerja di LSM, atau menjadi birokrat, ia beruntung memperistri anak seorang pengusaha mebel dari Kudus dan hidup tenang dengan membuka toko mebel.

“Belum mati juga kau,” ujar Kunto sembari menepuk punggungku.

Aku tersenyum lebar menanggapi ucapannya.

“Apa sekarang kau sudah bisa bangun pagi?” tanyaku.

“Sudah dong. Walaupun terpaksa. Istriku lebih suka bercinta di pagi hari,” ujarnya sambil cengengesan.

“Ah, bukannya kau impoten, seperti teman-teman kita di Jakarta sana,” ujarku.

Ia tertawa. Mungkin wajah teman kami yang dulu berada di garis depan demonstrasi itu berlintasan di benaknya.

“Dasar mulut busuk! Untung mulutmu selamat dari gebukan popor senapan. Kalau dulu aku tidak pintar, mungkin nasibmu sama dengan Tanto. Mulut digebuk popor, selangkangannya disepak sepatu tentara.”

“Dia kaya raya sekarang. Kabarnya punya banyak istri simpanan,” ujarku geli.

“Apa gunanya memelihara gundik kalau tidak digauli? Aku berani bertaruh, burungnya makin tua makin mengecil. Untung tidak sekecil punyamu,” ujarnya.

“Bajingan!”

“Benar kan? Bisa kau dulu bercinta dengan Lara?”

Aku tidak mengomentari ucapannya. Alih-alih berbicara, aku mengajaknya berjalan-jalan di sekitar kampus. Kunto bercerita tentang kampus yang makin necis dan dihuni orang-orang kaya. Sementara benakku justru dipenuhi bayangan Larasati. Akhirnya, aku mengajaknya berhenti di depan gedung wisuda kami dulu.

Baca juga  BURUNG-BURUNG ADAM

“Kau tahu kabar terakhir Lara?” tanyaku kepadanya.

“Terakhir aku mengunjunginya dua bulan lalu. Ia tampak sehat meski semakin kurus. Untung kita punya teman seperti dokter Winarno. Tapi, Lara terlalu rapuh untuk kembali seperti dulu.”

Dadaku terasa kosong, sementara otakku tidak menemukan kata yang tepat untuk melanjutkan obrolan.

“Dua hari lalu aku tinggal di rumah dokter itu.”

Kunto menatapku dan menarik napas panjang.

“Kau ingin mengatakan sesuatu tentang Lara?”

“Apa kau pikir aku sedang menyimpan rahasia?” balasku bertanya.

“Sudahlah, katakan saja. Kau bukan pemain sandiwara yang baik.”

Aku ingin memakinya, namun ia tak memedulikan ekspresi dan gerakan tubuhku.

“Tak percuma rahasia busukmu itu tak pernah terbongkar intelijen di kota ini.”

Ia tersenyum simpul dan menepuk bahuku.

“Aku selalu terinspirasi dengan serial Penginapan Pintu Naga itu. Sejak pertama mengenalmu, aku yakin kau lebih mirip sosok Chou Huai An dan aku lebih cocok menjadi teman masa kecil Huai An yang mengabdi kepada Kasim Wei Cung Sien.”

“Sayangnya, kita tak mati seperti tokoh-tokoh dalam film itu.”

“Jadi, apa yang terjadi dengan Lara?”

“Jasadnya sudah dikuburkan kemarin.”

“Kenapa kau tak menghubungiku? Magelang-Jogja hanya satu jam.”

Aku memandang jauh ke gedung wisuda yang tinggi menghalangi pemandangan Gunung Merapi di belakangnya, gedung yang tidak pernah mewisuda mahasiswa cerdas seperti Larasati. Cahaya matahari mulai membuatku berkeringat. Namun, jiwaku semakin membeku.

***

Setelah dua jam ngobrol, Kunto mengajakku singgah di kantin fakultas sastra yang kini terlihat bersih. Setelah itu, kami berpisah. Dulu, setelah Larasati masuk rumah sakit jiwa di Magelang, aku membenci kota ini lebih dari apa pun. Kubereskan kuliah secepatnya, lalu hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain.

Kini, setelah jasad Larasati dimakamkan, kuinjak lagi kota ini untuk berpisah selamanya. Kakiku menyusuri tempat yang dulu kuakrabi untuk kali terakhir. Telingaku mendengar sebuah panggilan dari suatu sudut di bekas lapak toko buku bekas yang kini kosong. Namun, aku terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. (*)

DWI CIPTA. Penulis adalah seorang novelis, cerpenis, esais sastra, dan penerjemah. Novel pertamanya yang berjudul Darah Muda terbit pada Desember 2017, sedangkan kumpulan cerpennya yang berjudul Renjana terbit pada Januari 2019. Buku terjemahannya yang sudah diterbitkan adalah Victoria (karya Knut Hamsun).

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Moehammad Abdoe

    Cerpen ini aku sangat suka!

Leave a Reply

%d bloggers like this: