Cerpen, Daru Pamungkas, Republika

Serban Pak Kiai

2.3
(10)

Bola mata Kiai Maksum mengarah ke langit dengan tatapan kosong. Di atas pembaringan, tubuh ringkih itu tak lagi hangat. Suara erangan dari mulut Sang Kiai semakin sering keluar, beradu dengan sayup-sayup pembacaan yasin para santri yang semakin keras terdengar.

Hanum dan ibunya, Nyi Lasmi, yang sedari tadi memijat kaki dan lengan pun semakin lantang mengumandangkan kalimat tauhid. Saat erangan Kiai semakin keras, Hanum lekas memanggil Husen.

“Bapak, Mas,” lirih Hanum pada suaminya.

Lelaki bertubuh jangkung itu duduk di samping pembaringan. Mulutnya didekatkan pada telinga sang mertua. Sebelum dua kalimat syahadat dilafazkannya, lengan Sang Kiai merangkul pundak Husen. “Pakailah serban bapak,” katanya lirih dan terbata.

Lengan Sang Kiai pun jatuh dari pundak Husen. Detak jarum jam seolah terhenti, semilir angin malam menelusup melalui selasela jendela kayu. Pigura foto Kiai Maksum yang berjajar dengan bingkai bergambar ulama tersohor negeri ini, seolah menjadi saksi bisu atas apa yang terjadi malam itu. “Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun,” ucap Husen seraya menutup kedua mata Sang Kiai.

Tangis histeris seluruh keluarga pun pecah. Belasan santri yang duduk dengan Alquran di pangkuan tetap melanjutkan pembacaan Yasin, sesekali mereka mengusap mata yang mulai berkaca-kaca.

Hanum menjerit. Husen memeluk istrinya, beberapa kali ia mengusap butiran air yang mengalir di pipi lembut itu.

“Abah belum sempat melihat anak kita, Mas.” Hanum mengucap lirih, mengusap perutnya.

“Sabar, Mah, ini sudah kehendak Allah.” Husen menenangkan.

Tak lama, Haji Komar, ketua pengurus Surau mengumumkan berpulangnya Kiai Maksum dari pengeras suara, disambung azan Subuh yang mengangkasa. Husen lekas mengenakan masker dan bergegas menuju surau. Di kepalanya, masih membayang tentang pesan terakhir sang mertua.

Santri yang baru lulus pesantren di Jawa Tengah itu, sudah dipersiapkan oleh mertuanya sebagai pengganti menjadi imam di surau. Husen sebenarnya merasa tak sanggup, tapi tugas berat itu harus ia terima, mengingat, tak ada lagi pengganti lain yang layak dijadikan imam, karena sebagian besar pemuda di kampung ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk berjudi dan mabuk sepanjang hari. Jamaah yang selama ini mengisi surau tak lain ialah bapak-bapak dan lansia.

Pernikahannya dengan Hanum, anak semata wayang Kiai Maksum, menjadi awal bagi kehidupannya yang penuh dengan tantangan. Dengan berbekal ilmu agama, ia bisa menggantikan tugas mertuanya mengajar mengaji kitab para santri.

“Kalau enggak ada kamu, abah enggak tahu mau mengandalkan siapa lagi. Punya adik satu-satunya cuma ninggiin gelar haji, tapi enggak mau belajar dan mengambil hikmah dari kehajiannya itu,” kenang Husen pada curhatan Sang Kiai dua minggu lalu.

Baca juga  Seseorang di Mimpiku, Tapi Bukan Kamu

Ponselnya berdering, Husen merogoh saku celana dan lekas mengangkatnya. Hanum mengabarkan sebentar lagi jenazah segera dishalatkan. Langkahnya dipercepat, mendahului para warga yang juga menuju kediaman duka. Keranda berselimut kain hijau bertuliskan lafaz Lailaha illallah itu dibawa ke masjid dan langsung menuju pemakaman. Husen berjalan perlahan, di bahu kirinya gagang depan keranda bertumpu bersama bahu para santri yang ikut menggotong.

“Kalau sampai menantunya almarhum Pak Kiai yang jadi imam, pasti bakal seret rezeki kita.” Jojon, pemuda setempat menggerutu.

“Makanya, kita kudu bener-bener ngelakuin apa yang diminta Pak Haji Komar,” timpal Mang Badri, sopir angkot yang selalu telat shalat berjamaah.

“Tapi, gue masih rada kurang percaya sama apa yang dibilang Haji Komar semalem. Masa iya, serban bisa bikin dia kaya?”

“Ehm.” Haji Komar berdeham sambil menyundut rokok di bibirnya. “Kalau kalian berdua masih pada betah hidup susah, mending pulang sana, enggak usah ikut saya lagi.”

“Eh enggak Pak Haji, cuma penasaran aja,” tampik Jojon yang langsung melirik Mang Badri.

Haji Komar tersenyum sinis, langkahnya kini menjajari tubuh Jojon dan Badri. Lengan kanannya merangkul pundak keduanya. “Inget, kalau udah dapet, langsung bawa ke rumah saya,” bisiknya.

Usai pemakaman, Haji Komar bersama Jojon dan Mang Badri langsung ke rumah duka, membantu persiapan tahlilan. Halaman depan rumah semakin ramai didatangi para pelayat, mereka yang datang dari luar kota hanya mampu mendengarkan cerita-cerita menjelang almarhum wafat dari Nyi Lasmi, menanyakan firasat, dan sesekali mengungkapkan berbagai macam kebaikan yang pernah dilakukan sang kiai semasa hidupnya.

Saat Haji Komar mengatur para santri menggelar tikar, menyiapkan tempat mencuci tangan untuk jamaah, dan memberi tanda jaga jarak tempat duduk. Husen menghampiri dan mencium lengan uwaknya itu. “Mau dibikinin kopi, Wak Aji?” tawarnya.

Namun, Haji Komar hanya menggeleng. Husen mengangguk, kemudian melihat di depan rumah para santri sedang berkerumun membawa buntalan kain. Baru tiga langkah kakinya mendekat, Haji Komar memanggilnya. “Ke rumah Kiai Masdar ya, di kampung sebelah, bilang kalau tahlilannya bakda Isya. Sekarang!”

“E, iy… iya, Wak, sebentar.”

“Kalau dientar-entar takut kiainya keburu pergi, tadi uwak telepon, katanya mau ngisi pengajian di luar kota. Kudu didatengin sekarang, biar pasti,” tegasnya.

Husen segera mengambil motor dan melesat.

Baca juga  Sorban Kiai

Melihat Nyi Lasmi menyalami para pelayat yang berpamitan pulang, Haji Komar menghampiri. Langkahnya tampak ragu, tapi wajahnya seketika berubah penuh duka. Diciumnya punggung lengan Nyi Lasmi, “Nu sabar nya, Nyi. Ngiring bela sungkawa. Kak Aji nuju ka Gusti Alloh.” Lirih Haji Komar, disambut senyum yang dibarengi mata berkaca perempuan asli Tanah Parahyangan itu.

***

Usai memastikan kehadiran Kiai Masdar untuk tahlilal, Husen mengajak Hanum pulang ke rumah mereka yang tak jauh dari rumah ayahanda. Sepanjang perjalanan, ia menceritakan pesan terakhir almarhum dan meminta untuk mencarikan serban. Hanum menghentikan langkah, matanya menatap Husen yang kebingungan.

“Kalau emang abah minta, Mas pakai serban itu, berarti abah sudah memercayakan pemimpin surau dan pesantren ini ke, Mas. Sama seperti dulu kakek saat mengalungkan serban ke leher Abah,” kata Hanum masih dengan suara sendunya.

“Di mana serban itu, Mah?”

“Kenapa Mas enggak bilang dari tadi, soalnya semua pakaian di lemari rumah Abah sudah diambil santri dan warga tadi pagi,” kata Hanum.

“Tapi di rumah kita kan ada lemari pemberian Abah,” Husen mengingatkan.

“Oh iya, siapa tau ada di sana.” Mereka bergegas.

Rumah mereka berada dekat dengan kobong para santri, hanya terpisah dua petak sawah, yang dihubungkan oleh galengan yang di sisi kanannya mengalir air dari kali besar. Rumah sederhana yang di halamannya rimbun oleh pohon mangga ini warisan almarhum kakek Hanum.

Setelah sang kakek menyerahkan serban kepada Kiai Maksum, Haji Komar merasa kecewa. Ia tak bisa menerima sepenuhnya keputusan ayahnya itu. Serban bagi keluarga besar Hanum bukanlah alat ibadah semata. Namun, menjadi benda yang disakralkan, sebagai pegangan bagi pemimpin, bukan hanya memimpin surau, melainkan juga seluruh aset berupa tanah, sawah, dan kebun milik keluarga.

Di ruangan kamar yang disiapkan untuk anak pertama mereka ketika besar nanti, terdapat sofa bergambar doraemon berukuran sedang berwarna biru, kasur, lemari, gantungan kertas berbentuk bintang berwarna-warni, serta dinding bergambar kaligrafi tulisan Arab.

“Nanti kalau anak kita lahir dan sudah gede, dia pasti enggak mau pakai lemari ini ya, Mah. Kegedean dan sudah lapuk,” kata Husen sambil terus mencari serban.

Hanum menelepon ketua santri agar memeriksa para santri yang mendapat serban untuk diserahkan kembali. Usai mematikan ponsel, suara benda keras menghantam kaca terdengar dari ruang depan. Mereka terkejut, Husen lekas keluar kamar, disusul Hanum yang panik. Botol kosong berisi secarik kertas sudah tergeletak di lantai bersama serpihan kaca.

Baca juga  Riwayat Kemiskinan

“Kamu enggak layak jadi imam di surau kami,” ucap Husen meniru tulisan di kertas itu.

“Astaghfirullah, enggak usah diladenin, Mas. Itu cuma orang enggak ada kerjaan, yang sirik sama, Mas,” Hanum menenangkan.

Kini giliran ponsel Hanum berdering, di ujung sana, ketua santri mengabarkan ibunya ditemukan pingsan di dalam kamar, tersungkur di depan rak kitab dengan dahi berdarah. Hanum menjerit, ditarik lengan suaminya dan berlari, membuka pintu dan menerabas galengan sawah. Hanum merangsek masuk di antara kerumunan santriwati yang memadati pintu kamar.

Melihat ibunya terbaring di pembaringan, Hanum menangis, rintihannya mengerang, seketika ia merasakan perih yang tak terkira, tangan kanannya meremas bagian bawah perut, lengan kirinya berpegangan pada dinding dekat jendela. Para santri putri panik dan memapahnya.

Husen yang melihat istrinya merintih sigap mendekat. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat dari biasanya, diusapnya dahi Hanum yang kini deras mengucur keringat. “Sakit, Mas,” lirih Hanum yang di kakinya sudah berlumuran darah dari kemaluannya.

***

Di kamar klinik perawatan, Hanum masih belum banyak bicara, matanya hanya menatap ke langit-langit kamar, yang diterangi lampu berwarna putih, seperti seprai yang menyelimuti kasur dan bantal. Husen yang duduk di samping Hanum pun tak bersuara, hanya air mata yang mampu mewakilkan perasaannya.

Pintu kamar terbuka, para santri putri datang untuk bergantian menjaga Hanum. Setelah mendapat kabar Nyi Lasmi sudah pulih, Husen pun memutuskan pulang, memastikan tahlilan sang mertua berjalan lancar. Azan Maghrib berkumandang, langkahnya berbelok menuju surau. Saat itu, Haji Komar sudah berdiri di mihrab sambil mengenakan serban berwarna putih yang semerbak parfumnya seperti harum Kiai Maksum saat mengimami. ■

Daru Pamungkas, relawan Rumah Dunia yang bekerja sebagai wartawan di Radar Banten, dan menjadi anggota klub menulis Anjing Gurun. Lahir ke bumi 12 November 1995 di sebuah kampung dekat Pasar Bancong, Desa Sukadarma, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi. Karyanya berupa novel Purnama di Citarum (Gong Publishing, 2018), kumpulan esai Tahu Bulat dan Literasi, catatan perjalanan Singapura dan Malaysia berjudul Mengembara di Jalur Sutra, serta aktif menulis cerpen di majalah dan media daring.

Average rating 2.3 / 5. Vote count: 10

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: