Cerpen, Haluan, Marhamatul Azizah

Prasangka

4
(4)

JIKALAU bukan karena tingginya angka kriminalitas di Bandai, aku tak akan pernah mau menginjakkan kaki di halaman depan bangunan bercat abu-abu gelap ini— yang makin menegaskan kesan angkernya. Melewati pagar tinggi hitam yang dilengkapi kamera pengawas di sudut pembatas betonnya saja, sudah membuatku merinding. Penjaga keamanan di gerbang terlihat cukup ramah. Ia hanya memintaku memperlihatkan kartu identitas disertai surat penugasan. Namun, mataku tak dapat teralihkan dari senjata api otomatis di rak belakang meja petugas itu.

“Hanya untuk jaga-jaga. Mereka yang ada di sini tidak hanya sinting, tapi juga berbahaya,” ujarnya, menyeringai memperhatikanku. Ya, aku tahu itu, balasku dalam hati.

Salah seorang petugas berseragam putih kebiruan menyambutku di pintu utama. Aku beranjak menemui dan menyalaminya. Tangannya hangat.

“Ibu Purnama, senang akhirnya dapat bertemu Anda. Saya sering membaca artikel-artikel anda di Harian Bandai. Anda tentunya sangat berbakat dalam menulis.” Petugas itu tersenyum dan sepertinya tulus berujar seperti itu. Perasaanku sedikit terangkat olehnya.

“Terima kasih, boleh tau siapa nama Anda?”

“Saya Ardan, petugas yang berjaga khusus di lantai lima. Sekiranya orang yang hendak Anda temui itu sudah siap menemui Anda, saya akan turut menemani. Namun jika Anda butuh privasi, akan saya berikan. Dengan syarat, Anda harus membawa ini, buat jaga-jaga. Sini, saya peragakan cara menggunakannya.”

Ardan yang terlihat jauh lebih muda dariku memberi sebuah alat berwarna hitam persegi yang dilengkapi dua tombol. Satu tombol langsung terhubung dengan alat yang dipegangnya, dan dapat ditekan jika aku merasa tidak nyaman atau sedikit terancam. Tombol yang satu lagi, jika ditekan, akan mengeluarkan bunyi nyaring yang dapat terdengar sejauh radius 2 kilometer. Cukup untuk memberi sinyal kepada semua petugas, termasuk penjaga keamanan di depan. Katanya, aku boleh menekan tombol kedua itu dalam kondisi darurat tinggi. Aturan itu sudah ada dalam protokol, dan aku berharap tak akan pernah menekan salah satu dari keduanya.

Lorong bagian tengah di lantai 5 tidak seseram yang kubayangkan. Cahaya matahari masuk dari jendela-jendela di ujung lorong, membawa nuansa hangat yang cukup nyaman. Terdapat berbagai lorong kecil menuju kamar-kamar tempat para penghuni gedung ini berada. Salah satunya adalah orang yang hendak kutemui.

Tepat saat berada di depan ruangan 512, kami berhenti. Ardan memberi isyarat kepadaku untuk menunggu sebentar. Ia ingin memastikan orang yang hendak kutemui sudah siap untuk bertemu denganku. Baiklah, tarik napas. Segalanya akan lancar, ucapku pada diri sendiri. Ardan kemudian memanggilku, dan aku pun membuka pintu ruangan serta melangkah ke dalam. Selain Ardan, aku melihat seorang pria kurus tapi cukup bugar, berpenampilan rapi dan bersih, berusia sekitar tengah 30 tahun-an. Ia menyapaku ramah.

Baca juga  Kenangan Perkawinan

“Selamat pagi, Bu Purnama. Saya sering membaca tulisan-tulisan ibu, dan sejujurnya merasa tersanjung menerima kehadiran ibu di kediaman kecil saya ini. Silakan duduk.”

Baram, begitulah ia memperkenalkan namanya padaku. Aku sebenarnya sudah mengenalnya cukup lama, bukan melalui pertemuan resmi dan jabat tangan. Namun, aku mempelajarinya melalui berbagai artikel yang pernah dimuat tentang kasus yang menimpanya sehingga membuatnya mendekam di Rumah Sakit Jiwa Kriminal Kota Bandai ini. Baram adalah nama yang sebenarnya tak terlalu sering terdengar di kalangan jurnalis. Kami menganggap kasus yang terjadi beberapa tahun silam bukanlah berita besar. Singkat cerita, ia pernah terlibat perkelahian dengan warga dari kota sebelah, yang menyebabkan lawannya menderita selama seminggu di rumah sakit setempat. Ia kemudian dipenjarakan selama beberapa bulan. Namun, artikel lain mengatakan bahwa Baram mengaku pada suatu interogasi polisi bahwa ia tengah mengadakan rencana tersembunyi untuk membuat kekacauan di Bandai, dengan mengorganisasi sekelompok orang dan membuat senjata rakitan. Ia juga mengaku tengah menyusun daftar nama-nama target, kebanyakan di antaranya adalah para pemimpin, politikus, hingga selebriti. Pengakuannya kepada polisi itu yang membawanya ke kediaman kecil ini. Kamar 512 RSJ Kriminal Kota Bandai.

Sebelum duduk di kursi yang disediakannya, Ardan membisikkan sesuatu kepadaku. Ia akan berjaga di lorong, karena permintaan Baram sendiri. Namun keputusan tetap berada padaku. Aku pun setuju untuk ditinggal bersama Baram, meski sedikit takut, tapi aku yakin dengan instingku. Selain itu, kebenaran bisa jadi enggan terungkap jika Baram merasa tidak nyaman dengan kehadiran Ardan yang tidak bertujuan untuk mendengar ceritanya. Karena itulah aku ada di sana. Tak lupa, aku masih menyimpan kotak hitam bertombol dua yang diberikan Ardan.

Ketika pintu tertutup dan hanya tinggal aku dan Baram, Baram sudah terlihat nyaman berada di kursinya sendiri, sambil meneguk beberapa gelas air. Aku sendiri belum ingin minum.

“Anda sudah siap untuk saya ajukan beberapa pertanyaan?” aku masih belum sanggung menatap matanya. Entah mengapa tanganku sudah siaga meraba alat hitam bertombol itu.

Baca juga  Sihir Batu Bata

“Anda terlihat kurang nyaman berkomunikasi dengan saya. Bisa saya pastikan, saya tidak mempunyai niat jahat sedikit pun terhadap Anda, Bu Purnama. Saya tahu ibu menyimpan tombol darurat di dalam tas. Saya tidak akan berbuat hal aneh apa pun yang akan membuat ibu terpaksa menekan tombol itu. Saya janji, dan janji seorang lelaki dewasa haram hukumnya dilanggar.”

Aku telah mengikuti berbagai pelatihan untuk menghadapi narasumber dengan berbagai kondisi psikologis. Namun, yang aku lihat ketika menatap mata Baram, bukanlah seorang gila atau psikopat yang seperti dibicarakan orang-orang. Aku melihatnya seperti lelaki pada umumnya, dan matanya lebih dari cukup untuk meyakinkanku tentang hal itu.

“Apakah benar Anda merencanakan pembunuhan terhadap orang-orang penting di Bandai?”

“Itulah yang dikatakan orang-orang. Namun sebenarnya, bukan hal itu yang benar-benar Anda ingin ketahui, bukan? Saya yakin bahwa Anda yakin itu tidak benar. Pertanyaan sebenarnya, mengapa saya memilih berada di sini. Itu yang ingin Anda ketahui.”

“Anda berada di sini karena Anda membuat diri Anda di sini, dengan mengaku kepada polisi bahwa Anda punya rencana besar membasmi orang-orang penting Bandai. Ketika Anda dihadapkan ke pakar psikologi, Anda dinyatakan terlalu berbahaya bagi masyarakat. Itulah yang membawa Anda kemari.”

“Ya, itu memang benar. Namun, tidak sepenuhnya benar.”

“Maksud Anda?”

“Ayolah, Bu Purnama. Anda pasti sudah punya teori sendiri. Saya adalah penggemar tulisan-tulisan Anda. Dari pola pikir dan cara Anda menganalisis sesuatu, Anda pasti sudah punya kesimpulan sendiri terkait kasus saya.”

“Ya, tapi saya belum punya cukup data untuk mengambil kesimpulan. Jika sudah, saya tidak akan repot-repot kemari untuk mewawancarai Anda, Tuan Baram.”

“Dan Anda sudah dapatkan data itu dari kali pertama melihat dan menatap mata saya.”

Aku tertegun beberapa saat. Bagaimana bisa? Aku hanya tidak ingin terlalu cepat menarik kesimpulan. Baram menarik napas panjang lalu membuka mulut kembali.

“Bagaimana jika saya katakan langsung, bahwa saya tidak benar-benar gila. Namun, ketika saya berkata demikian, berusaha meyakinkan petugas dan perawat di sini, mereka hanya menganggap itu ocehan yang justru dikatakan orang sakit jiwa. Lebih sulit bagiku meyakinkan orang-orang bahwa aku tidak gila daripada sebaliknya.”

“Kalau Anda merasa normal, lantas mengapa Anda membiarkan itu terjadi? Maksud saya, orang-orang berpikir bahwa Anda benar-benar mendirikan komplotan pembasmi elit Bandai. Masyarakat Bandai kian hari kian yakin akan hal itu sehingga mereka berpikir mereka ketinggalan, dan ingin bergabung. Di luar sana, orang-orang terpengaruh ucapan Anda, yang bisa dibilang ngawur.”

Baca juga  Ketika Pohon Itu Masih Mekar

“Ya, saya sudah dengar hal itu. Bukankah sudah saya katakan, lebih mudah meyakinkan orang-orang bahwa kita gila, daripada sebaliknya?”

Sisa percakapan kami selanjutnya tak banyak menyinggung hal lain. Aku menanyakan beberapa kebiasaan dan bagaimana ia menghabiskan waktu di kediaman kecilnya itu. Ketika usai, aku pun pamit, dan Baram berkata bahwa nanti setelah dia bebas, dia akan mentraktirku suatu hari. Aku hanya memberi respons jika aku mampu, maka aku akan datang.

Keluar dari bangunan bercat abu-abu itu, kepalaku jadi sedikit pening. Namun aku lega, setidaknya aku tidak menekan tombol pada kotak hitam.

Aku menerbitkan satu esai terkait hasil wawancara dengan Baram, tak kurang dari 2 minggu setelah pertemuan kami. Sejujurnya, aku masih belum puas. Lima tahun dari umurnya dihabiskan di sebuah ruang sederhana, tanpa komunikasi normal dengan manusia. Aku tentu bersimpati dengannya. Manusia seharusnya tidak dihukum atas dasar prasangka, atau kejahatan yang hanya ada di dalam kepala. Tapi, bagaimana bisa dia lulus tes psikopatik dan serangkaian ujian psikologis yang sudah puluhan tahun digunakan? Apakah dia sehebat itu dalam hal memanipulasi, ataukah masih ada titik lemah dalam mengenal perilaku sejati manusia? Ungkapan bahwa mata adalah jendela jiwa merupakan hal klise yang sering kali kita dengar. Namun jika itu memang benar, maka aku dapat katakan bahwa jiwa Baram tidak sama sekali terganggu.

Enam bulan setelah esaiku terbit, aku mendengar Baram akan diuji kembali, dan nyatanya ia dibebaskan 3 bulan setelahnya. Aku terkejut ketika suatu sore, aku mendapat sebuah email. Pengirimnya Baram. Seperti yang dijanjikannya, dia ingin mentraktirku makan malam. Aku tahu aku tak ada agenda apa pun, tapi aku memutuskan untuk menolak ajakannya.

MARHAMATUL AZIZAH. Berasal dari Punggai, Kota Padang. Lahir 8 September 1997. Menamatkan pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor, dan tengah menetap dan mencari pengalaman hidup di Kota Bogor. Aktif dalam kegiatan pendidikan dan memiliki passion terhadap dunia kepenulisan dan pengembangan Budaya Minangkabau.

Average rating 4 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: