Cerpen, Mashdar Zainal, Suara Merdeka

Tiga Perempuan Murung yang Terkurung dalam Sebuah Cerita Pendek yang Murung

3.1
(12)

Beberapa hari setelah Tuan mengangkat kaki dari rumah ini, sambil setengah melamun, Nyonya berkata, “Hidup ini hanya sebuah cerita pendek, jadi biar saja tuanmu melakukan apa yang ia suka, mau jadi anjing kek, mau jadi bajul kek, terserah. Toh hanya cerita pendek, lambat laun pasti juga bakal ending.”

Semenjak hari yang mendidih itu, Tuan hanya berkunjung sesekali ke rumah ini. Tak pernah ada sambutan hangat untuknya. Ia datang seperti seseorang yang menunaikan ziarah singkat, kemudian pulang setelah menabur kembang berupa rasa sakit yang aromanya tak mudah hilang.

Setiap kali Tuan datang untuk menjenguk anak perempuannya yang melata di kursi roda, Nyonya tak pernah menganggap. Di mata Nyonya, Tuan telah menjadi seorang pengkhianat yang tak pantas dimaafkan atau bahkan sekadar diajak bicara.

Sebelum menikah, Nyonya dan Tuan memang sudah sama-sama kaya. Orang tua mereka mewariskan rumah gedung dan tanah yang tak akan habis dimakan tujuh turunan. Tuan dan Nyonya menikah sudah hampir 25 tahun, dan mereka hanya dianugerahi seorang anak perempuan yang istimewa sejak lahir. Anak perempuan yang tak sanggup mengendalikan bibirnya, sehingga terus menganga dan berliur. Anak perempuan yang lugu seperti bayi yang bahkan tak sanggup mengangkat leher.

Nyonya merawat anak perempuannya sepenuh hati, sampai anak perempuan itu menginjak remaja. Jadilah aku dan Nyonya merawat anak perempuan itu seperti merawat balita yang jasadnya terus tumbuh, balita yang beberapa bagian tubuhnya kian membengkak seperti perempuan dewasa. Dan balita itu telah lama hilang kelucuannya semenjak pipis dan beraknya makin bau. Tentu saja anak perempuan itu masih gadis, tak ada lelaki mana pun sudi mempersuntingnya. Meski Tuan dan Nyonya adalah konglomerat yang bisa membeli apa saja, rupanya mereka tak bisa membelikan suami untuk anak gadis mereka.

Sudah lama Nyoya tidak bekerja. Semua usaha yang telah dia rintis telah dipasrahkan pada Tuan dan anak buahnya. Kehidupannya sehari-hari hanya di dalam rumah, seperti seekor serangga terperangkap dalam jaring laba-laba bernama: kasih sayang ibu. Sementara Nyonya berjibaku dengan hari-harinya yang sumpek di dalam rumah, di luar sana Tuan bebas menghirup udara segar, merasai aroma bunga, dan bahkan memetik daun muda.

Baca juga  Dongeng Pendek tentang Kota-Kota dalam Kepala

Perempuan memang tak pernah bisa dibohongi; serapat apa pun laki-laki menyembunyikan bangkai, perempuan dapat mengendus perlahan-lahan.

Malam itu, ketika Nyonya dan Tuan terjebak dalam pertengkaran hebat, aku dan anak perempuan bisu itu hanya bisa gemetar, mengkerut di dalam kamar. Dan bangkai memang akan tetap menjadi bangkai yang lambat laun baunya menguar dan dihirup dunia.

Meski tak pernah menginjakkan kaki di luar rumah, Nyonya punya cukup kekuasaan untuk menyewa seribu mata-mata untuk mengawasi ulah suaminya di luar sana. Mengapa Nyonya perlu menyewa mata-mata? Nyonya khawatir. Dan jika perempuan sudah khawatir, kekhawatiran itu akan segera menjadi kenyataan.

“Jangan kaupikir aku tak tahu apa yang kaulakukan di luar sana. Semua lelaki sama, tak ada gonggongannya yang bisa dipercaya,” suara Nyonya menggelegak dari celah pintu. Parau. Mungkin Nyonya bicara sambil menangis.

“Sebaiknya kau pergi dari rumah ini. Kau sudah melangkah terlalu jauh. Perempuan bisa melakukan apa saja kalau sudah disakiti. Jadi sebaiknya kau segera pergi sebelum aku memotong kemaluanmu. Sudah kekumasi barang-barangmu. Sundalmu yang sedang hamil itu pasti cemas menunggumu di rumah.”

Kami tak mendengar dari dalam kamar Tuan mengeluarkan suara atau membela diri. Jika topeng lelaki sudah terbuka, ia memang menjadi pendiam. Namun sebenarnya Nyonya juga tidak pandai bercermin, mengapa Tuan sampai hati bermain api di belakangnya.

Semenjak memusatkan perhatian pada anak perempuannya, Nyonya lupa perhatian yang seharusnya menjadi milik Tuan pun terenggut pula. Sepulang kerja Tuan langsung berendam di bath up berjam-jam, kemudian mendengkur di ranjang seperti pria kesepian. Tak ada lagi perempuan yang memijit pundaknya sepulang kerja. Tak ada lagi perempuan yang mengingatkan untuk merapikan kerah leher. Dan bahkan Tuan dan Nyonya sudah jarang makan malam di meja yang sama. Bertahun-tahun Tuan memendam kegelisahannya. Hingga beberapa tahun terakhir, wajah Tuan tampak berseri. Ia telah menemukan bagian hidupnya yang hilang di luar sana.

Semenjak malam yang mendidih itu, aku tak pernah melihat Tuan menginjakkan kaki di rumah ini. Lemari Tuan juga sudah kosong. Dan semenjak itu, Nyonya telah menjadi perempuan pemurung yang paripurna. Sepanjang hari ia hanya melamun. Terkadang melamun di teras rumah. Terkadang melamun di meja makan. Dan terkadang melamun di depan anak perempuannya yang hanya diam di kursi roda. Aku kerap menemukan kabut mengepul keluar dari mata Nyonya. Seperti air mata yang menguap karena titik didih yang tinggi.

Baca juga  Rongga

Beberapa bulan sekali atau sebulan sekali, Tuan masih datang dengan dalih ingin melihat anak gadisnya. Tuan selalu datang dengan buah tangan aneka macam yang semua selalu berakhir di keranjang sampah. Nyonya tak mau menyentuh. Ia juga melarangku menyentuh. Haram, katanya.

Jadi begitulah, Tuan datang sekadar datang, menengok anak gadisnya, membelai rambutnya, mencium keningnya, kemudian pergi begitu saja. Tanpa sepatah kata. Selama Tuan datang, Nyonya selalu menjelmakan diri menjadi arca yang tak bergerak dan bisu. Tuan sudah terbiasa dengan itu.

Makin tahun keadaan Nyonya kian memprihatinkan. Mungkin karena beban pikiran. Nyonya mulai sakit-sakitan. Seburuk apa pun keadaannya, Nyonya tak pernah sudi menerima bantuan dari Tuan. Bahkan Nyonya bilang, lebih memilih membusuk di dalam rumah daripada pergi ke rumah sakit dengan Tuan. Aku tak pernah mengerti mengapa kebencian seorang perempuan yang dikhianati bisa begitu palung.

Selama Nyonya di rumah sakit, aku hanya tinggal di rumah dengan anak perempuan malang itu. Nyonya masih punya beberapa saudara jauh yang sedia menunggui di rumah sakit. Semenjak Nyonya menginap di rumah sakit, rumah gedung yang kami huni bertambah murung. Hingga beberapa hari berselang, Nyonya pulang dari rumah sakit dengan keadaan lain; duduk di kursi roda. Kata saudara-saudaranya, Nyonya terserang stroke dan harus mengenakan kursi roda, seperti anak perempuannya. Sempurna. Kini, aku, seorang diri, merawat dua perempuan murung yang terpaku di kursi roda. Dua perempuan yang kembali menjelma balita yang tidak lucu.

Sebenarnya Tuan mengusulkan untuk mencari pembantu baru supaya bisa menemaniku merawat mereka. Namun karena usul itu keluar dari mulut Tuan, serta-merta Nyonya menolak mentah-mentah. Mungkin Nyonya ingin menunjukkan ia tak butuh apa pun dari Tuan, bahkan sekadar usulan.

Kini, jika malam menyambar pelan, rumah besar yang berpenghuni tiga perempuan dan seorang satpam kurus yang terkurung di depan gerbang ini akan menjadi rumah paling murung, yang seakan-akan tak ada lagi yang bisa lebih murung.

Baca juga  Pak Sakim

Setelah mengantar secangkir kopi pahit dan beberapa kue ke pos satpam di depan gerbang, aku menengok anak perempuan itu di kamarnya. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, bahkan lebih buruk, ia terduduk melorot dengan mulut lebar dan mata mendelik, seolah-olah tengah sekarat. Keadaan Nyonya tak kalah buruk. Ia selalu menangis di dalam kamar. Menyesali setiap kejadian yang tertuang dalam cangkir nasibnya. Dan diam-diam aku masih suka mengintip Nyonya memandangi foto Tuan di dalam album. Mungkin Nyonya masih mencintai Tuan, tetapi cinta yang tersisa itu mungkin tak lebih besar daripada kebenciannya.

Melihat keadaan Nyonya dan anak perempuannya, kepalaku ngilu, telingaku seperti berdengung. Kalau sudah demikian, aku akan melangkah pelan dan kembali ke kamarku yang sempit di belakang. Di dalam kamar aku acap termenung, tak lagi memikirkan Nyonya atau anak perempuannya, tetapi memikirkan diriku sendiri: seorang perawan tua yang seakan-akan seumur hidup telah dikutuk menjadi babu sebuah dunia yang tak beranjak dari lantai, kompor, dan mesin cuci. Tak ada beda dari anak perempuan Nyonya, tak ada lelaki mana pun sudi mempersuntingku. Memang siapa sudi menikah dengan perawan tua yang pembantu, yang berparas jauh dari cantik, yang berkulit sudah mengeriput, yang berambut sudah beruban.

Tiba-tiba aku bertanya pada diri sendiri: apakah aku bahagia? Dan setiap apa yang kulihat, mendadak menjadi sangat murung. Selintas aku teringat kata-kata Nyonya, hidup ini adalah sebuah cerita pendek. Jika demikian, sempurna: sebuah rumah yang sangat murung, yang di dalamnya berembus napas tiga perempuan yang juga murung. Dan mereka tak pernah tahu sampai kapan terkurung dalam sebuah cerita pendek yang juga tak kalah murung. (28)

Malang, 2014

Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi dan prosa. Tulisannya terpercik di beberapa media. Buku cerpen terbarunya, Bapak Menjadi Anjing (2020). Kini bermukim di Malang

Average rating 3.1 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: