Andreas Mazland, Cerpen, Medan Pos

Seseorang di Mimpiku, Tapi Bukan Kamu

4.5
(4)

Setahun lalu dunia seakan rubuh tepat di atas kepalaku. Lantaran kaupergi meninggalkanku dengan alasan yang sampai saat ini tak dapat kupahami. Sejak itulah seluruh anganku hilang seperti hangus dilulur api. Segala pengharapanku bersamamu di hari muka patah tepat di ranting muda cintaku yang sedang tumbuh merangkak menatap dunia dengan bunga-bunga merah berkilauan.

“Kita harus berhenti saling mencintai, Maya. Kau dan aku memang tak ditakdirkan untuk bersama.” Katamu saat itu yang sampai hari ini masih bersisa pedihnya. “Lagi pula kita berdua telah mengambil jalan memutar sejak tamat SMA. Dan jarak putaran itu semakin jauh setelah setahun kita menjalani hubungan yang berjauhan pulau.”

Saat kutanya mengapa hanya karena itu kau kemudian mengakhir hubungan yang telah lama kita pupuk sedari SMP kelas tiga. Dengan enteng kau jawab, “Tuhan punya pilihan berbeda. Tapi ia tak mungkin turun untuk menunjukkan jalan itu langsung pada kita. Aku hanya berprasangka lewat simbol-simbol yang ia kabarkan padaku sejak kita berpacaran.”

Tapi aku masih tak dapat menerima pendapatmu itu. Kita berdebat keras hingga sejaman. Saat aku tanya, apakah hamba tuhan hanya kau saja? Mengapa aku tidak ia beri kabar simbol itu. Dan simbol seperti apa yang dikabarkannya padamu, sehingga kau yakin aku bukan jodohmu? Kau tak menjawab, malah mematikan telvon. Dan sejak saat itu aku tak dapat lagi menghubungi nomormu meski telah ratusan kali kucoba.

Saat itu aku menangis sepanjang malam. Malah hingga pagi menjelang aku jatuh sakit. Bukan karena kurang tidur, tapi pikiranku kacau, sebab hilangnya dirimu. Ingin kutanyakan, apakah Tuhan palsumu yang tak adil itu yang menunjukkan bahwa cara terbaik membunuh cintaku padamu adalah dengan memblokir nomor telvonku? Tapi apalah daya, kau telah raib. Bahkan facebookmu pun tak kujumpai lagi.

Baca juga  Martavan

Pernah suatu kali kucoba menelponmu dengan nomor yang baru kubeli. Kau mengangkatnya, tapi ketika mendengar suaraku. Kau matikan secepat kilat, bagai orang kesurupan yang mendengar bismillah saja. Sejak itu aku sadar bahwa sudah tidak ada lagi harapan untuk bersamamu.

Meskipun begitu, namanya perempuan, aku masih saja terus memikirkanmu hingga larut malam dengan air mata berlinang. Makan tak niat, mandi tak semangat. Berat badanku turun. Ibu dan ayahku sampai cemas karena itu. Mereka pikir aku kena guna-guna lelaki yang kujumpai di kampus. Ah, andai mereka tau bahwa hatiku remuk karenamu, mungkin saja ayahku akan marah sejadi-jadinya padamu dan Tuhan palsumu itu. Tuhan yang tak adil.

Namun pernah terbesit di hatiku, bahwa simbol yang kau sangkai diberi Tuhan padamu itu bukan dari Tuhan. Melainkan karena kamu memang sudah dapat pengganti di rantau, atau sudah bosan dan tak sanggup mengambil jenjang yang lebih jauh untuk hidup bersamaku. Tapi semakin kupikirkan, semakin bertambah sakit kepalaku. Rasanya ingin kuambil pisau dapur dan kuhunus tepat di bawah dadaku, di hati lemah yang bersarang namamu sekian lamanya, sesegera mungkin agar sakit karenamu ini lekas pula sirnanya.

Tapi tahukah kau, kendati empat bulan aku sakit berkepanjangan mengenang dirimu. Tak pernah sekalipun kau hadir dalam mimpiku. Haram tidak sama sekali. Meski kenangan aku dan dirimu itu berkebat-kebat lipatannya. Padahal kata orang-orang tua di kampung kita, jika seseorang selalu kau ingat sepanjang hari. Sepanjang malam ia akan datang dalam dua keadaan; pertama mengabarkan berita buruk, kedua kabar baik. Ini tidak sama sekali.

Malahan seorang lelaki yang tak pernah kutemui singgah di mimpiku. Wajahnya bagai Qais semasa ia belum gila karena mencintai Layla. Tubuhnya tegap laksana lelaki yang digambar Multatuli dalam roman Saijah dan Adinda. Tapi saat aku ingin mendekatinya. Aku terjaga, akan tetapi hingga sampai aku menulis cerita ini, cara ia senyum dan memanggil namaku tak pernah dapat kulupakan.

Baca juga  Halaman-halaman Pertama Buku Harian Dila

Sejak empat bulan aku sakit parah karenamu –setahun tepatnya hari ini– lelaki yang bukan kamu, yang hadir dalam mimpiku itu selalu rutin menjengukku dua minggu sekali. Dan polanya selalu sama, ia datang dengan senyum setelah memanggil namaku mesra, saat ingin kudekati aku terjaga, namun senyumnya tak bisa kulupa. Memang kesal bukan main rasanya. Tapi paling tidak berkat kehadirannya yang membuatku penasaran setengah mati, bayanganmu yang mengiris tipis hatiku perlahan-lahan mulai teralihkan.

Sampai hari ini, aku masih terus mencarinya. Pangeran yang mampu menggantikanmu di hatiku, meski tak seluruhnya. Sebab sejujurnya, perasaanku masih sama padamu. Walaupun aku yakin, setelah berjumpa dengannya, seluruh rasaku padamu akan sirna layaknya bunga-bunga tua di musim kemarau yang dilepas angin dari tangkainya tanpa perlawanan dan perdebatan yang berarti.

Setahun lalu dunia memang seakan rubuh tepat di kepalaku. Lantaran kaupergi meninggalkanku dengan alasan yang sampai saat ini tak dapat kupahami. Tapi sejak kedatangan lelaki yang bukan kamu di mimpiku itu, bunga yang pernah kaupatahkan dengan sengaja mulai tumbuh kembali perlahan-lahan. Harapan yang kaubakar dengan api ketidakadilan versi kepalamu itu, mulai merangkak dan membangun sarang baru untuk seseorang yang sampai hari ini belum kujumpai dan kukenal namanya.

Tapi aku percaya lambat laun. Tuhan akan mempertemukan aku dengannya. Lelaki yang sanggup menemaniku dalam fase terendah dalam hidupku itu. Fase di mana aku bahkan tak mempercayai keberadaan Zat yang mengatur segala isi dunia.

Mungkin hadirnya lelaki itu dalam mimpiku adalah pesan dari Tuhan bahwa ia ada dan akan berlaku adil untuk setiap manusia.

Pekanbaru, 2020

Andreas Mazland. Lahir di Banda Aceh, 1997. Menulis cerpen, puisi dan essai. Mahasiswa Jurusan Sejarah, Universitas Andalas, Padang. Aktif di Lapak Baca Pojok Harapan, sebuah komunitas literasi mahasiswa di Kota Padang

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: