Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Daun Jatuh Tidak Tergesa-gesa

4.4
(17)

“Sedang minta apa, Yah, sama Allah,” kata istri saya usai doa panjang saya di suatu Duha, “kok doanya panjaaang banget?”

Saya terdiam. Saya seperti merasa ada yang salah. Pertanyaan itu tidak akan keluar kalau berdoa-panjang adalah sebuah kemendadakan. Pertanyaan itu memiliki bagian tak terkatakan bahwa selama ini saya tidak pernah berdoa sepanjang itu, sekhusyuk itu, setiba-tiba itu.

Saya jadi teringat, jawaban salah seorang pengurus masjid di kompleks ketika saya mengungkapkan kegembiraan atau kebanggaan pada banyaknya remaja lelaki yang rajin salat di masjid. “Bahkan mereka doanya lamaaa banget ya, Pak,” sambung saya. “Jadi iri saya,” lanjut saya lagi.

“Biasa, Benn,” pengurus masjid itu nyengir. “Namanya juga musim tes.”

“Musim tes?” tentu saja saya penasaran.

“Ya, sebentar lagi kan ada bukaan tes polisi, tes tentara, STAN, CPNS, dll. Sudah biasa itu. Anak-anak muda itu mendadak saleh dan relijius. Ah, salah pula ‘kan Bapak ngomong kayak gini.”

Saya memikirkan kata-kata pengurus masjid itu.

“Jangan ngira bapak suuzon lho. Ini berdasarkan pengalaman saja. Benn kan sering salat ke masjid, ‘kan?”

Saya diam. Masih memikirkan kata-katanya yang jleb tadi.

“Kalau mereka nggak mendadak alim gitu, ‘kan, nggak mungkin kamu bilang kayak tadi, Benn.”

Ya ya ya.

“Segala yang mendadak itu, patut dicurigai, Benn.”

Segala yang mendadak. Ya, segala yang mendadak.

“Yang paling kentara adalah para mereka yang disulap Pilkada jadi pejabat baru. Tidak harus menunggu setahun, pakaian mereka mendadak bagus-bagus, makanan yang masuk ke perut pun mendadak yang enak-anak, kendaraan mereka pun mendadak ganti yang baru atau bahkan nambah, gaya berjalan mereka—karena sudah turun dari mobil bagus—mendadak jemawa, omongan mereka pun mendadak sebelas-dua belas dengan Mario Teguh atau Ustaz Solmed yang tanpa kita tanya pun mereka akan kasih nasihat dan kata-kata mutiara.”

Baca juga  Literasi yang Mengerikan di Punggung Picasso

“Ah, Bapak bener nih!”

“Emang bener!” tukasnya. “Segala yang mendadak itu patut dicurigai. Tidak ada yang mendadak itu alami. Ia, tanpa dirasakan oleh orang yang bersangkutan, sebenarnya hal yang dipaksakan, yang diharusjadikan, yang terjadi karena tekanan harus begini dan begitu.”

Tiba-tiba saya teringat doa panjang saya yang dikomentari istri. Saya adalah anak muda mendadak saleh karena ada maunya itu dan istri saya adalah pengurus masjid yang hafal siapa saja warga kompleks yang ke masjid tidak dengan mendadak.

Saya melongok ke Alquran dan kumpulan cerpen di atas lemari rendah di tengah rumah. Di belakang, istri berteriak apakah saya ingin ngopi setelah Duha itu atau setelah Zuhur saja. Ya, dia hafal, beberapa bulan ini saya membatasi diri untuk hanya ngopi satu gelas sehari.

Di luar, saya lihat Maura sedang bermain dengan kelinci di pekarangan. Putri saya yang baru tiga tahun itu mendongak seraya menunjuk-nunjuk kanopi ketapang yang merindanginya. Saya berjalan keluar dan mendapati tupai sedang bertengger di antara daun-daun ketapang yang mulai menguning.

Tupai itu melompat, Maura berteriak kegirangan. Ia kembali mengejar kelinci yang melompat-lompat di pokok sawo. Tapi, mata saya masih tertegun ke ranting ketapang yang ditinggalkan tupai itu. Dua helai daunnya yang menguning terlepas, lalu melayang-layang oleh angin yang berembus sedang pagi itu. Seperti janjian, kedua-duanya melayang dan perlahan-lahan turun ke hamparan rerumputan. Satu-dua detik kemudian mereka mendarat dengan indah, dengan tenang, tanpa tergesa-gesa ….

Kemendadakan memang patut dicurigai karena ketidakalamiannya, karena … alih-alih menghadirkan keindahan dan keteduhan sebagaimana yang dipertontokan daun-daun ketapang yang sudah kuning itu, ia hanya akan menghadirkan ketaklaziman dan pertanyan-pertanyaan.

Baca juga  Engku Badar

Saya berbalik dan sudah mendapati segelas kopi dan sepiring kelepon di beranda. “Ayah sudah ngaji, ‘kan?” teriak istri dari dapur.

 

Lubuklinggau, 27 Januari 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 17

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Joana Zettira

    “segala yang mendadak memang patut dicurigai” ini quotable banget hihihi

  2. Firman

    Ini seperti tamparan keras. Orang bisa mendadak alim kalo ada maunya saja, Kalau lagi susah dan butuh prtolongan. 😭

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: