Cerpen, Fajar Makassar, Kak Ian

Terompet-terompet yang Menjerit di Tengah Kota

2.8
(4)

Pagi itu ia berada di depan teras rumah. Dengan pikiran yang dipenuhi kerisauan hingga ia lupa jika kopi yang sejak tadi disajikan oleh istrinya telah dingin dan aromanya pun sudah memudar. Lenyap terbawa angin pagi. Ia belum juga mencecapnya.

Saat itu ia masih memikirkan tawaran pekerjaan dari temannya yang sesama penjual terompet musiman setiap saban tahun. Padahal libur Nataru (Natal dan tahun baru) sebentar lagi. Tentu ia bersama keluarga kecilnya itu ingin sekali menikmati liburan akhir tahun. Walaupun pemerintah sudah menginfokan menjelang libur Nataru tempat taman dan hiburan ditutup agar tidak menjadi klaster selanjutnya dari penyebaran Covid-19.

“Pakai logika saja negeri ini masih dilanda korona apa mungkin terompet-terompet yang nanti kau jual ada pembelinya. Cobalah jadi manusia logis sedikit untuk kali ini saja!”

Ia masih terngiang dengan ucapan temannya itu. Saat itu ia datang ke kontrakannya untuk meminjam modal untuk menjual terompet. Tapi bukan pinjaman yang ia dapatkan malah sebaliknya mendapatkan tawaran yang selintas dalam bayangannya cukup enak tanpa berlelah payah keliling menjual terompet. Ia mempunyai khayalan macam itu.

Sebenarnya menjadi penjual terompet musiman hanyalah sebuah pekerjaan sampingan dirinya saja tiap akhir tahun. Pekerjaan utama yang ia miliki sesungguhnya adalah supir angkot. Tapi karena korona sudah enam bulan lebih menghantui negeri ini sudah pasti terimbas pada setoran yang selalu berkurang. Sepi penumpang. Sudah pasti itu membuat dirinya pusing tujuh keliling terlebih ‘bos’ pemilik angkot tidak mau tahu menahu setoran harus diterima sesuai kesepakatan tidak boleh berkurang. Maka dari itu untuk menambah pemasukan perekonomian keluarga ia mencoba untuk melakukan pekerjaan sampingan tak lain kembali menjual terompet di malam Nataru.

Baca juga  Sempurna

Namun di saat ia masih termangu di teras depan rumah mendadak istrinya keluar dari mulut pintu. Dengan mengenakan daster motif kembang istrinya itu mengagetkan dirinya. Hingga membuat tawaran pekerjaan dari temannya yang masih terngiang itu sekejap hilang.

“Pak, anak kita si Bilal sebentar lagi ambil rapor. Katanya uang SPP-nya belum bayar. Sudah menunggak tiga bulan!” Akhirnya istrinya itu memberitahukan keresahan anak lelakinya yang sebentar lagi ada pengambilan rapor semester ganjil di sekolahnya.

Ia yang mendengar ucapan istrinya seperti itu berpikir keras.

“Ingat Pak, janganlah ikut-ikutan seperti oknum para orang tua murid yang selalu banyak protes mengenai anaknya yang belajar online tapi harus tetap bayar SPP. Mereka yang mengajari anak kita itu juga butuh makan seperti kita. Apalagi dalam keadaan begini mereka juga merasakan hal yang sama pada kita!”

Akhirnya, bertambah lagilah beban yang menggeluti di pundaknya tentang problema pembayaran SPP anaknya yang menunggak itu. Tapi saat pikirannya sedang berkecamuk mendadak teman seprofesinya yang sesama penjual terompet musiman itu menghubungi kembali melalui ponselnya yang dibelinya dari penadah.

“Bagaimana tawaran yang aku kasih. Kamu mau tidak? Jangan pikir lama-lama. Kalau tidak, aku kasih temanku yang lainnya.”

Sebuah pesan masuk dalam Whatsappnya. Ia pun langsung membacanya. Tidak lama kemudian ia pun membalas pesan temannya itu dengan penuh keyakinan. “Iya, aku terima! Besok aku akan ke kontrakan kamu lagi.”

***

Keesokan harinya…

“Ini uang mukanya untukmu! Jika kamu berhasil membawa paket ini sampai ke tujuan akan ada tambahan lagi. Uang ini bisa kamu buat modal menjual terompet atau buat kamu liburan itu terserah kamu. Kamu mau apakan uang itu sudah menjadi hakmu! Terpenting yang kamu harus ingat jika terjadi sesuatu padamu atau ada pihak berwajib yang mengetahui hal ini kamu harus tutup mulut dan bungkam. Jika tidak anak dan istrimu yang menjadi korbannya. Kamu bisa memahami ini?!”

Baca juga  Prasangka

Ia sesaat tidak menyimak baik-baik ucapan temannya itu. Ia hanya menatap nanar amplop cokelat yang ada di tangannya dengan gemetar.

“Kamu paham tidak apa yang aku katakan tadi! Ingat sebelum menjelang malam tahun baru paket itu sudah sampai pada pemiliknya. Kamu paham?!”

“I-iya aku paham!”

“Baiklah, sekarang kamu balik pulang. Jangan lama-lama kamu berada di kontrakanku ini nanti banyak yang mencurigainya.”

“Iya, baiklah! Terima kasih sebelumnya.”

Akhirnya dengan wajah semringah ia jadi tidak sabar mengabarkan kabar gembira pada istrinya itu. Begitu juga pada anaknya. Karena uang yang ada dalam amplop cokelat itu bisa menutupi keresahannya dan kegamangan serta kekhawatiran dirinya maupun istri dan anaknya. Bukan itu saja dengan uang itu ia bisa membayar kontrakan selama enam bulan ke depan, bayar SPP anaknya yang menunggak dan juga membeli kalung emas untuk istrinya yang sangat diimpikannya serta bisa liburan menyambut Nataru.

Namun ia tidak menyadari jika sejak tadi, saat masuk ke rumah kontrakan temannya itu sampai pulang kembali, dalam perjalanannya ia diekori oleh dua lelaki berpakaian preman dengan cara mengendap-endap tanpa sepengetahuannya. Ia mengira jika dirinya aman-aman saja. Dan uang dalam amplop cokelat itu bisa ia nikmati dan paket yang ada di tangan kirinya sebisa mungkin dijalankannya dengan sebaik mungkin pula.

***

Akhirnya hari di mana ia ingin mengantarkan paket yang sudah lebih dahulu dikomandoi oleh temannya itu pun tiba. Tapi sebelum melakukan aksinya itu ia mendapatkan pesan dari temannya.

“Hati-hati polisi sudah mencium jejakmu! Kamu cepat lekas pergi sekarang dari kontrakanmu sebelum polisi mengepungmu.”

Sial, belum habis pesan itu dibaca olehnya. Tetiba mendengar pekikan suara bariton untuk memerintahkan ia untuk menyerahkan diri. Tapi ia tidak menggubrisnya. Ia terus menghindari pengejaran itu.

Baca juga  Obsesi

Tidak berapa lama kemudian terdengarlah suara pistol berbunyi menggelegar di atas langit ibukota di antara bunyi suara terompet yang menyambut tahun baru malam itu.

Dooooorrrr!!!

Ia pun langsung tumbang. Ia terkena luka tembak tepat di hatinya. Namun sebelum malaikat maut mencabut nyawanya itu tampak terlihat di matanya ada sebuah kenangan berkelindan. Tidak lain kenangannya saat ia masih menjual terompet bersama anak laki-lakinya sebelum negeri ini diliputi korona.

Tapi sebelum kematiannya itu lebih dahulu menjemput dirinya sayup-sayup ia mendengar jerit histeris suara istri dan anaknya yang baru pulang dari pasar seusai membeli jagung bakar. Dan itulah tebusan dari segala risiko saat ia mengiyakan tawaran pekerjaan itu. Ingin mengirimkan barang terlarang untuk pesta malam tahun baru di sebuah penginapan. (*)

KAK IAN, penulis dan aktivis anak. Kini aktif/juga founder di Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Karya-karyanya sudah termaktub di koran nasional dan lokal. Karya terakhirnya, “Kumpulan Cerita Remaja: Malaikat yang Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama”, Penerbit Mecca, Desember 2019.” “Kumpulan Cerpen: Hikayat Kota Lockdown”, Penerbit Sinar Pena Amala, Agustus 2020.

Average rating 2.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: