Hikmat Gumelar, Koran Tempo, Puisi

Ceracau Embun

5
(1)

Terus Kusetubuhi Diam-Diam

/

buku ini aku dapat

dari gelombang pasang

perempuan

seberang lautan

/

ada mungkin

pujangga luhur

kritikus agung

yang merasa mengendus

amis

& bersilat lidahlah sampai

ke mana-mana

mencipratkan ludah

/

itu urusan hidung, lidah, & ludah mereka

telingaku sendiri mendengar

ombak

terus berdebur. kadang menerjang

karang

memuntahkan hasrat

bergolak

dasar samudra

mengajak bersama

terjun menyelam

berenang

di kedalaman

/

buku ini aku dapat

dari gelombang pasang

perempuan

seberang lautan

/

banyak mungkin suara dalamnya

yang belum kudengar. tetapi

di musim hujan ini

Melankolia

terus kusetubuhi diam-diam

/

VBI-122020

/

Ceracau Embun

/

kau & aku menembus

tembok buatan. bertemu

pada jendela-jendela berembun

pintu-pintu lembab tertutup

sama terbungkus kabut di dua mulut

jalan panjang berlubang-lubang, kau & aku

berdiri menahan gigil. tercekik rindu & risau

kata-kata ragu menyembul ruapkan harum

hati tercabik-cabik kesunyian seratus tahun

/

butiran bening hujan bergulir jatuh

dari empat pelupuk. kau & aku runduk

sembunyikannya. tapi tubuhmu & tubuhku

meliuk-liuk sebagai sepasang buluh

terkepung angin ekor duyung. batu

tumpuan malih menjadi danau

/

kau & aku pun melompat lampaui batas

saling pandang saling ulurkan tangan

saling rangkul dalam rungkupan

bauran kabut & cahaya bulan

debar dada kau & aku pun sama berujar

tenggelam ke lubuk danau pun tak soal

asal kita kekal saling mendekap

/

VBI-122020

/

Taman Kanak-Kanak

—untuk Al & Kal

/

tidak ada keluarga

sempurna. setiap rumah

selalu punya lubang

/

tetapi dari situ, selain debu

pun masuk embusan angin sejuk

nyanyi jengkrik & siulan burung

/

tidak ada keluarga

sempurna. setiap rumah

selalu punya lubang

/

tetapi dari situ, gemintang & purnama

juga semburat rekah fajar

Baca juga  EPISODE HUJAN; SORE PADA JENDELA TAMAN

menghalau sudut-sudut gelap

/

tidak ada keluarga

sempurna. setiap rumah

selalu punya lubang

/

tetapi dari sanalah

masuk aneka ragam

nyanyian & tarian cahaya

/

VBI-122020

/

Hikmat Gumelar lahir di Majelangka, Jawa Barat, dan tinggal di Cileunyi, Bandung. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen, esai, dan drama. Ia mengelola Institut Nalar Jatinangor

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: