Cerpen, Radar Bromo, Sam Edy Yuswanto

Selasih

3.5
(4)

TAK ada seorang pun wanita di muka bumi ini yang bercita-cita menjadi pramuria. Begitu pula dengan Selasih. Gadis desa yang memiliki cita-cita setinggi langit, tapi terputus di tengah jalan karena keadaan. Betapa ia tak menyangka nasib hidupnya akan segetir simalakama. Ayahnyalah yang telah menyebabkan ia terjerumus ke dalam lumpur dosa tak berkesudahan.

“Lasih, lebih baik kamu berhenti sekolah saja,” Selasih masih ingat kalimat yang terucap enteng dari bibir ayahnya kala itu. Tepatnya sepulang sekolah. Kalimat yang langsung membuatnya kaget tak kepalang sementara benaknya disesaki tanda tanya.

“Berhenti? Kenapa, Yah?” Selasih nyaris berteriak tak kuasa menahan emosi. Bagaimana tidak? Ia baru saja naik kelas tiga Aliyah. Sedang asyik-asyiknya menikmati masa remaja. Ia juga sangat ingin melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran agar cita-citanya menjadi dokter kandungan terwujud.

Ada alasan khusus, mengapa Selasih ingin sekali menjadi dokter ahli kandungan. Dulu, Sutarmi, ibu kandungnya meninggal dunia saat melahirkan anak kedua yang adalah adiknya. Ketika itu, ibu tak memiliki uang yang cukup untuk melahirkan di rumah sakit.

Ibu mengalami pendarahan hebat beberapa detik pasca melahirkan hingga akhirnya meregang nyawa. Sementara si jabang bayi terlahir dalam keadaan tak menjerit alias telah kehilangan nyawa sejak masih dalam kandungan.

Sejak kejadian menyedihkan itulah, Selasih menanam cita-cita mulia di kepalanya ingin menjadi dokter ahli kandungan. Ia ingin membantu para ibu miskin melahirkan bayi-bayi mereka di berbagai pelosok desa.

“Ayah sudah nggak sanggup lagi membiayai sekolahmu,” dalih ayah sambil mengembuskan asap kreteknya ke udara.

“Kalau biaya yang jadi kendala, Selasih akan mencari pekerjaan sepulang sekolah. Selasih akan bekerja apa saja agar bisa sekolah, Yah,” kali ini Selasih memelankan volume suara. Ia berusaha sekuat tenaga meredam emosi. Sebelumnya ia tak pernah sekali pun berkata dengan nada tinggi seperti itu pada ayah.

“Ayah nggak setuju kamu bekerja. Lagian buat apa kamu sekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya urusan mencari nafkah adalah tanggung jawab suami? Oh iya. Tadi pagi, Pak Jono datang ke sini untuk melamarmu. Ayah harap kamu…” keterangan ayah yang enteng, ketus, dan tanpa beban itu membuat Selasih syok. Kali ini ia langsung bisa menebak alasan utama ayah menyuruh berhenti sekolah sebenarnya bukan karena soal biaya. Andai ibu masih hidup, tentu ia bisa mengadu sembari menangis di pelukannya sebagaimana saat kecil dulu.

Baca juga  Mahkota Mawar, Niscaya Bertabur

Ayah memang sosok berkarakter keras. Bahkan tak jarang Selasih melihat ayah memukul ibu ketika ibu melakukan kesalahan. Di mata ayah, entah kenapa ibu seringkali terlihat salah meski hanya sepele. Misalnya ketika menghidangkan kopi tapi kata ayah terlalu pahit atau terlalu manis.

***

Pada akhirnya, Selasih tak memiliki pilihan lain saat ayah benar-benar menyuruhnya berhenti sekolah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah menerima garis takdir yang harus dijalani. Sebenarnya Selasih bukan tipikal gadis yang gampang menyerah dengan keadaan, sesulit apa pun itu. Sehari setelah ayah menyuruhnya berhenti sekolah, ia merencanakan sebuah ide kabur dari rumah.

Namun, semua rencananya hancur berantakan. Tengah malam, ketika hendak kabur melalui pintu dapur, Ayah memergoki Selasih yang baru saja memutar anak kunci pintu dapur. Sejak kejadian itu, ia dikurung dalam kamar. Sementara kunci selalu dipegang oleh ayahnya.

***

“Lasih, kenapa kamu belum dandan? Tamu di bawah sudah banyak yang menunggu,” teguran Mami Helena sontak membuyarkan lamunan Selasih. Sejak ayah memaksa dirinya menikah dengan Pak Jono, duda dan saudagar kaya dari desa sebelah, kehidupannya berubah 180 derajat. Menempati rumah megah nan mewah tak lantas membuatnya bahagia. Ia menangis tiap hari. Terlebih perlakuan Pak Jono ternyata tak berbeda jauh dengan ayah yang suka bermain kasar terhadap almarhumah ibu.

Sebagai seorang wanita, Selasih merasa sangat terluka ketika suatu hari Pak Jono bilang bahwa ia telah membayar mahal agar bisa menikmati tubuhnya. Rupanya, ayah telah menjual putrinya sendiri dengan kedok nikah siri.

“Aku harus kabur dari rumah terkutuk ini,” begitu tekad Selasih ketika Pak Jono sedang berada di luar rumah, sibuk dengan bisnisnya.

Baca juga  Orang Bunian

Namun, Selasih hanya bisa bernapas lega sebentar sekeluarnya dari rumah Pak Jono. Di kota besar ia ditolong oleh Ibu Helena saat sedang kebingungan hendak pergi ke mana. Tadinya ia mengira Ibu Helena adalah wanita dari surga yang sengaja diutus Tuhan untuk menolongnya. Tapi, dugaannya meleset. Ibu Helena ternyata seorang muncikari. Ia memiliki rumah besar dengan puluhan kamar yang dijadikan tempat pelacuran berkedok kos-kosan mahasiswi. Para penghuni yang mayoritas gadis di bawah umur itu biasa memanggil Mami pada Ibu Helena. Nahas benar nasib Selasih. Ibarat kata, keluar dari kandang macan, malah terperosok ke kandang singa.

***

“Mas, kita nyari suasana di luar saja, yuk?” Selasih berbisik pada lelaki paro baya yang mem-booking-nya malam itu.

“Apa Mami Helena membolehkan?” tanya lelaki yang mengaku bernama Pak Mulyono dan lebih senang jika dipanggil ‘Mas’. Katanya, ia merasa lebih awet muda ketika Selasih memanggilnya demikian.

“Bilang saja Mas pengin cari suasana baru yang lebih fresh dengan mengajakku ke hotel berbintang. Jangan lupa, Mas harus kasih fee dan meninggalkan KTP agar Mami Helena percaya,” Selasih terus merayu lelaki yang mengaku bekerja sebagai wakil rakyat dan sedang kunjungan kerja di kota ini. Mami Helena ternyata memiliki kolega cukup banyak dan beragam, mulai orang-orang kelas bawah hingga para pejabat. Gratifikasi seks di kalangan pejabat selama ini memang bukan sekadar isapan jempol. Tapi nyata adanya.

Selasih akhirnya bisa bernapas lega saat berhasil membujuk Pak Mulyono, pejabat berkantong tebal yang membuat Mami Helena percaya seratus persen. Malam itu, Selasih memang tengah merencanakan sesuatu. Nyaris setahun ia terkurung di rumah Mami Helena menjadi pemuas nafsu lelaki hidung belang. Dan, itu cukup membuatnya tersiksa lahir batin.

Selama ini ia berusaha bersikap manis di depan Mami Helena. Ia mengubur keinginannya kabur dari tempat laknat itu setelah melihat teman-temannya yang gagal kabur, selanjutnya bernasib mengenaskan. Mereka disiksa, dikurung, bahkan diancam akan dibunuh perlahan.

Baca juga  LARON

Namun, kali ini rencana Selasih kabur dari tempat bordil itu telah bulat. Apapun risiko yang akan terjadi, telah ia serahkan sepenuhnya pada Tuhan. Ia sudah tak tahan menjalani hari-harinya sebagai pramuria. Ia ingin bertobat dan secepatnya keluar dari kota ini. Ia ingin mencari pekerjaan apa pun itu, asal halal. Ia masih ingin kembali merajut cita-citanya yang sempat terkubur oleh ujian hidup yang membuatnya nyaris putus asa.

Di dalam mobil yang disopiri Pak Mulyono sendiri, Selasih tampak khusyuk berdoa dalam hati, semoga rencananya berhasil. Ia telah menyiapkan obat tidur dosis tinggi di saku celana yang akan membuat lelaki di sebelahnya terlelap dalam jangka waktu lama.

Ketika Selasih sedang khusyuk berdoa dengan mata terpejam, tiba-tiba ia mendengar suara rem mobil berdecit, hingga tubuhnya terdorong. Kepalanya pun membentur dasbor sangat keras. Rupanya Pak Mulyono tak bisa mengendalikan setir saat berada di tikungan tajam. Sementara dari arah berlawanan sebuah mobil truk pengangkut barang juga tengah melaju dengan kecepatan tinggi.

Selasih sempat mendengar teriakan Pak Mulyono dan teriakannya sendiri yang begitu nyaring sebelum pandangannya berubah gelap. ***

Puring Kebumen, Juni 2013-2020

Sam Edy Yuswanto. Lahir dan berdomisili di kota Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa seperti: Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll. Lima buku kumpulan cerpennya yang telah terbit yakni: Percakapan Kunang-Kunang, Kiai Amplop, Impian Maya, Kaya dan Miskin, dan Filosofi Rindu.

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: