Cerpen, Eli Rusli, Kedaulatan Rakyat

Kambing Sulastri Bunting

3
(9)

HIDUNG Gino hampir saja mencium pohon nangka yang berdiri satu setengah meter dari kandang kambing milik Sulastri. Andai saja dia melonjak dengan seluruh energi dalam tubuhnya, hidungnya akan terasa nyeri menyerempet batang pohon yang baru berumur setahun itu. Dan kegembiraannya akan berkurang. Terngiang ucapan Sulastri, janda muda pemilik kandang kambing yang diurus Gino saat menyerahkan sepasang kambingnya.

“Jika kambingnya beranak lebih dari satu! Mas Gino boleh ngambil seekor sebagai hadiah dariku.”

Detik itu juga dalam hati lelaki setengah tua itu berjanji akan mengurus sepasang kambing itu agar bisa beranak banyak. Mimpi Gino tidak setinggi politisi yang berebut menjadi wakil rakyat. Dia hanya berharap mempunyai seekor kambing guna membiayai sekolah anaknya.

Embun pagi belum dijilat tandas oleh raja siang ketika Gino datang ke kandang kambing. Rumput hijau hasil menyabit kemarin masih tersimpan dalam keranjang bambu belum diberikan kepada kambingnya. Sepasang mata Gino jeli menyusuri celah-celah kayu tempat sepasang kambing menyembulkan kepalanya. Ada perubahan besar pada kambing betina. Mulutnya rakus menghabiskan sisa-sisa rumput kemarin. Perutnya membesar dan bulunya lebih mengkilap dari biasanya. Berdasar pengalamannya mengurus kambing, Gino seratus persen yakin jika kambing betina itu bunting. Mata Gino berbinar-binar hingga tidak sadar dia melonjak keras-keras.

Setelah rumput dalam keranjang bambu disodorkan kepada sepasang kambing, Gino melangkah lebar-lebar diselingi lari-lari kecil menyusuri jalan setapak menuju rumah Sulastri. Berita penting ini harus segera mendarat mulus di sepasang daun telinga Sulastri. Kaki kanannya yang terantuk batu kecil tidak dipedulikannya. Wajah Rudi yang sedang memancing belut di pematang sawah heran melihat Gino yang berjalan seperti dikejar setan. Rudi hendak mengambil cacing ketika matanya beradu dengan tubuh Gino.

Baca juga  Perempuan yang Mencari Sepasang Mata

“Mas! Mas Gino! Mau ke mana?” Suara Rudi berteriak memanggil Gino.

Kaki Gino mengerem mendadak. Kepalanya berbalik arah menghadap datangnya suara.

“Mau ke rumah Sulastri. Kambing Sulastri bunting!” teriak Gino.

“Apa? Sulastri bunting?”

“Ya!” balas Gino sambil lalu.

Pikiran Rudi berputar sejenak. Sulastri bunting? Siapa yang menyentuh selangkangannya? Rudi menoleh kepada Dadi yang tampak asyik dengan pancingannya.

“Dad! Kamu dengar tadi kata Mas Gino?”

“Diam! Pancinganku bergerak-gerak.”

“Sulastri hamil?”

“Apa? Sulastri hamil? Siapa yang menghamilinya?”

Dadi tercengang mendengar ucapan Rudi. Pancingannya dilupakan sejenak. Dadi dan Rudi tidak saling bicara. Pikirannya mengawang-awang membayangkan janda muda yang cantik hamil tanpa mengetahui siapa lelaki yang berani menidurinya.

Sore hari di warung Bu Somad, tidak jauh dari kantor kepala desa, mulut Nuni, istri Rudi menggebu-gebu menceritakan kehamilan Sulastri.

“Jangan-jangan lakinya Si Nandar yang sebulan sekali datang ke rumahnya.”

“Ga mungkinlah! Bisa saja Haji Kresno yang saban minggu ngisi pengajian di rumahnya. Zaman sekarang, pengajian bisa jadi kedok,” celetuk ibu muda berbaju merah.

“Sudah! Sudah! Jangan gibah! Lagian berita ini juga belum tentu benar,” kata Bu Somad berusaha menenangkan pengunjung warung.

“Duh, Bu Somad! Ini suami saya, Kang Rudi yang cerita. Dia dapat berita langsung dari Mas Gino yang sehari-hari ngurus kambing Sulastri.”

“Ya. Tapi kan beritanya masih katanya. Kita harus pastikan dulu. Meski Sulastri itu janda muda, baru dua tahun ditinggal suaminya. Dia bisa jaga diri kok. Dia banyak membantu warga desa yang kurang mampu. Mas Gino contohnya. Setiap minggu kita diundang menghadiri pengajian di rumahnya,” kata Bu Somad lagi.

“Tapi, Bu…”

Ucapan istri Rudi terpotong karena kedatangan Sulastri ke warung Bu Somad. Tanpa dikomando, semua mata serempak memandang perut Sulastri yang rata. Sulastri bingung mendapati semua mata di warung Bu Somad memelototi tubuhnya. ❑

Baca juga  Sura dan Perempuan

*) Eli Rusli, alumnus UPI Bandung. Cerpennya pernah dimuat di beberapa surat kabar.

Average rating 3 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: