Cerpen, Miftachur Rozak, Radar Mojokerto

Mantan Maling

2.3
(4)

Pos ronda di Dusun Magersari terlihat sepi. Tepat pukul 22.00 WIB, Jali Lewung berjaga di pos tersebut: berkemul sarung dan membungkus kepalanya dengan kerpus cokelat. Tak lama kemudian, Marto Krosok datang membawa ceret berisi kopi dan sebungkus kartu domino.

“MALAM ini sangat sepi ya Jal, tak seorang pun berseliweran, hanya kita saja yang di luar dan berjaga,” suara lirih Marto Krosok pada Jali Lewung.

“Sudah, jangan mikir macam-macam, sini kopinya tak minum dulu,” tukas Jali Lewung sembari menuang kopi buatan Marto Krosok.

“Eh, Kang Jalal sudah dikeluarkan dari penjara loh.”

“Yang bener kamu? Kang Jalal maling itu? Kok cepat keluar dari penjara ya? Aneh.”

“Iya, benar. Tadi aku lewat depan rumahnya, dia sedang merokok di teras. Dia juga menyapaku kok.”

Jali Lewung langsung menalikan sarungnya ke perut, dan menyalakan senter yang dibawanya. Kemudian menyorotkan ke sebalah kanan dan kiri pos ronda.

“Ada apa Jal, bikin kaget saja?” tanya Marto Krosok.

“Kita harus waspada, biasanya mantan maling itu cepat kumat, habis dilepas dari penjara, pasti dia jadi maling lagi.”

“Hus. Jangan ngawur kamu, tidak baik menuduh orang sembarangan,” tukas Marto Krosok sembari matanya melototi Jali Lewung.

***

Angin malam yang menerpa pohon cemara di dekat pos ronda semakin mendesis, menyuling-nyuling. Tiba-tiba datang Kang Jalal yang mengagetkan Jali Lewung dan Marto Krosok yang sedang bermain domino. Mereka tak menyangka, setelah membicarakannya tiba-tiba dia datang dan duduk di pos ronda.

“Panjang umur ya Jal, baru saja diomongin sudah mecungul orangnya.”

“Hus.., jangan keras-keras, nanti dia dengar.” tukas Jali Lewong berbisik pada Marto Krosok, bisikannya lebih lembut dari suara angin dan cemara.

“Rokok Kang, monggo,” Kang Jalal menyodorkan sebungkus rokok ke dekat Marto Krosok.

“Matur suwun kang, buat Kang Jalal saja, kami sudah merokok tadi,” tukas Marto Krosok setengah gemetar.

“Sudah.., jangan berpikir macam-macam, ini rokok halal kok, saya membeli dengan uang hasil menjual pisang ulin samping rumah.”

Baca juga  Perempuan Tua dalam Rashomon

Marto Krosok dan Jali Lewung tersenyum kecil, dan mulai mengakrabi Kang Jalal. Mereka mendengar banyak cerita dari Kang Jalal, tentang masa-masa di penjara, dan tentang penyesalan yang dilakukan Kang Jalal. Kang Jalal pun berjanji, bahwa ia tidak akan mencuri lagi. Ia akan mulai hidup baru di kampungya, bertani dan berkebun pisang. Mendengar cerita dan penjelasan Kang Jalal; Marto Krosok dan Jali Lewung semakin menikmati malam di pos ronda, dan semakin suka dengan perubahan Kang Jalal, hingga tak terasa waktu semakin larut. Kang Jalal pun lekas berpamit pulang, karena ia sudah merasa ngantuk.

Setelah beberapa menit sejak Kang Jalal pamit pulang, tiba-tiba terdengar suara ribut di sudut kampung.

“Maling…, Maling…” Suara warga bercampur dengan suara kentongan.

Jali Lewung dan Marto Krosok langsung loncat dari pos ronda dan lari menuju suara-suara ribut tersebut.

Sesampainya di tempat kejadian, mereka tercengang melihat Kang Jalal sudah dipukuli orang-orang. Dituduh mencuri tanpa bukti.

“Ampun, Pak, saya tidak mencuri,” rintih Kang Jalal.

Namun masyarakat sudah gelap hati, mereka berpikir, jika ada maling, pasti pelakunya adalah Kang Jalal, dan peristiwa kemalingan tersebut, sangat tepat dengan kemunculan Kang Jalal yang berada di lokasi kejadian.

“Maling tetap saja maling, tidak mungkin berubah, tidak mungkin mau ngaku,” teriak salah satu warga yang ikut memukuli kang Jalal.

Kang Jalal pun semakin lemah tak berdaya, wajahnya sudah lebam dan berlumuran darah, ia sudah tak sanggup berbicara apa-apa. Sementara, Marto Krosok dan Jali Lewung yang baru sampai di lokasi kejadian hanya bisa terbengong melihat Kang Jalal yang tersungkur di tanah. Kemudian mata Kang Jalal mengarah pada Marto Krosok dan Jali Lewong, seakan mau mengatakan sesuatu, seakan mau minta tolong, seakan mau minta perlindungan dan menjelaskan semua tetantang perubahannya. Namun semua itu sudah terlambat, masyarakat sudah terprovokasi, dan tidak ada belas kasih. Kang Jalal pun sudah pasrah, tidak bisa berkata apa-apa. Satu-satu harapannya adalah penjelasan dari Jali Lewung dan Marto Krosok. Mata Kang Jalal yang sedikit sayup terus memandangi mereka berdua.

Baca juga  Pengusir Hantu

“Bakar saja, bakar saja. Dari pada terus-terusan meresahkan warga, lebih baik kita bakar hidup-hidup,” teriak warga dengan mata melotot dan menunjuk-tunjuk Kang Jalal.

“Iya, kita bakar saja,” sahut warga lain dan ditirukan warga-warga yang sudah memukuli Kang Jalal.

“Tenang…, tenang. Negara kita negara hukum, kita tidak boleh main hakim sendiri, kita tidak boleh menuduh tanpa bukti,” Jali Lewung mencoba menenangkan warga yang tersulut emosi.

“Halaaah.., nanti jika dibawa polisi, ujung-ujungnya dilepas lagi. Dan pasti maling lagi.”

“Iya, benar. Maling tetap saja maling.”

“Kita bakar saja, biar kapok, dan tidak ada maling lagi.”

Para warga sudah habis kesabarannya, dan benar-benar ingin membakar Kang Jalal. Terlihat salah satu warga yang berlari membawa jeriken yang berisi bensin dari rumahnya menuju ke tempat Kang Jalal yang sudah tak berdaya itu. Ia pun segera membuka tutup jeriken tersebut, dengan napas yang ngos-ngosan, ia berniat mengguyur bensin ke tubuh Kang Jalal, namun digagalkan oleh Marto Krosok. Dengan sigap Marto Krosok meraih jeriken tersebut.

“Tenang…, tenang. Saya mohon dengan sangat, bapak-bapak tenang, kita jangan tersulut emosi,” Marto Krosok duduk jongkok di tanah sambil menangkupkan kedua tangannya, ia memohon-mohon kepada para warga.

“Baiklah bapak-bapak, saya yang akan bertanggung jawab atas kejadian ini, dan saya bersedia menjadi jaminannya, jika memang Kang Jalal pelakunya.”

“Iya, saya juga bersedia menjadi jaminannya,” Jali Lewung ikut menenangkan para warga.

Kemudian Marto Krosok dan Jali Lewung menceritakan kejadian sebenarnya. Kejadian sebelum peristiwa kemalingan tersebut. Mereka menjelaskan, bahwa Kang Jalal tengah bermain kartu domino di pos ronda bersama mereka, dan tidak mungkin Kang Jalal malingnya. Karena Kejadian tersebut hanya selisih beberapa menit. Dan Kang Jalal pun tidak membawa apa-apa ketika dituduh mencuri, ketika dipukuli, dan ketika lewat di tempat yang sama dengan kejadian kemalingan tersebut.

Baca juga  Anak-anak Berburu Liliput di Goa Berlumut

Penjelasan Jali Lewung dan Marto Krosok telah meredakan warga. Seseorang yang membawa jeriken berisi bensin tersebut juga membatalkan niatnya untuk mengguyur Kang Jalal. Kang Jalal pun merundukkan kepala, ia merasa agak lega walau tubuhnya sudah tak berdaya.

***

Tak lama setelah para warga mulai mereda, tiba-tiba suara teriak kemalingan terdengar lagi dari gang sebelah.

“Maling…, maling…, malingnya lari ke sawah, malingnya membawa ayam-ayam kami,” teriak sebagian warga yang melihat.

Sontak para warga mengejar maling tersebut dan meninggalkan Kang Jalal yang tak berdaya. Sementara Jali Lewung dan Marto Krosok menggendong Kang Jalal menuju rumahnya. (*)

MIFTACHUR ROZAK. Lahir di Jombang Jawa Timur, 03 Februari 1988. Ia alumnus PBSI STKIP PGRI Jombang tahun 2011, kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karya-karyanya tersiar diberbagai media cetak dan daring; baik di Jawa, Luar Jawa, maupun Malaysia, seperti: UB Sabah Malaysia , Solo Pos, Tanjungpinang Pos, Suara Merdeka, Harian Rakyat Sultra, Harian Rakyat Sumbar, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Harian Merapi, Riau Pos, Bangka Pos, Harian Bhirawa, Hari Puisi Radar Cirebon, Radar Tasikmalaya, Medan Pos, Fajar Maksar, Post Bali, Dinamika News, Lampung News, BMR FOX Sumatera Barat, Radar Malang, Radar Mojokerto, Radar Jombang, dll. Salah satu puisinya Masuk dalam Antologi tiga Negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku “Sang Acarya” Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di fb: Miftachur Rozak atau IG: @arrozak_88.

Average rating 2.3 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: