Beni Setia, Cerpen, Koran Tempo

Kota yang Raib Separuh Gaib (Kisah Kota Terlarang dalam Catatan Hoaks)

1
(2)

TEPAT di tanjung yang menjorok, di pesisir utara Danau Ualik, ada sebuah kota—begitu catatan kanalitnuk.com: Autatok. Dengan rincian: kompleks perumahan dengan jalan-jalan bersilang dan berpusat di pelabuhan. Dermaga, lapang terpisah untuk bongkar-muat, kantor tentara, kompleks manajemen ekspor-impor dengan kantor Pusat Pengelolaan Terpadu, serta rumah si Penguasa di belakangnya. Di luar itu, gudang untuk penimbunan barang, istal kuda dan sapi, bengkel kapal dan pertukangan pedati, dan pemondokan. Ada beberapa perkampungan sekitar pasar, dengan rumah sederhana, warung makan murah dan yang lebih elite, serta pemondokan murah dan yang mewah. Nyaris lengkap.

Seperti yang diceritakan oleh anggota Biagawij, komunitas orang yang dilesakkan ke tempat itu, seseorang yang mendadak memasuki dimensi lain dan tiba di kota itu. Dan menurut catatan banyak papyrus, atau cerita lisan yang didokumentasi, kota itu tetap disebut Autatok. Tempat buat bertemu dan bertransaksi dari kafilah dagang dari timur, barat, utara, dan selatan. Berdagang. Saling percaya. Berpisah, lantas berdagang lagi di tujuh atau delapan bulan kemudian. Kepercayaan itu bermuara di kesepahaman tentang acuan nilai mata uang, berdasarkan nilai tetap emas di satu sisi, dan kesepakatan agar tidak boleh dikuasai siapa pun. Dijadikan daerah otonom untuk transaksi semata.

Kota perdagangan mandiri yang didukung semua pihak—sehingga di Pelabuhan, di seputar kompleks Pusat Pengelolaan Terpadu, berjejer Kantor Perwakilan Dagang Kafilah, serta markas pasukan yang terdiri dari banyak ras, tapi dipimpin, bergiliran, oleh wakil terpilih dari daerah perwakilan dagang, yang bertugas menjaga keamanan. Sedangkan pertemuan rutin wakil-wakil daerah dan pemimpin keamanan itu selalu diselenggarakan—kemudian itu disebut (Sidang) Dewan Pengelola—yang sedikitnya beragenda memilih si Pemimpin, untuk menghindari perseteruan yang mungkin timbul.

***

BEGITU kata orang yang pernah tersesat ke kota itu—unggah kanalitnuk.com—si terserap dimensi lain serta masuk ke titi mangsa lain. Karena tak pernah ada petilasan, atau sekedar reruntuhan batu barang sebongkah, yang menunjukkan di sana pernah berdiri sebuah kota Autatok. Di situ, masa kini, hanya ada rawa-rawa, hamparan liar rumpun pandan dengan sulur-sulur akar sangat panjang, besar-berlumut, serta tua. Terkadang ada ular dan biawak, sering kali burung-burung serta banyak binatang air dan (melulu) endapan lumpur, tapi yang paling banyak itu serangga dan (terutama) nyamuk. Apa kota Autatok itu terkubur di bawah lumpur?—unggah kanalitnak.com.

Bukankah papyrus dan dokumentasi cerita lisan yang di-wedar menceritakan hal itu secara rinci?—tukas kanalitnak.com. Bukankah orang yang tersesat serta hilang, yang kuasa kembali, bisa bercerita dengan rinci tentang kota Autatok itu? Bahkan sepakat menunjuk ke daerah rawa-rawa itu? Kejelasan yang tak terbukti itu mendorong suatu kerja pembuktian yang dibiayai bersama. Dengan melakukan penggalian, sebenarnya baru pemboran, lantas meter demi meter lumpur yang diangkat ditandai serta diperiksa. Tapi benar-benar tak menemukan pertanda peradaban dan keberbudayaan. Jadi, apa Autatok memang ada, memang nyata dan pasti?—gugat kanalitnuk.com.

Baca juga  Ular-ular Pak Sudar

Lumpur rawa-rawa itu setebal 21 meter, lantas lapisan tanah tepian danau besar dengan aneka fosil binatang air setebal 37 meter, tanah orisinil Bumi sampai ketebalan 490 meter, dan lapisan batu keras. Di titik lain, setiap 25 meter dibuat liang bor, pun hanya tersedot hasil galian yang relatif sama. Tak ada apa-apa, serpihan pertanda serta sisa reruntuhan kota. Autatok itu kota yang tidak ada. Tapi kenapa banyak papyrus yang mencatat, sedang orang-orang lampau berkata, riil, mengabadikan Autatok itu dengan rinci?—sergah kanalitnuk.com. Apa itu cuma utopia yang dituturkan, yang disampaikan banyak orang? Ajakan buat membangun kota sepeti yang ada dipikirkan orang?

Mungkin. Tapi banyak orang yang tersesat, hingga terbentuk klub Biagawij, berani bersumpah bahwa tempat itu ada—di rawa liar seluas 10 hektare itu terletak Autatok. Lebih tepatnya, kebudayaan dagang yang progresif, serta dikelola dengan spirit kepentingan laba dagang dari banyak pihak—si kafilah dan pemilik modal yang hanya butuh aman berdagang dan mendapat keuntungan dari perdagangan terjamin aman.

***

DAN Eripmav—lewat penelitian 25 tahun atas banyak papyrus dan cerita lisan—tiba pada kesimpulan, Autatok itu kota idealitik perdagangan. Utopia. Tapi apa mungkin sekian suku bangsa—ada 87 suku dari 4 ras, dan (kini) ada 19 negara otonom di sekitar Danau Ualik di wilayah Kerokgnat—itu berkumpul, berkomunikasi, dan mengundang kafilah dari negara jauh? Memberikan jaminan keamanan bagi tiap lalu lintas barang, yang transaksi dagangnya dipusatkan di Autatok? Dan bagaimana ide besar itu leluasa dikomunikasikan, diperdebatkan, dan sekaligus disepakati? Siapa yang pertama kali melakukan itu? Ada berapa kali pertemuannya? Sesengit apa diperdebatkan sebelum menjadi kesepakatan? Dan celakanya—sindir kanalitnuk.com—tidak ada catatan papyrus tentang itu.

Analisis Eripmav kukuh dan orang kembali percaya bahwa Autatok itu memang ada. Kota hilang itu pasti ada.Terbukti dengan banyak orang yang tersesat, diserap kurun dimensinya dan hidup beberapa saat, dengan diidentifikasi orang hilang, dan ketika mereka kembali: bersumpah, kalau Autatok itu memang ada. Institut Owuredneg terpanggil melakukan riset lapangan dengan mewawancarai orang-orang hilang. Rata-rata, bila bukan nelayan ya petani, si pribumi yang tak pernah meninggalkan Danau Ualik, serta buta aksara. Dari beberapa kali wawancara—yang semuanya direkam pada 50.000 gulungan pita a 2 jam dan 12.500 teks transliterasi a 100 halaman—itu dijadikan bahan panduan rekonstruksi kota Autatok.

Terbentuk semacam denah, situs, jalan-jalan, dan seterusnya. Itu yang kemudian dijadikan titik awal untuk pemastian, dengan proyek (swadana), pembuktian bahwa Autatok itu memang ada, nyata, dan pasti. Dibuktikan dengan upaya pengeboran yang terkenal itu—kata kanalitnuk.com, meski hasilnya: NOL. Memang. Tapi orang tetap percaya bahwa Autatok itu memang nyata. Ada—sangat riil.

Baca juga  Kota Palsu

***

KATA orang-orang Baigawij, kota itu benderang pada malam hari dengan lentera pancang yang dipasang tinggi di tepi jalan. Ada kawasan terjaga dengan drum-drum minyak cadangan obor pengganti, serta ada pasukan keamanan yang selalu keliling mengontrol. Orang datang dan pergi setiap saat, bagai bergilir. Warung, pemondokan, istal, dan gudang bongkar-muat ramai siang dan malam. Orang-orang yang bekerja dikelompokkan dalam shift—dan ada 3 shift. Semua bekerja keras, tapi (sesekali) dibutuhkan lebih banyak kuli. Dan untuk itu mereka didatangkan, sampai ia lunglai tidak kuat lagi, meski mendapat makan dan istirahat. Diterjagakan lagi di alam riil—dikembalikan. Lesu dan tak beruang, tapi selalu ingat pada surga kota dagang, Autatok.

Pendatang datang berperahu besar menyeberangi Danau Ualik, bersampan kecil, dan lainnya menaiki kuda, berpedati, atau berjalan menembus bukit berhutan itu—lalu berai mengikuti simpangan jalan ke aneka titik. Pergi ke aneka tempat dan datang dari aneka tempat—menembus hutan, lahan, banyak kota serta komunitas, dan bahkan menyeberangi lautan. Sesuatu yang membuat laku pedagang itu dijadikan ingatan kolektif dan dicatat pada papyrus serta cerita lisan yang terkadang dari tempat sejauh 700-1.000 kilometer dari Autatok, dari Danau Ualik di wilayah Kerokgnat kini. Jadi, Autatok itu ada—sindir kanalitnuk.com, minimal pernah ada dan diakui ada, tapi kenapa (kini) Autatok itu menghilang?

Sebenarnya hal apa atau bencana apa yang membuatnya hilang? Mungkin juga, tulis kanalitnuk.com, apa dunia kita ini memiliki suatu alam paralel yang bergejala secara serentak dan berdampingan, sehingga seseorang dari alam kini dan di sini bisa disedot ke sana dan dikembalikan lagi bila tak dibutuhkan? Dan teknologi macam apa, gugat kanalitnuk.com, yang kuasa membuat orang-orang itu secara semena-mena memindah-mindahkan orang kita, sementara itu kita di alam nyata kini gagal paham dan mengerti akan hal itu?

***

PARA orang hilang itu suka berkumpul setiap bulan April, pas ketika rembulan bulat, dan dianggap mereka sebagai solidaritas ikut Pesta Kebersamaan Autatok—satu keceriaan untuk istirahat sehari dengan pertunjukan seni serta makan-makan. Mereka datang ke rawa-rawa, memilih lapangan tanah keras di tengah rawa, selalu bersih dan bagai daerah mati tanpa tanaman dan apa pun, dan menyalakan api unggun besar. Lalu berpidato dalam bahasa Autatok—yang tak terpahami orang lain—menyanyi, menari, atau bersajak. Riang sambil makan apa yang tergelar dan dibawa mereka, serta minum sampai pingsan. Dan paginya bubar dengan membawa pergi sampah dan kotoran.

Kata Lembaga Gnocop, mereka itu pekerja keras. Disiplin, jujur, dan memegang janji—jangan menipu mereka, sebab akan berakhir di dalam pertumpahan darah, hidup atau mati. Mereka suka minum, terkadang berkumpul dan begadang sambil minum di tepi jalan—tidak pernah berteriak-teriak dan liar memeras orang lewat, tapi orang yang biasa mabuk segera menjauh. Para perampok, begal, dan penjahat bergegas menjauhi, tidak berani mengganggu mereka dan sekaligus tak mau diganggu mereka. Padahal si Biagawij itu bukan preman, bahkan murah senyum dan berbicara lembut, meski sesekali amat suka meneguk arak.

Baca juga  Para Pembongkar Kuburan Massal

Kata Lembaga Gnocop, di momen itu mereka bertukar cerita ihwal pengalaman berada di Autatok. Dan (katanya) bertukar informasi tentang kebutuhan tenaga kuli di Autatok, lalu beberapa orang dari mereka tiba-tiba menghilang, dan beberapa minggu atau bulan kemudian muncul lagi. Awirir, dari Lembaga Gnocop, berkali minta diajak ke Autatok. “Tak bisa,” bisik Tirfijin. “Sebab kau belum dikenal mereka, kau bukan si terpilih.” Mereka kemudian diam. Bisu. Tidak bisa didesak, dan (bahkan) meski diancam akan dibunuh oleh Lembaga Gnocop—penelitian deadlock, meski beberapa data menunjukkan Autatok ada di dimensi lain. Tapi bagaimana menembus sekat itu

***

KATA orang, Namulis adalah si orang hidup, riil, yang tak kembali. Pada usia 18 tahun, saat memancing di tepi danau, ia menghilang. Dua bulan kemudian ia muncul tapi membisu ketika ditanya “pergi ke mana?”. Pada usia ke-25, ia menghilang lagi selama dua tahun. Muncul, menikah, dan punya anak. Saat berusia 35 tahun: menghilang dan tidak pernah kembali. Lantas beberapa orang yang pernah hilang ditelusuri, diselidiki, ditanyai, tapi istri dan anaknya tidak ada yang mau menjawab. Meski (kemudian) salah satu dari mereka itu selalu diberitakan mengunjungi keluarganya, serta membawakan emas batangan, serta bilang kalau Namulis itu telah jadi petani di Autatok—telah menikah lagi, dan tak mungkin kembali. Menghilang secara sadar.

Tapi, kata beberapa orang, terkadang Namulis pulang, mengunjungi anak-istri—janda yang tidak menikah lagi, serta lelaki yang usil menggodanya mendadak saja diuber-uber serta dihajar kelompok Biagawij, nyaris tanpa alasan yang jelas. Dan katanya Namulis itu selalu datang membawa emas batangan, untuk keluarganya yang ditinggalkannya. Semacam biaya hidup yang lebih dari cukup. Alhasil, Autatok itu ada. Ya! Tapi di mana? Tapi apa kami hanya bisa jadi tenaga asing di sana? Atau, bisakah kita meniru, hidup dalam idealistik dagang ala Autatok, dengan rasional membangun Autatok meskipun mata pencaharian tetap, semacam jadi nelayan atau petani?

Bisakah kita hidup murni obyektif tanpa kepentingan pribadi seperti itu?—sergah kanalitnuk.com: dan itu bermakna bisakah kita menghilangkan syahwat, nafsu, keserakahan, dan egoisme berpartai-politik—sergah kanalitnuk.com, lebih sinis lagi? ***

Beni Setia. Pengarang yang kini tinggal di Caruban, Jawa Timur.

Average rating 1 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: