Cerpen, Haluan, Talia Sartika Bara Widya

Belajar Mendandani Kebahagiaan

3.3
(3)

“TUHAN Maha Baik, kita tidak.” Selalu kucoba memahami kalimat itu. Meski tak terlalu paham. Setidaknya, itu pesan almarhumah ibu, yang terakhir kudengar saat beliau berbaring di ranjang rumah sakit karena benjolan daging sebesar bola golf menempel di dinding ususnya. Saat itu aku masih Sekolah Dasar (SD) dan baru mengerti cara menyelesaikan perkalian ratusan. Saat harusnya aku memproses kesedihan yang terpampang di depan mata, aku malah fokus mengerjakan soal-soal matematika, padahal bukan pekerjaan rumah, hanya saja aku suka pada angka-angka saling yang terkait satu sama lain lalu menjadi suatu yang baru.

Bahkan, setelah tahun-tahun kepergian ibu, jika rindu padanya aku akan mengerjakan persamaan matematika, hingga ke tahap Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku tak merasa kesulitan menyelesaikan persamaan Helmholtz. Orang-orang berkata aku jenius, tapi sebetulnya tidak! Aku payah pada pelajaran lain, dan hanya menyukai angka. Oleh karena hal itu pula, bibi mulai khawatir pada perkembangan mentalku yang ia nilai tumbuh terlambat. Aku terlalu sering berkutat dengan angka, saking sukanya ketika bosan dengan matematika, aku akan menghidupkan komputer dan berkutat dengan coding.

Saat Sekolah Menengah Atas (SMA), aku tidak pernah bercerita tentang anak lelaki yang kutaksir dan aku tak pernah mau berdandan. Tidak seperti sepupuku, Kalila, anaknya bibi. Kami sebaya, tapi kehidupan sosialnya lebih berwarna ketimbang diriku. Hampir setiap Sabtu sore ada teman atau anak lelaki menjemputnya untuk kencan. Kalila akan mengenakan pakaian terbaiknya, dan bertanya pada mamanya tentang pakaian apa yang sebaiknya ia pakai. Tentu saja ia tidak pernah bertanya kepada sepupunya yang hanya mandi jika ke sekolah. Selain itu, aku jarang keluar, kecuali untuk acara keluarga dan kerabat dekat, itu pun aku akan memilih sudut tersepi. Aku akan sangat senang jika ditugasi menemani seorang bayi yang tertidur, sementara orang tuanya sibuk bercengkerama dengan tamu lain saat acara berlangsung. Aku tidak peduli itu bayi siapa, dan apakah orang tuanya mengenalku atau tidak. Pesta rasanya terlalu bising, dan aku sering kali dipaksa menghadirinya.

Kondisi ini terus berlangsung hingga tahun akhir SMA. Guru-guru kewalahan karena nilaiku yang cenderung paspasan bahkan beberapa terpaksa dituntaskan dengan pendekatan kasihan selain matematika, fisika, dan kimia yang sempurna. Aku bahkan tidak tahu mau jadi apa kelak dan akan melanjutkan pendidikan ke mana. Seorang guru sempat menyarakan masuk jurusan Pendidikan Matematika, tapi ia tarik kembali saran itu mengingat aku sulit berkomunikasi.

Baca juga  Mar Beranak di Limas Isa

Akhirnya bibi membawaku ke seorang psikiater dan dari mulutnya aku didakwa mengidap Sindrom Asperger, yang kudengar juga diidap almarhum ayah. Jika ayah tidak terlalu dibebani dengan tuntutan sosial untuk berpakaian yang menarik atau setidaknya tidak terlalu polos dan begitu-begitu saja… Malah sikap tidak pedulinya itu yang membuat ibu naksir berat hingga mereka menikah dan aku lahir. Namun tidak terlalu lama, ayah meninggal pada sebuah insiden kebakaran laboratorium kimia, dan jasadnya tidak ditemukan.

Ketidakpedulianku pada penampilan membuat bibi khawatir. Beliau selalu mengingatkan setiap kali aku menolak saat rambutku ia sisir dan dikuncir kuda. “Kepribadian baik yang akan membuat laki-laki menetap, tapi penampilan menarik yang akan membuat laki-laki melirik.”

Aku tak menyalahkan bibi, atau bagaimana ia membentuk Kalila jadi perempuan yang menarik dan baik, serta tentu jadi rebutan beberapa lelaki. Sebab, paman pergi meninggalkan bibi untuk bersama dengan perempuan muda, yang katakanlah, lebih cantik dari bibi bagi sebagian orang. Namun bagiku, paman orang yang bodoh. Ia kurang lama menatap wajah bibi saat masih basah oleh air wuduk, atau wajah fokusnya saat menyiapkan masakan. Paman hanya kurang memperhatikan detail-detail kecil dari bibi seperti, bagaimana tahi lalat di bagian dalam jemari tengah tangan kanan bibi terlihat seperti tanda hati kala memegang pisau yang naik turun saat ia mencincang bawang putih dengan cepat.

Selain itu, bibi tidak pernah memarahi keponakannya yang menurut banyak orang adalah perempuan aneh. Sering kali ia mengelus punggungku dan mengingatkanku untuk segera tidur jika aku sudah larut dalam angka-angka di atas meja belajar. Bibi tidak pernah menuntutku untuk menjadi seperti apa kelak, dan aku akhirnya menemukan jalan saat diterima kuliah pada jurusan matematika nonkeguruan. Lalu, aku bertemu dengan seorang lelaki yang entah kepalanya habis menghantam apa tapi tiba-tiba datang melamarku di hari wisuda.

Baca juga  Racun untuk Tuan

Selanjutnya, bahkan, di hari akad nikah berlangsung pun aku tak benar-benar mengerti bagaimana semestinya menjadi seorang istri? Dari semasa kanak aku tak pernah diajar bagaimana caranya jadi sosok yang disukai banyak orang. Tentu yang kumaksud di sini dengan menyesuaikan standar seperti apa yang kebanyakan orang yakini.

Selain Kalila sebagai sepupu, aku punya banyak saudari angkat yang merupakan anak-anak yatim-piatu atau yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu tunggal yang sudah seperti ibu pula bagi aku dan Kalila. Mereka dibantu bibi hingga bisa menafkahi diri sendiri. Singkatnya, kami dibesarkan oleh perempuan-perempuan yang jadi ibu tunggal, baik cerai hidup maupun cerai mati. Tak sekali aku mendengar orang-orang sekitar menatap ibu-ibu kami dengan tatapan curiga. Seperti perempuan hanya ada untuk menjadi makhluk lemah dan untuk dilindungi. Jika tidak, maka mereka patut dicurigai, patut dianggap melenceng, patut untuk tidak disukai. Aku cukup merasakan ketidaksukaan yang menohok pada kala tertentu, sebab bibi juga membantu beberapa perempuan agar kehidupan mereka lebih baik ketimbang masa lalu yang kelam.

Tetapi aku selalu menghapal pola soal lelaki dari cerita-cerita para perempuan tangguh dalam hidupku. Tentang suamiku yang perlahan mulai tak mau sarapan di meja yang sama denganku, dan mulai pulang larut malam, bahkan bisa tidak pulang berhari-hari. Lalu ketika pulang kemejanya beraroma asing dari yang kukenali, karena bukan aroma dari parfum yang biasa ia kenakan. Aku kembali mengingat pesan bibi, suatu pandangannya tentang lelaki. Apakah aku harus merasa diriku buruk jika demikian? Tapi pesan ibu selalu menenangkanku, dan aku mulai paham tentang apa yang beliau maksud dengan; Tuhan Maha Baik, kita tidak.

Mulai kusadari kemunculan pola itu dari bilangan-bilangan yang telah terjadi, dari pola-pola yang ibu dan bibi miliki, yang entah mengapa aku juga memilikinya. Aku mulai menghitung setiap probabilitas bahwa ayah bukan meninggal dunia, tetapi pergi sebagaimana paman pergi meninggalkan bibi. Atau bagaimana tatapan jijik saat orang-orang menatapku di rumah sakit dulu. Bahwa, mungkin saja bukan daging sebesar bola golf yang ada dalam dinding usus ibu, melainkan sesuatu dalam organ di balik ari-arinya, yang sudah bertahun-tahun bersarang di sana dari infeksi yang ia dapat sebelum bertemu bibi. Bahwa pesta terasa melelahkan karena orang-orang dewasa menatapku dengan kasihan dan selalu berbisik tentang ibu. Juga bagaimana orang-orang menganggap bibi aneh karena meskipun mendapatkan uang yang banyak dari mantan suaminya yang kaya raya, tapi lebih memilih hidup untuk membantu perempuan-perempuan lain yang bagi mereka tidak jelas, ketimbang hidup dalam kemewahan bersama anaknya.

Baca juga  Mimpi Terlarang

Semestinya, aku bisa memproses semua kesedihan ini dengan meraung dan menangis sejadi-jadinya, tapi aku tidak tahu caranya menangis. Jadi, perlahan dari sudut bilik kamarku dan suamiku, kamar yang lama kelamaan semakin sepi, aku melihat bagaimana cahaya matahari menembus jendela, dan aku kembali terbayang sosokku semasa kanak. Ketika tangan gemetaran, dada dan napas terasa sesak setelah melihat tatapan jijik perawat yang menyampaikan bahwa ibu telah tiada. Jadi, mataku memilih terpaku pada angka-angka itu. Sesuatu yang tetap bisa ada di depan mata dan tidak meninggalkanku, dan sesuatu yang tak akan menatapku dengan jijik.

Hingga pada menit-menit atau mungkin jam berikutnya aku terduduk di sana. Merasakan sinar matahari menyengat halus kulitku. Lalu, aku melihat angka-angka dan mencoba menyusunnya, aku melihat Teori Kekacauan, dan dari sana kutemukan keteraturan di dalam kekacauan. Sesuatu yang angka-angka berikan kepadaku. Aku memang tidak suka berdandan, tapi dengan angka-angka aku bisa mendandani kesedihan untuk menjelma kebahagiaan, yang kini tidak hanya untuk diriku, tapi juga untuk sebagian kecil dari diriku yang mulai tumbuh dalam raga. Semoga kelak bermekaran dengan bahagia.

TALIA SARTIKA BARA WIDYA. Lahir di Padang 26 Juni 1999. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Andalas. Menjadi ilustrator pemula pada beberapa media daring.

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: