Cerpen, Handry TM, Suara Merdeka

Kembalinya Feng Naga

2.8
(4)

Malam itu, Ji Kao Mee, malam penanggalan 29 bulan 12 kalender Imlek. Malam penuh berkah dan sukacita. Siapakah yang sangat bergembira menyambut tahun baru Imlek tiga hari lagi? Tidak lain Feng Naga.

Dia lebih terlihat bangga, karena anak tengahnya berhasil menangkap seekor ular sanca. Ular yang pagi tadi membuat geger orang-orang di Pasar Gang Baroe. Xuhui, anak laki-laki yang sangat dia sayangi itu berhasil menunjukkan kelayakan sebagai anak jawara.

Atas keberhasilan itu, Feng Naga tidak segan-segan mempersiapkan wat kwee untuknya. Keberadaan wat kwee, semacam kue mangkuk cukup besar, bagi tradisi Tionghoa adalah perayaan.

“Xu, kamulah orang pertama yang memotong dan mencicipi. Wat kwee ini owe pesan dari juru kue di belakang pasar.”

Xuhui mengernyitkan alis ke arah Feng Naga. Sekagum-kagum Xuhui pada Feng Naga, tetap saja ada sisi kemuakan. Dialah ayah yang membiarkan Xue Chan, ibundanya, mengakhiri hidup secara mengenaskan. Seorang istri dan ibu dari anak-anak Feng Naga yang hidupnya tidak dimuliakan sebagaimana petuah leluhur.

“Kenapa, Xu? Diammu selalu memancing pikiran owe.”

“Ah, ndak apa-apa, Pah. Tiba-tiba ingat Mamah.”

Xuhui melongok jendela. Matanya menembus tirai di depan rumah, persis di mana ia dulu mendapati sang mamah jatuh berdebam ke tanah dari loteng atas. Di rumah ini hanya ia yang tidak menangis. Ketika itu amarahnya membuncah, tidak terkendali. Saking marah, Xu tidak mampu menitikkan air mata. Jika ia paksa menangis, mungkin bukan air mata bening yang meleleh, melainkan gumpalan darah keruh penuh dendam. Hatinya benar-benar kelam.

“Xu, jangan terlalu kaukenang. Mungkin garisnya sudah begitu. Mamahmu harus berpulang dengan cara itu.”

“Papah, bolehkah aku menyebut dirimu serupa binatang?”

Feng Naga pantang dipermalukan. Namun ketika menghadapi anaknya, ia cukup berhitung untuk membalas. Sejurus Feng Naga mendekatkan langkah. Kini tinggal beberapa depa dari Xuhui. Apakah yang akan terjadi? Akankah ayah-anak itu akan bertarung?

“Pertarungan antara kita tidak berguna. Baik bagi kemenangan owe maupun kemenanganmu. Salah satu dari kita mati pun, yang hidup tak memetik manfaat.”

Feng Naga berkata begitu sambil hendak memeluk Xuhui. Namun Feng tak pernah menduga sang anak menepis dengan kasar.

“Maaf, aku sedang tidak ingin dipeluk.”

Baca juga  Ziarah

Feng Naga mundur sejenak. Sebagaimana sifat jawara, ia tak ingin jatuh harga. Masih tetap siaga sambil menatap lepas mata Xuhui yang kini menajam. Namun toh dia tak berhasil membendung kejujurannya. Pada detik yang tepat, Feng Naga terpaksa berkata, “Owe rindu kamu, Xu.”

Xuhui membalas ucapan itu dengan mengarahkan muka lurus ke mata sang ayah. Dalam pantulan matanya, Xuhui serasa mengalirkan ungkapan kasar kepadanya.

“Apakah kerinduan harus terkatakan dengan bahasa sedih? Apakah Papah pikir selama ini anak-anakmu tidak merindukanmu? Sejak kematian Mamah yang tidak biasa itu, Papah Feng pergi entah ke mana. Orang-orang bergunjing di tengah masa berkabung. Feng Naga terlibat pelarian Lena Teng dan anak-anaknya. Namun ada berita lain, Feng Naga bersekongkol dengan Poo Han Siang, adik kandung mendiang Lena Teng, untuk menyudahi keluarga almarhumah dan anak-anaknya. Manakah yang benar?”

Itulah kata-kata dari cahaya mata.

“Cahaya matamu tajam seruncing pedang,” lenguh Feng Naga.

“Maafkan aku, Papah Feng.”

Xuhui tak kuasa bertahan. Ia pun memeluk Feng Naga. Betapapun itu papahnya. Laki-laki menjelang renta, tetapi urat dagingnya masih mengencang kuat.

“Ke mana saja Papah selama ini?” Xuhui seperti menginterogasi.

“Potong dan cicipi wat kwee-nya. Owe kepingin bersulang denganmu saat Ji Kao Mee menjelang.”

“Ini sudah memasuki Ji Kao Mee, karena sudah lepas senja. Silakan, Papah Feng,” kata Xu sembari menyerahkan potongan pertama wat kwee-nya pada Feng Naga.

Feng Naga menerima potongan kue kecil itu dengan linangan air mata.

“Sekarang cuma kamu milik owe. Itu pun belum tentu setahun sekali bertemu.”

Xuhui tak menggubris ocehan Feng. Ia mengambil sepotong wat kwee lagi untuk dirinya. Akhirnya ia mengajak bersulang Feng Naga.

***

Di mana Xuhui ketika Feng Naga pergi berganti-ganti tempat? Ia tetap tinggal di kawasan Gang Pinggir agak ke selatan. Bersama beberapa anak muda, Xu mempelajari ilmu binatang, sebagaimana dulu Feng Naga lakukan. Sejak kematian Xue Chan yang mengenaskan itu, ia tak mau tinggal di rumahnya yang besar ini. Namun berpuluh binatang melata masih tersimpan di tempat itu. Sesekali dia pulang dan memberi makan.

“Tidak pernah tahukah Papah, lebih dari tiga kali arwah Mamah terus-menerus menemuiku?”

Baca juga  Pelepah Ikan

“Ya ampun?! Arwah Xue Chan datang padamu lebih dari dua kali?” Feng Naga bertanya, seolah-olah tak habis pikir.

“Xuu!”

“Ya, Papah Feng.”

“Rindu sekali owe ketemu mamahmu. Berpuluh kali owe berdoa agar suatu kali dewa mengantarkannya ke mimpi owe. Tapi ndak pernah ketemu. Kok kamu malah sudah tiga kali?”

“Kedatangan pertama, Mamah Xue mengenakan terusan putih dengan kerudung. Tersenyum padaku dengan air mata berurai.”

“Oh, Xue Chan… Xue!” Feng Naga menangis sesenggukan.

Xuhui bergeming.

“Hari berikutnya, aku tanyakan pada orang pintar di distrik sekitar. Menurutnya, senyum dan uraian air mata itu bermakna kerinduan.”

“Kerinduan? Oh, owe juga rindu mamahmu.”

“Amarhumah rindu segala hal yang berkaitan dengan hidupnya. Merawat bunga, menghitung uang dagangan, bersenandung malam, memijit orang-orang. Intinya, arwah Mamah penasaran.”

Xuhui ingin menyaksikan seberapa jauh papahnya merasa kehilangan dan bersalah atas bunuh diri sang mamah.

“Oooh… berarti Xue menderita di alam sana?” tanya Feng.

“Kedatangan kedua….”

“Iya, bagaimana, bagaimana? Pasti mamahmu tampil lebih tenang dan memesona?”

“Mamah Xue datang dengan pakaian serbaputih, tetapi berlumur darah.”

“Astaga! Bukankah siksa yang sebenarnya belum ditentukan?”

“Karena suami-istri itu tidak sedarah, kepedihannya hanya bisa dirasa anak-anaknya. Dalam kematian, hubungan suami-istri telah terputus.”

“Ooooh, Thiaaan… bukan begitu!”

Xuhui melonggarkan jarak dari Feng Naga. Ia hendak menuju ke kandang ular yang sejak tadi terus-menerus dia pandang.

“Kedatangan ketiga Mamah Xue….”

“Jangan ceritakan kengerian luar biasa itu, Xu. Papahmu sudah ndak kuat.”

“Ia datang lagi dengan gaun ketika meninggal.”

“Maaaf, mohon maaf, Dewa. Owe ndak bermaksud membunuh.”

“Mamah mengakhiri hidup karena sudah tidak kuat menahan perih hati.”

“Oalaaah, oalaaah!”

“Apakah Papah Feng tidak menyesal atas kejadian itu? Tolong ceritakan siapa Xue Chan sebenarnya pada masa muda.”

“Ndak, Xu, owe ndak sanggup. Xue Chan mamah kamu, dia istri owe. Dia perempuan baik-baik, anak keluarga terhormat, sedangkan owe berandalan jalanan. Owe sangat beruntung mendapatkan jodoh perempuan seanggun dia. Tapi owe ya tetap owe, ndak tahu diri. Huuu… huuu!”

“Papah Feng, Papah Feng! Menyesal kueja nama Naga di belakang namamu. Sebutan naga selayaknya disandang pribadi pemberani yang melindungi. Tapi Papah Feng tidak melakukan semua itu. Kematian Mamah Xue mestinya bisa dicegah, karena Papah berada di sekitar rumah kita.”

Baca juga  Wasiat Simbok

“Sudahlah, Xu, akankah kamu siksa terus-menerus papahmu?”

Xuhui menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongan. Sebenarnya ia ingin meludahkan di depan laki-laki itu. Namun tidak jadi. Hati kecilnya masih bekerja cukup baik. Ia mencegah hal-hal yang sangat liar di pikirannya.

***

Hujan disertai badai yang menimbulkan banjir di sana-sini diyakini sebagai ulah para dewa yang sedang berpesta di atas langit. Usai berpesta, mereka mencuci piring, dan timbullah curah hujan luar biasa lebat. Maka, limbah pesta berupa hujan besar itu senantiasa manusia tunggu agar dapat mencuci seluruh kekotoran isi bumi.

Malam ini, di Gang Waroeng, Gang Pinggir, Gang Tengah, Gang Lombok sedang berpesta hujan. Xuhui menyaksikan burai anakan hujan itu dari rumah lantai atas. Ia sudah tidak bersama Feng Naga. Setelah bicara dari hati ke hati, bercengkerama seperti anak seumuran, Feng Naga kembali menghilang dari rumah. Beberapa orang menjemputnya dengan mobil. Mereka akan berpesta di sebuah tempat mesum di kawasan distrik barat.

“Xu, bersenang-senanglah pada malam kedua puluh sembilan ini. Owe hendak diajak kawan-kawan berpesta. Jangan lupa, sembahyang untuk mamah kamu.”

Kini Xu termangu di rumah lantai atas, tempat dulu Xue Chan, sang mamah, terjun bebas hingga mati dari teras gedung. Xuhui tersenyum menatap lanskap di bawah loteng. Lampion dipasang bertali, diseberangkan satu-dua jajar di jalan raya. Bau dupa makin tajam di hidungnya. Tiba-tiba air mata menitik. Siapa tidak merindukan Mamah saat seperti ini? Adalah kegilaan besar kalau kakak dan adiknya tidak mengingat mamahnya. Meski Feng Naga tua bisa jadi telah melupakan.

Sejarah memang bisa diputar sesuai dengan arah sang empunya cerita. (28)

Semarang, 2016-2020

Handrya Utama, pegiat sastra, ketua Dewan Kesenian Semarang. Ia menulis puisi, cerpen, dan novel, serta beberapa kali jadi narasumber pertemuan sastra tingkat Asia Tenggara.

Average rating 2.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: