Eddy Pranata PNP, Kedaulatan Rakyat, Puisi

STASIUN

0
()

SEJARAH KECIL JINGGA

.

engkau berlari dari suatu keadaan yang pahit

ke suasana getir lainnya, dengan dada koyak

dengan sekering-keringnya airmata

dan dengan jemari gemetar kautulis

sejarah kecil jingga di langit senja

.

: sunyi tak akan mati

perih kian menjadi-jadi

luka abadi

.

dan airmatamu kian tak terbendung

suaramu terbata di tengah isak

.

: “ini tubuh kian lebam!”

.

kabut pun turun begitu cepat dari bukit

angin menderu ke utara, ada liang luka kian nganga

dalam mata senja yang kuning-kemerahan.

 .

Jaspinka, 2021

 .

GENANGAN SUNYI

.

sesering apa engkau merasakan sunyi yang perih?

yang seperti menohok-nohok rongga dadamu?

sesuatu yang membuat senja jatuh dengan hambar

serupa rindu yang berkarat, langit yang lindap

waktu pecah menciptakan sajak-sajak yang retak

yang membuatmu kian berharap pada senja

yang gemerlap penuh sentuhan kasih

.

malam pun luruh, sujud terakhir berderai airmata

.

: “aku sebutir debu, aku tiada jiwa

aku sebutir debu dalam genangan sunyi!”

.

sering aku ingin meninggalkan sunyi yang perih

yang suka menjengkelkan dan memuakkan

tetapi bukankah hidup selalu saja

mengajari untuk bersabar, menjaga logika

dan mengharapkan kesenangan?

. 

Jaspinka, 2021

. 

MENGUNYAH BATU SUNYI

.

engkau pernah berdiri berjam-jam di bibir laut

hingga basah seluruh tubuhmu karena percik ombak

yang menghempas karang? apa yang kaurasakan

menikmatinya atau sebaliknya justru tersiksa

.

kalau tidak suka laut jangan bermain di bibir pantai

kalau tidak suka asin kelatnya jangan mendekat

laut bisa melunturkan mimpimu

tapi laut bisa juga menyalakan api dalam dadamu

.

kalau engkau benar ingin berumah di bibir pantai

hal pertama harus kaupahami adalah ombak kusut

yang biasanya datang selepas senja

ombak itu bisa menggulung segalanya dan sekaligus

Baca juga  BUKIT BATU

menelannya

apalagi bila engkau ikut berperahu denganku tapi

hatimu mendua

kukira lebih baik engkau membangun rumah di atas

bukit saja

menanam anggrek atau berternak ayam maka

biarkan aku berperahu

sendiri mengunya-ngunyah batu-sunyi

o batu sunyi!

.

Jaspinka, 2021

 .

STASIUN

.

engkau bisa melupakan masa lalu, tapi tidak pada

derit ngilu rel ketika kereta meninggalkan stasiun

.

pada malam yang gerimis

.

stasiun telah sangat jauh ditinggalkan

dan kota-kota, sawah-sawah, ladang-ladang terlewati

.

segeralah ke candi; setelah kaukecup keningnya

ukirlah inisial namamu dan namanya

di sela relief; akan menyala cahaya dari dada

cahaya yang menjadi saksi sepanjang zaman

.

: “gerimis di awal januari,” bisikmu

“serupa dawai rindu menusuk kalbu!”

.

lalu engkau bercermin begitu lama, wajah kian menua

dari dalam sorot matamu ada lambai tangan maut

sedangkan stasiun telah begitu dingin dan beku

tanganmu gemetar dan o, entah mengapa kaupecah

cermin.

 .

Jaspinka, 2021

 .

SENJA YANG GERIMIS

.

—yang datang menemuimu

hanya suaraku dan puisi sederhanaku

tentu dengan rasa kecewa menggumpal-gumpal

o, weisku, kau tahu bukankah hidup kita

dalam tikungan yang panjang?—

.

menuang anggur ke dalam gelasmu yang retak

seseorang yang sangat engkau rindukan

tengah limbung mabuk lautan

penuh debur menghempas di karang-karang

.

ia tahu kerinduanmu pada pelangi

yang jatuh di ujung laut yang jauh

saat gerimis senja sudah membatu

mengeras dalam setiap detak jantungmu

.

serasa jauh sekali segalanya

apalagi wangi tubuhmu, weisku!

.

perjalanan meninggalkan sepenggal kenangan

: senja yang gerimis dan hanya sekali kecupan.

. 

Jaspinka, 2021

. 

*) Eddy Pranata PNP. Ketua Jaringan Sastra Pinggir Kali (Jaspinka) Cirebah, Banyumas Barat, Indonesia. Juara 3 Lomba Cipta Pusi FB Hari Puisi Indonesia 2020, karyanya dimuat di sejumlah media dan beberapa kumpulan puisi tunggalnya.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: