Cerpen, Milanur Almair, Pontianak Post

Pertanyaan Aneh Pak Sudi

4.3
(9)

Hanya ada satu pertanyaan yang kerap berkecamuk di benak lelaki bertubuh kecil itu setiap kali melihat ikan-ikan koi berenang di kolam miliknya. Hanya satu. Namun, hingga sekarang ia tak kunjung menemukan jawaban.

Kadang ia ingin menanyakan jawaban tersebut pada tetangga depan rumahnya. Tapi, menurutnya, pria 40-an itu terlalu sibuk bekerja, sampai-sampai jarang berkumpul dengan keluarga. Pak Sudi acap kali mendengar teriakan si istri mengomeli keempat anak mereka sebagai pelampiasan amarah ketika suaminya tak kunjung pulang ke rumah.

Pernah ingin ia tanyakan hal itu pada tetangga sebelah kiri. Pria muda dan masih lajang. Sayang, sepertinya pemuda itu lebih asyik bercengkerama dengan teman-teman yang bertandang untuk bermain game bersuara ingar-bingar seharian dibanding harus menghabiskan waktu dengan pria tua bau tanah sepertinya.

Ia menumpahkan harap pada tetangga di sebelah kanan, pada lelaki yang baru saja pindah lima minggu lalu. Entah kenapa, hingga sekarang ia belum pernah mendengar obrolan hangat keluar dari anak muda itu sejak hari pertama resmi mengontrak rumah berpagar stainless tersebut. Kabarnya ia baru saja menikah. Mungkin sibuk melakukan aktivitas baru yang tak kunjung membosankan bersama istrinya.

Ketika matahari jam tujuh pagi merambat hangat dan menembus dedaunan pohon jambu air depan rumah, berarti Pak Sudi sudah setengah jam berdiam di situ. Duduk bersandar di kursi plastik yang menghadap kolam di bagian samping.

Kolam itu tak besar, hanya berukuran 2 x 0,5 meter luasnya. Namun cukup membuatnya hati siapa saja yang mendengar gemercik air yang mengalir, tenteram seketika. Termasuk Pak Sudi tentunya.

Adalah Wasno, seorang pemulung yang sering keluar masuk komplek sambil mengorek-ngorek tempat sampah, satu orang yang rajin bercakap-cakap dengan dirinya selama ini. Pak Sudi rajin memisahkan sampah plastik dan sampah organik hingga membuat pria kurus itu merasa punya muka dan pantas untuk dijadikan teman mengobrol. Kakek yang satu ini membuatnya tak perlu mengais tempat sampah busuk dan kadang berbelatung di tepiannya demi mendapatkan limbah plastik barang sekerat dua.

Seperti pagi ini, Wasno telah keluar masuk entah sudah berapa puluh gang dan akhirnya demi melihat pria tua itu duduk sendiri pun rasa lelah memaksanya berhenti sekejap di depan rumah Pak Sudi.

“Gimana kabarnya, Pak?” sapanya sambil menaruh karung dan pencapit besi di bawah pohon jambu.

“Seperti biasa, Was. Tahun sudah berganti, tapi aku masih belum menemukan jawabannya.”

Mendengar ucapan Pak Sudi, lelaki pendek itu cuma menggaruk kepala sambil membetulkan letak maskernya. Benda yang sebenarnya tak terlalu berguna sebab ia memakainya hanya demi menyenangkan penjaga pos gerbang kompleks. Sisanya, hampir sepanjang hari berbaur dengan manusia lain, masker itu terkalung saja di lehernya. Ajaibnya, ia sehat-sehat belaka. Padahal saat sedang tak punya uang, ia berharap jadi korban wabah saja. Kabar yang ia dengar, baik pasien atau keluarga yang diisolasi, dapat bantuan sembako cuma-cuma baik dari Lurah maupun warga. Kalau benar demikian, wabah ini bukan musibah, tapi berkah jika terjadi pada dirinya.

Baca juga  Anak Ibu

Wasno masih ingat pertanyaan Pak Sudi tempo hari. Apakah ikan koi yang berenang di kolam milik lelaki tua itu bahagia? Hingga kini ia pun belum mengerti sepenuhnya pertanyaan tersebut, apalagi menemukan jawabannya.

“Aku takut, Was! Dengan menaruhnya di kolam, aku telah merenggut kebahagiaan ikan-ikan koi nan cantik ini. Kau tahu kan berita kemarin, betapa banyak orang yang stres karena dilarang keluar rumah dan tak bisa bekerja. Bukan tidak mungkin ikan-ikan ini mengalami hal yang sama.” Wasno ikut duduk di tepi kolam. Kepalanya terjulur melongok lima ekor koi dengan warna terang berkejaran di dalam air yang bening. Ia lihat tak ada penderitaan di sana. Ikan itu sehat dan gemuk. Wajah mereka jauh dari indikasi stres maupun nestapa. Tentu saja. Setoples pelet khusus disiapkan buat mereka setiap minggu. Selalu penuh.

Menurut penglihatan Wasno, ikan itu bisa jadi sudah bahagia. Kerjanya hanya berenang, makan dan buang hajat. Tidak seperti dirinya. Harus mengais sampah busuk dulu baru bisa mengganjal ususnya dengan sekepal nasi. Itu pun harus mendahulukan perut istri dan dua anaknya. Kalau bisa meminta, mungkin ia berharap jadi ikan koi saja. Tak perlu pusing memikirkan uang, omelan istri dan sederet beban hidup lainnya.

“Mereka tampaknya bahagia, Pak!” Wasno berujar sambil nyengir di balik masker pemberian satpol PP yang entah sudah berapa hari ia pakai tanpa diganti.

“Bagaimana kau tahu itu, Was?”

“Lihat! Mereka berenang ke sana-kemari dengan sukacita. Tak ada beban. Tak perlu bayar listrik. Tak pusing saat sembako langka dan harganya melangit.”

Pak Sudi yang enggan menggunakan masker, terkekeh mendengar ucapan lelaki berbaju lusuh di depannya. Bisa jadi Wasno benar. Ia terlalu memikirkan hal yang tak terlalu penting. Tapi sejauh apa pun pertanyaan itu ia lontarkan, tetap saja menetap di kepalanya. Apakah ikan koi itu bahagia?

“Kau tahu, seumur hidup aku selalu ingin membuat orang lain bahagia. Orang tua, saudara, istri, juga tetangga-tetangga. Aku tak ingin ada satu makhluk pun yang tak bahagia dengan keberadaanku di dunia. Termasuk ikan koi ini!”

Wasno diam saja merenungi ucapan pria tua di depannya. Ah, termasuk dirinya juga bahagia bisa mengenal lelaki pensiunan guru ini. Saat warga lain memandang sebelah mata dengan kehadirannya—entah karena tampilannya yang kumal atau desas-desus yang mengatakan bahwa banyak pemulung yang merangkap jadi pencuri—Pak Sudi justru mau menganggapnya teman. Apalagi saat awal wabah tahun lalu, ia bahkan sempat dilarang masuk kompleks, namun tak lama aturan tersebut dianulir oleh Ketua RW—atas masukan Pak Sudi dengan alasan kemanusiaan. Selain itu, lelaki tua ini kadang tak segan menyuruhnya melakukan ini-itu. Dengan upah sudah barang tentu.

Baca juga  Niat Jahat di Kepala Cheng Ho

“Aku membayangkan, ikan-ikan ini berenang lalu-lalang mungkin karena sudah tak tahan berada di kolam yang sempit ini. Mereka pasti ingin melihat dunia luar, bukan terkungkung oleh dinding kolam yang gelap dan berlumut.” Pak Sudi menghela napas.

“Dunia luar? Maksudnya gimana, Pak? Bukankah koi memang tinggal di kolam ikan? Memangnya mereka mau jalan-jalan ke mana?” Wasno kembali menggaruk-garuk. Kali ini yang gatal di belakang kuping kanan. Karet masker sialan itu sedikit menyakiti kulitnya.

“Maksudku, mungkin saja mereka merindukan tinggal di kolam yang lebih besar dan cantik, serta terletak di taman yang apik. Atau, barangkali mereka ingin sekali tinggal di selokan yang berair bening dan deras.”

Ucapan lelaki tua dengan rambut memutih itu membuat kening Wasno berlipat. Serta merta mata sipit itu terarah pada selokan di bawah kakinya. Got perumahan yang dangkal, sempit, berair legam dan bau. Ia yakin Pak Sudi pasti salah ucap tadi. Mana ada selokan bening dan berair deras? Kalau di desanya yang berada di kaki Gunung Sindoro sana, mungkin iya. Di sini, di Kota Satelit, di mana bisa menemukan selokan berair jernih? Wasno menggaruk kupingnya lagi.

“Jangan salah, Was! Aku pernah mendengar kalau di Jepang sana, ikan koi bisa hidup damai dan tenteram di selokan.” Pak Sudi terkekeh melihat raut wajah bingung milik pemulung bertubuh ceking itu.

“Kenapa harus jauh-jauh ke Jepang, Pak? Kan repot bawanya. Jauuuh!”

Di balik maskernya, Wasno mengerucutkan bibir. Ucapannya membuat lelaki tua tadi kembali tertawa. Percakapan mereka kadang memang terasa menggelikan. Kalimat Wasno yang lugu seakan menjadi hiburan tersendiri bagi Pak Sudi. Sulit menemukan teman bicara sepolos ini. Kadang orang berusaha mengatakan sesuatu yang beda agar dianggap pintar dan bermartabat dari yang lainnya. Meski sejatinya ia hanya mengulang dan meniru ucapan para pejabat atau tokoh publik yang berlagak intelek agar berhasil mengelabui rakyat atau kalimat bijak dalam buku motivasi dan novel filsafat.

“Tak ada perasaan repot demi mengejar hidup yang lebih baik. Buktinya, kau jauh-jauh ke kota ini, meninggalkan kampung halaman untuk apa?”

Kalimat lelaki berhidung betet itu membuat Wasno terdiam. Seandainya punya tanah sepetak saja, mungkin sudah lama ia kembali ke desa Kenteng—daerah dingin yang terletak di kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Tapi, sepertinya awan gelap kemiskinan masih setia menaungi hidupnya sejak kecil hingga usianya kepala empat kini.

“Apa kau bahagia dengan hidupmu, Was?’ tiba-tiba Pak Sudi mengalihkan topik pembicaraan sehingga membuat Wasno gelagapan. Apakah ia bahagia? Wasno menggeleng.

“Saya tidak tahu, Pak!”

“Bagaimana bisa kau tidak tahu dengan kebahagiaanmu sendiri?”

Baca juga  Bukan Sekadar Air Mata

“Saya tidak paham saya sudah bahagia atau tidak. Yang saya tahu, saya bahagia kalau karung hasil mulung itu penuh, Pak. Nggak tiap hari nasib saya mujur. Biasanya suka keduluan pemulung lain atau keduluan truk sampah. Jadi kebahagiaan saya bergantung pada banyak tidaknya sampah yang bisa diambil. Jika hasilnya banyak artinya saya bisa beli lauk untuk anak istri di rumah.”

Kalimat pria kerempeng itu membuat Pak Sudi tercenung. Tiba-tiba ia merasa mendapat pencerahan. Kata-kata Wasno merupakan temuan baru tentang definisi bahagia yang selama ini ia rumit-rumitkan. Bahkan mungkin bagi orang-orang di sekitarnya.

Lihat tetangganya. Masing-masing sudah merasa bahagia dengan pencapaian yang didapat. Punya mobil baru meski harus berhemat-hemat selama cicilannya belum lunas. Punya penghasilan besar meski semua itu harus ditebus dengan hilangnya kebersamaan dengan keluarga. Bahkan mereka merasa tak perlu berbagi kebahagiaan dengan cara mengajak Pak Sudi yang tak punya anak ini berbincang-bincang misalnya.

Tiba-tiba lelaki 70-an itu beranjak ke dalam rumah. Wasno yang melihatnya jadi bingung. Tak berapa lama kemudian, Pak Sudi keluar dengan serok dan kantong plastik di tangan.

“Loh, Bapak mau ngapain?”

“Mau ngambil ikan koinya, Was!”

“Lha, kenapa diambil, Pak? Nanti kolamnya kosong dong!” Wasno menggaruk kepalanya lagi. Kali ini lebih keras. Tingkah Pak Sudi membuat rambutnya jadi gatal tanpa sebab.

“Sepertinya saya sudah menemukan jawabannya, Was!”

“Apa jawabannya, Pak?”

“Ikan ini memang terlihat bahagia, tapi saya yakin ia akan semakin bahagia jika bisa bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan.”

Wasno diam tak mengerti. Perlahan Pak Sudi membuka pagar pembatas antara kolam dan teras. Menyerok ikan-ikan koi yang berontak tak ingin tertangkap. Wasno dengan sigap membantu meski hatinya masih diliputi tanda tanya.

“Sekarang masukkan ikannya di plastik ini, beri air biar tak mati!” titah Pak Sudi.

“Trus, ikannya mau diapain, Pak?” Pak Sudi menatapnya sejenak, lalu tersenyum sambil berkata, “Ambillah! Ikan koi itu bisa buat lauk anak istrimu di rumah.”

“Ta-tapi … ini kan ikan mahal, Pak! Sayang kalau dibuat lauk!” Wasno memandangi plastik di tangannya dengan wajah kombinasi protes dan tak percaya.

“Saya yakin dengan begini ikan-ikan koi itu akan bahagia. Jika tinggal di sini, ia hanya membahagiakan saya. Tapi jika saya berikan padamu, ia akan membahagiakan banyak orang!” ucap Pak Sudi seraya menepuk bahunya.

Wasno terdiam. Membayangkan ikan-ikan cantik itu disantap lahap oleh anak istrinya.

Jadi, sesederhana ini kunci jawaban pertanyaan Pak Sudi? Wasno kembali garuk-garuk kepala. []

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: