Cerpen, Kiki Sulistyo, Tanjungpinang Pos

Rebana Kembar

1
(1)

SETELAH tidak lagi punya tempat untuk ditinggali, mereka mulai berjalan ke sana kemari. Memang tidak sampai keluar dari kota, tetapi cukup jauh dari bangunan terakhir tempat mereka minum-minum, membaca kitab, dan tidur. Pemilik bangunan datang pada akhir pekan (sebenarnya dia hanya petugas suruhan, sebab bangunan itu milik pemerintah) bersama beberapa orang bertubuh kekar. Pagi hari langsung riuh ketika orang-orang bertubuh kekar itu melempar satu persatu tubuh mereka ke jalanan. Mereka meraung-raung dengan suara yang terdengar oleh para tetangga yang masih tidur seperti suara unggas menjelang dijagal. Peristiwa itu berlangsung sebentar saja, si petugas dan orang-orangnya pergi setelah mereka semua hilang dari pandangan. Si petugas meninggalkan gedung itu tetap dalam keadaan kosong. Mungkin baginya, atau bagi pemerintah, lebih baik kosong ketimbang kumuh.

Saya melihat salah satu dari mereka berbaring di depan pintu toko alat-alat musik. Saat itu saya sedang duduk di bagian atap bangunan toko. Saya memang menginap di situ karena si pemilik toko adalah kawan saya. Sambil menyesap kopi saya perhatikan gelandangan yang demikian nyaman tidur seakan-akan dunia ini tidak ada. Timbul keisengan pada diri saya, setelah menengok kiri kanan dan memastikan tidak ada yang melihat, saya tumpahkan kopi ke arahnya.

Cairan kopi meluncur seperti air terjun kecil, tepat mengenai muka gelandangan itu. Ia tergeragap dan langsung duduk. Ia raba bagian pipi kanannya yang kena tumpahan kopi, lantas dilihatnya jalanan yang mulai ramai kendaraan. Tak ada yang memperhatikan. Ia menengok dan mendongak, mencoba mencari tahu siapa yang telah menyiramnya dengan kopi.

Saya terbahak-bahak sendiri. Kawan saya muncul, dia bertanya. “Ada apa? Kenapa tertawa?”

“Saya siram gelandangan itu dengan kopi panas,” jawab saya. Kawan saya menengok ke bawah, lalu berkata. “Saya akan membuka toko. Kau masih mau diam di sini?”

“Iya. Kalau boleh saya masih mau menikmati pemandangan beberapa saat lagi. Setelah itu saya akan turun dan pergi.”

“Baik,” kata kawan saya lalu turun melewati tangga besi spiral. Saya tengok lagi ke bawah, gelandangan itu sudah tidak ada. Saya perhatikan jalanan yang semakin ramai. Toko-toko mulai buka, kantor pegadaian yang juga membuka kedai kopi di bagian depannya mulai menerima pengunjung; orang-orang yang hendak menggadai barang untuk sejumlah uang yang akan dipakai membayar utang. Saya merasa beruntung tidak punya utang sehingga tidak harus menggadai barang, lagipula saya tidak punya barang apa-apa. Berpikir begitu membuat saya ingin kembali menyeruput kopi, sayang kopi di cangkir sudah habis untuk menyiram gelandangan. Saya jadi sedikit menyesal.

Baca juga  Monster

Sebenarnya saya agak enggan turun. Di atas ini cukup menyenangkan. Saya merasa seperti burung merpati. Burung merpati lambang perdamaian. Saya cinta perdamaian, karena itu saya menyukai sebuah lagu dari kelompok musik keagamaan yang pernah saya dengar waktu kecil dulu. Saya pernah ikut kelompok musik keagamaan, saya kebagian peran memainkan rebana. Kami suka memainkan lagu itu, kadang-kadang saya berlinang air mata ketika mendengarnya kembali.

Air mata itu, setelah saya pikir-pikir, sebetulnya tidak cukup pantas, sebab dia keluar hanya karena saya teringat pada seorang kawan saya yang pernah terserang demam malaria. Kawan saya itu, di kelompok musik kami, kebagian tugas memainkan rebana juga. Kami sepasang penabuh rebana yang dipisahkan oleh demam malaria. Bila saja tidak ada nyamuk yang menggigitnya, saat ini mungkin kami sudah menjadi penabuh rebana paling lihai sedunia.

Kembali saya menengok ke bawah. Kawan saya sudah membuka tokonya. Saya lihat dia menyapu di halaman depan toko. Saya harus turun. Tidak enak rasanya lama-lama di sini, tidak melakukan apa-apa sementara tuan rumah sibuk bekerja.

Di bagian belakang toko, di atas meja bundar kecil, saya lihat sepiring kue sudah terhidang. Itu sejenis kue basah dari tepung terigu dan gula. “Sarapan dulu,” kata kawan saya. Tanpa ragu-ragu saya segera duduk dan menyantap kue itu. Kawan saya duduk berseberangan meja dengan saya. Dia juga mulai menyantap kue-kue, hanya saja dia masih punya kopi. Asap yang mengepul dari permukaan kopi kembali menerbitkan selera saya. Sebetulnya saya mau izin untuk membuat kopi lagi, tapi entah kenapa saya rasa kawan saya itu tidak akan mengizinkan.

“Apa rencanamu hari ini?” tanyanya.

“Tidak ada.”

“Benar-benar tidak ada?”

“Benar-benar tidak ada.”

“Kalau begitu bagaimana kalau nanti malam kita minum-minum?”

Semalam sebetulnya saya berencana mengajaknya minum-minum. Tapi rupanya ia sedang ada urusan dengan seseorang. Orang itu datang beberapa jam setelah saya. Mereka bercakap-cakap lama sekali, sampai saya tertidur. Dalam tidur saya tidak ada mimpi. Tidur saya kosong seperti perasaan seorang nihilis. Saya pikir saya seorang nihilis. Setelah sempat menjadi umat yang taat di masa remaja, di mana tak ada waktu yang lepas tanpa menyebut nama tuhan, memuji dan memuja segala kuasanya, lama-lama saya merasa semua itu tidak ada gunanya. Memang ada perasaan tenang ketika melakukan itu, namun perasaan tenang itu sama sekali tidak mengubah peruntungan saya.

Baca juga  Membincang Nasib

“Rencana yang bagus. Jam berapa kita berangkat?”

“Setelah makan malam, bagaimana?”

“Kau juga akan mengundangku untuk makan malam?”

“Saya belum tahu soal itu. Saya akan putuskan nanti.”

“Lalu bagaimana saya tahu kalau saya diundang atau tidak?”

Saat itu terdengar keributan dari bagian depan toko. Mungkin ada serombongan pegawai negeri yang datang untuk membeli alat-alat musik. Kawan saya mendengar keributan itu dan dengan nalurinya dia memastikan keributan itu bukanlah soal jual beli. Saya mengikutinya ketika dia beranjak ke depan. Di sana, di antara etalase kaca, tampak sejumlah orang sedang mendesak pelayan toko. Rupanya mereka adalah orang-orang yang terusir itu, yang tak lagi punya tempat tinggal dan salah seorang di antaranya telah saya siram dengan kopi panas.

“Bagaimanapun juga membangunkan orang yang sedang tidur adalah perbuatan durjana yang setaraf dengan perbuatan para diktator militer. Apalagi membangunkan dengan cara menyiramkan kopi panas. Zaman pencerahan sudah berabad-abad lalu, sungguh mengherankan masih ada tindakan semacam itu, lebih khusus di kota yang terkenal religius dan berbudaya ini.” Begitu kata salah seorang dari mereka, yang mungkin telah ditunjuk jadi pemimpin, kepada si pelayan toko. Tadi saya tidak melihat ketika pelayan toko itu datang, saya pikir dia juga pasti tinggal di sini.

“Intinya, kami menuntut pemilik toko ini menyampaikan permintaan maaf secara terbuka di surat kabar. Juga membiarkan kami menghuni salah satu ruangan dalam toko ini. Tuntutan tersebut kami anggap terlalu ringan bila dibanding kejahatan kemanusiaan yang telah dialami salah satu dari kami, yang mungkin saja dapat membuat dia trauma, mengalami serangan panik, dan mimpi buruk. Tolong sampaikan tuntutan kami ini pada majikanmu.”

Baca juga  Sebuah Surat untuk Phytagoras

Kawan saya yang sejak tadi menyimak kalimat orang itu segera bersuara. “Saya pemilik toko ini,” serunya. Orang yang tadi berbicara segera menoleh. Dia tampak purba, meskipun kesan itu bisa jadi timbul karena penampilannya yang menyedihkan; kopiah lusuh, rambut putih acak-acakan, kumis dan janggut tumbuh serampangan, pakaian compang-camping dan seikat gombal kain yang entah berisi apa. “Oh, saya kira anda sudah mendengar pernyataan saya tadi. Apakah anda bersedia…”

Kalimatnya terputus begitu melihat saya. Matanya membelalak seakan-akan ia sedang melihat laut merah terbelah. Ia surut sampai ke pintu toko, parasnya pucat bagai sperma seorang renta. Di luar toko ternyata sudah banyak dari mereka berkumpul. Saya tidak menyangka jumlah mereka demikian banyaknya. Mereka semua tampak sama, sama-sama kumal, pucat dan menyedihkan. Halaman depan toko penuh mereka, meluber ke jalan bagai air selokan. Mereka semua serentak menekuk lutut sampai menyentuh tanah ketika pemimpin mereka melakukan hal yang sama.

Saya ambil bangku tinggi dari kayu. Lalu dari rak atas, saya raih sebuah rebana. Siapapun yang melihat atau berada di tempat itu dapat memberi saksi bahwa ketika itu awan-awan berwarna ungu membentuk cincin-cincin di langit. Kelinci-kelinci tembaga berlompatan di antara cincin-cincin itu. Lempengan langit sendiri perlahan berubah jadi putih, lalu serbuk halus serupa tepung berjatuhan. Mirip salju, tetapi bukan, salju tidak turun di negara tropis. Serbuk itu berasal dari bintang yang hancur karena peristiwa keruntuhan gravitasi.

Mereka, kaum yang tak punya tempat bermukim, sebagaimana kaum zion itu, merunduk ketika saya dan kawan saya, pemilik toko yang dulu pernah terserang demam malaria, mulai menabuh rebana. Di bawah serbuk hujan itu, mereka semua—dipimpin oleh si pelayan toko—mulai berputar, berputar-putar, seperti ribuan benda langit mengitari orbitnya. ***

 

Blencong, 20 November 2020

KIKI SULISTYO, lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018. Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: