Faris Al Faisal, Kedaulatan Rakyat, Puisi

BUKIT BATU

2.5
(2)

LONCENG TUA

.

Gemetar tubuh bertemu angin

Ratap merdu di selimut kerak logam

Lonceng tua berbunyi

Membangunkan mimpi

.

Tapi udara membawa embun dingin

Rintihan anakanak burung gereja

Menatap bulan merah

Melumuri wajah langit

.

Bunyilah seperti aku masih kanakkanak

Serombongan domba yang membuatku

terpana

Riuh mencipta irama

Dunia tanpa luka derita

.

Dalam gerak beriring dering

Ada panggilan kepada masa lalu

Sebuah pintu terbuka

Padang bahagia menganga di sana

. 

Indramayu, 2019

 .

BUKIT BATU

.

Jika lapar tiba

Ke bukit batu mengganjal perut

Agar tak sampai maut

Memikul sendiri berat hidup

.

Kami berjalan, kami bertahan

Kaum yang terpinggirkan

Naik ke puncak kesunyian

Turun ke lembah kegelapan

.

Makan batu leburan

Di mangkuk tangan serupa bubur tanah

Pesta jelata

Tiada yang tersisa

.

Indramayu, 2019

 .

SERPIH

 .

Ini bukan lagi jalan yang mudah dilewati

Serpih

Potongan kertas yang ditaburkan

Di persimpangan: empat jalan memecah

Kita terburuburu berpisah

.

Indramayu, 2019

 .

JALAN KECIL

 .

Sebuah uluran tangan

Adalah jalan kecil menuju kedamaian

Senyap rintih sedih

Di mana biru laut melarung derita

.

Tubuh kecil dari dunia

Sebutir zarah yang masih terbelah

Mengharap sebuah hati

Pendiam dan lembut

.

Jangan bilang: tak ada pintu

Celah cahaya barang seberkas

Yang putih

Yang mengobat perih

.

Itulah jalan

Kecil tetapi manis

.

Indramayu, 2019

 .

TANAH

.

Tunggul jerami ini masih tinggi

Menyigi jarak mataku

Mengaburkan jejak gersang kakimu

Pada tanah

.

Aku mencari

Ke mana perginya tapak angin sore

Berkelok ke hutan

Rimba rimbun menyapa

.

(bayang ranting

Bercabangcabang bagai lidah ular)

Aku telah mencium

Bau tanahku

Pada tubuh

Pada yang rubuh

.

Indramayu, 2019

 .

*) Faris Al Faisal, lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Memenangan penghargaan beberapa sayembara menulis puisi.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: