Cerpen, Haluan, Maya Sandita

Orang-Orang yang Menari

4.5
(2)

PEMBOHONG! Jamin lagi-lagi pergi sendiri. Kali ini lebih pagi. Ia tak membangunkanku yang semalaman asyik tenggelam di halaman-halaman buku. Padahal sebelum ia berangkat tidur lebih dulu, sudah kukatakan untuk mengajakku. Ah! Pagi-pagi begini darah sudah naik ke kepalaku.

Pintu dikunci dari luar, seperti biasa. Sudah lebih sebulan sejak aku tiba dari desa dan Jamin tak pernah membawaku keliling-keliling kota. “Besok lusa,” atau “Minggu depan kita pergi, ya,” begitu kata Jamin Sudirman setiap kali kutanya kapan dan kapan.

Kenyataan yang kuterima adalah Jamin tidak pernah mengajakku kemana-mana. Mungkin niatannya saja tidak ada. Nyaris aku bosan menagih janjinya. Tapi kupikir-pikir lagi, “Ditagih saja selalu mangkir begini, bagaimana kalau aku tutup mulutku sepanjang hari? Bisa mati aku dalam kamar kontrakan kecil ini!” Aku akhirnya menggerutu sendiri.

Jamin adalah sahabatku di desa. Ia tak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA. Lebih dipilihnya merantau ke kota untuk bekerja. Sementara aku mati-matian mencari beasiswa agar dapat kuliah di perguruan tinggi negeri yang paling dekat dengan desa. Setelah lulus, kususul Jamin ke kota.

Laki-laki tinggi itu masih seperti dulu. Ia selalu baik padaku. Jamin menjemputku di bandara dan mengizinkan aku ikut tinggal di kamar kontrakannya. Makanku pun selalu Jamin perhatikan. Lebih sebulan di sini belum pernah aku kelaparan. Tapi aku selalu dikurungnya! Hei Jamin, aku ini ke kota mau cari kerja!

Aku geram pada Jamin. Kutekadkan, malam ini aku tak boleh ketiduran. Aku harus tetap terjaga sampai pagi tiba. Jamin tidak akan punya alasan lagi untuk meninggalkanku. Tidak dengan ‘besok lusa’-nya, tidak dengan ‘minggu depan’-nya! Maka segelas kopi pahit kureguk. Takkan kubiarkan mataku mengantuk.

Kutunggu Jamin pulang sambil membaca buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma—milikku yang kubawa dari desa.

Baca juga  Garam Mutje

Pukul sepuluh malam Jamin pulang. Seperti biasa, dari wajahnya terlihat ia sungguh penat, kedua kantung matanya menunjukkan bahwa ia menahan kantuk berat. “Sudah makan, Bung?” tanyanya padaku sembari melepas sepatu.

“Barusan makanku yang ke delapan,” jawabku.

“Bagus. Kalau begitu mari berangkat tidur. Besok pagi kuajak kau pergi karena aku libur.” Jamin merebahkan badan setelah berganti pakaian.

“Ah, kau pembohong! Paling-paling kau akan pergi lagi sendiri dan pintu depan lagi-lagi kau kunci. Kalau kamar ini terbakar, menurutmu bagaimana aku bisa lari?”

“Tidak ada kompor dan kita tidak merokok. Menurutmu darimana sumber api? Apa dari gelas kopi?”

“Listrik yang korslet!”

Tidak jadi tidur Jamin, padahal segera bermimpi ia sangat ingin. “Mulai besok tidak lagi. Asal kau tidur malam ini!”

Sungguh aku ingin mengumpat dan membelalakan mata sampai bijinya melompat. Aku baru saja minum kopi dan Jamin seenaknya bicara seperti tadi. Kata-kata Jamin tidak bisa lagi kupercaya. Aku melengos saja. Jamin sudah berangkat ke mimpinya.

Pagi akhirnya tiba juga, tanpa perlu naik kereta atau sepeda—tentu saja. Seperti biasa, belum lagi matanya terbuka sempurna, Jamin sudah membuka jendela. Sinar surya masuk dan menyakiti mata. Kelopak mataku itu, yang belum tertutup barang sejam sejak semalam. Kopi pahit selalu berefek sempurna sehingga kantukku benar-benar sirna. Tapi pagi ini aku jadi sangat tersiksa. Terlebih saat Jamin berkata, “Ayo, siap-siap segera!”

Motor bebek yang dikendarai Jamin membawa kami berkeliling kota. Sesekali Jamin memarkir kendaraannya dan menawarkan padaku apa aku ingin mengambil gambar untuk dikirim ke kampung. “Wajahmu harus terlihat segar dan ceria! Beritahu ibumu kalau kau bahagia. Bukankah kau begitu ingin bekerja di kota?” katanya.

Setiap aku mencoba sesuai apa kata Jamin, aku malah semakin merasa lain. Apa barangkali karena efek kopi? Aku terduduk di pinggir jalan di sebuah perempatan. Aku dan Jamin di tengah kota yang penuh dengan manusia. Detak detik waktu terdengar dari tapak sepatu. Manusia-manusia itu berlari. Ah, tidak! Mereka menari.

Baca juga  Pilihan Ibu

Lampu merah di salah satu sisi perempatan menyala. Seorang badut berlari ke garis penyeberangan dan menari di sana. Suara musik terdengar dari dalam perutnya. Topeng yang ia kenakan penuh tawa bahagia. Apa yang seperti itu yang dimaksudkan Jamin padaku? Kulihat ke samping dengan memutar kepala, Jamin sedang berdiri di sana. Ah, dia juga sedang menari, bukan hanya berdiri!

“Jamin! Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak malu menari begitu di tengah keramaian? Hei!” kataku. Kupikir kini ia yang tidak sadar.

Tarian Jamin aneh sekali. Ia melangkah dan menggerakkan tangannya seperti robot. Ritmis! Ada beberapa orang yang bergerak sama persis dengan Jamin. Siapa mereka aku tidak yakin. Mereka seperti mesin.

Lalu kulempar pandangan ke lain arah. Wanita-wanita kemudian lalu lalang dengan gaun merah. Bibir mereka merekah. Mereka juga menari. Gelombang gaun yang kulihat begitu indah sekali. Tapi kenapa mata mereka kosong? Padahal lingkaran mata itu tidak bolong. Mereka terus menari dan tak lelah. Seolah pada waktu mereka tak mau mengalah.

Laki-laki gagah juga lalu lalang silang menyilang. Sepatu pantofel mereka berhias bintang-bintang. Kulihat setelan setelan mereka dengan dasi berwarna terang. Menyilaukan wajah mereka yang persis binatang. Di moncongnya mereka mengunyah lembaran-lembaran uang.

Tiba-tiba aktivitas di atas aspal itu berhenti. Lalu menyusul beberapa mobil polisi. “Orang gila itu orasi lagi!” Begitu yang kudengar samar-samar.

Seorang mahasiswa menari dengan lembaran-lembaran skripsi. Ia terus menari dan langkahnya menuju yang ia sebut orang gila tadi. Lantas menari bersama mereka. Satu dua mahasiswa bertambah di sana. Jamin ikut serta. Teman-temannya tadi yang seperti mesin, ikut juga! Yang mereka sebut orang gila bertambah banyak saja.

Baca juga  Gandrung

Mataku menyaksikan mereka dengan almamater warna-warni, menaburkan skripsi, dan bernyanyi—dengan lagu yang liriknya menyayat hati. Kudengar dari lirik mereka, “Ijazah bisa dibeli, industri tak butuh skripsi. Kerja dikontrak sampai mati, jaminan sosial tak ada lagi. NKRI harga mati, tanahnya dibeli rakyatnya mati! Pak nelayan mati, Pak tani mati, apa ini NKRI? TIDAK!” Mereka berseru dalam duka.

Mereka terus berorasi, mereka terus bernyanyi, terus-menerus menari. Aku di tengah-tengah kegaduhan yang tak bisa kuhentikan begitu saja dengan menjentikkan jari. “Tuhan, di mana aku ini?” Kepalaku pening bukan main. Kucari-cari Jamin. Mataku nanar dan penglihatan jadi samar-samar.

“Bung! Bung!” Seseorang menampar-nampar pelan pipiku.

Kulihat Jamin dengan kemeja motif floral di depan mata. “Susah sekali membangunkanmu, ya. Kau tidak jadi ikut denganku keliling kota?” katanya sembari melempar handuk dan menyuruhku segera mandi.

Aku mengintip lewat jendela, berharap menemukan seseorang sedang menari di luar sana.

“Kau tidak menari lagi?” tanyaku pada Jamin begitu saja.

“Apa kau gila?”

Aku mengangkat bahu. “Sepanjang zaman bukankah selalu lahir orang gila—di tengah kota.”*

BATAM, 14 AGUSTUS 2020

MAYA SANDITA. Berdomisili di Batam, Kepulauan Riau. Cerpen terbarunya Cokelat Pasir Pantai Bibir Ibu – Media Indonesia (2020). Menjuarai Lomba Menulis Sastra Minangkabau Tema Kaba tingkat nasional yang diadakan oleh Disbud Sumatera Barat, dengan judul naskah Sambang Sambilan (2020). Maya bisa dihubungi via Instagram @sanditaisme, Facebook Maya Sandita, dan E-mail sanditacorp@gmail.com

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: