Azwim Zulliandri, Cerpen, Singgalang

Tuan dan Tamu

4.4
(10)

KUSAMPAIKAN kepadamu dari awal ini, sebenarnya kita ini sama saja. Kebutuhan biologis kita sama. Hanya saja, jika kau menganggap “Makan adalah untuk hidup,” maka aku menganggap “Hidup adalah untuk makan.” Perbedaan yang tipis memang.

***

Aku terkurung di halaman rumah sendirian. Sementara pintu dan pagar dikunci oleh tuan. Sudah dari pagi tuanku pergi dari rumah. Akhir-akhir ini kuperhatikan dia sangat panik. Sudah beberapa bulan ini kulihat dia tidak pergi bekerja dan hanya berdiam diri di rumah. Ditambah lagi beberapa minggu lalu, anak dan istrinya telah pergi dari rumah ini.

“Tidak ada pilihan lain, Sondang, baiknya kau dan anak kita Monic pulang kampung saja. Biarlah aku di sini selama masa pandemi korona ini. Kau tahu bukan, pariwisata lagi sepi-sepinya sekarang. Sebagai sopir bus pariwisata, pandemi ini mematikan rezeki kita. Belum lagi sewa rumah, listrik, dan air yang akan dibayar tiap bulan. Bah, pening kepalaku. Jadi, untuk sementara waktu, baiknya kau dan Monic balik dulu ke kampung,” kata tuanku ketika itu pada istrinya. Aku hanya bisa menyimaknya.

Nyonya Sondang hanya bisa tertegun. Kuperhatikan sepertinya dia menyetujui ucapan suaminya itu. Maka, sejak kepergian Nyonya Sondang bersama anaknya beberapa minggu yang lalu, rumah hanya dihuni oleh tuan dan aku.

Sekarang, sepertinya persedian makanan di rumah ini telah habis. Sementara, semenjak tuan pergi pagi tadi, tidak ada ditinggalkan makanan untukku. Padahal, selama ini dia sangat perhatian padaku. Aku sangat gelisah. Perutku terasa sangat lapar sekali. Aku mencoba untuk masuk ke dalam rumah, tetapi tidak bisa karena dikunci. Untuk keluar dari halaman ini pun juga tidak bisa karena terhalang teralis besi.

Kuperhatikan ke sekeliling halaman rumah petak ini, tampak di pojok pagar dari luar ada sebuah gundukan kantong kresek hitam berisi sampah. Aku berusaha meraih gundukan itu dari halaman. Kusorongkan moncongku di sela-sela jeruji pagar. Rasa lapar membuatku semakin beringas. Kantong kresek itu berhasil kuraih dengan gigitan tajamku. Kupaksakan untuk bisa masuk ke dalam halaman rumah ini. Saking kuatnya gigitan dan tarikanku, membuat kantong itu robek dan isinya berceceran.

Tetesan liurku jatuh seraya mengambil sisa-sisa makanan dari ceceran kantong kresek. Tak peduli aku makanan itu sudah sisa atau tidak, sudah basi atau belum, yang penting aku makan. Sudah kukatakan tadi, bagiku, “Hidup adalah untuk makan.” Aku terlahir hanya untuk memenuhi kebutuhan nafsuku. Barangkali kau juga begitu bila berada di posisiku.

Asyik aku makan, tetiba datang seseorang. Sepertinya orang itu tidak biasa datang ke sini. Pakaiannya sangat rapi dan necis. Wajahnya sangat asing bagiku. Lantas aku menyalak dengan garang. Dia terkejut dan urung untuk mendekat. Dia terus mengamatiku. Aku pun terus menyalaknya. Sepertinya ia hendak ke sini. Di tangannya ada sebuah bingkisan bergambar lelaki berdasi disertai dengan tulisan. Karena aku terus-menerus menyalaknya, ia pun pergi.

Baca juga  Muncak Ilang

***

“Kita harus bisa memanfaatkan situasi. Situasi pandemi korona ini adalah situasi yang sangat bagus bagi kita. Pilkada akan dihelat sebentar lagi. Sekaranglah waktu yang tepat bagi kita mempersiapkan strategi pemenangan,” ucap Bang Riyu kepada para bawahannya. Untuk tahun ini Bang Riyu yang seorang bankir dan pengusaha furniture itu akan terjun dalam perebutan kursi wali kota. Dia akan bersaing dengan petahana yang menurutnya selama masa menjabat sangat tidak becus. Padahal, di hati masyarakat, wali kota saat ini sangat memiliki kinerja yang baik. Ya, namanya politik, berbagai upaya dilakukan untuk mencari kelemahan lawannya.

“Baik, Bang. Tapi maaf sebelumnya Bang, bagaimana langkah dan strategi kita di masa pandemi ini? Bukankah pemerintah melarang kita untuk mengumpulkan massa?” tanya salah seorang bawahannya.

Mendapat pertanyaan itu, Bang Riyu tersenyum tipis. “Saat ini masyarakat membutuhkan masker dan persedian sembako. Kalian cetaklah banyak-banyak masker bertuliskan namaku, serta kalian bagikan beberapa sembako yang diberi bingkisan bergambar Riyu. Dengan begitu, masyarakat akan semakin mengingat dan mengenalku.”

“Tapi, Bang… petahana juga melakukan hal yang sama beberapa minggu terakhir ini. Kuperhatikan gelegak pemerintah sangat jor-joran memberi bantuan sembako,” kata yang lain menimpali.

“Iya, aku tahu itu. Itu sudah hal yang sangat biasa dalam politik. Kalau dia melakukan hal itu sangat wajar. Toh, uang yang keluar juga bukan dari kantongnya, melainkan dari kantong kas daerah atau negara. Uang rakyat juga. Tapi perlu kau ketahui, tindakan pemerintah saat ini bukannya tiada cacat. Memang pemerintah memberikan bantuan kepada rakyatnya, tapi kenyataan di bawah bagaimana? Apakah bantuan itu tepat sasaran? Bahkan, bantuan yang diberikan sangat banyak yang tidak merata dan salah sasaran. Nah, ini kesempatan bagus bagi kita. Kita harus bisa memancing di air keruh.”

Bawahannya mulai mengangguk-angguk pertanda mereka mulai paham. Ada rasa optimis pada tatapan mereka setelah mendengar arahan dari Bang Riyu. “Baiklah, Bang. Aku paham maksud Abang. Jadi, kita bertugas untuk mencari kantong-kantong suara yang alokasi bantuan di sana tidak merata atau yang tidak tersentuh bantuan pemerintah sama sekali. Di sanalah nanti kita menyusup memberi bingkisan dari Abang. Dengan begitu, nama Abang akan diingat oleh masyarakat,” kali ini tangan kanan Bang Riyu, Renold angkat bicara.

“Yap, benar sekali.”

***

“Pilo, berisik lagi kutokok kepala kau! Diam! Jangan berisik!” kata tuan membentakku. Lantas disodorkannya sepiring makanan ke moncongku. Aku diam seketika. Tiba-tiba datang seseorang menyapa tuan.

Baca juga  Tangisan Sedu Sedan di Antara Siaran Iklan Radio

“Selamat sore, Bang Sihar,” kata orang itu. Di tangannya ada sebuah amplop dan bingkisan bergambar lelaki berdasi. Dia adalah orang yang tadi kusalak. Sepertinya dia tamu yang istimewa.

“Iya, selamat sore,” kata tuan sedikit heran. Sepertinya tuan tidak mengenal orang itu.

“Maaf, Bang, saya Renold. Ini ada sedikit bantuan dari Bang Riyu, calon wali kota kita,” katanya. Dia memberi amplop dan bingkisan itu kepada tuan. Lalu aku menyalak satu kali padanya.

“Hei, Pilo, diam!” tuan membentakku sembari memukul kepalaku. Kemudian tuan mengambil pemberiannya dan berbicara dengan orang itu. “Terima kasih, Pak. Saya memang lagi membutuhkan bantuan ini. Oh ya, kok Bapak tahu nama saya?” sambung tuan dengan sopan kepada orang yang lebih muda darinya itu.

“Hahaha… siapa yang tidak kenal dengan Bang Sihar. Meski Bang Sihar hanya seorang sopir bus pariwisata, tapi Bang Sihar sangat tersohor di mata saya. Orang yang sangat disegani di kecamatan ini, bahkan di kota ini,” ucap tamu tuanku.

Tuan tersenyum sinis mendengar ucapan orang itu. “Aku paham maksud Bapak sekarang. Aku tahu, sebentar lagi akan ada pilkada. Sekarang to the point saja, apa yang bisa aku lakukan?” tanya tuan pada orang itu. Entah kenapa tuan memanggil “Bapak” padanya, padahal tuan lebih tua darinya. Hem, mungkin karena tamunya ini berpakaian rapi dan istimewa di mata tuan. Sambil makan, aku tetap menyimak perbincangan mereka.

“Abang ini pengalamannya tidak diragukan lagi,” katanya seraya menepuk-nepuk pundak tuan. “Baiklah, Bang. Kami dengar, masyarakat di sini belum ada mendapat bantuan sama sekali. Jadi begini, Bang. Saya minta kesedian Abang untuk membantu pemenangan Bang Riyu dalam pertarungan dia sebagai calon wali kota,” lanjutnya.

“Hem… ini namanya pucuk dicinta ulam menjulai. Aku memang lagi panik dengan keadaan sekarang ini. Ditambah lagi, tadi di kantor kelurahan dan kecamatan aku ngamuk-ngamuk. Masak aku tidak dapat bantuan, sementara orang yang lebih berkecukupan dariku dapat. Ini kan aneh,” kata tuan sedikit geram.

“Nah, itulah yang kami butuhkan dari Abang,” kata si tamu seraya tersenyum puas.

***

Rumah petak yang disewa tuan berubah menjadi tempat lumbung makanan dan sembako. Sementara, semenjak tuan diberi amplop dan bingkisan oleh orang itu, aku ditempatkan di tempat semula: sebuah jeruji besi yang hanya muat diisi oleh tubuhku.

Aku hanya bisa menyalak dari dalam jeruji ini. Dari pagi tadi, tuan belum memberi aku makan. Sementara ia sibuk melayani warga. Silih berganti orang-orang datang ke rumah ini. Mereka datang untuk mengambil bingkisan bergambar lelaki berdasi. Aku pun menjadi terlupakan. Aku butuh makan. Perutku sangat lapar, setan. Sudah kukatakan dari awal padamu bahwa prinsipku: “Hidup untuk makan.” Aku terlahir hanya untuk memenuhi kebutuhan nafsuku.

Baca juga  Rara Jlegong

“Ingat, namanya Bang Riyu. Dia orang yang baik dan dermawan. Dia itu sudah kaya dan tidak butuh kekayaan lagi. Dia bukan tipe orang yang haus jabatan. Orang seperti itulah yang harusnya menjadi pemimpin kita,” kata tuanku kepada setiap orang yang datang ke rumah ini.

“Ya, Bang, setuju aku dengan cakap Abang,” kata seseorang dengan sedikit senyum yang dipaksa. Ia pun pergi membawa bingkisan yang diberikan tuan. Dia menoleh ke arahku. Lantas, aku menyalaknya. Tampak ia terkaget mendengar suaraku.

Selepas orang itu pergi, datang lagi beberapa orang lelaki berbadan tegap dan berseragam. Karena perutku sangat lapar, aku pun menyalak mereka. Sejurus kemudian, tuanku keluar dari dalam rumah.

“Maaf, Pak, mau cari siapa, ya?” tanya tuan kepada mereka. Aku pun terus menyalak. “Hei, Pilo… diam!” sambung tuan padaku. Aku pun diam.

“Apa benar ini rumah Pak Sihar?” kata salah seorang dari mereka kepada tuan.

“Iya. Benar, Pak. Saya Sihar.”

“Bawa semua barang-barang ini ke kantor,” kata lelaki itu kepada temannya yang lain. “Dan Bapak, sekarang mari ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan,” lanjutnya pada tuan.

“Eh, ada apa ini, Pak? Kenapa saya dibawa? Apa salah saya? Dan kenapa semua barang ini dibawa?” tuan tampak kebingungan.

“Riyu Ternama, calon wali kota Anda itu tadi malam ditangkap karena diduga melakukan penggelapan dana nasabah dan pencucian uang. Saat ini Anda dan barang-barang ini kami bawa ke kantor sebagai barang bukti. Semua keterangan Anda sangat kami butuhkan,” ucapnya.

“Apa? Tapi saya tidak tahu apa-apa, Pak.”

“Ya, nanti saja dijelaskan di kantor,” ucapnya. Lantas tuan digiring masuk ke dalam mobil.

Lagi, aku terus menyalak dengan lantang. Sementara, mereka yang membawa tuan telah hilang dari pandangan. Aku sangat lapar. “Sialan, tuan pergi tanpa meninggalkan makanan,” rutukku. Aku harus menyalak dengan kencang agar orang di luar sana membebaskanku dari kurungan ini. Tidak peduli aku dengan keheningan sekitar perumahan. Bagiku, hidup adalah untuk makan. (*)

Sungai Harapan, Desember 2020

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 10

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Hidup untuk makan atau makan untuk hidup.

    Cerpen nya luar biasa pak..

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: