Cerpen, Fajar Makassar, Ranang Aji SP

Bayangan Walter Lippman

4.3
(8)

1

Suatu malam, setelah memegang bukunya, aku tiba-tiba merasa melihat Walter Lippman duduk di ruang kerjanya yang dipenuhi buku dan perabot klasik di New York. Wajahnya tegang, dan otaknya dipenuhi suara kisah masa lalu. Ia berulang kali memasang dan melepas kacamatanya. Kemudian dengan gerakan yang lamban, tangannya menekan bingkai kacamatanya pada keningnya. Sementara tangannya yang lain menyisir rambutnya yang sedikit berombak. Aku melihatnya seperti tengah tertekan oleh rasa pening ketika membayangkan sesuatu.

Namun, ketika kemudian, ia memutuskan merokok cerutu, wajahnya tampak lebih rileks. Setelah meletakkan cerutunya di atas asbak perak, dan meminum satu teguk gin, Walter memeriksa beberapa berkas dan buku di mejanya. Ia membolak-balik buku Politea (Negara) Plato yang diterjemahkan sebagai Republik dalam versi Inggris oleh Jowwet (1871, 1875 dan 1892) yang sebelumnya merevisi versi Davis (1851) yang juga sebelumnya merevisi dari versi pertama Henry Spents (1763) yang dinilai kontroversial.

Dari sana, Walter Lippman kulihat memutuskan memulai menulis bukunya Public Opinion (1921). Ia menulisnya dalam enam bagian dan sembilan belas bab yang menghantui setiap pembaca dengan pelbagai metafora dan rujukan yang kaya serta catatan kaki. Walter Lippman membuka dengan dialog “Republik” milik Plato.

…Lihatlah, manusia itu layaknya binatang liar yang bersarang di bawah tanah berlubang dan gelap. Ia hanya menerima cahaya di permukaannya sejak kecil. Sementara tangan, kaki serta lehernya dirantai hingga membuatnya tak mampu bergerak…

…mereka hanya melihat bayangan mereka sendiri … [1]

Seperti itulah kira-kira ia menempatkan dialog Manusia Gua Plato yang dimaksudkan sebagai abstraksi dari bukunya yang melegenda. Bab-bab selanjutnya ia mulai dengan membuat analogi-analogi. Walter Lippman memulainya dengan menggambarkan kondisi realitas dunia luar dan gambaran isi kepala orang yang bisa terpisah. Ia berikan ilustrasi peristiwa yang terjadi di sebuah pulau pada tahun 1914. Di mana, di sana terkurung orang Jerman, Perancis, dan Inggris. Mereka berkumpul seolah kawan, meskipun sesungguhnya negara mereka tengah menjadi lawan. Mereka hidup terpisah dari informasi yang membuat mereka membuat gambaran berbeda di kepalanya.

Baca juga  Prasangka

Bukunya itu kemudian diterbitkan pertama di tahun 1921 dan cetakan seterusnya 1922, menjadi rujukan yang utama dari para jurnalis di dunia, dan barangkali (juga) para politikus yang ingin memanfaatkan bukunya sebagai sarana untuk memandu demi membentuk opini publik. Sampai di sana, secara prinsip, aku setuju dan memikirkan apa yang dipikirkannya. Melihat dunia ini seperti panggung yang tak selesai menggelar lakon-lakon yang dipenuhi para antagonis dan kontagonis yang mengubah dirinya secara ajaib menjadi protagonis yang baik. Seperti karakter Humbert Humbert sebagai protagonis yang terlihat baik, namun jahat dalam novel Lolita.

2

Setelah membaca ulang buku yang ditulisnya itu, di malam yang digelisahkan oleh hujan berangin di bulan Januari, setelah seratus tahun kelahirannya—aku mulai memikirkan bagaimana menyebarkannya agar setiap orang mengerti dan tak tertipu oleh propaganda jahat. Agar setiap orang tidak menjadi manusia gua yang dirantai kaki, tangan dan lehernya seperti gambaran Plato, sehingga tak bisa melihat kebenaran lain selain bayangan di depannya.

Keinginan mulia itu tertanam begitu kuat di dalam hati dan membuatku bersemangat. Ini mungkin semacam perasaan yang dimiliki oleh Major Harvey Cushing, ‘yang tidak puas dan mengoceh’ tentang motif Amerika Serikat sebenarnya dalam PD I. Bahwa betapa biadabnya perang itu yang dilihatnya selama di medan tempur sebagai dokter bedah tulang. Atau Seperti Roebuck Ramsden dalam Man and Superman, karya Gorge Bernard Shaw. Aku mungkin seolah datang untuk menawarkan perlindungan dan menjadi penjaga moral yang liberal, seperti Kantian naïf. Namun, bagiku dunia memang harus selalu ada seorang moralis—yang meskipun tidak selalu menyenangkan, tapi dibutuhkan sebagai kontrol ketidakwarasan dunia.

3

Hingga tiba suatu malam, setelah memikirkan banyak peristiwa dunia besar dan membingungkan, aku mengundang Walter Lippman di ruang tamuku. Bukunya kuletakkan di atas meja. Wajahnya terlihat pucat dan kuyu saat itu dalam potret hitam putih yang suram. Ia mengatakan bahwa aku tak perlu merepotkan diri dengan pelbagai urusan dunia yang tak akan bisa terurai.

Baca juga  Dongeng Pendek tentang Kota-Kota dalam Kepala

“Jaga saja keluargamu sendiri,” katanya. “Semua orang harus melakukan itu.”

Aku tak mengerti apa maksudnya. Tetapi, aku jelas kecewa dengan pikiran pesimisnya tersebut. Aku tak mengharapkan ia berkata seperti itu. Maka, kuminta ia menjelaskan persoalannya. Dengan keraguan—atau lebih tepatnya hilangnya keinginan untuk menjelaskan, ia mengatakan bahwa dunia ini meskipun sudah menciptakan jenis permainan demokrasi yang secara formal terlihat baik dan adil—namun, ia tunduk pada pikiran dominan yang disetir melalui sebuah mesin [2].

Mesin-mesin ini hanya dikuasai segelintir orang—dan, dengan itu mereka menciptakan bayangan-bayangan yang mau tidak mau harus diyakini sebagai keadaan yang mesti diikuti sebagai sebuah kebenaran. Menurutnya, orang-orang tak akan memiliki akses tanpa batas dari semua jenis pengetahuan di dunia ini. Seorang rakyat jelata, tak akan tahu rajanya setiap waktunya kecuali dari apa yang sudah dirancang sebagai simbol dan pengetahuan umum.

Mekanisme check, komparasi dan argumen, meskipun menjadi alat akal sehat—ia tak juga akan mampu melihat kebenaran secara utuh. Raja tetap saja akan menjadi simbol dari sebuah keadaan yang diinginkan. Semua hal bisa berbalik keadaannya seperti hancurnya pertahanan Prancis di Verdun oleh Jerman, menjadi seolah keadaan yang baik bagi Prancis karena sebuah komunike yang disebarkan ke dalam kepala orang-orang yang terbatas atau (harus) dibatasi aksesnya.

Aku menatap wajah Walter Lippman yang pucat. Matanya biru seperti langit yang luas, namun justru hal itu menyalakan api amarahku dengan tiba-tiba. Aku tahu apa yang dikatakannya seluruhnya nyaris benar dan tak terbantahkan—tapi, kebenaran itu justru membuatku menjadi sengsara dan sakit hati terhadap duniaku. Rasa pesimis terhadap dunia yang bisa diatur secara ideal sebagaimana bayangan Sir Thomas More dalam Utopia di tahun 1516, hancur berkeping-keping menjadi remukan distopia. Maka, dengan rasa yang dipenuhi kemasgulan, aku menutup wajah Walter Lippman dari mataku. Namun, aku tetap menyatakan akan terus berupaya membebaskan manusia dari dalam gua Plato. Mesikipun aku tahu, itu akan gagal. (*)

Baca juga  Terompet-terompet yang Menjerit di Tengah Kota
Catatan:

[1] Dialog manusia gua dalam Republik karya Plato

[2] Mesin, digunakan Walter Lippman untuk menyebut organisasi atau lembaga, seperti partai politik.

RANANG AJI SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital.

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: