Cerpen, Dadang Ari Murtono, Republika

Sayap

4.5
(2)

Safitri bercerita kepada sahabatnya—Ngatinah—bahwa suaminya….

“Bekas suamimu,” potong Ngatinah.

“Tidak, suamiku. Kami tidak pernah bercerai,” jawab Safitri.

… bahwa suaminya menginginkan perempuan bersayap sebagai istri. Sebelum menikahi Safitri, suaminya telah berkeliling pulau Jawa. “Tiga kali,” kata Safitri. Hanya untuk menemukan seorang perempuan yang bersayap.

Menurut suami Safitri, perempuan bersayap akan selalu berupaya menyembunyikan sayapnya dengan cara apa pun. Namun, ia tidak akan bisa menyembunyikan betisnya yang bercahaya dan lingkaran di atas kepala yang berpendar begitu tersepuh cahaya matahari pagi.

Safitri baru saja mentas dari kali dan membebetkan kain ke tubuhnya—dari ketiak hingga paha—ketika suaminya—waktu itu calon suaminya, Kromo Yudho, lewat dan bersumpah melihat pendar lingkaran di atas kepala Safitri. Lelaki itu bergegas turun dan menemukan betis Safitri bercahaya.

“Tidak diragukan lagi,” kata Kromo Yudho. “Kau menyembunyikan sayap di balik kain kembenmu.”

Safitri melongo seperti orang tolol. “Kapan kau jatuh dari langit? Apa yang dilakukan orang-orang ketika pertama kali melihatmu dengan sayap terkulai? Mereka pasti merundungmu dan itu yang membuat kau kemudian menyembunyikan sayapmu,” Kromo Yudho nyerocos. Dan memungkasinya dengan lamaran, “Maukah kau menikah denganku?”

***

Malam-malam pengantin mereka adalah siksaan bagi Safitri. Kromo Yudho membolak-balik tubuh Safitri seperti seorang tukang kue membolak-balik adonan. Lelaki itu meraba dan mengendus setiap senti punggung Safitri dengan ketekunan seorang pemahat.

“Di mana kau sembunyikan sayapmu, heh?” lelaki itu mengendus.

“Aku bukan burung. Aku tidak punya sayap,” kata Safitri.

“Kau memotongnya, kau pasti telah memotongnya.” Kromo Yudho lantas memukul-mukul punggung Safitri.

***

Suatu hari, langit Japanan ribut oleh kepak sayap ribuan burung hitam. Burung-burung itu muncul pada sore hari, dari cakrawala yang menenggelamkan matahari. Paruh burung-burung itu menyanyikan lagu ketakutan.

“Orang-orang dari Mataram akan datang untuk membasuh bumi Brang Wetan dengan darah…. Orang-orang dari Mataram akan datang untuk membasuh bumi Brang Wetan dengan darah….”

Seperti Wedhus Gembel dari liang kawah Merapi, rombongan burung-burung itu meninggalkan daerah-daerah yang mereka lewati sebagai daerah yang mendadak singun, kosong, dirungkup kecemasan dan ketakutan. Jalanan lengang, binatang ternak melenguh kelaparan, orang-orang mengunci diri dalam rumah.

Baca juga  Obsesi

Empat hari kemudian, tanah Japanan bergetar berkat derap kaki rombongan kuda. Moncong kuda-kuda itu penuh busa. Sejumlah lelaki yang berada di punggung kuda-kuda itu mengusap peluh dan berteriak-teriak dengan suara serak meminta semua orang berkumpul.

“Untuk membendung gelombang kematian dari Mataram,” teriak pemimpin rombongan itu, Senopati Mangun Darmo, ketika orang-orang sudah berkumpul, “Tumenggung Ronggo Jumeno dari Kadipaten Malang membuka sayembara bagi prajurit-prajurit pilih tanding. Siapa pun yang bisa mengalahkan Probo Retno, putri Kanjeng Tumenggung, dalam duel satu lawan satu, akan dinikahkan dengan sang putri sendiri dan akan memimpin pasukan Kadipaten Malang.”

“Apakah Probo Retno memiliki sayap?” Kromo Yudho menyahut dari kerumunan.

“Aku tidak tahu hal itu,” jawab Senopati Mangun Darmo, “tapi bisa kupastikan bahwa dia perempuan paling cantik yang pernah kutemui. Dan lebih dari itu, dia bisa melompat seperti branjangan dan melesat seperti alap-alap. Apakah itu cukup menjawab pertanyaanmu?”

“Siapa pun yang bisa melompat seperti branjangan dan melesat seperti alap-alap, tak diragukan lagi, dia pasti memiliki sayap,” kata Kromo Yudho. “Maka kalian bisa pulang ke Malang sebab pemenang sayembara itu sudah jelas, yaitu aku sendiri, Kromo Yudho dari Japanan.”

Rombongan itu tidak pulang. Mereka terus bergerak hingga jauh menyeberangi laut, terus menyebarkan woro-woro sayembara di tanah Madura, sebab di sana, konon, tinggal seorang prajurit sakti yang bisa berjalan di atas air.

***

Safitri menutup pintu rumah ketika Kromo Yudho mengemasi barang-barangnya.

“Kau tak bisa pergi,” kata Safitri.

“Aku akan pergi sebab satu-satunya hal yang kuingini di dunia ini adalah menikah dengan perempuan bersayap. Dan itu jelas-jelas bukan kau.”

“Aku hamil,” kata Safitri.

“Dan itu urusanmu dengan perutmu sendiri. Urusanku adalah menemukan perempuan bersayap dan menikah dengannya. Dan perempuan itu kini sedang menungguku di Malang.”

“Kau lelaki tolol.”

Safitri tak beranjak ketika Kromo Yudho menyuruhnya menyingkir. Ia berdiri berkacak pinggang. Wajahnya terangkat, menantang Kromo Yudho. Kromo Yudho mendelik, lantas dengan satu gerakan cepat, menghantam kepala Safitri dengan kepalanya sendiri. Safitri mental, tubuhnya membentur pintu. Seorang bujang pembantu mereka buruburu datang dan berupaya melerai. Safitri bangkit terhuyung dengan kening berdarah.

Baca juga  Virgin

“Aku akan pergi ke rumah orang tuaku di Purwodadi. Dan mereka akan menghukummu!” ancam Safitri sambil menyeka keningnya.

“Aku akan datang sendiri ke orang tuamu di Purwodadi. Dan bila mereka melarang aku pergi ke Malang, aku akan membikin mereka menyesalinya.”

Safitri meraung. Lantas berlari.

***

Dari Purwodadi, Safitri pergi ke Nongkojajar. Pangeran Wongso, ayah Safitri, berkata bahwa ia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika mesti berhadapan dengan Kromo Yudho.

“Ia lelaki yang sudah pernah mengelilingi Pulau Jawa. Ia bukan sembarang orang,” kata Pangeran Wongso. “Jika ada yang bisa mencegah niatnya pergi ke Malang, itu mungkin guruku, Resi Sidik Wacono di Nongkojajar.”

“Tapi, Kromo Yudho akan ke Purwodadi dan menemui bapak,” kata Safitri.

“Akan kukatakan bahwa izinku untuknya tergantung pada Resi Sidik Wacono.”

***

Di Nongkojajar, beberapa hari kemudian, Kromo Yudho berdiri berkacak pinggang. Angin dingin dari puncak Bromo menggulung debu-debu halus. Sinar matahari menyengat dadanya yang telanjang. Kromo Yudho meludah tiga kali.

“Kau tahu, Safitri,” kata Kromo Yudho. Safitri meringkuk di balik tubuh ringkih Resi Sidik Wacono. “Di Purwodadi, kubikin bapakmu babak belur karena ia berbelit-belit. Dan kini, jika resi tua itu tidak juga mengizinkanku pergi ke Malang, akan kukirim dia ke liang lahat.”

Resi Sidik Wacono berdiri bertumpu pada sebatang tongkat. Tangannya gemetar dan pandangannya kelabu. Ia sudah hidup jauh lebih lama ketimbang semua orang yang ada di dunia. Karena itu, ia bisa membaca tanda-tanda yang dibawa angin atau yang disampaikan debu.

“Aku tahu hari ini aku akan mati di tanganmu, Kromo Yudho. Sama seperti aku tahu bahwa aku, Pangeran Wongso, maupun Safitri tidak akan pernah memberimu izin untuk ikut sayembara. Kau akan pergi tanpa restu. Namun, tidak berarti perjalananmu ke sini sia-sia belaka. Sebelum kau membunuhku, akan kubekali kau sebuah kutukan,” kata Si Resi.

“Segera katakan kutukanmu sebab aku tak sabar lagi mencekikmu.”

“Kau tidak akan pernah menginjakkan kaki di tanah Malang. Kau akan mati sebelum kau menghirup udara Malang.”

Baca juga  Hadiah di Ujung Maut

***

Safitri bercerita kepada sahabatnya— Ngatinah—bahwa suaminya bahkan tak perlu mencekik Resi Sidik Wacono. “Ia hanya menendang tongkat Resi Sidik Wacono dan Resi itu jatuh lalu meninggal,” katanya.

Safitri segera kabur begitu mengetahui Si Resi sudah meninggal. Dan berminggu-minggu kemudian, ketika ia kembali ke Japanan, ia mendengar kabar itu.

“Panji Pulang Jiwo dari Madura bertemu suamimu dalam perjalanan ke Malang. Mereka terlibat perkelahian begitu tahu bahwa masing-masing hendak mengikuti sayembara mengalahkan dan menikahi Probo Retno. Panji Pulang Jiwo membunuh suamimu dalam perkelahian itu,” kata orang-orang kepada Safitri. “Dan Panji Pulang Jiwo itulah yang kemudian berhasil mengalahkan Probo Retno, lantas menikah dengan putri itu, dan menjadi senopati Malang untuk menghalau para penyerbu dari Mataram.”

“Jadi, kini kau tahu, Ngatinah, Kromo Yudho tidak pernah menceraikanku,” kata Safitri. “Dia almarhum suamiku, bukan bekas suamiku.”

“Ya. Tapi, yang lebih penting dari itu, apakah Probo Retno memang benar-benar bersayap?” tanya Ngatinah.

Di luar mereka, genderang perang menderum dari barat. Dares-dares mencium amis darah dan mengepak-ngepakkan sayapnya yang sekelam malam. ■

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan Sayembara Novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: