Eka Kurniawan, Esai, Jawa Pos

Mainnya Kurang Jauh

4.3
(7)

Kalau mau hitung-hitungan, Neil Armstrong tentu merupakan salah satu manusia yang mainnya paling jauh. Ke bulan, Bung. Sempat menginjakkan kaki pula. Apakah ia manusia yang paling mengerti segala hal?

YA, belum tentu. Ia semestinya bisa bercerita bagaimana rasanya terbang melintasi ruang angkasa di dalam pesawat. Tahu rasanya menginjakkan kaki dengan gravitasi rendah. Melihat bumi dari kejauhan. Tapi, apakah ia tahu bagaimana membuat cendol? Bagaimana membuat getuk?

Kita bisa saja membaca banyak buku, dan ukuran jauh bisa dipergunakan sejauh mana tema-tema yang kita lahap dari berbagai literatur. Membaca karya sastra membawa kita ke berbagai tempat, karakter manusia, dan beragam masalah. Membaca buku-buku sejarah mengajak kita menguak tabir masa lalu. Membaca buku-buku sains membuat akal pikiran kita terbuka pada berbagai rahasia alam.

Buku-buku itu memberi kita pengetahuan, tapi pada saat yang sama, bisa jadi tak mengajari kita apa-apa tentang bagaimana mengambil tendangan penalti saat bermain sepak bola. Tidak juga membuat kita serta-merta bisa naik sepeda atau berenang. Berapa banyak orang yang gagal memasak meskipun di tangannya tergenggam buku resep masakan?

Seperti yang dikatakan karakter di film anime Attack on Titan, kita manusia pada dasarnya terkurung di dalam sangkar besar, yang membuat kita tak ubahnya seperti binatang di dalam kandang. Sangkar itu bisa jadi berupa fisik, kita terkurung di rumah sendiri, kota sendiri, negeri sendiri, jika tak pernah bepergian.

Sekaligus, sangkar itu bisa juga sesuatu bernama pengetahuan. Batas-batasnya merupakan batas terjauh pengetahuan kita. Dan, seperti hewan di kebun binatang, sering kali itulah dunia yang kita pahami. Banyak pula yang merasa nyaman di sana hingga mager alias malas bergerak.

Baca juga  Anak Ibu

Memang ada benarnya juga dorongan-dorongan untuk keluar dari kurungan tersebut. Melihat dunia yang lebih luas. Mengetahui perkara-perkara di luar hal-hal yang kita minati atau akrabi. Meskipun begitu, sekali lagi, pernah mengunjungi Islandia tidak berarti pernah mengunjungi Tanah Abang.

Ungkapan soal “mainnya kurang jauh” bergema terus, terutama sepanjang saya membaca satu buku karya pemenang Nobel Kesusastraan asal Belarus, Svetlana Alexievich. Judul bukunya lumayan panjang: Zinky Boys, Soviet Voices from the Afghanistan War.

Ini merupakan buku jurnalistik, dalam tradisi “oral history”, di mana Svetlana membiarkan narasumbernya bicara dengan ekspresi dan sudut pandang mereka. Kita bisa mengetahui Perang Afghanistan dari sudut pandang prajurit, juru rawat, komandan, juru propaganda, termasuk ibu yang menunggu anaknya pulang dari medan perang.

Siapa yang lebih tahu tentang perang tersebut? Kita bisa mengatakan, tentu saja mereka yang mengalaminya. Yang setiap hari harus menghadapi ranjau darat. Yang sesekali melihat kawannya meledak dengan tubuh berhamburan. Yang akan pulang tanpa kedua kaki, jika beruntung tidak di dalam peti mati.

Tapi, apakah mereka sungguh-sungguh memahami perang tersebut? Perang sepanjang sepuluh tahun yang membuat Uni Soviet babak belur. Perang yang bikin negara adidaya tersebut harus hengkang dalam kekalahan. Membaca buku ini, mau tak mau kita akan disodori pertanyaan provokatif tersebut. Benarkah mereka yang terjun ke medan perang memahami perang tersebut?

Fakta bahwa setiap orang yang terlibat memiliki cerita yang berbeda-beda, memiliki pendapat yang berbeda-beda pula, membuktikan bahwa mereka pun hidup dalam kerangkeng pengetahuan masing-masing. Sama saja seandainya dua orang membaca buku yang sama, tak selalu berakhir memiliki pengetahuan yang sama.

“Kami hanya menjalankan perintah,” kata seorang prajurit.

Baca juga  Qiu Shui Yi

Pengakuan itu tak hanya datang dari satu mulut prajurit, untuk mengungkapkan pesan sederhana, bahwa ia tak tahu apa-apa tentang perang. Para petinggi partai yang ongkang-ongkang di Moskow dan tak pernah menginjakkan kaki di tanah Afghanistan bisa jadi mengetahui perang itu lebih banyak. Mereka yang membuat keputusan dan memberikan perintah.

Makanya saya suka heran jika dalam satu perbincangan ada orang berkomentar lugu, atau bahkan bodoh, harus dipenggal dengan kata-kata, “Mainnya kurang jauh.” Atau dengan ungkapan sejenis yang mengindikasikan kedalaman, “Minum kopinya kurang kental.”

Sekali lagi benar, kita perlu keluar dari kerangkeng-kerangkeng fisik maupun pengetahuan. Tapi, saya pikir yang jauh lebih penting adalah memahami di mana batas-batas penjelajahan kita, sebagaimana di mana batas-batas pengetahuan diri. Toh, tak semua orang memiliki kesempatan menginjakkan kaki di satu tempat atau mengetahui sesuatu.

Buku semacam Zinky Boys membuka mata kita tentang apa yang terjadi di Perang Afghanistan, sekaligus membuka tabir ketidaktahuan mereka yang menantang maut setiap hari di sana.

Saya ingat ada pepatah, di atas langit ada langit. Benar. Kalau hidup sekadar perlombaan, hanya orang sejenis Neil Armstrong yang berhak berkata, “Mainnya kurang jauh.” Saya lebih senang mengajukan perumpamaan baru: langit begitu luas, kita hanya melihat bagian kita masing-masing. (*)

*) EKA KURNIAWAN. Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: