Koran Tempo, Puisi, W Priatmojo

Bermalam di Pasar Swalayan

3
(2)

Bermalam di Pasar Swalayan

.

1. Rak Bunga

.

Harum bunga-bunga mewarnai kaca

dan kita adalah serangga.

.

Harum itu tumpah juga ke lantai

dan dinding pasar swalayan.

Menghadirkan bayangan rumah

dan membangunkan rasa lapar

kita yang purba.

.

Kita lekas

menghisap nektar hingga tandas.

.

2. Rak Buah dan Sayuran

.

Mata kita adalah ruang kosong dan dingin.

Warna buah dan sayuran adalah lengan

atau selimut yang menghangatkan.

.

Kau selalu berharap hidup lama.

Aku hanya berharap masa depan

ada bagi kita.

.

Barangkali, masih ada jejak keabadian

pada apel yang mengkilat itu.

.

Kita lupa, siapa yang kemudian

telah mengatakannya.

.

3. Gerai Roti

.

Harum gandum membuat rasa lapar kita

semakin menguat. Musik mengalun lambat,

dan langkah kita terasa berat. Kita memutuskan

bermalam di sini. Aku menyiapkan nyala api,

menemani kita bercerita hingga pagi.

.

Kita mesti membangun kemah!

.

Tapi kau senantiasa memimpikan,

kita adalah Remus dan Romulus.

Kau ingin membangun kota baru,

di antara rak tisu toilet dan kapur barus.

.

4. Rak Bumbu Masak

.

Dua jam setelahnya, api kita

masih tinggi menyala. Masih sanggup

untuk memanggang beberapa buruan.

.

Kau membidik dua. Lekas habis kita makan.

Beberapa buruan kaubawa lagi setelahnya—lalu lagi,

dan lagi, dan begitu seterusnya.

.

Api padam. Seluruh bumbu sudah

kita gunakan. Kita tercenung menyadari,

separuh pasar swalayan sudah kita habiskan.

.

—Adakah di luar sana, hal yang tiada habis-habisnya?

.

5. Rak daging dan ikan

.

Lalu aku membayangkan nelayan. Jutaan ikan

melayang di atas kepalanya. Di bawah perahu

mereka, jutaan plastik berenang-renang.

.

Tapi kita tak akan mampu menjadi nelayan.

Kita tak akan paham kerinduan kail pada ikan.

Kita hanya paham soal lapar, dan laut

Baca juga  Racun Kritikus

adalah meja makan.

.

6. Rak Obat-obatan

.

Kita adalah obat yang saling menyelamatkan.

.

Aku tak pernah bisa lepas dari obatmu

yang menenggelamkanku ke dalam mimpi,

lalu kau menjelma sebagai kopi

atau cahaya hangat di pagi hari.

.

Aku mencoba menjadi obat yang

menjauhkanmu dari mimpi

dan lamunan masa depan.

.

Dan aku, setengah mati,

membuatmu ketergantungan.

.

7. Kasir

.

Di pintu keluar, orang-orang mengambil

barang berharga dari tas dan dompetnya,

seakan di kepala mereka hanya tersisa

barang bekas yang tak pernah dipakai

sekian lama.

.

Lalu kau melihat, di dalam kepalaku,

pasar swalayan itu telah habis terbakar:

menjadi abu.

.

(2020)

.

Memesan Masa Depan di Pangkas Rambut

.

1. Menghadap Cermin

.

Di depan cermin, aku terpejam. Seperti

saat menikmati lagu favorit yang sering

berulang-ulang kau putar. Pita kaset itu

telah putus, dan tak dapat disambung

kembali.

.

Ingatan-ingatan yang patah menyusun

dirinya lagi. Membentuk bahaya yang

tak bisa kuhindari.

.

Di depan cermin, aku terpejam. Tak sanggup

melihat apa yang ditawarkan masa depan.

.

2. Gambar Model Potongan Rambut

.

Bayang-bayang memilih di mana ia akan

tumbuh. Aku menyiapkan petak tanah

subur di kepalaku.

.

3. Gunting dan Sisir

Bayang-bayang menjelma

tunas yang tumbuh di kepala.

Aku menyiraminya tiap pagi saat

berangkat kerja atau malam hari

ketika tak mampu memejamkan mata.

.

Beberapa tunas mekar menjadi bunga

dan aku menamainya. Beberapa lainnya

layu bahkan sebelum sempat kuberi nama.

.

Aku memotong yang telah layu, dan merapikan

bayang-bayang di kepalaku. Beberapa tumbuh

lagi menjadi tunas, lalu mati, lalu tumbuh

sekali lagi—juga tunas yang kunamai

dengan namamu.

.

(2021)

W Priatmojo lahir di Bekasi, 23 April 1993. Aktif dalam Gerakan Menulis Buku Indonesia. Ia menulis puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai media.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: