Cerpen, Moh Rofqil Bazikh, Tanjungpinang Pos

Mereka Harus Kalah Hari Itu

0
()

ORANG dusun Lao’ percaya, bahwa satu-satunya yang bisa menghentikan kekacauan ini hanyalah Ke Madulla. Tetapi apakah Ke Madulla mau untuk bersanding dengan dua penantang lainnya. Mengingat salah satu di antara mereka adalah orang yang mempunyai duit yang tidak sedikit. Tentu, untuk menyainginya butuh duit yang tidak sedikit pula. Cuma, yang membuat orang-orang Lao’ itu percaya Ke Madulla menang hanya kharismanya, tidak lebih. Apalagi Ke Madulla mempunyai santri yang tersebar di seluruh penjuru desa ini. Tentu, dusun Lao’ yang merupakan pendukung utama sekaligus tempat asal Ke Madulla akan lebih mudah menang suara di sana. Tetapi di dua dusun sisa lainnya, tidak ada orang yang bisa menjamin. Mengingat dua orang yang sama-sama berbeda dusun. Artinya, semua diprediksi menang di dusun masing-masing.

“Ke Madulla tidak usah ikut-ikutan dalam pemilihan ini, tidak akan menang juga,” seloroh orang-orang dusun Daja. Penyebabnya tidak lain karena mendekati pemilihan yang dekat ini, isu tentang Ke Madulla yang akan duduk semakin naik. Tentu itu membuat orang dusun Daja dan Karanji tidak senang, meski mereka tetap dengan kepala mendongkak. Ke Madulla yang mempunya banyak murid ditengarai akan membuat persingan semakin ketat. Maka segala cara yang dapat dilakukan dua dusun lainnya, sebisa mungkin dilaksanakan. Mereka tentu tidak ingin perwakilan dari dusun masing-masing kalah, begitu pula dari kubu Ke Madulla.

Meski begitu, Ke Madulla yang tidak resmi tercatat sebagai orang yang akan mencalonkan dirinya. Waktu tinggal sebulan, artinya butuh kebut-kebutan untuk mendaftarkan diri sebagai calon yang akan menantang dua orang yang sudah postif dapat kursi di hari pemilihan nanti. Maka secara diam-diam beberapa utusan dari kubu Ke Madulla mendaftarkannya. Suhu semakin memanas, semua akan berpikir bagaimana memenangkan calona pemimpin dari masing-masing dusun. Ke Madulla secara terpaksa juga harus mau, tidak ada alasan menolak. Bagaimanapun namanya sudah tercatat secara resmi.

Baca juga  Pembaca Masa Depan dari Selatan

Seluruh hal yang bisa menjadi jalan kemenangan dilakukan. Orang-orang dusun Daja memulai aksinya di malam hari, saat orang-orang seluruh kampung Lao’ sibuk dengan dengkurnya. Tentu hal tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang Daja atau—barangkali— orang-orang dusun Karanji. Tidak perlu heran jika sapi peliharaan Ke Madulla tiba-tiba raib di pagi hari. Hal itu yang membuat pendukung Ke Madulla sangat geram. Yang menjadi sasaran utama adalah orang-orang Daja, karena sesumbar mereka jauh lebih besar daripada orang Karanji.

“Kalau Ke Madulla menang, saya bisa disembelih untuk selamatan,” begitu kira-kira kata Rais, salah satu tim sukses dari dusun Daja.

Sesungguhnya orang-orang dusun Karanji tetap tidak pernah melempar sesumbar barang sedikitpun. Hingga yang menjadi persoalan serius tentu hanya orang dari dusun Daja. Orang-orang Karanji lebih bermain dengan uang dan gerakan bawah tanahnya. Salah satu santri Ke Madulla menuturkan, bahwa ia dikasih iming-iming uang limaratus ribu agar memilih calon dari dusun Karanji. Tetapi ia tetap tidak mau, ia hanya ingin memberikan pada Ke Madulla sebagai gurunya.

Setelah berita tentang hilangnya sapi Ke Madulla tersebar, hal tersebut dibantah oleh orang-orang Daja. Meski, tidak secara terang-terangan orang Lao’ menuduh mereka. Hal tersebut yang hampir membuat tim sukses Ke Madulla hendak menghajar Rais. Ia merupakan orang yang paling besar omongannya di antara tim sukses dari dusun Daja. Setiap hari sering menggunakan songkok hitam yang tingginya seperti hendak menyundul langit. Kumisnya yang panjang membuat Rais semakin sangar, meski itu bukan apa-apa bagi orang Lao’. Suhu pemilihan ini tidak pernah rendah, semakin hari semakin memanas.

Tim sukses Ke Madulla juga mulai terprovokasi dengan ucapan-ucapan orang Daja. Sesumbar yang sebenarnya sudah sering didengar dan tidak asing ditelinga selalu digemborgemborkan. Mulai dari Ke Madulla miskin, dan sebagainya, tentu segala sesuatu yang membuat Ke Madulla terasa rendah di mata mereka.

Baca juga  Taman Hujan

“Sudah tidak usah pikir mereka, kemenangan di tangan yang kuasa.”

Dalam keadaan apapun Ke Madulla benar-benar bijak, hal tersebut pula yang membuat orang-orang yakin bahwa hanya Ke Madulla yang bisa menghentikan kekacauan. Kekacauan yang membuat orang-orang Lao’ bertindak untuk menjadikan Ke Madulla pemimpin yang lebih adil dan merakyat.

***

Murantap marah-marah, ia yang merupakan pemimpin dua priode dan sudah tidak bisa duduk lagi di kursi pemilihan malah menyuruh adiknya duduk. Kalimayang, yang merupakan adik Murantap tentu dengan sangat ambisius juga menerima perintah saudaranya. Hal menggebu-gebu itulah yang membuat Murantap marah. Apalagi Kalimayang sampai menyuruh Rais untuk mencuri sapi miliknya Ke Madulla. Hal tersebut dianggap Murantap sebagai blunder.

“Masyarakat tidak goblok, le’1 , kalau sapi Ke Sadulla hilang yang dicurigai tetap orang sini dan dusun Karanji.”

“Tetapi paling tidak itu biasa membuat kelompok mereka dilanda masalah yang besar.”

“Masalah besar bagi mereka tidak pernah membuatmu bisa menang di hari pemilihan,” suara Murantap tiba-tiba semakin mengeras. Sementara Kalimayang tetap memilih menunduk dan sekali-kali berbisik pada Rais sebagai orang kepercayaannya. Songkok Rais yang tingga dan kumisnya yang sangar, tidak ada apa-apanya di hadapan kemarahan Murantap. Mereka berdua justru seperti orang ketakutan, memang kaki-kaki Rais dan Kalimayang sedikit begetar.

Itu bukan satu-satunya penyebab Murantap marah, hal lain yang membuat Murantap marah karena ia masih ingin memimpin desa ini. Tentu juga makan dana milik desa dan mengambil beras sebanyak-banyaknya, tanpa diketahui siapapun. Tetapi regulasi dalam pemilihan yang justru menjatuhkan Murantap, ia tidak bisa lagi bersaing di kursi panas. Daripada jatah kepemimpinan jatuh ke orang lain, mending jatuh di kalangan sendiri. Kalimayang maju, dengan Rais si manusia paling cerewet dalam urusan memanasi lawan.

Baca juga  “Aku Ngenteni Tekamu...”

Kalimayang geram kepada kakaknya, karena Murantap menyalahkan gerakannya. Api di dadanya seperti menyala-nyala, dan butuh air untuk memadamkannya. Kepalanya mendidih saat Murantap marah-marah padanya dan Rais. Ini semacam penghinaan, kata Kalimayang. Ia tahu betul siapa dan bagaimana sebenarnya tingkah kakaknya itu.

“Kakak memang sok suci padahal sering makan beras rakyat!” tatapan Kalimayang dan Rais bertemu.

***

Tiga dusun dengan satu-satu calon pemimpin semakin gencar melancarkan serangan. Paling kentara tentu masih dipegang dusun Lao’ dan Daja. Sementara, Karanji lebih senyap, tentu mereka punya jalan lain yang lebih baik. Atau jalan duit yang tidak bisa dilakukan orang Lao’ dan Daja. Sampai tiga hari sebelum pemilihan, tensi di lapangan semakin memanas. Tetapi orang-orang Karanji tetap tidak kelihatan bergerak terang-terangan. Hal tersebut menimbulkan kecurigaan di antara kubu Lao’ dan Daja. Dua kubu menyangka bahwa dusun Karanji akan menghabiskan uang yang lebih banyak lagi untuk memenangkan calonnya.

Sementara kubu Karanji hanya punya satu cara, sebagai satu-satu jalan untuk kemenangan. Mereka paham bahwa dengan membunuh Kalimayang dan Ke Sadulla secara otomatis akan membuat calon mereka menang. Hal tersebut tentu tidak akan diterima oleh kedua kubu. Tetapi dengan cara kemenangan apapun, tetap saja ada orang-orang yang tidak menerima kekalahan, bukan? ***

Yogyakarta, 2020

MOH ROFQIL BAZIKH, mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga. Menulis di pelbagai media cetak dan online, bisa dijumpai di Garawiksa Institute Yogyakarta.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: