Bagus Dwi Hananto, Cerpen, Koran Tempo

Kucing Nomor Enam Takahashi Mizore

3.7
(6)

Selama hidupnya yang tak sampai tiga puluh tahun, Takahashi Mizore memelihara enam kucing. Kucing pertama diasuhnya saat dia berumur 5 tahun. Lalu kucing itu mati ketika Mizore menginjak sekolah menengah pertama.

Kucing kedua dan ketiga adalah kucing dari induk sama, dibesarkan sejak mereka masih bayi, yang ditemukan Mizore di taman dekat kompleks perumahan tempat dia tinggal dengan ibu dan neneknya. Kedua kucing itu sama-sama candramawa dan pola kelirnya pun nyaris sama. Keduanya mati terlindas mobil.

Kucing keempat dan kelima hilang begitu saja. Yang keempat lenyap setelah Mizore lupa mengunci jendela kamar. Rumah terbengkalai yang hanya dihuni Mizore dan neneknya yang lumpuh. Lalu dia membawa yang kelima dari sebuah rumah hewan peliharaan saking imutnya. Kucing kelima juga lenyap begitu saja. Sekalipun kali ini semua celah, seperti pintu dan jendela, dikunci ketika dia pergi menjenguk ibunya di rumah sakit. Itu terjadi selama Mizore menginjak usia 18 tahun dan mendapati kenyataan bahwa dia adalah anak hubungan inses ibu dengan pamannya.

Setelah lenyapnya kucing kelima, paman yang sejatinya ayah kandung Mizore meninggal karena serangan jantung. Meski mereka tak terlalu akrab dan jarang bertemu lantaran tinggal di beda prefektur, Mizore masih sulit mempercayai cerita ibunya yang sakit-sakitan itu. Namun dunia Mizore yang sepi dan butuh penghiburan selalu dari kucing-kucing berhenti setelah ibunya, yang sudah berjuang keras melawan rasa sakit, akhirnya mengembuskan napas terakhir. Mizore, yang masih sebal dengan kenyataan yang baru-baru ini didengarnya, tetap menghirup selimut rumah sakit yang membekap tubuh penghabisan ibunya. Tangan malis ibunya menjangkau rambut panjang Mizore, dan air mata terakhir merembih dari ekor matanya. Dia memalingkan wajah ke lain arah, seperti menjauh dari Mizore untuk selamanya. Dan yang bisa dilakukan Mizore hanya menangis sekencang-kencangnya. Sekarang tinggal Mizore dan nenek.

Setelah berhasil mendapat pekerjaan dan warisan dari almarhum pamannya, Mizore dan neneknya pindah ke apartemen sederhana di Minami-Azabu, dua kali naik kereta dari rumah lawasnya. Mizore sudah tak tahan pada udara pekat nan amis dalam rumah itu, sekalipun karena neneknya yang lumpuh. Sisa-sisa ibunya terus muncul dalam bentuk kaktus di atas jendela kakus, bak cuci yang memantulkan suara air menitik, dan bunga-bunga yang biasa diletakkan dalam vas di meja makan, tempat keduanya mencurahkan beban setelah seharian beraktivitas, sementara neneknya menggumam-gumam di atas ranjangnya yang sudah apak.

Namun Mizore pada akhirnya sendirian. Neneknya meninggal setelah setengah tahun tinggal di tempat baru. Saat itu Mizore sudah bekerja setelah menimbang-nimbang untuk melanjutkan kuliah.

Dan dalam kesepian kental, Mizore menemukan kucing nomor enam, teman dalam kehidupannya yang biasa-biasa saja.

***

Daiki sudah menaruh hati kepada Mizore jauh sebelum dia memutuskan sesuatu yang begitu aneh nanti. Kali pertama Mizore pindahan ke unit apartemen di sebelah unitnya, Daiki langsung jatuh cinta. Dilihatnya si orang baru lewat celah tirai jendela. Setiap malam, Daiki memasang telinga dengan segenap hasrat. Didengarnya lewat dinding si orang baru melangkah masuk ke apartemen dan berbincang sebentar dengan neneknya yang lumpuh sebelum gemericik air dan beberapa klik nyala-mati lampu terdengar.

Setiap Mizore menjemur selimut dan seprai pada akhir pekan, Daiki akan ikut muncul di balkon dan mengintip penuh penasaran sosok Mizore yang membuatnya jatuh cinta. Sekat balkon tipis dan jarak yang berdekatan membuatnya bisa saja dianggap sebagai seseorang yang tengah mengintai seorang wanita. Itu tindakan tak menyenangkan, juga bisa termasuk tindak kriminal. Namun Daiki tak peduli. Kendati dia melakukan itu semua, Mizore tak pernah sadar. Tatapan matanya seperti kosong, terpaku lurus-lurus ke depan dan tak awas dengan sekitar. Orang-orang kesepian selalu memiliki tatapan mata macam ini. Dan Daiki tahu betul hal itu. Sebab, dia telah mengalami kesepian begitu lama. Perasaan sendiri itu telah dikenalnya begitu lama dan amat akrab dalam hidupnya.

Manakala didengarnya si nenek meninggal, Daiki pun merasakan kesedihan yang sama. Walaupun tak pernah berjumpa dengan nenek Takahashi, dalam kesunyian itu, Daiki bisa merasakan gumaman kesakitan si nenek selama mendekam tak bisa melakukan apa-apa di atas ranjang. Bunyi gumam nenek terus merasuki telinga Daiki ketika dia mencuri dengar lewat dinding apartemen. Perkabungan sepinya yang tak disadari siapa pun hanya dia uarkan ke udara luar pada hari di mana si nenek meninggal. Daiki terduduk lesu di tengah-tengah balkon dan minum sake sendirian lalu menangis, mencoba menenggelamkan diri dalam penderitaan Mizore selama ini. Sudah setengah tahun Daiki berusaha berkenalan dengan tetangganya itu. Tapi keberaniannya belum terpumpun. Menguping merupakan satu-satunya yang bisa diperbuat olehnya.

Baca juga  Tas Hitam di Bandara Ketika Pintu-Pintu Tertutup

***

Lalu, suatu hari, hal yang membuat Daiki ingin meledak muncul begitu saja. Sangat tiba-tiba. Seperti biasa, dia mencuri dengar lewat dinding, di jam yang sama sewaktu Mizore pulang kerja. Ada langkah kaki lain yang ikut masuk ke dalam apartemen. Kemudian terdengar tawa lelaki. Suara-suara percakapan yang renyah, membuat darahnya mendidih. Tangannya mengepal selang sebentar, mencakari dinding berkali-kali. Terdengar kecipak berkali-kali. Mungkin ciuman. Itu membuatnya makin kesal. Daiki menangis, tersengal-sengal, dadanya terasa ingin meledak. Lalu terdengar decit di sudut lain di dinding. Ia rambatkan telinganya ke dinding dan mencapai titik di mana di balik dinding unit apartemennya itu merupakan kamar dari Mizore. Daiki sungguh-sungguh terluka ketika mendengar suara decit yang makin intens itu. Dia tahu betul apa yang sedang terjadi.

Setelah insiden ini, hampir tiga bulan lamanya, Daiki tak lagi menguping lewat dinding. Dia hanya berkemul selimut dan menangis getir. Orang yang sungguh-sungguh jatuh cinta akan selalu terluka pada akhirnya, begitu pikir Daiki.

Namun, karena sebuah jeritan yang muncul dari apartemen Mizore, Daiki yang terluka sedikit melupakan kejadian menyaktikan itu. Memupuk keberanian, dia lantas melangkah keluar dari apartemen dan mengetuk unit sebelahnya. Satu, dua kali ketukan. Belum ada jawaban. Lalu, ketukan berikutnya, setelah meyakinkan diri, Daiki mengetuknya keras-keras.

Seseorang membuka pintu. Seorang lelaki bertelanjang dada.

“Ada apa?” lelaki itu bertanya sembari meneliti sosok Daiki dengan saksama.

“Ke-kenapa ribut-ribut?” keringat sejagung-jagung muncul dari pelipis Daiki. Dia merasakan ketiak dan punggungnya basah begitu cepat.

“Bukan urusanmu, gendut!” Lelaki itu hendak menutup pintunya, tapi Daiki menghalanginya dengan tangan gemuknya.

“Hei, apa yang kau lakukan, minggir sana!” lelaki itu berusaha mendorong tubuh Daiki, tapi sia-sia.

Di balik punggung si lelaki terlihat Mizore dengan wajah sebelah kiri lebam. Daiki menjadi marah. Dia menggeram dan didorongnya tubuh lelaki di hadapannya itu sekuat-kuatnya. Lelaki itu terjengkang.

“Hei, apa masalahmu babi?!”

“Kau sakiti Takahashi-san! Kau yang babi!”

“Apa kau bilang?”

Lelaki itu lantas menonjok muka bulat Daiki. Kepala Daiki condong ke belakang, tapi dia tidak ambruk. Dia menggeram dan balas meninju si lelaki. Lelaki itu kembali terjengkang.

Mizore segera menggeret lengan si lelaki, tapi lelaki yang merasa harga dirinya terinjak ini mengempaskan geretan Mizore dan membuatnya jatuh. Ketika Daiki hendak menolong dengan menerabas melewati si lelaki, dia kena pukul di perut. Namun Daiki tidak ambruk. Para tetangga akhirnya keluar melihat keributan. Mizore, yang sudah tak tahan dan lantaran urusan menjadi rumit, pada akhirnya menelepon polisi. Sejak hari itu, si lelaki yang merupakan kekasihnya sudah tidak pernah datang ke apartemen Mizore.

Daiki menjadi akrab dengan Mizore. Muka Daiki bersemu merah tiap kali Mizore memuji-muji keberaniannya. Daiki senang sekali. Setiap akhir pekan, mereka selalu menghabiskan waktu bersama di apartemen Mizore, sekadar makan-makan atau bermain gim yang biasanya Daiki lakukan sendiri. Daiki sangat antusias membicarakan gim serta kegemarannya pada figurine dan anime. Masyarakat yang jijik dengan otaku di luar sana awalnya membuat Daiki gentar membicarakan kegemarannya tersebut. Namun ternyata Mizore bekerja di toko buku khusus novel ringan dan juga menonton anime. Itu membuat Daiki jadi terbuka dan bebas membicarakan kesenangannya.

“Daiki-san sudah berapa lama menjadi otaku?”

“Sejak mengundurkan diri dari perusahaan tujuh tahun lalu.”

“Oh, apa sebab Daiki-san berhenti bekerja di perusahaan?”

Daiki merenung cukup lama. Membuat Mizore risau.

“Maaf, kalau aku lancang.”

“Tidak apa-apa. Sebenarnya istriku berselingkuh dengan kawan baikku di satu perusahaan. Lalu aku memilih keluar kerja dan meninggalkan istriku selamanya. Jadi, di Tokyo sini aku memilih tinggal. Selain lebih dekat dengan Akihabara, pusat otaku, di sini tidak ada yang mengenaliku. Semuanya baru di sini, dan aku bisa melupakan semuanya. Meskipun melupakan masa lalu itu susah. Kadang aku teringat-ingat akan hal itu.

“Hmm, begitu juga diriku. Melupakan memang susah, ya?”

“Apa kau memang menderita luka sepertiku?” Daiki bertanya, dan ingatan bunyi decit-decit yang pernah didengarnya berasal dari kamar Mizore kembali terulang di benaknya. Ia merasakan sakit, tapi berusaha menggusah ingatan itu.

Baca juga  Ular-ular Pak Sudar

“Aku senang memelihara kucing. Tapi kucing-kucingku selalu mati atau menghilang begitu saja.”

“Kucing, ya? Apa Takahashi-san sebegitu senangnya dengan kucing?”

“Bagaimana mesti mengatakannya. Bisa dibilang sangat senang. Tapi sekarang aku sudah tak memelihara kucing. Aku masih ada foto kucing-kucingku. Tunggu sebentar.”

Mizore beranjak dari sofa. Daiki mengikuti sosoknya sepanjang penglihatan. Mizore lenyap, masuk ke kamarnya. Daiki memejamkan mata, lantas memalingkan muka, enggan menatap kamar itu.

Beberapa saat kemudian, Mizore kembali ke tempat duduk. Foto-foto lamanya bersama kucing peliharaannya ditebarkan di atas meja. Banyak sekali fotonya pada masa remaja.

“Semua dipotret ibuku. Sebelum beliau masuk rumah sakit dan aku mengurus nenek sendirian.”

“Wah, di dunia ini ada kucing kembar seperti ini ternyata.”

Daiki tampak antusias, menunjuk satu lembar foto dengan gambar dua ekor kucing berbulu candramawa.

“Aku sangat menyayangi kucing-kucing ini. Namun nasib mereka sungguh sial. Membayangkannya lagi membuatku tak tenang.”

“Aku tak akan menanyakan hal itu padamu, Takahashi-san.”

“Kau baik sekali, Daiki-san.”

Muka Daiki merah padam. Daiki ingin berlama-lama di sana. Namun itu tak mungkin.

Sekembalinya ke unitnya, Daiki membenak dan mengira-ngira sebuah rencana. Kendati tak lumrah dan bisa saja dikira dia sinting oleh Mizore, dia harus mencobanya.

Suatu malam, setelah memastikan lewat dinding bahwa Mizore sudah pulang, Daiki mengetuk pintu apartemen tetangganya.

“Oh, Daiki-san. Silakan masuk. Aku baru saja memasak chikuzen kalau kau mau.”

Daiki masuk sembari menyahut, “Itu tidak perlu, aku sudah makan tadi.”

Daiki duduk di sofa dan menunggu Mizore mengambil sebotol bir dari kulkas.

Terdengar pembuka botol mengungkai tutup bir. Lalu gemericik air mengalir ke gelas. Lalu langkah kaki yang telah Daiki kenali.

“Ada apa, Daiki-san?”

“Anu, sebetulnya aku punya permintaan. Bagaimana Takahashi-san?”

“Tepatnya permintaan yang seperti apa?”

Daiki memainkan ujung-ujung jemarinya, sesekali melirik muka Mizore yang membetulkan letak kacamata kemudian menenggak gelas di depannya. Jakunnya naik-turun menenggak bir dingin yang nikmat itu.

Setelah selesai minum, Mizore kembali menunggu-nunggu Daiki mengucapkan sesuatu. Terdengar detik jam dua-tiga kali. Suara sirene mobil yang lewat di jalan seberang bangunan apartemen meraung-raung bagaikan memburu-buru seseorang buat bergegas.

“Bagaimana kalau aku jadi peliharaanmu?”

Mizore terkaget-kaget. “Hah, maksudnya?”

“Aku akan jadi kucingmu.”

“Ini cuma bercanda, kan?”

“Nah, kau bilang kemarin bahwa masa lalu kadang tak bisa dilupakan. Dan aku rela menjadi kucingmu untuk membuat hidupmu bahagia. Mungkin kita banyak masalah dalam hidup. Seperti aku yang sendirian dan begitu juga kau. Nah, karena kau sangat suka dengan kucing, lantas aku pun menawarkan diri menjadi kucing.”

“Tunggu sebentar. Artinya kau mau menyerahkan hidupmu menjadi kucing-kucingan untukku?”

“Ya bisa dikatakan begitu.”

Mizore membenarkan letak kacamatanya. Baju kerjanya masih dipakai dan kepalanya terasa berat. Dia lelah seharian bekerja. Namun sekarang ada hal aneh disodorkan kepadanya oleh lelaki yang baru dikenalnya ini. Perasaannya campur aduk.

“A-aku mencintaimu, Takahashi-san. Untuk dirimu, akan kuubah diriku menjadi apa saja.”

Mizore tertawa. “Jangan bercanda, Daiki-san.” Setelah mengucapkan ini, ada perasaan cemas muncul di hatinya. Mizore takut. Yang belum dikatakan kepada Daiki adalah kenyataan bahwa dia dan kekasih yang pernah mengasarinya dulu itu belum putus. Kekasihnya kini menjadi lembut setelah ribut-ribut hari itu. Akan tetapi, jika mengatakan hal ini sekarang, takutnya membuat Daiki marah.

“Sungguh. Aku sungguh menyukaimu.”

“Tapi janganlah begitu. Hidupmu bagaimana?”

“Kau lihat sendiri, bagaimana hidupku selama ini. Aku seorang pengurung diri sekaligus penganggur. Bicara kepadamu saja butuh keberanian besar bagiku. Namun, karena aku mencintaimu, jadi aku nekat. Aku bersedia menjadi kucing untukmu, tak semata-mata demi menghibur dirimu. Ini juga demi membahagiakan diriku sendiri.”

Jawaban ini tak pelak membuat Mizore tak bisa membalasnya. Alasannya kuat. Lelaki besar di depannya ini sangat mencintainya dan dia pun tak tega menyakitinya. Mizore tak punya pilihan lain. Dia memasang muka tersenyum.

“Kalau dengan itu kau senang, Daiki-san, maka kau boleh jadi peliharaanku. Namun ada aturannya.”

Daiki tampak berseri-seri.

“Apa aturannya?”

“Kau hanya akan menjadi kucing pada akhir pekan. Selebihnya, kau menjadi manusia biasa. Bagaimana?”

Daiki tampak murung.

“Hmmm, mau bagaimana lagi. Sekalipun hanya di akhir pekan, itu sudah cukup bagiku. Sejatinya aku ingin jadi kucing tiap hari buatmu, Takahashi-san.”

Baca juga  Suara dari Seberang

“Jangan. Lebih baik begitu.”

“Oke, baiklah. Aku mengerti.”

“Nah, kalau begitu, kita sepakat. Untuk merayakannya, silakan minum birmu.”

Segelas bir yang belum disentuh Daiki tadi langsung tandas dalam setegukan.

***

Daiki sebagai kucing merangkak di lantai, menjadikan dua tangannya sebagai kaki depan. Semalas mungkin seperti perangai kucing, mendekat manja ke pangkuan Mizore. Awalnya Mizore jijik mendapati lelaki besar ini bergerak dengan cara seperti itu, tapi akhirnya dia tahankan. Mizore mengelus-elus rambut Daiki, mengajaknya bermain dengan bola-bola benang.

Kucing Daiki akhir pekan akan muncul di muka pintu apartemen Mizore sebagai Daiki manusia. Setelah dipersilakan masuk, baru di ambang pintu dia memulai perannya sebagai kucing. Lantas Daiki mulai menggunakan kedua tangannya menjadi kaki dan merangkak ke arah sofa. Perutnya berguncang-guncang dan dia bergerak lambat mirip kucing. Sekalipun sudah terbiasa dengan peran Daiki sebagai kucing, Mizore tetap merasa semua janggal. Dengan perasaan setengah tak enak, dia menampung Daiki kucing di bawah kakinya, di lantai, menonton teve bersama, dan sesekali terdengar dari Daiki suara kucing mengeong. Suara berat seorang lelaki yang menyerahkan hidupnya demi membahagiakan wanita yang dia cinta. Namun perasaan itu tak mungkin terbalas. Takkan mungkin. Sebab, Mizore telah menunggu-nunggu saat yang tepat buat mengatakan semuanya. Daiki memerankan kucing dengan baik. Semua berlangsung lancar-lancar saja selama hampir lima bulan.

Pagi di akhir pekan nahas itu, Daiki yang bersiap-siap memerankan diri sebagai kucing agar disenangi Mizore, muncul di muka pintu apartemen wanita yang dicintainya. Seperti biasa, dia mengetuk pintunya alih-alih memencet bel. Kemudian pintu terbuka seperti biasa, tapi yang muncul wajah lelaki yang pernah ribut dengannya dulu.

“Wah, kau yang namanya Daiki. Yang sempat adu pukul denganku dulu. Maaf, ya, ha-ha-ha.” Lelaki ini tertawa dan mempersilakan Daiki masuk. Daiki yang tercengang dan marah tetap masuk untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Silakan duduk. Mizore sedang mandi. Kau tahulah.” Wajah licik lelaki itu mengisyaratkan sesuatu. Darah Daiki mendidih. Padahal malam sebelumnya dia tak mendengar suara apa pun. Daiki merasa kecolongan. Pikirannya awut-awutan, mengutuk lelaki di hadapannya.

Mizore muncul dengan rambut masih basah. Dia duduk di depannya dengan posisi formal. Mukanya tampak sedih.

“Maafkan aku, Daiki-san. Mari kita bicara dengan tenang. Sepertinya peranmu sebagai kucingku sudah selesai hari ini. Jangan lagi mempermalukan dirimu. Aku sudah tak tahan. Lagi pula, aku akan pindah dari sini, ikut dengannya.” Mizore menunjuk wajah bodoh lelaki di sampingnya yang sedari tadi meringis.

Ekspresi Daiki tampak berat. Matanya memicing, dan keringatnya membasahi punggung dan dada. Bergantian dilihatnya si lelaki dan Takahashi Mizore. Telapak tangannya yang penuh keringat, terkepal kuat-kuat, mencengkam lutut.

Karena tak ada respons dari Daiki, kekasih Mizore pun menambahi ucapannya.

“Daiki-san, maaf sudah membuatmu repot. Aku janji takkan mengasari Mizore lagi. Namun, kau tahulah, Mizore dan aku sudah menjadi kekasih dan sepertinya kami akan langgeng-langgeng saja. Kau tidak mungkin masuk ke tengah-tengah dan mengacaukan semuanya, bukan?”

“A-apa, kau bilang?”

“Ya, seperti itulah. Aku tak mau mengulangi perkataanku. Jadi mohon, hentikan saja perilakumu menjadi kucing. Inisiatifmu menghibur Mizore memang patut kuacungi jempol. Tapi sekarang sudah tidak dibutuhkan lagi.”

Dan pada saat itulah terdengar geraman kucing jantan yang menantang tarung. Namun manusia ceking di hadapannya bukanlah tandingan seekor kucing jantan raksasa yang menyimpan luka sekaligus amarah menggunung dalam tubuh. Endapan kemurkaan itu muncul dalam bentuk gigitan. Gigi-giginya menancap ke leher lelaki ceking di depannya dan mencerabut urat lehernya begitu saja. Sebelum Takahashi Mizore sempat lari ke luar meminta pertolongan, rambut basahnya tertarik cakar Daiki kucing dan dia diseret ke dalam kamar. Mizore berpikir, dia selalu sial dalam hidup.

Sejak pagi itu, kucing nomor enam meninggalkan kehidupan manusia, melangkah entah ke mana. Barangkali di suatu tempat, dia menunggu mobil di jalan untuk menabrakkan dirinya atau menanti majikan lain memungutnya.

Bagus Dwi Hananto, tinggal di Kudus, Jawa Tengah. “Tagami Mariko & Bunuh Diri Para Robot” merupakan kumpulan cerpen terbarunya bersama Ardy Kresna Crenata.

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: