Cerpen, Republika, Yuditeha

Maksim dan Perihal Mobil

2.8
(8)

Sesungguhnya Maksim tidak tertarik memiliki mobil, tetapi sejak ketiga anaknya beranjak dewasa, hingga setiap kali pergi sekeluarga tidak cukup menggunakan dua sepeda motor, dia mulai berpikir perihal mobil yang dapat membawa keluarganya sekali angkut. Mobil yang Maksim pikirkan bukan keluaran baru, melainkan mobil bekas yang harganya tidak jauh dari harga sepeda motor baru. Menurut Maksim, peralihan kepemilikan sepeda motor menjadi mobil sesungguhnya hanya masalah daya guna dari barang tersebut.

Meski usia Maksim telah setengah abad, ia belum bisa menyetir karena memang belum pernah berlatih. Terlebih dia dulu pernah janji tidak akan belajar setir jika tidak punya mobil. Pendapatnya itu didebat pelatih setir saat dia mendaftar kursus. Kata pelatih itu, belajar setir tidak harus menunggu punya mobil. Intinya, belajar setir akan lebih baik pada waktu muda karena refleks dalam diri masih berfungsi baik hingga keterampilan menyetir akan cepat terkuasai. Beruntunglah Maksim mendapat pelatih penyabar hingga dia tetap bisa menyetir.

Sebenarnya, yang membuat ketidaknyamanan Maksim perihal kepemilikan mobil bukan tentang mobil itu, melainkan adanya anggapan yang salah dari orang-orang mengenai kepemilikan itu. Keberadaan mobil biasanya akan mengubah pandangan orang terhadap pemiliknya. Anggapan tentang mobil yang hanya pantas dipunyai oleh orang yang kondisi keuangannya di atas rata-rata.

Maksim seorang pelukis amatir, semua transaksi jasa lukisnya dilakukan secara online. Karena itu, sebagian besar warga setempat tidak tahu kegiatannya itu. Orang-orang yang memesan jasa lukisnya lebih banyak dari luar daerah.

Setahu mereka, Maksim menghidupi keluarga hanya dari toko kelontong kecil di rumahnya, dibantu penghasilan istrinya yang pekerja swasta. Istrinya berangkat pagi dan pulang sore. Rumah Maksim dekat dengan pasar tiban yang beroperasi hanya di pagi hari, pada saat-saat itulah pembeli di tokonya bisa lebih banyak dari biasanya.

Jika Maksim sedang berurusan dengan lukisan, untuk sementara dia memilih tidak membuka toko. Dia tidak ingin proses melukisnya terganggu. Meski begitu, keriuhan pasar tiban tiap pagi tetap sampai ke telinganya, karena ruang yang dia pakai melukis berada persis di samping pasar itu. Karena itu, perbincangan ibu-ibu yang sedang belanja terdengar jelas olehnya. Apa yang menjadi bahan obrolan mereka beraneka macam, bahkan bisa dikatakan apa pun bisa menjadi bahan percakapan, termasuk tentang dirinya. Sebagian dari obrolan mereka berupa gunjingan.

Baca juga  Pilihan Ibu

Ketika toko kelontongnya tutup karena Maksim sedang mengerjakan pesanan lukisan yang hampir jatuh tempo, dia mendengar ada ibu-ibu yang bertanya perihal tokonya yang tutup. Salah satu ibu menyahutinya, tapi bukan jawaban. Dia membujuk orang itu agar tidak membeli di toko Maksim. Ibu itu lantas menunjuk toko lain yang katanya di situ pula dia biasa belanja.

“Emangnya kenapa, Bu?” tanya salah satu dari mereka.

“Sini gak niat jualan,” jawab ibu itu.

Ketika Maksim mendengar itu, dia penasaran lalu beranjak menuju jendela dan menyibak gorden. Dia ingin tahu siapa yang mengatakan itu. Maksim hanya tersenyum menanggapi sembari kembali ke tempat dia melukis.

Gunjingan lain yang sempat Maksim dengar adalah saat belum lama dia membeli mobil yang waktu itu dia parkirkan di lahan depan rumahnya. Mungkin karena biasanya tidak ada, keberadaan mobil itu cukup menyita perhatian dan di pagi itu dia mendengar ada seorang ibu-ibu tiba-tiba nyeletuk kepada penjual sayur. “Gerobak siapa itu, Mas?”

Penjual sayur yang sudah tahu mobil itu kepunyaan Maksim tentu saja mengatakan apa adanya. Tak disangka ibu itu menyahutnya dengan mengatakan bahwa keberadaan mobil itu menyerobot tempat ibu-ibu biasa memarkirkan motor. Meski sebenarnya penjual sayur tahu tempat itu memang kepunyaan Maksim, tapi tidak lantas menyanggah. Mungkin penjual sayur tak ingin berlarut-larut. Ketika Maksim mendengar itu, kembali dia mengintip dari balik gorden. Ternyata yang mengatakan itu ibu yang biasanya. Kembali Maksim hanya tersenyum yang kali itu dibarengi geleng-geleng.

Kira-kira sepekan dari peristiwa itu, Maksim kembali tidak membuka toko kelontongnya, tapi kali itu bukan karena mengerjakan lukisan, tetapi justru baru saja selesai melukis pagi hari. Dia belum sempat tidur. Pada saat dia sedang memperhatikan karyanya sembari merokok, tak lama kemudian dikejutkan gunjingan ibu-ibu di pasar.

“Dua hari tutup terus, jane orange ngapain to?”

“Baru ada urusan kali.”

“Padahal, mobilnya ada tuh.”

“Halah, baru mobil gitu aja nggaya.”

“Meski hanya gitu, belinya tetap pakai uang lo, Bu.”

“Miskin, tapi nggaya.”

“Mobil kan bukan untuk nggaya, Bu?”

“Pokoknya dasar udik. Parkir saja belum becus. Lihat tuh bannya mletat-mletot tidak genah.”

Gunjingan kali itu cukup membuat hati Maksim geram, dan ibu-ibu yang paling keras gunjingannya ternyata juga orang yang sama. Meski ada rasa jengkel, Maksim tetap tidak akan memasalahkannya. Pikir Maksim jika sampai berurusan dengan ibu-ibu itu tak akan membuatnya selesai, bisa jadi justru akan menambah ruwet. Maksim akan membiarkan gunjingan-gunjingan itu melun cur tanpa bantahan. Dia menyadari selama hidup di masyarakat tidak akan lepas dari omongan orang. Jadi jika dia hendak membantah agar gunjingan itu berhenti menurutnya pekerjaan sia-sia.

Baca juga  Kota yang Raib Separuh Gaib (Kisah Kota Terlarang dalam Catatan Hoaks)

Setelah pasar usai, Maksim penasaran dengan salah satu omongan tadi. Dia keluar dan melihat ban mobilnya, dan ternyata benar, posisi ban mobilnya tidak lurus. Melihat hal itu Maksim tersenyum sembari membatin bahwa benar juga apa yang dikatakan ibu tadi.

Dalam hatinya dia juga mengakui meski sudah beberapa lama menyetir, tapi dia belum lihai juga. Beberapa kali masih melakukan kesalahan. Kesalahan yang terjadi memang bukan karena dia tidak bisa, hanya mungkin justru terlampau hati-hati, dan hal itu sesungguhnya tak jauh-jauh dari masalah gerak refleksnya mulai melemah.

Ada peristiwa Maksim terlalu hati-hati hingga membuat pengguna mobil lainnya jengkel. Pada saat itu Maksim hendak menyeberang jalan besar, dan jalan itu kebetulan terlalu ramai untuk ukurannya hingga lama dia tidak segera menyeberang. Sementara itu, ada pengendara mobil lain di belakangnya sedang menunggu. Mungkin saking lamanya pengendara mobil itu menunggu hingga tidak sabar dan marah, dengan membunyikan klakson beberapa kali. Bunyi klakson itu membuat Maksim gugup. Karena merasa belum berani menyeberang, Maksim memilih meminggirkan mobilnya dengan maksud memberi jalan kepada pengendara mobil itu untuk mendahuluinya.

Setelah mobilnya minggir, Maksim mempersilakan pengendara itu lewat dengan cara melongok ke belakang melalui jendela mobilnya sembari tangannya memberi tanda. Namun, entah kenapa, pengendara mobil itu justru langsung meminta maaf dan memutuskan menunggu. Maksim heran dengan perubahan sikap orang itu. Setelah berhasil menyeberang, benak Maksim kembali memikirkan peristiwa itu dan tak lama kemudian tersenyum. Maksim baru menyadari, pada saat itu rambut panjangnya dibiarkan tergerai karena baru saja keramas. Mungkin aku terlihat sangar hingga orang itu mengira aku intel atau gali, batinnya.

Perbincangan lain yang pernah didengar Maksim kala tokonya tutup, pagi itu dia mendengar ada suara mobil terdengar berhenti dekat rumahnya. Dan tak lama kemudian ada perkataan seorang ibu yang dia pikir mungkin perihal mobil dan pemiliknya. “Wih, mobil baru ya, Bu?”

Tampaknya ibu yang ditanya menjawab bahwa mobil itu sudah lama. Hari itu dia sedang malas pakai sepeda motor dan minta diantar suaminya. Dan yang membuat Maksim akhirnya mengintip mereka karena pernyataan dari ibu pemilik mobil itu yang menerangkan bahwa cara memarkirkan mobil yang baik itu seperti yang baru saja dilakukan suaminya. Begitu tahu hal itu, Maksim langsung berlalu sembari mulutnya menggumam. “Dasar orang kaya caper.”

Baca juga  Titik Hati

Cerita Maksim dan mobilnya belum berhenti. Dan, kisah terbaru terjadi tiga hari yang lalu. Siang itu hari Ahad, Maksim mengantar istrinya membeli barang-barang untuk mengisi persediaan di tokonya. Sampai di tujuan, Maksim memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dibantu arahan tukang parkir. Karena barang yang akan dibeli hanya menggenapi yang belum terbeli, dia memutuskan menunggu di mobil. Maksim berdiri dekat mobil bagian belakang sembari menikmati rokok.

Belum lama istrinya berlalu, tiba-tiba sebuah mobil menabrak mobilnya, bahkan Maksim ikut keserempet. Suara jerit bersahutan. Seketika suasana menjadi gaduh. Baik Maksim maupun pengendara mobil penabrak mengalami luka. Belakangan diketahui penabrak menjalankan mobilnya dalam keadaan mengantuk.

Mobil penabrak hancur di bagian mesin hingga tidak bisa dinyalakan lagi. Sementara itu, mobil Maksim masih bisa dipakai karena hanya rusak di bagian belakang yang akhirnya oleh salah satu orang di situ digunakan untuk mengantar Maksim dan penabrak ke rumah sakit. Namun sayang, hanya penabrak yang nyawanya selamat, sedangkan Maksim karena mengalami luka parah tidak bisa diselamatkan.

Pagi ini hari ketiga sejak pemakaman Maksim. Mobilnya belum sempat dibawa ke bengkel, masih terlihat parkir di depan rumahnya. Sementara itu, seperti biasa ibu-ibu berkerumun sedang belanja di pasar tiban. Tak lama berselang ada seorang ibu bertanya kepada ibu yang biasa menggunjing mobil Maksim, perihal suaminya yang menurut kabar mengalami kecelakaan, mobilnya menabrak mobil yang sedang berhenti.

“Mobil saya canggih, sudah ada pengamannya. Jadi suami saya bisa selamat. Hanya luka kecil di bagian pelipis,” jawabnya.

Yuditeha. Pegiat Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Telah menerbitkan 16 buku. Buku terbarunya Sejarah Nyeri (Kumcer, Marjin Kiri, 2020).

Average rating 2.8 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: