Cerpen, Medan Pos, Mei Elisabet Sibarani

Septemberku

1
(1)

Menantimu bukanlah sebuah hal mudah, bertahun lamanya kami meminta pada sang Esa agar kau menghiasi hari-hari tua, bahkan sampai ajal menjemput untuk duduk di sisinya. Banyak wujud doa yang kami panjatkan hingga doa kami terkabul, sepuluh tahun lamanya kini kau hadir. Aku percaya Tuhan cukup adil kepada hambanya.

“Terima kasih, kau telah melahirkan buah hati kita.” kataku pada istriku sambil mengecup keningnya.

“Iya, makasih juga atas perjuanganmu padaku dan keluarga kita.”

“Semua sudah rencana Tuhan untuk kita, beginilah berkat yang kita terima dari segala usaha dan doa kita sayang.”

Sebuah rasa yang tidak terungkapan dengan kata apapun itu, dengan tindakanlah sekarang bisa dibuat. Pengorbanan sudah terbalas lahirnya seorang bayi lelaki yang dititipkan Tuhan kepada kami, begitu banyak yang ditempuh. Berobat ke sana dan ke sini, semua saran kami terima dengan lapang dada. Tanpa ada kata pantang menyerah, selagi masih percaya dengan jalan yang telah dipilih Tuhan.

Setelah rasa kebahagian karena sosok bayi kecil yang telah hadir, kini saatnya menjaga dan merawatnya penuh kasih sayang. Mengenalkan beragam kebaikan dan sesuai jalan yang dikasih Tuhan. Dulu hampir pasrah dengan keadan, seperti tidak akan kemungkinan menimang bayi kecil lagi. Namun, kerinduan kini sudah terkabul, hanya sebuah ungkapan terima kasih kepada Tuhan telah memberi karunia yang selama ini dinanti.

“Nama apa yang pas buat anak kita ya? Apa kau punya saran?” tanyaku pada istri.

“Apa ya? Bagaimana kita buat namanya Karunia Revaldo. Kau setuju?

“Itu namanya yang bagus. Aku setuju.”

“Alasanku memberi nama itu adalah anak kita ini sebuah karunia dari Tuhan yang kita tunggu sejak lama dan kini dia hadir.” jelas istriku.

Baca juga  Membunuh Novia di Bulan Desember

“Baiklah, Sayang.”

Sebuah nama yang disematkan kepada anak adalah sebuah doa yang diberi orangtua. Doa yang diharapkan yang akan selalu terjadi pada anak, semua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Mulai dari nama bahkan sampai semua yang dia perlukan, pasti diberi yang terbaik tanpa kecuali. Selagi sanggup kenapa enggak dilakukan.

Setelah perjalanan panjang, segala suka dan duka telah kami rasakan setelah kelahiranya. Kini usianya sudah lima bulan, tumbuh kembangnya begitu cepat. Sudah mulai merespon jika sedang diajak bicara. Sungguh sebuah obat penghilang penat dan lelah ketika pulang bekerja. Namun itu tidak bertahan lama diberi pada keluarga kami. Sebelum masuk usianyanya enam bulan, bayi kecilku sepertinya mengidap penyakit yang membuat berat badannya dratis turun.

Entah apa yang terjadi padanya, setiap dibawa ke rumah sakit, bidan dan sebagainya semua mengatakan penyakitnya berbeda-beda. Membuat aku dan istri menjadi dilema, harus ke mana kami membawanya. Ada salah satu rumah sakit yang mengatakan anak kami kekurangan zat besi, tetapi aku tidak percaya kenapa baru sekarang, kenapa tidak pada saat dia lahir ke dunia yang fana ini para dokter mengatakannya.

“Sayang, bagaimanalah ini. Kita bawa ke mana? Aku hampir gila.” kata istriku dengan tangisan yang tak terbendung.

“Sabar, Sayang. Semua akan ada jalannya. Kita telepon orang Mama di Medan dulu ya.”

“Iya, aku sudah bingung harus gimana dan mau ke mana lagi.”

Benar semua terjadi begitu saja, salah satu jalannya kami menelpon Mama di Medan, kebutulan bulan ini orang tuaku akan ke Batam. Di saat seperti ini aku tetap bersyukur karena masih diberi jalan untuk semangat melanjutkan pengobatannya. Benar, seminggu kemudian kedua orang tuaku datang ke Batam. Kebetulan di sini ada acara pernikahan keluarga. Sungguh aku selalu bersyukur.

Baca juga  Di Klinik Ibu dan Anak Takahashi

Sebulan setelah mereka di sini dan akhirnya kami memutuskan membawa putra kami berobat ke Medan berharap dia akan sembuh, apalagi lebih memudahkan ke mana-mana dan banyak yang bakal merawatnya di sana. Ini sebuah keputusan yang berat, sebab harus meninggalkan kesibukan yang di Batam. Namun, semua tidak lebih penting dari kesembuhan putraku.

“Bu, terima kasih kalian sudah mau datang dan memberi solusi kepadaku.” kataku pada Ibu.

“Iya, Nak. Dia cucuku, pasti aku melakukan hal yang terbaik buatnya. Anugerah Tuhan yang telah dititipkan kepada kita harus kita jaga.”

“Iya, Bu. Bantu kami ya, Bu.”

Setelah tiba di Medan, kami langsung mencari tahu pengobatan apa sebaiknya kami lakukan. Kami mulai dengan berobat ke orang pintar, memang ini sebuah jalan yang berat harus memilih ke situ dahulu. Namun, karena semenjak di sana dibawa ke dokter belum ada perubahan. Setelah sudah berapa bulan berobat ke orang pintar, sedikit telah terjadi adanya perubahan yang terjadi, badan putraku semakin segar tidak seperti dulu sebelum di sini.

Lagi-lagi aku tidak berhenti bersyukur sama Tuhan, masih memberi kesempatan untukku dan keluarga. Cuman belum puas sampai situ, badannya masih lemas, tulangnya semakin lemah. Ternyata di balik itu ada yang terus menjaga dia kata orang pintar itu, semua berjalan dengan baik, setelah itu mulai beralih ke pengobatan terapi agar tulang-tulangya bisa berkembang. Apapun yang di sarankan kami tetap melakukannya. Begitu tahun ini sebuah pengujian bagiku, tanpa sadar ini adalah cara Tuhan untuk aku semakin mengingatnya.

Mau memasuki dua bulan dalam proses terapi putraku tiba-tiba kesehatannya semakin lemah dan posisinya aku berada di luar Medan, benar setelah aku mengantar anak dan istriku ke rumah orang tua, aku kembali ke Batam, itu semua kulakukan agar kami bisa menyambung hidup. Gunda gulana memikirkan ini, semua seperti menyakitkan. Ujian ini terlalu berat. Sudah enam bulan lamanya mereka di sana, tetapi belum bisa sembuh juga.

Baca juga  Seperti Capung

Memasuki bulan baru, sebuah palung duka telah menghiasi awal September. Menjadi saksi tetesan bening membanjiri kedua pipi, memohon pada Tuhan hal baik di sebuah awal. Namun, tidak semua itu bisa terjadi. Sebab dibalik doa terselip kata terjadilah sesuai kehendak-Mu. Maka ini sebuah kehendak yang diberi Tuhan. Tidak bisa dipungkri tahun ini sebuah pilu, tak ingin menyalahkan takdir, sebaiknya menerima. Aku tahu itu sulit, bagaimana pun semua telah terjadi.

Tuhan ambil putraku dari pelukan kami, hanya satu tahun tiga bulan Tuhan mengizinkan untuk menjaganya. Semua serasa tidak adil, mengapa hanya sebatas ini, hampir enam bulan tidak bertemu dengannya, tidak bisa melihat, menyentuh, dan menciumnya. Sekarang aku harus melihatnya secara langsung terbaring kaku tanpa hembusan nafasnya. Paling menyakitkan dia pergi ke pangkuan Sang pencipta pada saat usiaku bertambah. Berat sekali, apa semua ini sudah takdir, keinginan Tuhan agar aku selalu mengingatnya di saat usiaku bertambah. Terima kasih September kau cukup kukenang. (*)

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. ersacia

    aneh, bawa bayi ke orang pintar. ke dokter spesialis anak doooong

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: