Esai, Kedaulatan Rakyat, Vito Prasetyo

Pluralisme Sastra, Jalan Pulang Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosidi

2.5
(2)

KEBERAGAMAN dalam berekspresi adalah jembatan untuk menyatukan wujud nilai perbedaan. Tetapi tidak jarang pula menjadi potensi timbulnya konflik, karena tidak dibangun dan didasari oleh prinsip humanisme (kemanusiaan). Latar belakang ego yang sempit serta perkembangan dimensi sosial yang penuh dinamika akan melahirkan pelbagai perbedaan. Ini seperti sebuah ruang, yang mungkin sudah sejak lama ada dalam pemikiran sastrawan lama, antara lain Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosidi, bahwa sastra Indonesia akan tumbuh bukan pada masa mereka.

Sastra sebagai bagian dari kelenturan budaya, seyogyanya menjadi jalan atau media dalam mencapai tujuan prinsip-prinsip humanisme (kemanusiaan). Akar budaya yang tertanam puluhan abad silam, merupakan dimensi egaliter (kecenderungan berpikir bahwa seseorang harus diberlakukan sama) demi untuk kematangan kehidupan sastra. Hampir setahun silam, langit begitu mendung melepas kepergian Sapardi Djoko Damono, yang kesehari-hariannya hidup dalam kesederhanaan. Sosok kuat yang melekat seperti dalam pandangannya: “biarlah masyarakat sebebasnya memperlakukan karya itu. Saya malu kalau membicarakan karya sendiri.”

Dalam referensi kata, tentu kita cukup memahami makna pluralisme dalam sastra. Dan dalam perjalanan sastra memunculkan berbagai aliran, seperti: idealisme, materialisme, dan eksistensialisme. Dalam kamus umum sastra sering disebut sebagai genre sastra. Objek sastra memiliki dimensi ruang yang tidak terbatas, hingga menjadi subjek pembahasan yang tidak mengenal waktu. Mungkin dengan cara dan gaya yang berbeda, penulis meyakini begitu. Maka kebesaran nama seorang Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosidi telah melepas mata rantai genre yang dianggap hanya mengekang kebebasan penulis dalam berkarya.

Pada sisi ini, penulis ingin mengejawantahkan makna sastra tidak terikat pada aturan teori. Sebab selama ini kita sering terjebak dan terkungkung oleh subjektivitas pemikiran. Tanpa sadar kita telah membelenggu, bahkan memenjarakan objektivitas pemikiran dinamis. Lalu, apakah ada penyair atau sastrawan yang terlahir dalam kebesaran nama harus terikat oleh sebuah aturan yang normatif!? Esensi nilai sastra tidak harus dibatasi pada sebuah sublimasi atau metafora aksara, sehingga mematikan dalil kreativitas pemikiran positif. Sebuah fakta tentang kecenderungan masyarakat dalam melakukan apresiasi sastra begitu rendah.

Baca juga  Mengolah Polah Beragama

Kita tentu tidak menampik dengan kritisi yang sifatnya perbaikan, namun sejauh mana kritikan itu bisa memberi nilai ukur (kualitas) pada karya-karya sastra yang dihasilkan. Bagaimanapun juga karya-karya sastra yang bagus dan berkualitas harus melalui proses seleksi alam. Harus kita akui, bahwa banyak pegiat sastra yang mengelak dan menghindari proses ini, karena kehidupan sastra kini berada dimensi jarak yang sangat dekat. Metoda instan sangat menjamur dalam perspektif pegiat sastra, dengan kecenderungan berharap cepat terkenal.

Jika kita memutar waktu, tentunya kehidupan sastra sudah berlangsung beberapa abad silam. Dan pada masa Johann Wolfgang von Goethe yang berorientasi pada sastra klasik Barat, juga muncul sastra Timur dengan penyair-penyair seperti Iqbal, Attar. Yang kemudian perseteruan ini ada yang menganggapnya sebagai pluralisme sastra. Sastra Barat yang pada masa itu dianggap sebagai simbol peradaban, faktanya meninggalkan prinsip-prinsip humanisme (kemanusiaan). Maka jika kita menampilkan karya sastra pada periode Ajip Rosidi, yang lebih banyak menulis karya novel dan puisi-puisi, bagaimana bahasa filsafat menjadi kompilasi nilai budaya yang sangat tinggi, ini tentunya tidak terlepas dari pergolakan revolusi yang melanda bangsa.

Kita tidak mungkin untuk membandingkan karya Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosidi, apalagi membandingkannya dengan von Goethe. Tetapi kepergian mereka, tentu meninggalkan nilai yang begitu tinggi dalam mengeksploitasi keberadaan makna pluralisme. Ada beberapa pesan tersirat dalam karya-karya mereka, meski tidak bisa disimpulkan sebagai makna religius mendalam, karena tentunya tak ada gading yang tak retak.

Tanpa disadari seiring perubahan zaman yang berorientasi pada pemikiran-pemikiran bebas, di mana ruang dimensi kontemplasi telah memberikan kebebasan, maka orientalis sastra sangat banyak dipengaruhi oleh berbagai aliran yang individualis. Konteks sintaksis dan morfem bahasa diperlunak dengan pemahaman individu. Maka tidak heran jika saat ini bermunculan karya-karya sastra yang dikatakan sebagai karya absurd (tidak masuk akal).

Baca juga  Dramatic Reading dan Teks-teks yang Dihidupi

Pada sebuah titik, tulisan ini sama sekali tidak ingin membandingkan karya Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosidi. Nama mereka telah menyatu dalam kehidupan sastra Indonesia. Catatan sejarah belum usai dan sastra terus memacu diri sebagaimana dinamika zaman yang terus bergerak. Polarisasi masa akan memunculkan sastrawan-sastrawan baru yang sesuai masanya. Adalah sangat elegan ketika nama Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosidi, tidak hanya menjadi sebuah obituari dengan penolakan budaya kini, yang mulai kehilangan eksistensi. Mungkin di dada Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosidi masih menggumpal angan-angan yang tak terbaca! Apakah ini kita maknai dengan mengantar kepergian Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosidi, sebagai jalan pulang sejati!? ❑

*) Vito Prasetyo, pegiat sastra dan peminat budaya, tinggal di Malang.

Average rating 2.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: