Cerpen, Halimah Banani, Koran Tempo

Danau, Kisah Pria-pria Bermasalah

3.3
(3)

Dulu sekali, saat kutanyakan kenapa Ayah memiliki banyak istri, Nenek mengatakan keluarga kami terkena kutukan poligami. Selain Ibu, Nenek, ibunya Nenek, ibu dari ibunya Nenek, dan seterusnya, bernasib sama. Aku yakin kutukan ini adalah karma karena leluhurku mengambil suami orang. Dari apa yang kuperhatikan selama ini, teman-teman wanitaku akan mengutuk wanita lain yang merebut pacar mereka. Aku tahu doa buruk tak akan diijabah, kecuali doa orang-orang yang teraniaya. Namun barangkali istri pertama suami leluhurku merasakan sakit yang teramat sangat, sehingga doanya—yang berisi agar leluhurku dan seluruh keturunannya merasakan sakit yang sama—diijabah. Sebab, tak lama kemudian, leluhurku harus berbagi suaminya dengan wanita lain, begitu pun keturunannya—sampai ke ibuku.

Sejauh yang bisa kuingat, Ibu tak pernah bahagia hidup bersama Ayah. Bahkan sering kudengar Kakek menyuruh Ibu untuk bercerai saja. Namun Ibu menolak mentah-mentah perintah itu. Memang, Ayah pria mata keranjang. Ayah bahkan lebih suka menghabiskan waktu dan uangnya di tempat simpanannya atau istri-istri mudanya. Tapi Ayah bukan orang yang ringan tangan dan tak pernah absen memberi nafkah. Dari uang yang diberikan Ayah tiap bulan itulah Ibu bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan sekolah kami, juga adik-adiknya. Dan dari uang itu pula Ibu bisa membiayai perawatan Kakek yang sering bolak-balik ke rumah sakit sejak ditinggal mati Nenek, disusul istri mudanya pergi dengan pria berduit.

“Waktu akan cepat berlalu saat kau bahagia, dan teramat panjang saat kau sedih,” tutur Hendra pada satu sore yang cerah.

Kalimat itu benar. Waktu merangkak lambat saat aku menghabiskannya dengan mengurung diri seharian di rumah dan melesat cepat saat aku bersama Hendra, pria yang kutemui di bazar buku tak jauh dari kampusku. Seperti dalam film atau novel, kami tak sengaja bersentuhan tangan ketika hendak mengambil buku yang sama, walau tak ada acara berebut atau saling sodor buku. Pria itu langsung mengangkat tangannya, berkata maaf, kemudian pergi. Sedangkan aku tak begitu mempedulikannya, mengambil buku tersebut, dan menumpuknya bersama buku lain sebelum membayar. Lantas, tiga minggu kemudian, kami bertemu lagi di toko buku tua tempatnya bekerja.

Selama mengenal Hendra, aku juga dekat dengan beberapa pria, tapi tak ada dari mereka yang membuatku betul-betul tertarik. Pria-pria itu malah membuatku merasa menjalin hubungan adalah sesuatu yang menyesakkan; kau terikat dengan peraturan, kesetiaan yang omong kosong, dan pengabdian yang bodoh. Sedangkan dengan Hendra, semua tampak berbeda. Bagiku, pria yang usianya terpaut tujuh tahun lebih tua dariku itu sangat dewasa. Ia tak pernah menghakimiku dengan pernyataan benar atau salah, seperti halnya saat kuceritakan tentang kebencianku kepada Ayah—kendati menyayangkannya karena ia meyatim sejak usia dua tahun. Ia juga tak pernah memprotes kebiasaanku atau melarangku dekat dengan teman-teman priaku.

Setiap sore sepulang kerja, Hendra akan menjemputku di tempat biasa dan memboncengiku dengan sepeda ontelnya sampai ke danau. Di danau, arah jam 2, sambil menunggu magrib, aku akan bercerita kepadanya mengenai apa saja. Pernah kuceritakan tentang kedekatanku dengan pelayan toko roti dekat rumahku. Pria itu baik dan sopan. Sama sepertiku, ia juga menyukai puisi-puisi W.S. Rendra, lagu-lagu Taylor Swift, serta film-film atau novel-novel bergenre komedi romantis. Pria itu sering mengirimiku puisi, juga mengajakku berkencan malam Minggu. Namun, dari sebelum maupun sesudah menjadi pacarnya, tak pernah sekali pun aku menerima ajakannya untuk berkencan pada malam Minggu.

Baca juga  Monster

Aku tak suka kencan di waktu-waktu khusus. Kurasa karena itulah Pria Pelayan Toko Roti mengajak wanita lain untuk berkencan. Dan aku memakluminya dengan bersikap seolah-olah tak tahu. Sama seperti Ayah yang memiliki beberapa istri, kupikir tak ada yang salah jika kekasihku memiliki beberapa pacar. Akan tetapi aku mulai iba kepada Pria Pelayan Toko Roti, yang setiap berbicara denganku, selalu menatap dengan perasaan bersalah. Jadi, pada Sabtu, pukul 18.30, kukirimi ia pesan yang berisi kalau aku bosan berpacaran dan ingin mengakhiri hubungan ini. Namun ia menolak. Padahal, sama seperti kau membuat cerita, sebaik apa pun cerita itu, jika memiliki akhir yang kurang berkesan, apalagi buruk, cerita bagus pun tak lagi terlihat bagus. Aku ingin hubungan kami diakhiri dengan baik, tapi sayangnya ia tak paham. Maka terpaksalah kuakhiri dengan alasan ia berselingkuh, dan ia tak bisa berkata apa-apa untuk membela diri.

“Tidakkah kamu terlalu kejam kepadanya?” Hendra bertanya diiringi tawa.

“Tidakkah kamu berada di pihakku?” Aku balik bertanya sambil mendelik.

Setelah dengan Pria Pelayan Toko Roti, aku berkencan dengan pria yang umurnya seusia ibuku. Ia sedang dalam tahap perceraian dengan istrinya. Kukatakan berkencan karena Pria Tahap Perceraian selalu berkata begitu tiap kami bertemu, meski aku tidak menganggapnya demikian. Ia sering mengatakan bahwa ia mencintaiku, sesering ia hobi memprotes kebiasaanku yang tidur terlalu larut dan bangun kesiangan, makan sambil main ponsel, berjaket di siang bolong, mencuci pakaian pada malam hari, sampai bagaimana caraku berbicara dan kedekatanku dengan teman-temanku. Katanya, apa yang ia sampaikan demi kebaikanku. Namun aku tidak sependapat. Aku juga tidak menyukainya, selain ia selalu menghantui dengan menemui atau menghubungiku kapan saja, mengabsen jadwal harianku, pikirannya dipenuhi ranjang, ranjang, dan ranjang. Pernah ia hampir mencuri ciuman pertamaku, lalu berakhir dengan bersimpuh di jalanan setelah kuhadiahi sebuah tendangan di selangkangannya. Dan parahnya lagi, belum juga proses perceraiannya selesai, ia sudah mengajakku menikah.

“Apa? Menikah? Aku bahkan tak mengerti bagaimana seseorang bisa mengatakan cinta kepadamu sedang dia tak menyukai sesuatu yang ada pada dirimu sama sekali. Lantas, siapa yang dia cintai sebenarnya? Apa yang membuatnya mencintaimu? Ini benar-benar tak masuk akal!” keluhku saat menutup cerita.

Hendra tertawa, lalu menyodorkan roti selai srikaya. Ia tahu aku menyukai roti. Sebab, selain migrain yang menyerang tiba-tiba saat malam, aku akan meneleponnya dan menangis karena ingin makan roti. Dan saat ia bertanya, “Mau dibelikan roti?” Aku akan menjawab “Tidak”, lalu memintanya mendongeng apa saja sampai aku tertidur.

Setahun kemudian, aku dekat dengan seorang pria beristri. Bukan, aku tidak berkencan dengan pria itu. Aku juga akrab dengan istrinya yang lumpuh. Kami dekat karena sifatnya yang kebapakan dan bijaksana membuatku menemukan sosok ayah dalam dirinya—yang tidak kutemukan pada Ayah. Kepadanya sering kuceritakan tentang Hendra dan beberapa hal lain. Pria itu merupakan pendengar yang baik. Ia sering memberikan saran dan masukan kepadaku, yang kadang kujadikan acuan dalam mengambil keputusan. Namun, pada suatu hari, aku merasa tak lagi bisa bercerita kepadanya, terutama mengenai perasaanku terhadap Hendra. Aku merasa ia bukan lagi seseorang yang kukenal; ucapannya tak sebijak dulu. Dan benar saja, berselang sebulan sejak aku menjauhinya, ia datang menemui Ayah untuk melamarku.

Baca juga  Pemeran Utama Langsung Mati di Menit Pertama

“Terkejut? Jelas! Jangankan berpikir menjadi istri keduanya, membayangkan jadi istri satu-satunya pun aku tak pernah,” aku mencerocos saat Hendra berkata “terima saja” dengan entengnya.

“Dia pria yang beruntung. Istrinya bahkan sampai datang dan meminta secara langsung kepadamu untuk menikah dengan suaminya.”

“Kamu ingin aku jadi istri kedua?”

“Kamu menyukai pria itu?”

Aku menyipitkan mata. “Kamu sendiri, kapan akan menikah?”

“Kalau kamu sudah siap,” jawabnya sambil terbahak.

Selama lima tahun menghabiskan banyak waktu bersama, Hendra mungkin sering mengatakan tentang perasaannya kepadaku, tapi tak pernah memintaku untuk menjadi pacar atau istrinya. Kutebak, Hendra bukan pria yang suka berpacaran, mengingat pertemuan pertama kami dan tak pernah kudapati ia dekat dengan wanita selain diriku. Ia sosok yang kolot, juga sayang keluarga. Sebelum tidur, ia akan menelepon adik tirinya yang seusia adik bungsuku. Ia sering bercerita tentang keluarganya. Ibunya menikah setelah lima tahun menjanda, sehingga ia harus tinggal bersama neneknya karena ayahnya merupakan anak satu-satunya. Itu artinya, ia cucu satu-satunya. Dari pernikahan kedua ibunya, ia memiliki dua orang adik. Salah satunya seusia adik bungsuku. Aku pernah melihat fotonya. Bocah itu sama persis sepertinya; matanya bulat, hidungnya besar, rambutnya keriting, bibirnya tebal.

Aku ingat sore di bulan Juli ketika kami tengah berbincang di danau, tiba-tiba ponselnya berdering. Tak lama setelah menerima telepon, ia menghampiriku dan menanyakan apa aku bisa pulang sendiri. Aku balik bertanya, “Ada apa?” dan ia menjawab dengan panik, “Adikku tertabrak mobil, aku harus pergi sekarang juga,” lalu kukatakan, “Kamu pergilah, aku bisa pulang sendiri.”

Selain bercerita tentang keluarga, pekerjaan, dan kadang bergurau tentang masa depan seperti apa yang hendak ia bangun bersamaku, Hendra pernah bercerita kalau ibunya sering menyuruhnya menikah.

“Jika aku menikah lebih dulu, apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku tentu akan bahagia. Bukan sudah sering kusuruh kamu untuk mencari istri dan menikah?”

“Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita masih bisa sedekat sekarang?”

Aku terbahak. Setiap kusuruh ia segera mencari istri dan menikah, ia selalu menjawab menunggu kesiapanku atau bertanya apa yang akan terjadi dengan kami ke depannya, lalu aku akan memberikan jawaban yang sama:

“Aku tak mungkin menghubungimu lagi kalau kamu sudah menikah. Kamu juga jangan menghubungiku lagi jika aku sudah menikah.”

“Kamu tahu, bertemu denganmu adalah sebuah keberuntungan. Aku memiliki hari-hari yang menyenangkan berkatmu. Terima kasih.” Ia mengangkat kepala, menatap ke arah matahari yang sebentar lagi terbenam, tersenyum samar setelah menghela napas berat. “Suatu hari, jika kita terpaksa berpisah, kuharap tidak pernah ada rasa benci dalam dirimu untukku.”

Kala mendengar itu, tak ada hal yang terlintas di pikiranku selain ibunya kembali memintanya segera menikah. Ibunya pasti sudah menyiapkan seorang wanita di kampung untuk dijodohkan dengannya. Namun, saat kutanya, Hendra hanya menjawab dengan sebaris senyum.

“Aku menyayangimu lebih dari menyayangi diriku sendiri,” itu kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum memboncengiku pulang.

Baca juga  Ular-ular Pak Sudar

Aku tahu ada yang berbeda dengan Hendra, tapi tak pernah tahu kalau itu pertemuan terakhir kami. Ia tak pernah menemui atau menghubungiku lagi. Tidak biasanya ia begitu. Jika bertengkar atau sibuk, maksimal tiga hari kami tak bertemu atau berkomunikasi. Itu pun ia akan menghubungiku lebih dulu. Kata orang, pihak yang jatuh cinta ialah pihak yang kalah. Dalam segala urusan, termasuk menahan rindu, Hendra selalu kalah dariku.

“Sudah kubilang kalau rinduku lebih besar darimu,” pamernya.

Aku mengerucutkan bibir, menyipitkan mata, mendengkus sebal. Aku tak mengerti kenapa. Aku yakin perasaanku lebih besar darinya. Namun, sebesar apa pun batu rindu yang menindih dadaku, secepat apa pun aku berusaha menunjukkan kerinduanku, pesannya selalu mendarat lebih dulu di ponselku—padahal aku sudah mengetik kalimat sapa dan tinggal mengirimnya saja.

Namun, kali ini, setelah setengah tahun kami tak pernah berkomunikasi atau bertemu lagi, kukirimi ia ratusan pesan lebih dahulu walau tak pernah dibalasnya. Kutelepon ia ribuan kali meski tak pernah diangkatnya. Kudatangi tempatnya bekerja, tetapi orang-orang di sana mengatakan kalau Hendra sudah berhenti sebulan lalu. Begitu juga saat kudatangi rumah kontrakannya. Induk semangnya berkata bahwa Hendra sudah tak lagi tinggal di sana, dan ia berjanji akan membantuku mencarikan alamat terbaru Hendra dan segera mengabariku jika sudah berhasil mendapatkannya.

Aku tahu wanita tua itu bukan orang yang ingkar janji. Dua bulan kemudian, kuterima telepon darinya. Ia memberitahuku kalau saat ini Hendra tinggal di kampung, tepatnya di rumah istrinya. Ia juga mengirimiku alamat istri Hendra.

Meski ragu, hari ini kuputuskan pergi ke terminal, menaiki salah satu bus kota yang akan membawaku bertemu dengannya. Setidaknya, sesuai dengan janji yang pernah kami buat, kami harus melakukan perpisahan dengan baik-baik. Aku akan mengucapkan selamat kepadanya, mendoakan kebahagiaannya dengan istrinya, lalu menutup pertemuan dengan mengatakan, “Jaga dirimu baik-baik.”

Bohong! Bukan karena itu aku pergi. Aku ingin bertemu dengannya, setidaknya untuk terakhir kali. Dalam perjalanan menaiki bus, aku berlatih banyak kalimat untuk kusampaikan kepadanya. Bukan perkara mudah mengatakan bahwa aku senang ia telah menikah. Bahkan aku tiba-tiba lupa cara tersenyum ketika membayangkan akan bertemu dengan istrinya.

Lantas, setibanya di tempat yang kutuju, di rumah bercat biru yang menghadap ke barat, bisa kulihat Hendra duduk menyeruput segelas kopi hitam. Aku hendak menghampirinya, tapi tubuhku mematung kala kulihat seorang wanita keluar dari dalam rumah bersama bocah yang kuprediksi seusia adik bungsuku. Bocah yang fotonya pernah Hendra tunjukkan kepadaku. Bocah yang menghambur ke dalam pelukannya dan memanggilnya dengan sebutan “Bapak”. Lalu aku menyadari ada ruang kosong di antara aku dan Hendra selama ini. Meski begitu, aku tetap melangkah, menghampirinya. (*)

Halimah Banani, atau biasa disapa Lily, merupakan anggota Kelas Menulis Loker Kata serta penulis kumpulan cerpern Iblis Pembisik (Omah Aksoro, 2019) juga Candramawa: Cinta dan Sebuah Kisah (Hazerain, 2019).

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: