Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Islamisme Nirtarikh

Keindahan Lembah Hunza dari jendela Benteng Baltit, Pakistan Utara (dokumentasi pribadi penulis)

4.7
(13)

Dalam sebuah perbincangan tentang sebuah topik, seseorang dengan percaya diri mengatakan bahwa seharusnya kita tidak terlalu menuhankan Plato atau Aristoteles dalam urusan filsafat sebab Islam memiliki filsuf legendaris Al Kindi yang menguasai multidisiplin pengetahuan, bahkan menulis banyak karya yang meliputi metafisika, etika, logika dan psikologi, hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, astrologi dan optik, juga meliputi topik praktis seperti parfum, pedang, zoologi, kaca, meteorologi dan gempa bumi.

Sampai di sana saja saya sudah mau tertawa sebenarnya. Tapi, belum lunas komedi itu mengejutkan saya, ia malah menambah dosisnya dengan mengatakan bahwa: “Jangan-jangan Aristoteles belajar dari Al Kindi!”

Aduh. Aduh. Aduh.

***

Fenomena keblinger menempatkan Islam sebagai muara dari segala urusan merupakan produk faham Islamisme yang membabi-buta. Bukan saja menjadi lucu karena justru Aristoteles dan/—apalagi—gurunya Plato lahir 1.000 tahun lebih dulu daripada Al Kindi (Aristoteles 384 SM, sementara Al Kindi pada 801 M), tapi juga tentang orang-orang yang malas berurusan dengan sejarah, tapi tak sabar ingin kelihatan pintar di hadapan banyak orang. O tidak, ada yang lebih esensial masalahnya: islamisme nirtarikh.

Islamisme Nirtarikh adalah sebuah pemikiran yang menempatkan Islam sebagai pusat dan pusaran semesta tanpa didasari pemahaman yang holistik dengan histori-sosiologis ajaran tersebut. Paham ini meletakkan Islam sebagai mula dari segalanya: Islam hadir sebelum Bumi ada, Islam hadir sebelum Zaman Kapur yang menempatkan Dinosaurus sebagai salah satu makhluk hidup yang digdaya, Islam hadir sebelum kejayaan Fir’aun, Islam hadir ketika semesta kosong. Sehingga, apa pun urusannya, semuanya harus melihat ulang Islam karena ini adalah kemuliaan yang hadir sebelum segala!

Secara filosofis dan konsep penciptaan, beberapa orang memandang itu sah-sah saja, tapi tidak. Tidak bisa. Pemahaman bisa duduk secara esensial kalau memahami akar dan peduli bagaimana mula segalanya, apabila peduli sejarah.

Baca juga  Saat Bertemu Pejuang

Islamisme Nirtarikh setali tiga uang dengan ketaklidan buta akibat malas berpikir dan mengkaji, tapi terlampau bersemangat untuk menjadi misionaris agama, seakan-akan Islam satu-satunya agama monoteisme di dunia, padahal, pada 350, Fir’aun Akhnaton sudah merilis agama tunggal dengan “memaksakan” rakyatnya menyembah Dewa Aton.

Jemaah Islamisme Nirtarikh tidak peduli bahwa ketika Muhammad kecil menyandarkan punggungnya di pokok Pohon Sahabi di Bushra, Kerajaan Sriwijaya baru saja mencaplok Kerajaan Melayu di Jambi. Siapa yang peduli bahwa ketika Khalifah Abu Bakar menjadi khalifah pertama, orang-orang Jepang hari ini belum mengenal Konghucu, melainkan sedang bereuforia dengan ajaran Budha. Atau siapa yang peduli kalau beberapa saat setelah Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah menggantikan Ustman bin Affan yang terbunuh setelah pengepungan oleh 500 pemberontak di kediamannya, orang-orang Skandinavia bermigrasi ke daerah di sekitar pegunungan Kaukasus yang kemudian menjadi cikal-bakal Rusia hari ini. Siapa peduli. Mereka tidak peduli.

Mencintai Islam sebagai agama yang mulia tidak seharusnya menjadikan kita antisejarah, tak peduli tarikh, dan membunuh nalar. Seakan-akan lupa, bahwa Islam adalah penyempurna dari ajaran-ajaran terdahulu, bukan pintu masuk peradaban manusia sejak mereka belum menemukan api atau masih memandang domba dan kambing sebagai binatang liar.

Di forum yang lain, seseorang mempertanyakan keislaman saya atas sikap kritis yang saya tunjukkan, seakan-akan saya adalah anti Islam, seakan-akan saya adalah seorang liberalis yang memilih Islam karena KTP mengharuskan pencantuman Agama sebagai bagian dari identitas. “Anda membaca buku-buku saya?” kata saya. Ia menggeleng seakan-akan ingin menyampaikan pesan bahwa buku-buku saya tidak layak masuk daftar must-read-nya. Tidak apa. Sah-sah saja. “Terus, buku apa saja yang Anda baca?” Ya, saya tentu saja penasaran. Jawabannya benar-benar menohok saya. “Kenapa harus repot-repot membaca, tah semuanya sudah ada di Youtube!”

Baca juga  Tuan Kong Bertanya Kabar Dzulkarnain

Informasi tentang dunia (Islam) juga berserakan di Youtube-mu itu kok, batin saya. Ya, dalam hati saja.*

Lubuklinggau, 3 Januari 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Warini Widodo

    Agama merupakan produk budaya. Namun banyak yg tdk paham itu mas Benny…

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: