Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Nguyen, Eka, dan Fulan yang Arif

Pantai Suci, Bengkulu (2020)/dok.pribadi

4.3
(7)

Salah satu saluran favorit saya kalau sedang menonton TV adalah Asian Food Network atau AFN. Saya sudah lama penasaran, mengapa acara makan-makan digemari banyak orang sehingga ada saluran khusus untuk kuliner.

Di TV pesawat dan majalah gaya hidup atau koran edisi akhir pekan, juga selalu memberikan ruang untuk urusan lidah dan lambung ini. Belum lagi di saluran Youtube, petualangan kuliner berbagai gaya dan cara tersedia—tinggal pilih!

Tentu saja, maksud saya, selain karena makan adalah urusan wajib umat manusia, apakah ada hal lain yang membuat saya dan banyak orang menyukai acara kuliner?

Beberapa waktu belakangan, saya rasanya mulai menemukan jawaban atas hal itu. Meskipun bisa saja itu untuk memenuhi rasa penasaran saya sendiri. Tapi, siapa tahu, Anda juga berada dalam gerbong yang sama dengan saya.

Salah satu program kuliner yang menarik perhatian saya adalah Luke Nguyen Street Food Asia yang tayang di AFN.

Sosok lelaki  berkacamata berkebangsaan Vietnam-Australia dengan rambut sebahu yang suka ngomong dan ramah tampak menikmati sekali petualangannya dari satu jajanan kaki lima yang satu ke yang lainnya, dari kota satu ke yang lainnya, dari negara satu ke yang lainnya itu membuat penontonnya iri. Selain bagaimana ia bisa makan enak terus, juga karena ia bekerja dengan penuh gairah dan perasaan gembira.

Tanpa malu-malu pemilik restoran Red Lantern di Surry Hills di Sydney dan penulis sejumlah buku masak itu bertanya rahasia nikmatnya nasi lemak di sebuah lapak di Kuala Lumpur atau apa alasan lapak bebek peking panggang Hongkong dipanggang menggunakan kayu jujube dan seterusnya dan seterusnya. Meskipun, sebagai seorang juru masak, bisa saja pertanyaan itu sekadar konfirmasi, tah Nguyen tetap melakukannya—dan sedikit pun itu tidak membuat dirinya lebih rendah dari yang lain.

Baca juga  Belajar dengan Topeng

Tak semua pedagang makanan yang ia temui mau memberi jawaban rinci, bahkan beberapa merasa tidak ingin membagikan resep rahasia. Serunya, Nguyen selalu mampu mengolah respons yang ia dapat dengan air muka dan celetukan yang hangat dan khas.

Aura kegembiraan, keramahan, dan optimisme menguar dari ekspresi dan tindak-tanduk Nguyen selama membawakan acara. Tiap kali mencicipi makanan, ia menggigit dan membiarkan sebentar rasa bergeliat di lidahnya sebelum kemudian komentar apresiatif keluar dari mulutnya. “Delicilious, amazing, genious, tasty, otentic” dan banyak lagi. Mungkin selintas lalu, kata-kata itu umum sekali. Tapi, dari Nguyen juga saya tahu kalau itu bukan tentang kata, tapi tentang bagaimana mengucapkan kata, bagaimana kata itu bisa keluar, air muka dan gerakan mulut sembari menguyah yang menyertainya, dan hal-hal yang menularkan perasaan positif kepada para penonton. Bukan. Bukan bahwa semua makanan itu enak, tapi karena semua makanan telah melalui proses sedemikian rupa sebelum disajikan. Tampaknya itulah yang disadari oleh laki-laki yang tahun ini berusia 42 tahun itu.

Hal yang nyaris sama saya dapatkan dari membaca ulasan-ulasan buku yang telah dibaca Eka Kurniawan, baik di blognya, maupun yang kemudian terbukukan dalam Senyap yang Lebih Nyaring (2019) dan Usaha Menulis Silsilah Bacaan (2020). Semua buku yang Eka baca seakan-akan adalah buku bagus. Semua bacaannya adalah buku bagus dan wajib dicari oleh para pembaca (atau penulis) lain. Pembacaannya atas karya-karya “horor” Riyono Pratikno atau cerita-cerita singkat nan cerdas-nya Etgar Keret dalam The Seven Good Years (2013) yang ia puja-puji, membuat iri ketika saya juga merampungkan buku yang sama. Bagaimana bisa Eka menemukan perspektif apresiatif sehingga tiap buku memiliki cahaya sedemikian rupa di mata dan kepalanya.

Baca juga  Dammahum Jadi Mercusuar

Hal yang tidak jauh berbeda ternyata juga saya temukan pada diri seorang teman yang menolak disebut namanya. Sebut saja Fulan. Awal-awal dekat dengannya ketika kuliah dulu, saya merasa begitu tersanjung dengan banyak sikap baik dan penghargaan yang ia berikan pada apa yang saya lakukan. “Masya Allah, suara kamu bagus sekali ketika membawakan nasyid tadi” atau bahkan ketika saya sedang marah, di sela nasihatnya, ia bahkan melampirkan penghargaan, “Kamu benar, Benn. Tidak seharusnya mereka abai seperti itu. Saya sendiri kalau jadi kamu, belum tentu sanggup jadi ‘orang lain’ seperti tadi.”—saya merasa “ditegur” tapi dengan tampilan dipuji. Ah!

Nguyen, Eka, dan Fulan, seperti bersepakat bahwa tiap makanan, buku, dan tindakan memiliki kenikmatan, keseruan, dan hikmahnya masing-masing. Dan dalam diri kita masing-masing, kemampuan menghargai itu adalah harta yang sejak mula sudah ada dalam diri, yang … seiring waktu dan hibuk aktivitas atau mimpi mengejar sesuatu … akhirnya tertutupi oleh egoisme, keinginan terlihat lebih, atau bahkan kepongahan tanpa alasan. Semua “hal baru” itu tak jarang menguasai diri kita sehingga menutupi apa-apa yang sudah dipunyai sejak semula sehingga yang subur dalam diri bukan lagi kemampuan menghargai, tapi kemampuan mencari kekurangan yang tertangkap pandang, terasa di lidah, atau terolah dalam kepala.

Sampai di sana, saya tercenung, dan akhirnya memutuskan menulis catatan ini. Ilmu pengetahuan, kerajinan berkarya, dan keluasan pergaulan, sungguh bukanlah jaminan bagi hadirnya kearifan dalam diri manusia. Lalu bagaimana kearifan itu bisa hadir? Kita semua tahu jawabannya, sebagaimana saya akhirnya menemukan jawaban mengapa saya menyukai Luke Nguyen Street Food Asia. Kita semua tinggal membersihkan jalan yang bersemak itu. Dalam diri. Di sekitar kita. Saya tidak perlu menjadi manusia paling sempurna untuk menjelaskannya dalam esai ini.

Baca juga  Orang Inggris

Lubuklinggau, 20 Januari 2021

BENNY ARNAS. Lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Telah menulis 25 buku lintas genre. Dua novelnya yang baru terbit: Bulan Madu Matahari dan Ethile! Ethile!

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: