Bhirawa, Cerpen, Tyas W

Saat Bertemu Pejuang

3
(1)

Kutelusuri dinding rumahnya yang bercat biru telur asin yang sedikit retak itu. Terpampang di sana beberapa gambar pada kertas foto yang mulai menguning. Foto hitam putih yang dibingkai apik tetapi kayu pigoranya mulai usang. Foto itu adalah kebanggaannya. Ada dia yang sedang tertawa bersama kawan sejawat. Ada dirinya yang mengayuh sepeda kebo dengan ikat kepala merah putih dan sebilah bambu runcing terslempang di belakang punggung. Dan yang paling membuatnya terhormat adalah fotonya bersama jajaran tokoh penggagas kemerdekaan.

Di foto itu rona wajahnya sangat semringah. Seperti orang yang puas menerima kesuksesan setelah sepenuh usaha telah ia lakukan. Mungkin kamu pernah merasakan hal itu-rasa bangga yang tidak bisa dilukiskan sebab berhasil meraih cita-cita. Sampai-sampai tak bosan mengungkit kenangan itu lalu betah mengenakan seragam kebangsaanmu. Seperti para tokoh yang selalu memakai blazer dan peci pejuang setiap peringatan Hari Kemerdekaan. Ya, cita-cita mulia yang telah mereka raih itu adalah mempertahankan keutuhan bangsa. Menjadikan Indonesia kokoh di mata dunia.

Abah Po, demikian Pak Kohar memanggilnya. Dialah pejuang lawas yang masih bertahan di era mileneal. Jika kutebak, usianya sekitar delapan puluhan. Sedangkan Pak Kohar sendiri masih sekitar lima puluh. Dia keluarga satu-satunya yang dimiliki abah. Dulunya, ia remaja yang ditinggal mati keluarganya akibat gencatan senjata 10 Nopember. Peristiwa mencekam bagi arek-arek Suroboyo yang menewaskan ribuan orang oleh pihak Britania meski saat itu Indonesia telah memekik kata merdeka. Abah Po ikut dalam perjuangan itu. Dan dia menyelamatkan Pak Kohar remaja lalu mengangkatnya menjadi anak.

Rasa kagumku menyala-nyala akhirnya berjumpa dengan mereka. Segera kubuka catatan kecil lalu kutekan tombol on pada tape recorder jika memungkinkan dapat kurekam suaranya selama wawancara. Namun, ketika Pak Kohar membawa Abah Po ke hadapanku, rasa iba mendera di dada. Abah Po terduduk di sebuah kursi roda. Tubuhnya ringkih, kurus dan rambutnya penuh uban. Seperti dugaanku, dia memakai seragam dan peci pejuang berwarna coklat susu dengan bendera merah putih di atasnya. Dengan senyum tulus ia menyapaku. Aku membalasnya dengan hati berdesir. Guratan keriput di wajahnya seolah menjadi saksi atas perjuangan yang pernah ia lakukan.

“Tiga tahun ini Abah Po mengalami stroke, ia tidak dapat berbicara,” terang Pak Kohar sebelum aku mengajukan pertanyaan.

Baca juga  Pengakuan

“Oh.” Aku mengangguk. Kutekan perlahan tombol off tape recorder tanpa sepengetahuan mereka. Lalu menyimak penjelasan Pak Kohar.

Penuturan lelaki paruh baya itu sangat runtut. Dulu Abah Po dikagumi masyarakat. Badannya tinggi, tegap dan membidang. Wajahnya tampan, dengan kumis dicukur bersih dan jenggot dibiarkan terurai tipis. Alisnya sedikit tebal dan tatapannya tajam. Ia lebih banyak diam, tapi sekali memekik kata, ucapannya sarat makna. Begitu pula tindak-tanduknya, amat banyak kerja yang dilakukannnya.

Ketika para demonstran membanjiri markas penguasa, ia menjadi bapak yang setia berada di sisi mereka. Pun ketika tanah Surabaya digempur pemberontak kolonial, dengan sigap ia menjadi portal garda terdepan. Ia bukan pejabat, bukan pula orang penting. Ia hanya leader kecil di masanya. Seorang relawan sejati. Mungkin tak semua masyarakat Indonesia mengenal sosoknya. Namun, sekelompok orang di sekitarnya begitu mempercayai kepemimpinannya.

Kuceritakan sedikit tentang peristiwa 10 Nopember. Malam itu, tentara Belanda mengibarkan benderanya di tiang teratas tanpa persetujuan pemerintah RI Surabaya. Keesokan harinya para pemuda marah karena menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia yang saat itu tengah gencar mengibarkan bendera merah putih. Abah Po dengan garang meneriakkan takbir dan membawa massa memasuki benteng pertahanan kolonial. Mereka menerjang markas besar yang diberi simbol bendera tiga warna itu dan bersama tokoh penggagas berhasil merobek warna biru di bagian bawahnya. Itulah awal mula pemberontakan. Tapi berkat tekad membara rakyat Indonesia, bendera merah putih akhirnya berkibar mengangkasa.

Bara ketegasan Abah Po bagai sahabat nabi Umar bin Khatab yang diberi julukan singa padang pasir. Ia garang di medan perang tapi lembut dengan kerabat. Sebut saja ketika sebuah desa diporak-porandakan pemberontak. Ia turun memberi bantuan. Padahal ia sendiri kesusahan. Kehidupannya ditopang oleh sepetak kebun yang digarapnya sendiri. Saat musim pancaroba tanah itu ditanami singkong. Tapi mendadak rugi jika tiba-tiba kebun diguyur hujan. Hasil buahnya busuk terendam banjir. Namun, abah tetap saja menyuplai kebutuhan pokok masyarakat terdampak.

“Mengapa, Pak? Mengapa Abah dalam kesulitan masih membantu orang lain?” tanyaku.

Pak Kohar tersenyum dan dengan rendah hati menjawab, “Saat itu banyak sekali orang yang memerlukan bantuan, abah bilang menolong mereka sekuat-kuatnya adalah kewajiban sebagai bekal kehidupan kekal di pangkuan Tuhan.”

Baca juga  Pohon Jejawi

Aku tertegun mendengarnya. Sedikit pun abah tidak meminta imbalan. Dialah Abah Po. Seperti membayangkan sosok mereka-pahlawan yang dielu-elukan dalam sejarah yang senantiasa membersamai masyarakatnya dengan penuh ketulusan. Keadaan akan menjadi wajar jika ia seorang yang bertahta dan sehat. Tetapi tidak demikian dengan diri lelaki tegar itu. Kondisi kesehatannya juga tidak terlalu fit. Ia lihai berjalan meski mengandalkan kruk di lengan kirinya.

“Abah Po seorang pejuang yang hidup sederhana, berasal dari kampung sederhana, tapi memiliki kemewahan pikiran,” kata Pak Kohar.

Menurutnya para pejuang di era mileneal harus belajar bahwa gagasan besar itu banyak lahir dari kesederhanaan. “Saya kira para pahlawan masa kini harus belajar bahwa setiap pemikiran besar itu banyak lahir dari kesederhanaan bukan nafsu serakah, misalnya saja Mbak Ayu sebagai wartawan ingin mengangkat sebuah berita, eh ternyata Mbak Ayu mau menerima suap dengan kesepakatan tertentu dalam tugas kejurnalistikan. Ini yang harus dihindari.”

Aku manggut-manggut seolah yakin sindiran Pak Kohar tidak hanya ditujukan kepadaku, tapi semua aktifis publik terutama para pemikir politik yang erat hubungannya dengan penggagas nasib bangsa.

“Jaman sekarang, banyak orang berpikir sebaliknya, inginnya ditolong daripada menolong. Itu yang disebut daya juang lemah. Generasi masa kini tak seheroik orang-orang jaman dulu. Jangankan sikapnya, mengingat perjuangan para pahlawannya saja juga enggan,” tandas Pak Kohar.

Kali ini kalimat Pak Kohar menohokku. Aku adalah bagian dari generasi Z. Dan memang begitulah keadaannya. Bahkan tokoh pahlawan yang menjadi andalan kami tidak lain para superhero khayalan semata. Tokoh-tokoh berakhiran -man seperti spiderman, ironman, wonderwoman dan superman lainnya terasa lebih keren dibanding menyelami kehidupan pahlawan bangsa sendiri. Tubuhku bergidik malu.

Abah Po seketika menggetarkan bibir bekunya, bersamaan dengan telunjuk tangan kanannya gemetar menunjuk secangkir teh di depannya. Aku sebatas tergopoh barangkali abah ingin meminumnya. Lalu Pak Kohar menyodorkan secangkir teh yang sama di depanku, menyilakanku minum.

“Abah?” Aku tak tahu hendak berkata apa.

“Abah tidak minum teh,” tutur Pak Kohar.

Aku mengangguk canggung, memandang bibir abah yang berlipat-lipat naik-turun, hendak mengatakan sesuatu. Seolah paham Abah Po tidak ingin membuatku tersinggung atas penjelasan Pak Kohar tadi. Kuletakkan kembali cangkir di atas meja setelah kuseduh tiga tegukan. Akhirnya kami pun bercakap kehidupan abah.

Baca juga  Dammahum Jadi Mercusuar

“Tentang keluarga Abah bagaimana?”

Pak Kohar tersipu melirik abah.

“Sayalah keluarga yang dimiliki abah.” Pak Kohar meraih gagang teko berisi teh hangat lalu menuangnya. Kepulan asap menghambur keluar dari cangkirnya. “Kisah cinta abah bertepuk sebelah tangan,” katanya sambil terkekeh melihat abah.

Ternyata bukan aku saja mengalami tragedi semacam itu. Orang-orang “besar” pun pernah merasakan penolakan cinta. Aku semakin memusatkan perhatian pada kisah abah yang dilontarkan Pak Kohar. Berharap mendapat pencerahan.

“Saat muda, abah jatuh cinta pada gadis pujaannya. Seorang kawan sekolahnya tapi keturunan ningrat. Persis sinetron jaman sekarang, cinta mereka kandas sebab si gadis telah ditunangkan dengan pria berkedudukan. Kecewa? Sudah pasti. Tapi abah tidak lantas frustasi lalu menindak jompa-jampi. Bagi abah, ketika cintanya kandas, ia harus bertindak lebih revolusioner, bekerja lebih gigih tanpa memikirkan kegagalan asmara karena hal itu akan menghambat kinerjanya.”

Berat. Hatiku tercabik. Rasanya sulit sekali berpikir seperti abah. Pasalnya, aku terlanjur sayang kepada lelaki yang kerap hadir dalam setiap keluhku, namun ternyata ia memberi harapan palsu.

“Empat kali abah jatuh cinta, tiga kalinya berakhir tanpa kejelasan. Yang keempat hati abah tertambat kembali pada sosok cinta pertamanya. Kebetulan gadis itu diceraikan suaminya. Tapi lagi-lagi cintanya ditolak oleh perempuan yang sama. Saat pernikahan saya abah berpesan bahwa saya harus setia kepada istri saya, sebab dengan pahit abah mengatakan semua cintanya tak sampai sehingga ia lebih memilih mengabdi untuk negeri, perhatiannya terlalu besar untuk perjuangan.”

Ya, kini aku mengerti. Hanya dengan mengerjakan hal yang lebih penting, kelemahan akan teratasi. Sedikit pun abah tak rapuh meski seakan terabaikan di masa tuanya, wajah teduh itu tetap menyirat rasa bangga sebagai pejuang. ***

Tyas W. Anggota FLP Sidoarjo. Penulis 3 buku solo dan puluhan buku antologi. Karyanya dimuat di beberapa media cetak Republika, Harian Bhirawa, dan Radar Mojokerto.

Average rating 3 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: