Cerpen, Dede Abdul Hamid, Medan Pos

Cinta Paling Hebat

1
(1)

Runa telah merawat ibu sejak dua tahun lalu. Ibu telah divonis memiliki cacar api. Sekujur tubuhnya seperti dibaluri luka bakar. Awalnya tumbuh beberapa cacar sebesar buah jeruk limun kecil di sepanjang tubuhnya, lalu mereka menetas dan satu per satu meninggalkan bekas yang parahnya masih membuat ibu tampak kewalahan.

Runa telah merawat ibu dengan ikhlas. Ia yang beberapa tahun lalu baru pulang dari luar negeri sebagai TKW, lalu pulang ke kampung halaman. Ia terkejut dengan ketiadaan uang yang selama ini ia kirimkan ke bapak dan ibu. Uang itu hanya berwujud rumah dengan model sederhana dengan WC yang sebelumnya tiada. Bagian belakang rumah masih belum sempurna.

Runa tidak pernah marah dengan semua itu. Ia hanya kadang melampiaskan dengan kata-kata ketika ia lelah sendiri dengan dirinya atau kepada adik-adiknya yang semuanya laki-laki. Adiknya alias anak kedua, lelaki itu pergi merantau ke Jabodetabek dan bekerja sebagai buruh. Sedangkan anak bungsu yang juga lelaki masih duduk di bangku SD.

Runa kaget tahu bapak kerja di kebun orang lain alih-alih bekerja di ladang sendiri. Ia mempertanyakan ke mana perginya uang gaji yang selama ini rajin ia kirimkan, kenapa bapak ibunya tak membelikan uang tersebut untuk sawah, kebun, atau ladang misalnya. Saat itu mereka hanya memiliki sawah warisan dari nenek pihak ibu yang belum digarap.

Pun telah dua tahun Runa mencari pekerjaan, namun hasilnya mayoritas nihil. Ia entah kenapa tidak berhasrat untuk pergi ke luar negeri lagi. Ditambah penyakit ibu membuatnya selalu sedih. Pun omongan tetangga-tetangganya yang juga sering menyakiti hati Runa. Gadis itu telah menginjak umur 27 tahun tetapi belum ada jodoh yang menghampiri. Ia pun sedikit khawatir dengan kehidupannya.

Baca juga  Hilangnya M.Aplus

Memang ini menyakitkan. Ibunya tak kunjung sembuh. Telah beragam dokter ia datangi, bahkan dulu telah sempat sawah milik ibunya dijual lewat perkara kakaknya alias uwa Runa yang saat itu berprofesi sebagai kepala sekolah SD. Mungkin, memang sudah semua upaya diusahakan, namun belum ada yang berhasil. Tidak ada yang bisa menolong lagi. Sekarang kesembuhan ibu hanya berpangku pada beberapa pengobatan herbal yang telah dijalani.

Segala upaya telah diusahakan. Ditengah kemelut yang melanda keluarga Runa, kesedihan tak henti menerjang. Runa yang memang sudah matang usianya selalu ditanya oleh tetangga tentang kapan ia akan menikah. Bahkan, tetangganya tidak menampilkan simpati sedikit pun, bagaimana mungkin melangsungkan pernikahan di tengah kondisi ibunya yang sakit parah. Bukan perkara demikian pula karena belum ada jodoh yang sreg di hati Runa.

“Masih sakit ya, Bu?” tanya Runa pagi itu.

“Iya, Run,” jawab ibunya sambil tersenyum getir.

“Udah, Bu, jangan terlalu dipikirkan, penyakit ini pasti akan akan hilang segera,” hibur Runa sambil tersenyum tulus ke arah ibu.

“Amin,” balas ibu singkat.

Tidak ada rutinitas mandi bagi ibu. Karena setiap pagi atau sore, badan ibu harus Runa baluri dengan bedak khusus. Niscaya bekas-bekas luka cacar itu pun hilang, atau cacar-cacar yang baru menetas akan lenyap segera.

Setiap hari Runa selalu memikirkan ibu. Bagaimana jika ibu tak sembuh-sembuh apalagi bagaimana jika ibu menemui kemungkinan terburuk yaitu tidak akan ada di sisi Runa lagi.

“Kenapa dia tidak datang-datang ke sini lagi, Run?” tanya ibu penasaran.

“Dia siapa, Bu?” tanya Runa yang sebenarnya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ibu.

Ibu balas menjawab dengan tatapan sedikit penuh selidik kepada Runa, “Lelaki yang sering kamu panggil Ale.”

Baca juga  Redi Kelud

“Oh, mas Ale,” jawab Runa singkat sambil kemudian menghela napas pendek setelahnya. Ia sebenarnya kehabisan kata-kata.

Ia tak mungkin menjelaskannya kepada ibu. Iya, menjelaskan hubungannya yang telah kandas beberapa bulan lalu dengan Ale. Lelaki itu bekerja di kantor pajak di kotanya. Entah kenapa beberapa bulan lalu sikapnya berubah ketika Runa selalu menolak untuk diajak pergi dengannya. Runa sibuk saat itu, mengantar ibu ke sana ke mari, menemani ibu untuk berobat ke beberapa pengobatan alternatif. Sikap Ale pun semakin mencurigakan, terlebih Andina yang sahabatnya juga bekerja di sana menceritakan kepada Runa jika Ale telah menjalin kasih dengan koleganya. Ale memutuskan Runa dengan alasan tidak cocok lagi. Runa sebenarnya saat itu dipenuhi banyak tanda tanya di pikirannya.

Bagaimana mungkin ia yang dikhianati namun kekasihnya yang memutuskan hubungan yang sebenarnya baru seumur jagung itu. Atau apa mungkin Ale tidak mau mengerti keadaan Runa, terlebih melihat latar belakang Runa. Bagaimana mungkin tetangga Runa sampai tidak punya hati menyelenggarakan hajatan yang panggungnya dibangun di depan rumah Runa yang menghadap ke jalan. Ya, di jalan depan Runa kini telah dibangun panggung untuk orkes dangdut. Sepanjang siang, sore, malam sungguh kebisingan tercipta. Membuat Runa tak nyaman. Runa berpikir tentang ibunya.

Pasti ibunya tidak bisa tidur, pasti ibunya merasa terganggu. Tetangga rumahnya memang tidak bersimpati, namun bukan begini juga perilaku yang ia ingin ia dapatkan. Sungguh kejam, pikirnya.

Beberapa hari lalu, tabib datang ke rumah Runa. Tabib itu tahu keberadaan ibu, penyakit, dan rumah dari sanak saudara jauh ibu Runa. Ia memantrai ibu Runa dengan aji-ajian, lalu menempeli setiap pojok rumah Runa, pintu-pintu, dan jendela-jendela dengan tulisan-tulisan arab pada sebuah kertas-kertas. Setelah beberapa hari, lalu minggu, lalu bulan, tidak ada yang terjadi. Tidak ada apa-apa yang dirasakan ibu Runa menurut Runa. Setelah hari-hari belakangan, ibu Runa berkata ia merasa lebih baik.

Baca juga  Yusril Faisal

Namun, siapa sangka, umur tidak ada yang menduga. Ibu Runa pulang untuk selamanya saat subuh pagi itu. Runa menyaksikannya. Ia mengucapkan kalimat syahadat pada telinga kanan ibunya yang saat itu tengah sakaratul maut. Ibunya hanya menutup mata, dan saat Runa membisikkan kalam suci itu, ia seperti merintih pelan.

Semuanya telah berakhir. Ia menyaksikan bapak yang selama ini tegar runtuh. Bahkan adik lelakinya yang masih kecil juga ikut menangis. Orang-orang asing datang, tetangga-tetangga dekat rumah pun menyatroni rumah Runa berusaha membantu menyiapkan perkabungan almarhumah ibu Runa.

Ia tergeletak dibungkus kain putih itu. Runa masih menabung air mata di penglihatannya. Ia tak mungkin sanggup untuk sekadar menyaksikan ibunya sampai ke liang lahat. Bahkan untuk sekadar membacakan doa sepanjang di rumahnya ia bahkan tak bisa. Ia sempat pingsan dan tak sadarkan diri. Dalam hening, ia merasa dalam buaian ibunya, ibunya lalu mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Ia berkata terima kasih, Runa. []

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: