Atina Rahmawati, Cerma, Kedaulatan Rakyat

Hati Kutub Utara

4.5
(2)

HUJAN deras mengguyur kota pelajar, kini seorang gadis sedang duduk sendirian di depan gerbang sekolah Merah Putih. Pakaian sudah basah kuyup akibat terguyur air hujan. Indra matanya melihat seorang cowok berkulit langsat sedang melewatinya menggunakan sepeda merahnya.

Dia bernama Ardian Nanjassara, yang kerap dipanggil Nanjas. Dia cowok paling dikagumi para kaum hawa di SMA Merah Putih. Namun sayang dia memiliki sifat dingin seperti Kutub Utara.

Sebenarnya aku sudah kenal lama dengannya, dia kakak kelasku waktu SD dan kini ia juga menjadi kakak kelasku lagi di SMA. Padahal dulu ia sangat ramah, dia juga perhatian kepadaku, namun itu dulu sewaktu masih di bangku Sekolah Dasar.

Kini aku masih menaruh hati kepadanya dan aku kira dulu hanyalah cinta monyet namun tidak, aku benar-benar mencintainya dengan tulus. Namun sayang aku tak pernah mengungkapkan kepadanya, bukan karena gengsi tapi karena aku punya prinsip tidak ingin berpacaran karena itu termasuk zina.

“Rara…,” sapa seseorang dan aku pun menoleh dengan kusuguhi senyumanku.

“Kamu belum dijemput?” tanyanya.

“Belum nih, Si,” jawabku.

“Kulihat kamu dari tadi melamun terus kamu lihatin Kak Nanjas, cieee… aku tau kamu pasti belum muve on ya?” goda Sisi.

“Ih kamu apaan, aku enggak lihatin dia kok,” elakku dengan sebal.

“Ngaku aja deh, Ra,” godanya lagi.

Tin…tin… (suara klakson mobil)

“Udah ah, aku mau pulang tuh ayahku sudah jemput, byebye…,” ucapku sambil meninggalkan ya.

“Yah, kok gitu, Ra. Ya udah deh, hati-hati ya Ra,” teriak Sisi sambil melambaikan tangannya.

Lalu aku masuk ke mobil dan ayahku langsung melajukanya. Saat di perjalanan, aku melihat kendaraan seperti semut merangkak di lampu lalu lintas. Hatiku mulai bimbang, entah harus mengungkapkannya atau menyimpannya dalam diam. Karena cinta di dalam hatiku sungguh menyiksaku, setiap hari dan setiap saat aku selalu memikirkannya.

Baca juga  Rival

Tuhan, bolehkah aku mencintainya, batinku.

“Nduk, udah sampai kok dari tadi melamun terus? Sebenarnya ada apa?” tanya ayah yang menyadarkan aku dari lamunan.

“Eh endak kok, Yah. Rara hanya melihat air hujan saja,” bohongku.

Lalu aku dan ayah pun turun dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar dan bersih-bersih diri. Setelah itu aku melaksanakan salat asar.

Selesai salat, aku duduk di meja belajarku dan mengambil sebuah buku yang selalu menjadi teman kesah keluhku. Kugores sebuah kata dan kuceritakan semua isi hatiku di lembarannya.

Setelah selesai kuputuskan, aku tidak akan mengungkapkan isi hatiku kepada kak Nanjas. Lebih baik kusimpan daripada kuungkapkan. Aku pun pasrah kepada Sang Pencipta, jika dia jodohku pasti kita akan dipersatukannya.

(Atina Rahmawati, pelajar, umur 16 tahun).

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: