Cerpen, Dul Abdul Rahman, Fajar Makassar

Orang Gila dan Hikayat Mata Air Keramat

4
(6)

Saya sudah melupakan kampung itu selama berpuluh-puluh tahun. Sejak menetap di kota, saya tidak pernah lagi mengunjungi kampung itu. Sejak keluarga besarku bermigrasi ke daerah lain yang lahan pertaniannya lebih luas dan subur, maka sempurnalah saya berpisah dengan kampung kelahiranku itu. Pada awal-awal meniti bisnis, setiap tahun saya memilih mudik ke kampung halaman baru. Setelah bisnis yang kujalani semakin maju, saya tidak pernah lagi mudik. Saya mengajak keluarga berlebaran di kota.

“Mungkin karena Daeng tak pernah lagi mengunjungi Appanoreng’E,” kata isteriku mengomentari kegagalanku menjadi anggota dewan.

Ucapan isteriku mengingatkan saya akan sebuah tempat keramat di kampung. Awalnya saya tidak peduli. Saya malah tidak suka dengan pernyataan isteriku yang ingin menghidupkan kembali kemusyrikan yang dulu mendarah daging di kehidupan kami. Tapi lama kelamaan, saya merasa tidak enak. Saya sudah menyengsarakan isteri dan keluarga. Saya sudah membuat hat-trick kegagalan di tiga musim pemilu legislatif berturut-turut. Padahal di musim ketiga pemilu ini saya sudah menjual mobil dan aset harta lainnya.

“Baiklah, saya akan pulang kampung menjenguk keluarga di sana.”

Daeng harus mengunjungi Appanoreng’E,” kata isteriku tegas.

Setelah menentukan waktu yang cocok, saya pun pulang kampung. Saya memilih pulang kampung seorang diri. Awalnya isteriku ingin ikut, tetapi saya melarangnya dengan alasan kami tidak punya lagi mobil pribadi. Saya hanya akan menumpang kendaraan umum. Lagi pula, saya tidak ingin kepulanganku diketahui oleh keluarga yang masih tinggal di kampung. Saya pasti malu bila mereka tahu saya berkunjung ke hutan keramat yang kami sebut Appanoreng’E. Apalagi, di kampung kelahiranku sudah banyak sarjana agama yang berdakwah untuk mengikis perilaku kemusyrikan.

Setiba di kampung, saya bergegas pergi ke kawasan hutan Appanoreng’E. Saya sempat berpapasan dengan beberapa orang yang masih saya kenal. Tentu saja saya tidak mau menyapa mereka. Saya memakai masker sehingga mereka tidak mengenali saya. Mereka tidak curiga. Mungkin mereka menganggap saya hanyalah penduduk kampung sebelah yang ingin melepas hajat di mata air Appanoreng’E. Di hutan tersebut memang terdapat mata air yang dianggap keramat. Mata air yang berasal dari sebuah pohon besar. Konon, pohon itu tumbuh di Dunia Bawah.

Dulu, setiap kami para penggembala ingin menggembala di kawasan Appanoreng’E, kami selalu diingatkan oleh para tetua agar tidak memasuki kawasan hutan kecil itu. Kami para penggembala pun memberi nama hutan kecil itu sebagai ‘hutan larangan.’ Tidak boleh buang air kecil, atau air besar di tempat itu. Dulu katanya, ada seorang perempuan yang nekad pergi mencuci di tempat itu meski sudah dilarang oleh para tetua kampung. Perempuan itu mencuci sarung bekas haid. Saat itu perempuan di kampung memang belum mengenal pembalut wanita. Alhasil, semua air yang berada di hutan kecil itu berwarna merah, berwarna darah. Perempuan yang mencuci tersebut mendapat tulahnya. Ia ditemukan pingsan dalam hutan kecil itu. Konon katanya, perempuan itu disembunyikan oleh sang penunggu tempat itu. Untungnya ada seorang tetua kampung yang memiliki ilmu gaib yang bisa menolong perempuan itu. Dan sebagai ungkapan permintaan maaf atas keteledorannya, dengan dipandu oleh tetua kampung yang menolongnya, maka perempuan itu membawa sesajen ke hutan larangan itu.

Baca juga  Kunang-kunang dalam Bir

Soal keangkeran kawasan hutan tersebut, saya mendengar banyak versi cerita. Seseorang pernah bercerita. Mata air itu berasal dari sebuah pohon besar yang tumbuh di Dunia Bawah. Pohon besar itu adalah jelmaan seorang putri raja yang bunuh diri karena tidak bisa bersatu dengan kekasihnya. Kekasihnya tersebut adalah lelaki yang tinggal di Dunia Tengah atau bumi.

Awal perjumpaan itu, ketika sang lelaki penggembala nyasar ke Dunia Bawah. Lalu lelaki itu berjumpa dengan seorang putri raja. Lalu keduanya saling jatuh cinta. Cinta itu pun membutakan mata mereka, sebab keduanya langsung berjanji akan sehidup semati. Padahal perbedaan diantara keduanya sangatlah nyata. Selain berbeda kasta, mereka juga berbeda dunia. Janji sehidup semati bukanlah perkara biasa. Sebab kala itu janji adalah pamali. Janji harus ditepati. Bila ada orang ingkar janji, maka ia akan mendapat tulah. Ia akan dikutuk oleh Sang Patotoe yang bertahta di Dunia Atas. Kutukan itu berupa tubuh seseorang yang ingkar janji akan menjadi gosong. Maka, wahai para insan yang suka berjanji! Berhati-hatilah!

Sang Raja tidak merestui putrinya dinikahi oleh lelaki Dunia Tengah itu. Alasannya karena lelaki itu bukan keturunan tomanurung. Lalu lelaki itu diusir kembali ke Dunia Tengah secara paksa. Putri raja yang sudah terlanjur jatuh cinta memilih bunuh diri tepat di tempat kekasihnya naik ke Dunia Atas.

Lelaki penggembala itu diangkat naik ke Dunia Tengah menggunakan tali yang terbuat dari rotan. Rotan itu diikat sambung menyambung dari atas ke bawah. Konon yang mengikatnya di atas adalah para penunggu hutan larangan itu. Sang putri yang sangat mencintai pemuda itu terus menatap kepergian kekasihnya. Ia bahkan rela memanjat pohon agar bisa terus melihat kekasihnya dinaikkan ke Dunia Tengah. Setelah kekasihnya lenyap dari pandangannya, sang putri pun bunuh diri dengan jalan menjatuhkan tubuhnya dari pohon. Jasadnya langsung lenyap. Di tempat lenyapnya sang jasad, tiba-tiba tumbuh sebatang pohon yang menjulang tinggi ke atas. Dari akar pohon itulah muncul mata air sampai ke Dunia Tengah. Mata air itu muncul di hutan Appanoreng’E.

Menurut kepercayaan masyarakat di kampung kami, lokasi mata air di hutan Appanoreng’E adalah tempat yang paling mustajab untuk berdoa. Dengan berdoa di tempat itu, maka doa akan diijabah oleh penguasa Dunia Atas, Dunia Tengah, dan Dunia Bawah.

Saya teringat dulu setamat sekolah menengah atas. Saya bersama Burhan dan Borahima pergi ke tempat itu sebelum berangkat ke Makassar untuk kuliah. Saat itu kami dituntun oleh seorang tetua kampung yang kami sebut Puang Sanro. Waktu itu saya memutuskan tidak ikut dalam ritual doa. Saya tidak begitu tertarik. Saya hanya menonton prosesi doa itu dari jarak dekat. Saya melihat kedua temanku itu sangat khusyu mengikuti ritual doa yang dituntun Puang Sanro. Keduanya bertelanjang dada sambil mengikuti laku aneh Puang Sanro. Telapak tangan kiri menekan tanah pertanda permohonan kepada penguasa Dunia Bawah. Tangan kanan menengadah ke atas memohon kepada penguasa Dunia Atas. Posisi badan tetap tegak yang berarti ia tetap berada di Dunia Tengah.

“Dengan berkah dari Sang Patotoe, doamu diijabah oleh penguasa tiga dunia,” ujar Puang Sanro menutup ritual aneh tersebut.

Baca juga  Di antara Keheningan

“Kenapa kau tidak ikut berdoa, Beddu?” tanya Burhan selepas melakukan ritual.

“Saya juga tadi ikut berdoa,” jawabku sekenanya.

Kulihat Puang Sanro bergegas meninggalkan kami. Ia sempat menatapku sekilas dengan sinis sebelum pergi sambil terus mengusap janggutnya. Tadi memang saya tertawa cekikikan melihat Burhan meringis karena jemarinya digigit semut hitam. Tapi Burhan tetap melanjutkan ritualnya hingga selesai. Boleh jadi, Burhan berpikiran kalau semut itu adalah utusan penguasa Dunia Bawah yang datang mengamini doanya.

Puang Sanro memang tidak menyukai sikapku. Saya pernah mendengar cerita ibuku kalau Puang Sanro mengecap diriku sebagai anak durhaka. Puang Sanro memang menganggap durhaka kepada siapa saja yang tidak begitu memercayai kekeramatan mata air hutan Appanoreng’E.

***

Saya sudah hampir tiba di kawasan hutan Appanoreng’E. Saya berhenti sejenak. Saya duduk di bawah pohon mangga besar. Saya menatap hutan. Masih seperti dulu. Pepohonan menghampar hijau. Saya yakin tidak ada orang yang berani menebang pohon di kawasan itu. Penduduk sekitar memang sangat menjaga tempat itu. Di saat musim kemarau melanda, hanyalah di tempat itulah mereka bisa mendapatkan mata air. Sambil memandangi kawasan hutan, tiba-tiba terbersit lagi keraguan untuk melakukan ritual. Tetapi ketika mengingat Borahima yang sudah dua periode terpilih jadi kepala desa di kampung kami, serta Burhan yang sudah dua kali terpilih menjadi anggota dewan lewat dapil kampung kami, saya kembali bersemangat. Saya juga tidak mau lagi dicap orang durhaka sebagaimana kata Puang Sanro dulu.

Saya pun bergegas memasuki hutan Appanoreng’E. Saya mencoba melakukan ritual sebagaimana arahan Puang Sanro kepada Burhan dan Borahima dulu. Saya masih ingat, semakin sedikit kain yang menempel di badan semakin menyatu orang dengan alam, semakin gampang pula doa-doa diijabah oleh penjaga alam—begitu kata Puang Sanro dulu. Mengingat harta sudah terkuras habis untuk biaya kampanye, saya pun memutuskan melakukan ritual yang paling maksimal. Dulu Borahima dan Burhan membuka baju. Doanya pun terkabul. Saya ingin doaku lebih makbul daripada mereka. Saya pun meluruhkan seluruh pakaian. Saya merasa aneh sendiri, saya seperti seorang bayi yang baru lahir ke bumi. Tanpa dosa, tanpa pakaian. Saya menoleh ke kiri dan ke kanan. Kulihat puluhan anak-anak dan tiga orang dewasa berteriak-teriak sambil menunjuk ke arahku. Salah seorang dari tiga orang dewasa tersebut berjanggut panjang yang sudah memutih.

Baca juga  Tiga Laki-Laki dalam Satu Waktu

“Orang gilaaaa!”

2018-2020

Appanoreng’E, tempat meletakkan sesajen

Daeng, kakak.

Dunia bawah, dalam cerita La Galigo, dunia terbagi atas tiga: Boting Langiq (Dunia Atas), Ale Lino (Dunia Tengah atau bumi), Perettiwi (Dunia Bawah).

Sang Patotoe, Tuhan Yang Maha Esa dalam kepercayaan Bugis Kuno (Kepercayaan La Galigo)

Tomanurung, Orang yang turun dari langit. Maksudnya bangsawan.

Puang Sanro, sebutan untuk dukun atau tabib kampung.

DUL ABDUL RAHMAN. Lahir di Tibona, Bulukumba. Saat ini sudah menulis 18 buku sastra.

Average rating 4 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: