Cerpen, Eko Setyawan, Medan Pos

Suara dari Seberang

3.5
(4)

“Ibu! Bapak!” panggil anakku tak terlalu keras disertai pukulan tergesa pada pintu kamar. Ia lakukan secara terus-menerus tanpa jeda. Pintu diketuk membentuk irama tiga kali ketukan lalu jeda kemudian tiga ketukan lagi dan dilakukan berulang.

Aku mendengar lamat-lamat suaranya. Istriku bangun lebih dulu lantas menggoyang tubuhku untuk memaksa diriku lekas bangun, padahal mataku masih terjaga. Aku menyingkap selimut melihat istriku yang sudah membuka pintu. Aku menatap ke arahnya. Tiba-tiba anakku cepat-cepat masuk kamar dan langsung menyuruh ibunya menutup pintu.

“Ada apa?” tanya istriku. Ia cukup kaget dengan apa yang telah diperbuat anak perempuan kami.

Erika, anakku, yang kini sudah kelas dua SMP memeluk ibunya. Aku bingung dengan apa yang terjadi padanya. Begitu juga istriku. Dari mukanya tampak rasa penasaran. Dahinya mengernyit ketika memandangku. Ia tampak bingung dengan apa yang dilakukan anak perempuan kami satu-satunya.

“Aku takut, Bu,” Erika menjawab tanpa melepas pelukan dari ibunya. Entah apa yang telah terjadi padanya.

“Ada apa, Erika?” tanyaku kemudian. Aku mencoba menenangkannya dengan mengusap rambutnya.

Malam menunjukkan pukul dua belas lebih beberapa menit. Belum lama aku mendengar orang yang meronda memukul kentongan. Waktu yang lahir meskipun tidak alamiah itu merupakan tanda yang menunjukkan jam dua belas. Itu sudah menjadi kebiasaan. Bahwa peronda harus memukul kentongan pukul dua belas malam untuk mengingatkan warga agar tetap waspada pada hal-hal yang tak diinginkan.

Ketika anakku memanggilku, aku dalam keadaan terjaga. Mata yang memberat belum juga mau diajak beristirahat. Tetap saja bertahan dan tak mau membawaku ke dunia yang asing. Meskipun sudah mengantuk, aku belum bisa tidur. Mungkin sudah menjadi kebiasaan bahwa naluri seorang laki-laki adalah naluri seorang pelindung. Sehingga untuk tidur pun berat, karena merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi keluarganya. Ah. Sombong sekali aku ini. Tapi memang hal semacam itu benar adanya dan dibuktikan bahwa saban laki-laki pasti akan bangun paling akhir di antara yang lain.

“Ada suara gaduh dari dapur, Pak,” Erika berkata dengan berat setelah mengucek matanya. Suaranya tak seperti biasa. Aku tahu dari caranya berbicara. Ia adalah gadis periang. Biasanya ia akan cerewet ketika berbicara. Apalagi jika sudah berbicara dengan ibunya, untuk menyela pun aku tak diberi waktu.

Baca juga  Gadis Gamis

Meskipun dalam keadaan terjaga, tak ada suara yang kudengar seperti yang dikatakan anak perempuanku itu. Naluri lelakiku sepertinya sedang tidak bekerja dengan baik. Mungkin saja tidak sampai sini karena memang pintu kamar yang selalu kututup sebelum tidur untuk menghalau angin masuk dan nyamuk yang suaranya begitu menyebalkan di telinga. Atau memang jarak kamar dan dapur yang terpisah dengan kamar anakku itulah yang menjadikan suara itu tak sampai ke telingaku.

Kamar Erika bersebelahan langsung dengan dapur. Ia sengaja memilih kamar bagian sana karena memang ia suka dengan bau harum yang lahir dari ruap bumbu-bumbu masakan ibunya. Ia juga suka memasak. Katanya ketika memilih kamar di sana, ia ingin menjadi orang yang pertama kali mencicipi masakan ibunya. Selain itu, ia juga mengatakan jika ia berada di dekat dapur, maka kebiasaannya memasak akan terus tumbuh. Sebuah alasan yang bagiku kurang masuk akal. Tetapi tak terlalu jadi masalah dan kami pun menuruti kemauannya.

Dapur kami sendiri masih sangat sederhana. Kompor gas dengan dua tungku bersisian dengan rak yang berisi piring, gelas, dan perabotan sederhana lainnya. Untuk perabotan memasak seperti panci dan wajan, kubuatkan rak gantung. Ah bukan rak, tetapi paku yang kutanam pada tembok. Paku yang tak lain fungsinya untuk menggantungkan telinga panci maupun wajan. Ringkas dan hemat. Menghemat uang dan menghemat tempat.

“Suara apa?” tanya istriku ringkas. Ia melonggarkan pelukan Erika dan menatap wajahnya.

“Tadi aku mendengar suara gaduh, Bu. Aku mendengar ada barang jatuh dan…” kata Erika terputus.

“Mungkin tikus atau kucing,” aku menyela. Tetapi dari wajah Erika menampakkan wajah tak suka. Seperti biasanya, ia tak suka jika apa yang ia katakan diganggu orang lain.

“Bapak!” kata Erika dengan memberikan dorongan kecil padaku. Aku tersenyum melihat kelaukannya. “Aku juga mendengar tapak kaki. Bukan satu orang, tapi banyak orang!” lanjutnya dengan begitu cerewet.

Baca juga  Macondo, Melankolia

Aku terperanjat mendengar ucapannya. Saat itu juga aku langsung berdiri dan bergegas membuka pintu kamar dan menuju dapur. Kulangkahkan kaki perlahan agar tak menimbulkan suara diikuti istri dan anakku. Aku berjalan paling depan. Meskipun dengan sedikit takut, aku berbekal keyakinan dalam hati bahwa memang seharusnya seperti inilah yang harus kulakukan. Kuraih sapu yang tergantung yang ada di sisi kiri pintu dapur lalu menyalakan lampu yang saklarnya tepat bersebelahan dengan gantungan sapu lantas masuk ke kapur. Kulihat dapur dan kusapukan pandangan ke sekeliling. Tak ada apa-apa.

Tak ada barang jatuh. Tak ada panci atau wajan yang terkulai di lantai. Semuanya masih pada tempatnya. Telinga yang tergantung pada paku. Begitu juga dengan perabot lain, masih di tempat semula. Tak ada yang berpindah tempat. Semua masih khusyuk di tempat masing-masing tanpa ada yang berpindah atau jatuh satu pun.

“Tidak ada apa-apa,” kataku menenangkan anakku. Tetapi dalam hati aku percaya apa yang dikatakan Erika. Karena aku tahu ia tak pernah dan tak akan berani berbohong.

Tiba-tiba darahku berdesir. Sapuan angin menyelinap di antara telinga dan bahuku. Tanganku juga merasakannya. Istriku memandangku cemas. Sepertinya ia juga merasakan hal yang sama. Ia juga ikut memandangi sekeliling dengan tetap memeluk Erika. Naluri alamiah seorang ibu. Lalu menatapku dan mengangguk. Sebuah ajakan untuk kembali ke kamar.

Aku memandang ke arah pintu menuju belakang rumah. Tertutup rapat dan tidak ada celah bagi angin untuk menembusnya. Tapi aneh bagiku—dari manakah angin yang baru saja mengusapku. Aku kembali menyapukan pandangan ke segala penjuru dapur untuk memastikan memang tak ada apa-apa lantas berjalan menuju kamar. Istriku kali ini lebih dulu, aku menyusulnya.

Akan tetapi, aku mendengar suara sesaat setelah memadamkan lampu dapur. Persis seperti yang dikatakan Erika. Suara tapak kaki yang ribut. Bukan suara barang jatuh seperti yang kupikirkan semula. Suaranya begitu keras dan meyakinkan.

Baca juga  Septemberku

“Apa itu, Pak?” tanya istriku seraya membalik badannya dan memandangku penuh dengan tanda tanya. Matanya nyalang. Ia tampak bingung dengan apa yang didengarnya.

“Kamu juga mendengarnya?” tanyaku pelan dan disambut anggukan oleh istriku.

Aku lantas berbalik menuju dapur. Mengambil sapu dan menyalakan lampu dengan tergesa. Kupandangi ke segala arah. Tapi lagi-lagi tak kujumpai apapun. Barang-barang masih pada tempatnya. Seperti semula. Aku mulai khawatir. Entah apa yang telah terjadi. Ini semacam teror, pikirku. Jika memang ada maling, kenapa aku tidak melihat tampang mereka. Apa itu bukan suara manusia. Pikiranku tiba-tiba dipenuhi dengan pertanyaan dan rasa takut.

Kupandangi lagi sekeliling, tak ada apa-apa. Kuyakinkan diriku sendiri. Lalu kembali ke kamar. Kumatikan lampu dan tergesa menuju kamar. Kutenangkan anakku, istriku, dan diriku sendiri.

“Tidak ada apa-apa,” kataku meyakinkan mereka. “Ayo tidur lagi. Kamu tidur sini saja, Erika,” tukasku.

Namun tiba-tiba suara tapak kaki itu kembali lagi. Pikiranku menerawang jauh. Mungkin saja itu suara dari seberang. Suara dari seberang sungai kecil yang ada di belakang rumahku. Berbatas dengan rerimbunan bambu. Di seberang sungai sana, tak lain adalah pemakaman yang gelap. Mungkin saja suara itu dari sana. Mungkin mereka sedang berjalan-jalan di dapurku. Singgah barang sebentar. Mungkin.

EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional. WA: 089673384146, IG: @ setyawan721. Surat-menyurat: esetyawan450@gmail.com

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: