Adhimas Prasetyo, Koran Tempo, Puisi

Lelaki yang Bersembunyi

3
(2)

Lelaki yang Bersembunyi

–setelah The Son of Man, Rene Magritte

.

telah penuh

sepotong hari

tersusun

dari langit yang mungkin

akan hujan

dan sekadar laut

yang menghampar

sampai kejauhan.

.

setelah petak-petak

tembok rendah itu,

seorang lelaki

bersembunyi,

bermain petak umpat

tanpa hitungan mundur.

.

ia tahu, sebuah distraksi

adalah sebaik-baiknya

tempat sembunyi.

.

padahal

telah penuh

sepotong hari

yang serealis ini,

tetapi seorang lelaki

menutup satu

kemungkinan, sesuatu

yang seharusnya

ada.

.

2020

.

Post-Coital Tristesse

.

kesedihan itu

telah sampai pada pagi,

ketika kau dengar titik-titik

dari sisa hujan.

sementara kamar

cuma sepotong scene

dalam layar tanpa warna.

.

dari lembab dinding,

kau melihat

gemetar bayang pundakmu

yang telanjang.

begitulah kini,

kau merasa terjebak

sebagai satu tokoh

tanpa bahasa.

.

tak ada angin,

cuma anyir keringat

terapung di udara,

dan rasa sakit

tak lagi bisa bersembunyi

di balik metafora.

.

kesedihan itu

telah sampai

sedari larik awal puisi ini.

meski sebelumnya

kau telah bersiap

dari segala bentuk penyesalan.

.

sampai ketika akhirnya

kau ingin percaya

bahwa seluruh kematian

adalah tempat

di mana surga

disembunyikan.

.

2021

.

Di Satu Kota ketika Kau Mulai Menyadari Semua Orang Berbicara dengan Lirik Lagu R.E.M.

.

selalu, di kota ini, ke mana pun kau pergi,

kau dapati dirimu sampai di tempat yang sama,

bertemu dengan orang-orang yang sama,

orang-orang dengan bahasa yang sama.

.

mereka berbicara tentang hari-hari

yang panjang dan melelahkan,

juga masa lalu yang selalu menyakitkan.

.

semua orang punya kesakitan yang sama,

lalu menangis dengan cara yang sama.

.

kau melihat orang-orang. meski akhirnya

kau cuma meminjam mata orang lain

untuk melihat dirimu sendiri.

.

dari sanalah kau belajar bahwa dalam hidup ini,

Baca juga  Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

bahwa hidup hanyalah tentang memilih jalan yang salah.

.

sementara harapan selalu berlari di depanmu,

meninggalkan tubuhmu yang terus berlubang.

.

pada esok hari yang jauh barangkali akan ada akhir,

seperti yang semua orang bicarakan selama ini.

.

semua orang memikirkan apa yang ingin mereka pikirkan,

memercayai apa yang ingin mereka percayai,

meski semua yang mereka inginkan cuma sebatas barangkali.

.

kau tutup telingamu, tapi cuma ada kenyataan,

kenyataan pahit yang tak butuh bahasa untuk bisa kau dengar.

.

selalu, di kota ini, ke mana pun kau pergi,

kau merasa Stipe, siapa pun ia,

terus mengawasimu, selalu mengawasimu

dari tiap pojok jalanan.

.

2020

.

Adhimas Prasetyo menulis dan membuat ilustrasi. Saat ini sedang menempuh pendidikan magister di Universitas Gajah Mada. Buku puisinya berjudul Sepersekian Jaz dan Kota yang Murung (2020).

Average rating 3 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: