Cerpen, Marina Novianti, Medan Pos

Seperti Capung

1
(1)

Capung-capung berterbangan di sekeliling Dame di halaman belakang rumahnya. Ada yang merah, biru, hijau, dan kuning. Duduk mencakung di samping cangkulnya, perempuan berambut sebahu yang diikat ekor kuda itu mengamati diam-diam, sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan. Belum pernah ia menyadari ternyata capung memiliki tubuh berwarna-warni. Selama ini dikiranya hanya kupu-kupu serangga bersayap yang cantik, ternyata capung pun indah. Sungguh-sungguh indah.

Dameria sedang beristirahat, setelah sedari tadi sibuk menggali lubang-lubang panjang di halaman belakang rumah peninggalan orangtuanya. Ia hendak menanam sayur-sayuran dan tanaman bumbu dapur. Supaya aku tak perlu lagi buang-buang uang beli ke pasar, pikirnya. Ya, uang adalah masalah besar bagi Dame, terlebih saat ini. Saat ketika seluruh dunia sedang dilanda pandemik Covid-19, dan banyak pekerja yang terkena dampak PHK akibat krisis keuangan yang dialami perusahaan tempat mereka bekerja. Termasuk Dame. Perempuan berwajah kayu itu menerima gaji terakhir beserta pesangonnya sebulan yang lalu, dan sejak itu ia mengurung diri di rumahnya. Terlalu berbahaya untuk pergi ke luar, banyak sekali yang sudah tertular, jumlah pasien yang positif semakin hari terus bertambah. Dame mengikuti informasi terkini tentang pandemik ini melalui internet. Bahkan untuk membeli koran pun ia tak mau lagi, padahal biasanya setiap pagi ia membeli koran di jalan saat berangkat kerja.

Setelah sebulan di rumah, Dame mulai merisaukan keadaan keuangannya. Ia tak pernah bisa menabung. Setiap menerima gaji, ia pasti segera mengirimkan ke anak-anaknya yang kini tinggal bersama mantan suaminya. Lalu ia juga mengirimkan uang kepada beberapa yayasan sosial yang menolong anak-anak jalanan, orang dengan gangguan jiwa, dan perempuan korban kekerasan.

Dan bulan lalu, setelah mendapatkan kabar bahwa ia terkena PHK, Dame sudah menghubungi yayasan tempat ia rutin berdonasi, mengabarkan ia tak lagi bisa mengirimkan uang donasinya. Tapi untuk anak-anaknya, ia tak sampai hati untuk tidak mengirimkan uang. Menurut perhitungan kasarnya, uang yang ada padanya saat ini hanya cukup untuk hidup sekitar dua bulan, bila ia tak bekerja lagi. Ini tidak baik, pikirnya. Benar-benar tidak baik. Namun Dame tak tahu apa yang bisa dilakukannya saat ini. Mengajar les piano lagi, jelas bukan pilihan. Selain semua orang saat ini lebih memprioritaskan pada menjaga kesehatan dan menghemat uang, sejujurnya Dame tak suka mengajar secara online, khususnya bila mengajar piano. Nggak dapat feel-nya, begitu menurut Dame, sambil meminum ramuan rempah-rempah yang diseduhnya sebelum mulai mencangkul di halaman belakang rumah.

Dame menatap galian tanah yang sudah dikerjakannya hari ini. Dia hanya sanggup menggali dua baris, kedua tangannya sudah gemetar kelelahan, dan punggung sakit karena terlalu lama membungkuk. Namun ia tak merasa kesulitan bernapas, atau terengah-engah. Mungkin ini karena empon-empon yang kuminum setiap hari, jadi aku tak gampang lelah, pikirnya sambil menghabiskan sisa cairan yang ada di gelas. Sambil meregangkan tubuh, Dame berdiri dan berjalan menuju dapur.

Baca juga  Suara dari Seberang

“Kakak minum apa?” Ria, gadis kurus yang tinggal membantu Dame di rumah sedang duduk di kursi dapur, sambil makan mie instan.

“Biasa, empon-empon yang kurebus tadi. Mau?” Dame menunjuk ke arah panci kecil berisi rebusan empon-emponnya.

“Rajin ya Kakak minum itu. Aku kok nggak suka ya Kak, rasanya,” Ria mengernyitkan hidungnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dame tertawa kecil melihat kepala gadis kurus berambut panjang itu bergoyang ke kiri dan ke kanan; seperti boneka yang sering ditaruh orang di dashboard mobil, yang kepalanya bergoyang-goyang tiap kali mobil bergerak, pikirnya geli.

“Kenapa nggak suka? Pedas? Padahal kalau makan mie instan kau tambahi sambal botol buanyaak sampai warna mie-mu jadi merah, kan?” Ujar Dame sambil menunjuk ke mangkok mie instan yang sedang dipegangi Ria.

Ria terkekeh-kekeh sampai hampir tersedak kuah mie yang masih terus ia makan. Dame pernah memarahinya karena hampir tiap hari makan mie instan. Nanti kau sakit, masuk rumah sakit, terus harus tidur di situ sebulan. Mau?? Begitu ancam Dame pada Ria, yang sejak itu berjanji untuk hanya makan mie instan seminggu sekali.

Mie instan kan enak tho Kak, lha empon-empon iku puedes dah gitu ambune aku ora tahann!” Ria mulai protes dengan logat Jawanya yang medok.

“Tapi khasiatnya, lho Dek. Kalau rajin minum secara teratur, tubuh jadi kuat melawan semua kuman penyakit, termasuk si Covid-19 jelek itu,” celoteh Dame sambil mencuci gelas yang ia pakai tadi.

“Hihihi Covid jelek… memangnya ada kuman yang cantik, Kak?” Ria tertawa sampai kepalanya terdongak ke belakang.

“Ada. Kamu!” teriak Dame sambil terbahak-bahak, mencipratkan air di kedua telapak tangannya ke arah Ria.

Kedua perempuan itu asyik bercanda dan tertawa-tawa, sampai tak menyadari ada seseorang yang sudah sedari tadi berdiri di depan pintu dapur, mengamati mereka berdua.

“Oiimaaakk… asik kali kelen ketawak-ketawak terus, macam tak pernah ada virus jahanam itu ya, dek!”

Dame dan Ria serentak terdiam dan menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata Namboru Tambunan, tetangga sebelah yang memang sering bertandang ke rumah mereka, yang menyapa mereka barusan.

“Lho Namboru, udah lama ngeliatin kami ya? Kok nggak kedengaran ya?”

“Iyalah! Awak panggil-panggil tadi dari halaman depan tak ada yang dengar awak. Karena gerbang nggak terkunci, masuklah awak. Ooh rupanya lalap kelen lagi ketawak-ketawak, pantasan tak dengar suara awak.”

Mendengar omelan Namboru Tambunan, Dame dan Ria saling menatap, lalu serentak tertawa bersama lagi. Entah kenapa, info bahwa keduanya semalaman telah tidur dalam keadaan gerbang tak terkunci karena mereka lupa menggemboknya, terasa sangat lucu bagi mereka. Lama-lama Namboru Tambunan pun ketularan ikut tertawa, walau tak paham apa yang ditertawakan kedua perempuan tetangganya itu. Lambat-laun tawa mereka mereda, dan sambil mengusap air mata dan dengan suara sedikit serak kebanyakan tertawa, Dame bertanya, “Ada apa Namboru datang pagi-pagi? Suara kami sampai kedengaran ke tempat Namboru ya, jadi mengganggu? Duh, maaf ya Namboru!”

Baca juga  Matahari Tanpa Cahaya

“Bukan, Dek. Amangborumu udah tiga hari batuk-batuk dan demam. Disuruh makan tidak mau, pahit lidahnya katanya. Boleh Namboru minta sedikit jahe merah di halamanmu, Dek? Mau Namboru rebuskan dulu dengan gula aren, biar sembuh dia. Kasian awak dengarnya terbatuk-batuk terus sepanjang malam. Jadi nggak bisa tidur kami semua serumah.”

“Wah, kasihan Amangboru. Sudah pergi ke dokter?” Dame bertanya, sambil menatap Ria dan tanpa suara menoleh ke arah halaman belakang, memberi isyarat agar Ria mengambilkan beberapa jahe merah langsung dari tanaman mereka yang tumbuh subur di sana.

“Nggak mau dia. Nanti terus dibilang positif sama dokter-dokter itu, kata amangborumu.”

“Positif Covid-19, maksudnya? Owalaah, Amangboru ini pun. Kalau demam sudah tiga hari memang perlu cek darah, Namboru. Karena bisa macam-macam kan artinya. Kalau dibilang positif dan kita sangsi, kita bisa pergi ke rumah sakit lain untuk minta dicekkan juga. Second opinion, istilahnya, Namboru.”

“Ah, sudahlah. Kau ‘kan tau, amangborumu itu keras kepala. Makin dibilang makin tak mau dia. Inipun semoga dia mau minum ramuan jahe dan gula aren nanti, setidaknya supaya lehernya tak gatal karena batukbatuk terus, juga supaya ada masuk ke perutnya. Sudah 3 hari tak bisa makan dia.”

Sementara itu Ria sudah kembali masuk ke dapur, membawa sebungkus kantong plastik jahe merah segar yang baru saja diambil dari halaman belakang. Ia menyerahkannya kepada Dame, yang langsung memberikan kepada Namboru Tambunan.

“Ini, Namboru, semoga Amangboru cepat sembuh, ya.”

Namboru Tambunan menerima sambil tersenyum dan menyalami tangan Dame.

“Maulaite, ya Dek. Kau memang baik. Namboru susah kalau harus pergi ke pasar untuk beli jahe merah. Ini pun masih syukur masih ada persediaan gula aren di rumah. Kalau habis, belum tau kapan Namboru bisa beli. Namboru tak berani sering-sering ke pasar, terlalu rame, nanti pulang-pulang Namboru bawak virus pulak ke rumah. Satu yang pergi, serumah yang sakit. Agoy amang!”

“Iya, Namboru. Sedih ya, orang-orang kok seperti pandang enteng sama Covid-19 ini. Di mana-mana rame, berdesak-desakan, masker pun tak dipakai, duh… macam kebal kuman aja mereka.” Dame menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menarik napas panjang.

Setelah Namboru Tambunan pergi, Ria berkata sambil menutupkan pintu depan, “Kak, kasian ya Amangboru. Namboru sudah tua, anak-anaknya kerja semua tak ada yang bisa ke pasar belikan bahan empon-empon…”

Dame hanya diam sambil memandang ke halaman belakangnya melalui pintu yang terbuka. Capung-capung masih berterbangan seperti tadi, ada yang biru, merah, kuning. Sungguh indah, pikir Dame. Tiba-tiba ia teringat bahwa para ahli lingkungan kerap mengatakan keberadaan capung di satu wilayah adalah pertanda bahwa wilayah itu masih layak dan sehat untuk menjadi lingkungan tinggal/habitat makhluk hidup. Dalam ekosistem, capung berperan penting selain sebagai indikator kesehatan lingkungan, juga sebagai pengendali serangga: karena ia memakan walang sangit, lalat buah, nyamuk dan serangga pemakan daun yang kecil-kecil. Begitu dulu Dame pelajari sewaktu kuliah di jurusan Biologi.

Baca juga  Mangkok Merah

Capung, berbagai tanaman rempah di halaman, baris galian tanah yang masih menganga, Amangboru Tambunan yang sedang sakit, wajah lelah Namboru, semua hal ini berkisar di kepala Dame, terus berputar di dalam benaknya, hingga akhirnya ia berkata,

“Dek, aku tak jadi menanam sayur. Tolong ambilkan umbi jahe kunyit, dan temulawak dari tanamannya. Oya anakan kembang telang juga. Kita tanam di galian yang sudah kubuat tadi. Kita perbanyak tanaman kita, supaya kalau sudah bisa dipanen nanti, kita bisa buat empon-empon yang banyak untuk kita jual di depan rumah. Supaya tetangga kita semua seperti Namboru Tambunan, tak perlu pergi ke pasar atau repot buat sendiri. Mulai besok, kita jualan empon-empon, Dek. Pakai dulu yang sudah kau ambil tadi dari halaman.”

Ria terdiam, dua menit berlalu dalam hening di ruangan dapur itu. Hanya terdengar suara meongan Bonnie, kucing peliharaan Dame, yang sedari tadi merasa diabaikan oleh kedua perempuan yang biasanya kerap bercanda dengannya.

“Kok tiba-tiba Kakak terpikir untuk jualan empon-empon, Kak? Apa karena Namboru Tambunan tadi?”

Dame tak menjawab. Matanya terus menatap capung-capung yang masih berputar-putar mengelilingi sela-sela tanaman rempah-rempah. Tak ada yang kebetulan, segala sesuatu berkaitan, batinnya. Capung-capung itu sudah sejak awal hadir di halaman Dame, namun baru hari ini ia sadar akan keindahan dan diingatkan kembali makna dan fungsi keberadaan capung di lingkungan.

“Aku ingin sepertimu,” janji Dame dalam hati. “Walau kerap diabaikan, walau tak seindah kupu-kupu dan tak sebesar burung-burung, kau memaknai dunia dengan caramu yang unik. Aku ingin sepertimu. Berjualan empon-empon akan menolong tetanggaku dan orang lain untuk dapat membeli ramuan yang berkhasiat bagi kesehatan di masa pandemik ini. Dan semoga menjadi mata pencaharianku yang baru. Kecil, sedikit, namun berguna. Sepertimu, capung.”

(MN, Agustus 2020)

Catatan:

Empon-empon: ramuan/rebusan tanaman herbal yang berkhasiat bagi kesehatan

Namboru: Bibi

Amangboru: Paman

Agoy amang: Seruan dalam Bahasa Batak

Lalap: asyik

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: