Cerpen, Hilmi Faiq, Jawa Pos

Pemburu Anak

4.6
(12)

Kedua tanganku diborgol. Dua polisi mengapitku dalam perjalanan menuju kantor polisi. Mereka sudah berhitung dengan menjaga ketat agar aku tidak bisa lolos setelah perburuan panjang. Tapi, aku tak boleh menyerah. Aku harus keluar dan membunuh sisa anak yang masih berkeliaran. Itu misiku.

KALAU aku hitung-hitung, dalam kecepatan mobil seperti ini, kami bertiga akan cenderung miring ke kanan ketika melintasi jalan menikung ke kiri menuju jembatan di depan itu. Itu saat yang paling pas untuk kabur. Apalagi ada sungai, bisa langsung terjun dan menghilang. Tapi, aku perlu berhitung dengan cermat untuk melumpuhkan sopir dan dua penjaga ini. Tampaknya polisi di sebelah kananku tidak begitu fokus, lebih banyak melihat ke jalan daripada memperhatikan gerak-gerikku. Mungkin karena menganggap aku relatif menurut sejak penangkapan tadi.

Ini modal penting untuk meloloskan diri. Ketika orang sudah yakin bahwa kita tak berdaya, saat itulah waktunya untuk melawan dan menunjukkan daya kita.

Siap-siap. Yap. Aku hantam kepala polisi di sisi kananku dengan kepalaku hingga membentur kaca jendela dan ambyar seperti stoples berisi ikan yang jatuh ke lantai. Polisi di sisi kiriku yang kaget aku hajar dengan cara yang sama. Serangan ganda yang mendadak itu mengacaukan fokus mereka, termasuk polisi yang menyetir. Buru-buru kucabut senapan listrik dari saku polisi di kananku dan kutembakkan ke leher sopir agar dia tak sempat mencabut pistol. Pingsan.

Dua polisi di kanan-kiriku linglung. Sebelum pulih kesadaran mereka, aku buka kunci pintu dan kutendang polisi di sebelah kananku ke jalan. Lalu, aku hantam muka polisi di sebelah kiriku dengan gagang pistol listrik yang kupegang dengan kedua tangan yang masih terborgol. Dia pingsan juga. Aku berguling ke kiri keluar lewat pintu setelah menyambar kunci borgol yang menggantung pada ikat pinggang polisi sopir, lalu terjun ke sungai sebelum mobil menghantam pembatas jembatan. Byur!

Sekilas aku melihat dua polisi, yang mengawal dengan sepeda motor di depan kami, kelabakan menyaksikan kejadian yang hanya berlangsung beberapa detik itu. Mungkin sekarang mereka tengah bengong di atas jembatan atau memanggil bala bantuan. Masa bodoh.

***

Kalian mungkin bertanya bagaimana aku bisa seyakin itu terhadap masa depan seseorang. Ini bermula ketika di sebuah stasiun kereta api aku terlelap di atas bangku tunggu menanti kereta terakhir. Dalam tidurku yang sejenak itu berkelebat mimpi samar yang kukira nyata. Lebih tepatnya, aku tidak bisa membedakan apakah itu mimpi atau nyata. Seorang pria tegap berbaju beskap dan belangkon menghampiriku. Alisnya tipis setipis kumisnya. Dia tersenyum, lalu menempelkan telapak tangannya yang sejuk ke keningku.

Baca juga  Orang-orang Tak Bersalah

“Aku Bagus Burhan, kakekmu,” ucapnya singkat, lalu pergi seiring datangnya kereta yang kutunggu.

Bagus Burhan. Nama yang tak asing dalam keluargaku. Benarkah dia Bagus Burhan? Bila diurut-urut, aku ini masih terbilang keturunan Rara Mumpuni. Nenekku adalah cucu dari Rara Mumpuni, anak bungsu pujangga kenamaan Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga yang mempunyai winarah, visi, atau teropong masa depan. Sebelum Ranggawarsita berguru dan berkelana untuk menemukan jati dirinya, dia memakai nama Bagus Burhan. Ini yang mengejutkan aku.

Ketika orang lain mimpi ketemu Nabi Khidir atau Sunan Kalijaga, bagiku biasa. Sekadar bunga tidur. Begitu pun ketika aku mimpi ditemui Bagus Burhan. Tapi, itu menjadi tidak biasa karena muncul peristiwa ikutannya.

Sejak mimpi di stasiun itu, setiap aku bertemu seorang bocah, terlihat juga masa depannya. Seperti melihat serangga yang dijebak dalam resin kaca gantungan kunci. Serangga itu adalah anak kecil tadi, sementara gantungan kunci tersebut adalah masa depannya. Kadang mirip bayangan kita dalam botol. Jadi, bocah yang aku lihat tidak tunggal lagi.

Terdapat tanda pada masing-masing bocah-bocah itu, yakni semacam lampu senter beragam warna seperti spektrum pelangi. Semakin banyak warna hijau, berarti dia membawa damai. Jika merah, berarti sebaliknya. Tanda ini tidak serta-merta muncul begitu anak itu lahir, menunggu suara tertentu. Lain anak, lain usia kemunculan tandanya. Biasanya menjelang menangkap kemunculan tanda itu, aku lebih dulu mimpi bertemu Bagus Burhan yang mengarahkan ke kota mana aku harus berburu.

Seperti saat aku melihat Robby, bocah usia tujuh tahun, di Pantai Cermin, Deli Serdang. Anaknya ceria, pipinya merona seperti apel siap petik, matanya berbinar seperti pagi di musim kemarau. Kurasa, banyak orang tua yang berharap punya anak seperti dia. Tapi, cahaya di dahinya merah menyala dan badannya dikelilingi citra astral berbulu lebat, yang berarti kelak dewasa dia lebih banyak membawa petaka. Dia misi pertamaku.

Yang pertama selalu yang terberat. Setelah menghabisi Robby, tanganku gemetaran selama lima hari. Tidur tak pernah nyenyak. Senyum dan binar mata Robby menghantui. Sugesti rasa bersalah menguasai kepala dan hati.

“Lebih baik dia mati sekarang karena itu sama dengan kamu menyelamatkan dia dan juga dunia. Jika Robby tumbuh dewasa, akan lebih banyak yang sengsara. Ini berat, tapi harus dilakukan,” bisik Bagus Burhan pada sutu malam yang hujan, antara mimpi dan nyata.

Baca juga  Jam

Bagus Burhan memberi dorongan bahwa ini tugas suci. Dorongan inilah yang lambat laun membuatku biasa. Menghabisi anak kecil seperti menyembelih ayam saja. Ringan dan tanpa dosa. Bahkan, kadang ada perasaan lega lantaran setelah membunuh itu badanku terasa nyaman belaka. Jika rencana pembunuhan itu aku tunda barang sehari dua hari, seluruh badanku gatal tak terkira. Gatal yang tidak mengancam nyawa, tapi merusak mental dan akal.

Hingga hari ini, tepat tiga tahun setelah mimpi di stasiun itu, sudah seratus dua puluh tujuh anak yang aku bunuh. Jangan tanya mengapa tidak ada yang curiga. Tentu saja ada, tapi aku selalu menemukan teknik baru dalam membunuh, yang seolah-olah anak itu mati wajar. Orang juga tak akan curiga kepadaku lantaran topengku terlalu tebal. Bukan topeng sebenarnya, tapi lebih kepada agen ganda.

Selain mengemban misi membunuh bocah-bocah pembawa petaka, aku juga wajib menjamin kehidupan anak-anak yang kelak membawa kedamaian dunia. Anak-anak ini dari beragam kelas sosial dan suku. Anak-anak yang hidup di jalan, jembatan, pinggiran kota, atau rel kereta api ini aku rekrut dan asuh di sebuah panti. Jumlahnya kini sampai enam ratusan. Seluruh kebutuhan pangan, permainan, sampai pendidikan aku sediakan secara memadai sehingga mereka betah. Bahkan, beberapa orang tua mereka aku tarik untuk membantu mengurusnya. Dana aku dapatkan dari penggalangan lewat internet. Entah siapa mereka, selalu saja ada ratusan juta dana yang masuk setiap bulan. Aku menduga ini juga campur tangan Bagus Burhan. Sebab, tidak ada hal yang kebetulan.

Anak-anak kandungku juga kerap datang dan berbaur dengan mereka, terutama di musim liburan. Mereka senang banyak teman berkerumun di tempat bermain utama dengan ratusan anak. Rasanya bangga sekali melihat cahaya-cahaya hijau berpendar dari dahi-dahi mereka. Sebentar, itu kok ada yang merah, siapa itu? Aku amati lagi, sosok hitam membayangi tubuhnya. Oh, Tuhan.

***

Anak sulungku, Ragat, harus mati. Ini dilema luar biasa yang aku alami. Siapa gerangan yang sanggup membunuh anak sendiri. Jika dia aku biarkan tumbuh dewasa, aku tak adil kepada anak-anak lain yang telah kubunuh. Juga membahayakan dunia. Jika aku bunuh, bagaimana aku mampu. Ini seperti makan buah simalakama: ditelan mati, dimuntahkan juga mati. Akhirnya aku kulum saja, tapi bisa bertahan sampai kapan.

Baca juga  Anjing Belanda

Berhari-hari badanku gatal tak terkira. Aku segera memahami dilema yang sama pada diri Ibrahim ketika diperintah menyembelih Ismail, anaknya. Tapi, aku bukan Ibrahim, aku bukan nabi. Aku hanya seorang ayah yang mencintai dua anaknya. “Hai kau yang di langit sana, kenapa harus anakku?” protesku dalam tangis yang tertahan.

Kutatapi wajah Ragat yang tidur pulas. Adiknya tidur bersama istriku di kamar sebelah. Ini jelang tengah malam. Rumah sepi. Hanya bunyi detak jam dinding mengisi ruang sunyi. Aku bayangkan ini pertemuan terakhirku dengannya. Aku rogoh saku untuk meraih handuk kecil, lalu kubasahi dengan kloroform. Pelan-pelan aku bekap mulut dan hidungnya yang bangir itu. Tak ada perlawanan. Aku makin tak sanggup, tapi harus kulakukan.

Kuambil bantal untuk menutup wajahnya. Semoga dia mati dengan damai seperti perhitunganku karena kehabisan oksigen dalam ketidaksadaran. Ya Tuhan! Badannya berontak beberapa detik sebelum akhirnya lemas. Aku biarkan bantal tetap menutupi wajahnya karena kutak tahan melihatnya. Melihat anakku tak bernyawa. Mataku hangat. Pipiku basah. Sejak kapan aku menangis ketika membunuh seorang bocah.

“Aku tak sanggup lagi. Cukup!”

“Masih tiga lagi. Tuntaskan!” bisik Bagus Burhan.

“Tidak! Kamu saja yang melakukan.”

Pagi itu polisi menangkapku.

***

Tiga bocah yang dimaksud Bagus Burhan ini sudah beberapa hari aku kantongi fotonya. Waktu dan hari juga sudah aku tentukan. Jika mereka dibiarkan hidup sampai dewasa, kelak akan merusak tatanan kehidupan. Mereka serakah. Kelak mereka ini selalu saling bermusuhan berebut kekayaan memakai baju kepentingan orang banyak. Mereka pemilik saham di banyak perusahaan besar, tapi masih mengeruk keuntungan sebagai penyelenggara negara. Mereka pengusaha sekaligus penguasa.

Ada juga yang pura-pura kritis kepada pemerintah lewat lembaga wakil rakyat, tetapi diam-diam mencari proyek-proyek raksasa untuk kepentingan diri dan keluarga. Penguasa yang risi karena diganggu akhirnya menyerah juga. Mereka risi karena memang tidak bersih.

Jika kalian menemukan orang-orang dengan ciri di atas, besar kemungkinan aku gagal menyelesaikan misi ini. Besar kemungkinan aku tenggelam di sungai ini. (*)

Green Village Bintaro, 15 Agustus 2020

HILMI FAIQ. Jurnalis kelahiran Lamongan. Buku kumpulan cerpennya, Pesan dari Tanah, baru saja terbit.

Average rating 4.6 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: